
Kakek Badrun dan Mas Gun bergabung bersama kami.
BRUKK. Kuntilanak merah jatuh, ia bertumpu pada lututnya. Sinar merah kehitaman masih berpendar dari tubuhnya.
Lubang-lubang di tubuhnya masih saja mengeluarkan jiwa hasil korban tumbalnya. Wajahnya bermacam-macam dan sangat menakutkan.
"Iblis macam kau memang tak sepatutnya hidup berdampingan dengan manusia. Kau telah banyak membuat kerusakan. Kau pun telah banyak melakukan kejahatan." ujar Kakek Badrun.
"Cih. Bacotanmu membuatku muak Badrun. Sok merasa paling benar. Apa kau lupa, kau yang memintaku menjadi penjaga untuk Badriyah dulu? Sampai kau rela bertapa siang-malam di Gunung Komang. Hihihihihihi." sahut kuntilanak merah.
"Sekarang kau berbicara seperti itu layaknya orang suci. Hihihihihihihihi. Kalau kau tak memintaku dulu, mana mungkin semua ini terjadi Badrun. Sumber masalah semua ini adalah kau Badrun." sambung kuntilanak merah.
Kami semua diam.
Kuntilanak merah menengadahkan wajahnya. Menatap kami semua dengan tatapan tajam. Diwajahnya terdapat lubang hitam yang mengeluarkan jiwa tumbal berbentuk awan hitam tipis.
"Hei manusia, kalian seharusnya berkaca. Manusialah yang lebih banyak membuat kerusakan di bumi ini. Manusialah yang lebih jahat ketimbang demit macamku. Untuk apa kalian menyembah Tuhan kalau masih meminta pertolongan pada kaum kami? Hihihihihihi. Manusia itu aneh. Kau aneh Badrun. Kau juga aneh Badriyah." ujar kuntilanak merah seraya menunjuk Kakek Badrun dan Nek Iyah.
"Apa kalian tidak tahu kalau dosa syikir adalah dosa yang tak akan bisa diampuni oleh Tuhan? Hihihihihihihi." tambah kuntilanak merah.
Kuntilanak merah itu tahu kalau dosa syirik masuk ke dalam golongan dosa besar. Memang benar yang ia katakan.
"Kaum kami memang ditugaskan untuk mengganggu manusia seperti kalian, agar manusia berpaling pada Tuhannya. Hihihihihihi. Aku sudah berhasil, aku banyak menggaet manusia agar bersekutu dengan kami. Termasuk kau Badriyah, dan kau Badrun. Hihihihihihihi." lanjut kuntilanak merah.
Kami diam, sesekali kami saling tengok.
"Jadi, untuk apa kau bertaubat kalau dosamu saja tidak akan diampuni oleh Tuhanmu? Badriyah. Badrun. Hihihihihihihi." tanya kuntilanak merah.
Nek Iyah menoleh ke arah Kakek Badrun.
"Nek, jangan dengarkan ocehannya Nek." ucapku.
Seketika kuntilanak merah menjulurkan kedua tangannya, dengan telapak tangan yang terbuka. Ia tersenyum menyeringai.
"Mari bergabung lagi denganku Badriyah! Taubatmu akan sia-sia, Tuhanmu tak akan mengampunimu. Ayo Badriyah." ucap kuntilanak merah.
"Nek! Jangan dengarkan omongannya Nek." selaku.
"Hihihihihihi. Ayo Badriyah. Kita bekerja sama lagi. Kau akan kubuat menjadi muda belia. Kau akan kubuat lebih kaya raya. Kau akan kujadiakan perempuan terpandang. Ayo Badriyah! Sambut uluran tanganku." goda kuntilanak merah.
Raut wajah Nek Iyah tampak ragu. Tersirat gejolak di dalam batinnya. Benar-benar taubat atau kembali bersekutu dengan kuntilanak merah itu.
"BADRIYAH. SADAR KAU BADRIYAH." teriak Kakek Badrun.
Perlahan tangan Nek Iyah menjulur, ingin menggapai tangan kuntilanak merah.
Seketika Kakek Badrun menangkap tangan Nek Iyah. Kakek Badrun menghalangi Nek Iyah, yang berniat untuk menyambut tangan kuntilanak merah.
"Yang kau lakukan saat ini sudah benar Badriyah. Jangan tergoda lagi pada rayuan iblis itu." ucap Kakek Badrun sambil menghadap Nek Iyah.
Nek Iyah diam. Ia terlihat ragu.
"Hihihihihihi. Apa kau yakin jika kau taubat, hidupmu akan sama seperti dulu? Kau sudah tua Badriyah, kau tak punya siapa-siapa lagi. Kau hanya punya aku Badriyah. Ayo, berteman lagi denganku Badriyah." rayuan kuntilanak merah semakin membuat Nek Iyah ragu.
"Nek, saya mohon jangan dengarkan ocehannya. Allah Maha Pengampun, Allah Maha Pengasih. Yang Nenek niatkan sudah benar Nek." ucapku.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHI." kuntilanak merah tertawa dengan keras.
"JANGAN DENGARKAN BOCAH INGUSAN ITU BADRIYAH. APA BOCAH ITU BISA MENJAMIN KALAU DOSA-DOSAMU AKAN DIAMPUNI OLEH TUHAN? TAK ADA SEORANG PUN YANG BISA MENJAMIN, BAHKAN ORANG SHOLEH SEKALIPUN." ujar kuntilanak merah.
"BODOH KALAU KAU DENGAR OCEHAN BOCAH BARU KEMARIN ITU!" tambah kuntilanak merah.
"Ayo Badriyah. Gapai uluran tanganku. Kita adalah pasangan yang cocok Badriyah. Ayo Badriyah."
Nek Iyah diam.
Kuntilanak merah senyum menyeringai menatap Nek Iyah.
"Nek, percayalah. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Meminta ampun pada-Nya dengan sebenar-benarnya, maka Allah akan mengampuni segala dosa yang pernah Nenek lakukan." tuturku.
"APA KAU BISA JAMIN DOSAKU DIAMPUNI?" bentak Nek Iyah.
"Badriyah. Badriyah. Dengarkan aku Badriyah. Kau memutuskan untuk insyaf seperti ini adalah langkah yang sangat baik. Jangan terjerumus untuk kedua kalinya Badriyah. Kita sama-sama lagi. Kita keluarga Badriyah." ujar Kakek Badrun.
Nek Iyah mendorong tubuh Kakek Badrun. Namun Kakek Badrun kembali menghalangi Nek Iyah untuk menggapai tangan kuntilanak merah.
"Aku mohon padamu Badriyah. Jangan kau ikuti hawa nafsumu." ucap Kakek Badrun.
"Hihihihihihi. Ayo melangkah sedikit lagi Badriyah. Ayo. Setelah kubunuh mereka semua, maka kau akan kujadikan seorang gadis muda belia. Hihihihihihihi. Ayo Badriyah." rayuan kuntilanak merah terus memberondong pikiran Nek Iyah.
Aku membantu menghalangi Nek Iyah bersama Kakek Badrun. Namun tenaga Nek Iyah menjadi sangat kuat. Ia tetap melangkah ke arah kuntilanak merah. Tatapannya kini kosong. Nek Iyah seperti terhipnotis dengan ocehan kuntilanak merah.
__ADS_1
"HIHIHIHIHIHIHIHIHI."
"KUSAMBUT KAU DENGAN PENUH SUKACITA. BADRIYAH, TEMANKU. AYO SEDIKIT LAGI." teriak kuntilanak dengan wajah gembira.
"BADRIYAH, SADAR BADRIYAH. TAK AKAN KUBIARKAN KAU BERSUKUTU LAGI DENGANNYA!" teriak Kakek Badrun.
"Hei Badrun! Jangan kau halangi keputusan adikmu itu."
"TAK AKAN KUBIARKAN DIA BERSEKUTU DENGANMU LAGI SETAN JAHANAM!" balas Kakek Badrun.
BUAKK. Kakek Badrun memukul wajah Nek Iyah.
"SADAR KAU! SADAR!" teriak Kakek Badrun.
BUAKK.
BUAKK.
"SADAR BADRIYAH! SADAR!"
Wuusshh. Tangan Nek Iyah bersinar, sinarnya berwarna merah tua.
Astaga, apa yang hendak Nek Iyah lakukan?
BUAKK.
BUAKK. Kakek Badrun terus memukul Nek Iyah.
Namun Nek Iyah tak bergeming sedikit pun, ia masih melangkah menuju kuntilanak merah dengan langkah yang tersendat. Karena aku dan Kakek Badrun menghalanginya.
Kuntilanak merah masih menjulurkan tangannya. Membuka telapak tangannya, menyambut kedatangan Nek Iyah untuk kembali ke pelukannya.
"AYO SAYANGKU. AYO BADRIYAH. HIHIHIHIHIHI. BADRIYAH KEKASIHKU. AYO SEDIKIT LAGI." ucap kuntilanak merah.
BUAKK.
BUAKK.
Tika ikut menghalangi Nek Iyah. Menarik tangannya. Kami menahan tubuhnya, agar Nek Iyah tak melanjutkan langkahnya menuju kuntilanak merah. Sementara itu, Kakek Badrun terus saja memukul wajah Nek Iyah.
Wuuunggggg. Sinar merah tua di tangan Nek Iyah bersinar semakin silau.
"TAK AKAN KUBIARKAN KAU MENGAMBIL ADIKKU, MERAH!" teriak Kakek Badrun.
Tiba-tiba..
JLEBBB.
Kakek Badrun membelalakkan matanya.
Aku terkejut.
Tika berteriak.
Kuntilanak merah menusukkan asap hitam berbentuk ujung tombak ke tubuh Kakek Badrun.
"KAKEK!" teriakku.
"Badriyah, sadar Badriyah." ucap Kakek Badrun.
"Sadar Badriyah. Hanya kau satu-satunya keluargaku yang tersisa. Aku tak ikhlas jika kau kembali berteman dengan iblis itu. Badriyah, sadar Badriyah." ucap Kakek Badrun pelan.
Aku lompat dan memotong asap hitam yang menusuk dada Kakek Badrun.
BUFFF. Asap hitam hilang. Menyisakan lubang yang cukup besar di dada Kakek Badrun.
Kakek Badrun memeluk Nek Iyah.
"Kek. Kakek Badrun. Kakek tidak apa-apa Kek?" Tika bertanya dengan raut wajah khawatir.
"Badriyah. Aku sayang padamu, Badriyah." ucap Kakek Badrun dalam pelukan Nek Iyah. Kakek Badrun sempat terbatuk.
Aku lompat ke arah kuntilanak merah. Tika masih mencoba menghalangi langkah Nek Iyah.
WUUUNNGGG. Tanganku mengeluarkan cahaya biru menyilaukan.
BUUAAAAKKK. Pukulanku mendarat tepat di wajah kuntilanak merah.
BUAKK.
BUAKK. Kuhantam wajah kuntilanak merah itu. Geram rasanya.
__ADS_1
"AYO BADRIYAH! SEDIKIT LAGI. BADRUN SUDAH KUBINASAKAN. YANG KAU PUNYA KINI HANYA AKU. AKU SATU-SATUNYA KELUARGAMU BADRIYAH." teriak kuntilanak merah.
"Badriyah. Aku sayang padamu Badriyah." ucap Kakek Badrun pelan sambil terus memeluk Nek Iyah.
Tiba-tiba, Nek Iyah menghela napas panjang. Ia seperti tersadar.
"Kang! Kang Badrun! Kang!" panggil Nek Iyah pada Kakek Badrun.
"Akang kenapa Kang?" tanya Nek Iyah panik.
Kakek Badrun tersenyum.
"Kau sadar Badriyah. Kau sadar." ucap Kakek Badrun pelan.
"BADRIYAH. AYO SAMBUT TANGANKU!" teriak kuntilanak merah.
"Jangan kembali padanya Badriyah. Uhukk uhukk. Aku sayang padamu Badriyah." ucap Kakek Badrun sambil terbatuk.
Nek Iyah menangis melihat kondisi Kakek Badrun. Kakek Badrun tampak sekarat, akibat luka tusuk yang melubangi dadanya. Kakek Badrun terus saja berkata 'Jangan kembali padanya.'
"AYO BADRIYAH. KEMBALI PADAKU BADRIYAH."
"Tidak Kang. Tidak. Aku tidak akan kembali padanya. Aku ingin hidup tenang bersama Akang. Aku juga sayang Akang." ucap Nek Iyah sembari memeluk erat Kakek Badrun.
Kakek Badrun tersenyum dengan mata terpejam.
"HEI. APA-APAAN INI? APA YANG KAU KATAKAN BADRIYAH? AKU SUDAH MEMBUNUH BADRUN, HANYA AKU YANG KAU PUNYA. AYO KEMBALI PADAKU BADRIYAH." teriak kuntilanak merah.
Nek Iyah terkejut mendengar ucapan kuntilanak merah.
"Apa? Kembali padamu? Kembali berteman dan bersekutu denganmu? Tidak akan, Merah. Itu tidak akan pernah terjadi lagi." balas Nek Iyah.
WOOOAAAAAAAAARRRRRR. Kuntilanak merah berteriak kencang.
"SIAL. B*NGSAT KAU BADRIYAH. KALAU SEPERTI INI KAU JUGA HARUS MATI!!" teriaknya.
Wuuussshhh.
JLEBBBB.
"NEK IYAAAAAHHHH!" teriakku.
Kuntilanak merah kembali melancarkan serangannya. Ia menusuk tubuh Kakek Badrun untuk kedua kalinya, hingga menusuk ke tubuh Nek Iyah dan tembus ke punggung belakangnya. Nek Iyah membelalakkan matanya. Ia terkejut dengan apa yang terjadi.
Nek Iyah dan Kakek Badrun masih berdiri sambil berpelukan. Pelukannya sangat erat. Pelukan dua saudara yang terpisah lama.
"Hihihihihihihi. Kau memang pantas mati Badriyah " tutur kuntilanak merah seraya mencabut asap hitam yang menusuk ke tubuh Nek Iyah dan Kakek Badrun.
Nek Iyah tersenyum.
"Dek Adi, maafkan saya. Maafkan saya. Saya banyak salah dengan kamu." gumamnya pelan dengan senyum terukir di bibirnya.
Tak terasa air mataku berderai.
Aku mengangguk pelan.
Wuuussshhh. Tangan Nek Iyah bersinar sangat silau.
"Ma-maafkan segala k-ke-kesalahan saya." lanjut Nek Iyah.
Aku mengangguk lagi dengan pelan. Nek Iyah balas dengan senyum.
"L-L-Laa ilaaha i-i-illallaaahh. M-Mu-Muhammada ra-rasula-llaaaaahh." gumam Nek Iyah bersama Kakek Badrun.
Lalu..
"ALLAAAAAAHU AKBAARR!"
Nek Iyah sambil memeluk Kakek Badrun lompat ke arah kuntilanak merah.
Dan..
DUUAAAAARRRRRRRRRRRRRR.
Ledakan yang amat besar terjadi. Kekuatannya sangat dahsyat. Hanya cahaya putih yang tampak. Tubuhku terpental jauh. Yang kurasakan hanya tubuhku yang menghantam pohon dan jatuh ke tanah. Selebihnya aku tak tahu apa yang terjadi. Aku tak tahu apa yang terjadi pada Tika, Mas Gun, dan Kakek Halim? Entah mereka baik-baik saja atau sebaliknya.
Apa kuntilanak merah itu telah musnah? Apa benar Nek Iyah dan Kakek Halim mengorbankan dirinya untuk memusnahkan kuntilanak merah itu?
Pertanyaan yang tak dapat kuketahui.
Semuanya terlihat gelap. Pekat. Hitam.
__ADS_1