
Kedua pemimpin masih diam saling menatap. Tatapan mereka penuh amarah. Kekuatan hijau milik Kanjeng Ratu Sekar Dara melawan kekuatan merah milik kuntilanak merah. Suasana menjadi tegang dan mencekam. Kanjeng Ratu Sekar tersenyum angkuh, sedangkan kuntilanak merah membidik dengan tatapan beringas, seakan ingin membunuh.
Dengan gerakan cepat, kuntilanak merah menyerang Kanjeng Ratu. Ia terbang maju menyerang Kanjeng Ratu, senyum Kanjeng Ratu hanya tersenyum. Asap hitam mengepul berduyun-duyun.
Sett.
Kanjeng Ratu Sekar mengibaskan selendang putihnya.
Wuuusss.
Sinar hijau memancar keluar dari kibasan selendang Kanjengn Ratu Sekar, berbentuk garis pajang dan datar.
Kuntilanak merah terhenyak melihat sinar hijau.
Bufff.
Ia berubah menjadi asap hitam dengan cepat. Asap hitam menggulung-gulung. Sinar hijau dari selendang Kanjeng Ratu Sekar membelah kepulan asap hitam. Asap hitam buyar, memencar tipis-tipis.
Tiba-tiba saja kuntilanak merah muncul tepat di atas bagian belakang Kanjeng Ratu Sekar. Senyumnya menyeringai tampak buas.
Wuuusssshhh.
Kuntilanak merah menyerang Kanjeng Ratu Sekar, kedua tangannya seperti ingin mencengkram. Tapi Kanjeng Ratu Sekar tampaknya sadar akan hal itu. Dan serangan kuntilanak merah berhasil di hindari oleh Kanjeng Ratu Sekar dengan sangat mudahnya.
"Hihihihihihihihihihihi. Kau semakin lincah Ratu!" ucap kuntilanak merah.
"Cih! Tahu apa kau tentangku iblis jahanam!" balas Kanjeng Ratu.
Kuntilanak merah lagi-lagi melancarkan serangannya, dari mulutnya mengeluarkan sinar merah seperti laser. Di tembakkannya ke arah Kanjeng Ratu Sekar.
Kanjeng Ratu Sekar mengayunkan tongkat emasnya, dan seketika sinar hijau membentuk dinding, menangkis serangan dari kuntilanak merah. Beberapa kali kuntilanak merah menembakkan sinar merah, namun selalu kandas membentur sinar dinding kokoh yang berwarna hijau.
"Sudah puas kau?" tanya Kanjeng Ratu Sekar.
"Hanya itu kemampuanmu? Cih! Kupikir dengan memakan jiwa manusia, kau lebih kuat Merah! Ternyata sama saja." ungkap Kanjeng Ratu Sekar.
"Banyak bacot kau wanita sundal!!" teriak kuntilanak merah. "Terima ini!" ucapnya seraya lompat menyerang Kanjeng Ratu Sekar.
Kuntilanak merah melancarkan pukulan bertubi-tubi. Oh, kali ini pertempuran fisik rupanya, setelah tadi serangan kuntilanak merah menggunakan ilmu kanuragan. Kanjeng Ratu Sekar dengan mudahnya menangkis pukulan kuntilanak merah. Lincah dan cepat.
"Wooaaaaaaaaaaaaaa!!" kuntilanak merah berteriak sembari menyerang Kanjeng Ratu Sekar dengan membabi buta.
Lagi-lagi Kanjeng Ratu Sekar dengan lincah menepis dan menghindar. Gerakan Kanjeng Ratu Sekar tak bisa di pandang remeh, apalagi di pandang sebelah mata. Ia benar-benar menunjukkan kebolehannya, bukan hanya omong kosong. Sangat pantas jika Kanjeng Ratu Sekar berbicara angkuh dan merendahkan kuntilanak merah itu. Ilmunya tinggi, jelas saja ia menjadi ratu penguasa Gunung Komang.
"Ayo Merah! Keluarkan seluruh kemahiranmu!" ucap Kanjeng Ratu Sekar sembari menepis pukulan kuntilanak merah, Kanjeng Ratu Sekar seakan meledek dan memancing emosi kuntilanak merah.
"Hyaaaaaaaaaaaa!!" kuntilanak merah berkoar dengan lantangnya. Ia terus saja melontarkan pukulan demi pukula ke arah Kanjeng Ratu Sekar. Tapi Ratu Sekar hanya menghindar dengan lincahnya.
__ADS_1
Sesaat kemudian Kanjeng Ratu Sekar mundur menjauh dari kuntilanak merah. Seketika batu bersar berwarna hijau yang tersemat di ujung tongkatnya mengeluarkan cahaya terang berwarna hijau putih. Dengan di iringi senyum angkuh, tongkat yang di pegang Kanjeng Ratu Sekar di arahkan ke kuntilanak merah dengan cepatnya.
Syuuutt.
Batu itu menembakkan sinar hijau putih, melesat mengarah ke kuntilanak merah. Kuntilanak merah terperanjat, matanya terbelalak lebar melihat pancaran sinar hijau putih. Dan...
Blarrr..
Sinar hijau putih tepat mengenai perut kuntilanak merah. Ia terhenyak dengan serang yang mendadak dari Kanjeng Ratu Sekar Dara. Tampak asap hitam bergumul keluar dari dalam perutnya yang terluka. Tak di nyana, kuntilanak merah itu terlihat meringis kesakitan. Matanya masih membelalak kaget dengan kejadian yang begitu cepatnya.
"Hihihihihihihihihihihihi." kuntilanak merah terkekeh. Sempat-sempatnya ia tertawa dengan kondisi terkena serangan dari Kanjeng Ratu Sekar Dara.
"K-ka-kau semakin sakti ru-rupanya. Hihihihihihihihihi." ujar kuntilanak merah dengan terbata.
Kanjeng Ratu Sekar Dara hanya diam menatap kuntilanak merah, ia berdiri dengan keanggunannya yang tiada tara. Wajahnya masih angkuh menatap si kuntilanak merah.
Lalu kuntilanak merah mendongakkan wajahnya ke atas, serta kedua tangannya di rentangkan dengan lebar, tiba-tiba lubang di perutnya yang terluka akibat serangan Kanjeng Ratu Sekar mengepulkan asap hitam. Kepulan-kepulan kecil asap hitam menutup lubang di perutnya dengan cepat.
"Hihihihihihihihihihihihihi." kuntilanak merah terkekeh. Wajahnya nampak sumringah, dan kembali menatap Kanjeng Ratu Sekar Dara. Tangannya pun tak di rentangkan lagi.
"Kau pikir bisa dengan mudah mengalahkanku! Hihihihihihihihihihi." lanjut kuntilanak merah.
Kanjeng Ratu Sekar Dara hanya diam tanpa berkata.
Wuuss. Serangan tiba-tiba dari kuntilanak merah, ia menembakkan bola-bola api berwarna merah menyala ke arah Kanjeng Ratu Sekar.
Bwettt.
Sekali kibasan dari tongkat Kanjeng Ratu Sekar Dara.
Duar duar duar duar duar duar.
Bola-bola api meledak secara beruntun, habis tak bersisa. Kuntilanak merah sontak kaget melihat serangannya kembali kandas.
"Sudah?" tanya Kanjeng Ratu Sekar singkat.
Di ayunkan tongkatnya ke arah kuntilanak merah, batu besar di ujung memendarkan sinar hijau putih.
Lalu,
Syut syut syut syut syut.
Dari batu besar di ujung tongkat Kanjeng Ratu Sekar menembakkan bola-bola api berwarna hijau putih. Kanjeng Ratu Sekar meniru serangan kuntilanak merah.
Kuntilanak merah sontak kaget. Tubuhnya berubah menjadi asap hitam dengan cepat.
DUARR. Satu bola api berwarna hijau putih meledak di tengah kepulan asap hitam.
__ADS_1
Kuntilanak merah muncul di sudut langit-langit rumah reot, asap hitam masih mengepul dari kaki-kakinya. Lalu, dengan cepat bola-bola api menyerang ke arah kuntilanak merah. Ia makin terkejut, bola api milik Kanjeng Ratu Sekar mirip sekali dengan Banaspati. Tak melepaskan mangsanya, sampai mangsa itu meregang nyawa.
Secepat kilat, kuntilanak merah kembali menjadi asap hitam. Dan satu bola api kembali meledak di tengah-tengah kepulan asap hitam.
Aku, Tika, dan Kakek Badrun menonton pertarungan Kanjeng Ratu Sekar Dara melawan kuntilanak merah dengan antusias juga serius. Tak ada habisnya aku menelan ludah dan sesekali menahan nafas. Pertarungan ini lebih gila di bandingkan dengan pertarungan UFC.
Bola-bola api masih terus menyerang kuntilanak merah di mana pun ia berada. Ia seperti kewalahan dengan serangan yang di lancarkan Kanjeng Ratu Sekar Dara.
Selagi kuntilanak sibuk menghindar dari serangan bola api, tiba-tiba saja Kanjeng Ratu Sekar melemparkan selendangnya ke arah kuntilanak merah.
Syuuuuutttt.
Selendang putih Kanjeng Ratu Sekar Dara melilit tubuh kuntilanak merah dengan erat. Kuntilanak merah terhenyak. Ia meronta-ronta mencoba melepaskan lilitan dari selendang. Lalu, dengan satu senyum angkuhnya, Kanjeng Ratu Sekar Dara menarik selendang miliknya dengan kuat.
BUAKK!!!
Tubuh kuntilanak merah terbanting menghantam lantai, suaranya kuat menggema ke seisi ruangan. Aku menelan ludah. Jantungku makin berdegup kencang. Apakah ini akhir dari hidup kuntilanak itu? Aku sangat bahagia melihat iblis itu di hajar habis-habisan oleh Kanjeng Ratu Sekar Dara. Kali ini kau pasti akan musnah iblis laknat.
Si kuntilanak merah masih saja berontak, mencoba melepaskan lilitan selendang Kanjeng Ratu Sekar. Ia teriak sambil meronta-ronta. Kanjeng Ratu Sekar hanya tersenyum dengan angkuh, hanya satu ujung bibirnya yang mengangkat.
Tatapan Kanjeng Ratu Sekar tajam, tatapan membunuh, tatapan layaknya algojo yang ingin mengeksekusi tersangka.
Wunngg.
Selendang Kanjeng Ratu Sekar sontak bersinar.
"Aaaaaaaaaaaaaaaarrggghhh!" kuntilanak merah berteriak amat kuat.
Sinar dari selendang Kanjeng Ratu Sekar seolah-olah membakar kuntilanak merah. Asap hitam mengepul dari seluruh tubuhnya, tipis-tipis. Kuntilanak merah meronta-ronta. Teriakannya memecah malam. Lalu suara bising terdengar dari luar. Suaranya gaduh, bak teriakan lautan orang. Menderu-deru.
Kanjeng Ratu Sekar masih tersenyum angkuh melihat kuntilanak merah tersiksa oleh sengatan sinar yang terpancar dari selendangnya. Wajahnya ayu namun terpancar sisi bengis dan sadis.
Tiba-tiba, sekumpulan demit dengan jumlah yang amat banyak masuk ke dalam rumah. Merangsek memenuhi seisi ruangan. Bentuknya mirip asap putih tipis dan transparan. Aku, Tika, dan Kakek Badrun terkejut. Kami menghalangi pandangan dengan kedua tangan kami. Kanjeng Ratu Sekar Dara pun terkejut dengan apa yang terjadi. Demit-demit ini membuat ruangan menjadi penuh sesak.
Lalu,
DUUUAAARRRR.
Rumah meledak. Atap rumah hancur, dinding jebol, bongkahan seperti kayu beterbangan ke udara. Aku terpental sambil melayang dan mata terpejam. Entah apa yang terjadi dengan Tika dan Kakek Badrun, aku tak sempat melihatnya. Tubuhku terhempas ke rerumputan, dan terseret cukup jauh.
Aku tak tahu nasib Tika juga Kakek Badrun. Yang kuingat hanyalah ledakan cukup dahsyat akibat demit-demit yang merangsek masuk dan mengeluarkan kekuatan cukup besar secara bersamaan.
Aku membuka mataku, melihat ke sekelilingku. Di langit gelap masih terlihat bongkahan kayu yang terjun ke tanah, juga pecahan dinding. Asap putih terlihat di rumah reot, tersisa lantai dan dua buah tiang yang masih berdiri. Kulihat di tengah-tengah lantai ada bulatan mirip seperti bola yang sangat besar, bercahaya.
Aku berdiri, mencari-cari Tika dan Kakek Badrun. Tika terpental lebih jauh, ia terduduk. Ia tampak terpukul dengan apa yang terjadi barusan. Kulihat juga Kakek Badrun yang sudah berdiri, lalu membungkuk memegang perutnya.
Lalu, dimana Kanjeng Ratu Sekar Dara dan kuntilanak merah itu? Aku tak melihat sosok Kanjeng Ratu Sekar, kuntilanak merah juga tak nampak. Di langit hanya terlihat puluhan demit beterbangan.
__ADS_1
Kejadian yang sangat luar biasa baru saja kualami. Dan kejadian ini terjadi di alam lain. Alam yang baru pertama kali kukunjungi seumur hidupku. Menakjubkan.