Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 102


__ADS_3

Sebungkus nasi sudah ludes kuhabiskan, segelas besar teh manis panas pun sudah kuminum. Keringat di dahiku menonjol, bulirnya bulat kecil-kecil.


"Sana cuci tangan dulu!" suruh Mas Gun.


Aku membereskan bungkus nasi, melipatnya dan memasukkannya ke dalam plastik, dan membuangnya di tempat sampah depan kost. Lalu kucuci tanganku di kamar mandi, kemudian kembali duduk di ruang depan.


"Lo kenapa sih mas? Repot-repot segala beliin nasi, sampai bikinin teh." ucapku.


"Harusnya gue yang tanya kenapa. Lo kenapa Di? Lagi ada masalah?" tanya Mas Gun.


"Hah, masalah? Enggak kok, gue biasa aja mas. Memang kenapa sih?"


"Di, jangan bohong sama gue. Kita berteman dari kecil, nggak sehari dua hari gue kenal sama lo. Pasti ada yang lo sembunyiin dari gue. Lo kelihatan berubah Di." jelas Mas Gun.


"Berubah? Apa yang berubah dari gue mas?"


"Wajah lo pucat Di, terlihat nggak fresh. Coba lo ngaca sana! Lihat wajah lo sendiri." suruh Mas Gun, tapi aku tak bercermin, aku hanya duduk.


"Sekitar mata lo kehitaman, gue sampai bingung bedain lo sama panda." lanjut Mas Gun.


"Hahahahahaha, ngawur aja sampeyan mas!" sahutku.


"Astaghfirullah Adiii, gue beneran. Pipi lo juga terlihat lebih tirus. Badan lo agak kurus. Lo kenapa Di? Cerita sama gue." pinta Mas Gun.


Aku diam, melihat wajah Mas Gun. Matanya sayu, Mas Gun menunjukkan raut kasihan padaku.


"Di, masalah apa yang sedang lo hadapi? Cerita sama gue." kali ini Mas Gun memelankan suaranya.


Aku menghela nafas.


"Mas, maafin gue mas. Gue nggak pernah cerita ke lo. Gue takut merepotkan, gue takut lo ikut kepikiran tentang masalah yang sedang gue hadapi kalau gue cerita ke lo." ucapku pelan.


"Di, kita ini saudara. Ayah sama ibu titipin lo ke gue, Mbak Ani minta tolong ke gue untuk jagain lo. Gue bertanggung jawab atas diri lo selama lo di sini Di. Apa yang nanti bakal gue bilang ke keluarga lo, kalau lo sampai kenapa-kenapa? Jangan sungkan Di, jangan ada kata nggak enak dan takut merepotkan." ujar Mas Gun. Aku hanya diam.


"Sekarang tenangin diri lo, bikin enjoy. Silakan kalau lo mau cerita." lanjut Mas Gun.


Aku menyabut sebatang rokok dari dalam bungkusan. Membakarnya. Menghembuskan asapnya ke atas.


Mas Gun membuat dua cangkir kopi. Untukku dan untuknya.


"Begini mas..." aku pun menceritakan seluruh kejadian yang kualami, kejadian-kejadian mistis hingga aku kehilangan sahabatku, kuceritakan seluruhnya tanpa ada yang kututup-tutupi.


Mas Gun hanya diam mendengarkan tanpa menyela. Ia sangat serius mendengarku bercerita, aku pun bersemangat menceritakan seluruh kejadian yang kualami, kutumpahkan semua unek-unek.


Kemala, ibu Kemala, Kakek Badrun, Nek Iyah, Mbak Wati, Kang Ujang, Pak Rahmat, Hendra, Arya, Tika, bahkan Ilham dan gururnya Ki Sona yang berniat mengelabuiku, semua kuceritakan dengan detil.

__ADS_1


"Apa? llham sempat pengin mencelakai lo Di?" tanya Mas Gun, wajahnya memerah.


"Sial tuh anak! Lo kenapa nggak bilang Di? Coba lo cerita dari dulu, gue udah bikin bonyok tuh anak! Sialan!" Mas Gun kesal.


"Udahlaaah, kan udah lewat juga. Alhamdulillah gue selamat." sahutku menenangkan Mas Gun.


"Nggak bisa gitu! Awas aja, besok pokoknya kena sama gue tuh anak!"


"Udah udah, jangan tambah masalah mas. Udah lewat juga. Gue nggak mau lo balas dendam. Cukup tahu aja, Si llham itu orang jahat. Udah cukup." ujarku.


"Lo yakin nggak mau balas dendam ke llham?" tanya Mas Gun meyakinkanku.


"Enggak. Buat apa balas dendam, nanti malah bikin tambah masalah. Ini aja gue udah kelimpungan hadapinnya. Nggak usah di apa-apain mas Si llham." jawabku.


"Oke deh, kalau itu mau lo. Lanjut deh ceritanya." ujar Mas Gun.


Aku pun melanjutkan ceritaku, cerita tentang gangguan demi gangguan yang kuhadapi tiap malam di kamar kostku. Tiap jam tiga malam, berbagai macam gangguan. Sejak awal kutinggal di kamar 11b. Mulai dari suara tangis bayi, tetangga kamarku Ela yang kerasukan Si Merah, cairan hitam yang keluar dari sela-sela lantai kamarku, sampai belasan ekor kucing yang selalu memperhatikanku dengan tatapan sinis. Semua kuceritakan kepada Mas Gun.


Hingga sampai akhir cerita, aku bertemu dengan Kakek Badrun yang mengisahkan seluruh pangkal permasalahan yang membuat kost itu banyak menyimpan misteri. Juga mustika yang tempo hari sempat tertinggal di kost Mas Gun.


Mas Gun membakar sebatang rokok. Ia seruput sedikit kopinya.


"Kenapa baru cerita sekarang sih Di? Kenapa nggak dari dulu-dulu cerita?" tanya Mas Gun.


"Kan gue bilang tadi, gue nggak mau ngerepotin lo mas." jawabku.


Benar juga apa yang di katakan Mas Gun. Saat ini aku seolah berjuang sendiri, walaupun ada Tika, Kang Ujang, dan Kakek Badrun.


"Lalu, kakek yang memberikan mustika itu gimana? Apa dia bisa terus ada kalau lo butuh pertolongannya? Enggak kan?" lanjut Mas Gun.


"Kakek itu malah menyarankan lo untuk jangan putus shalat tahajud. Cuma itu? Eh Di, gue kasih tahu ya. Ada atau nggak ada masalah, kita juga di perintahkan untuk shalat tahajud, walaupun hukumnya sunnah, tapi shalat tahajud memiliki keutamaan yang luar biasa." sambung Mas Gun.


"Jadi sekarang gimana Di?" tanya Mas Gun yang melihatku hanya diam.


"Gue nggak tahu mas. Gue bingung." jawabku singkat.


"Udah, lo pindah aja kesini, mungkin dengan pindah lo nggak akan dapat gangguan lagi." ujar Mas Gun.


Aku diam.


"Kenapa?" tanya Mas Gun.


"Emm, kalau pindah kayaknya enggak deh mas." jawabku.


"Gue tanya, apa alasan lo nggak mau pindah dari kost itu?"

__ADS_1


Aku diam. Wajahku tertunduk.


"Apa alasan lo nggak mau pindah Di?" Mas Gun kembali bertanya.


"Ya karena gue yang di takdirkan untuk menghentikan kejahatan di kost itu." jawabku.


"Hahahahahahaha." Mas Gun tertawa terbahak mendengar jawabanku.


"Hahahahahaha. Adiii Adi. Mau aja di bodoh-bodohin sama kakek tua yang lo nggak kenal sama sekali. Hahahahahahaha." ujar Mas Gun.


Tawa Mas Gun pun berhenti.


"Oke. Kalau lo nggak mau pindah kesini, gue yang akan pindah kesana." ucap Mas Gun.


"Apa mas? Mas Gun mau pindah kesana?" tanyaku kaget.


"Iya. Memang gue ngomong kurang jelas? Gue yang akan pindah kesana, gue kost di sana bareng lo." tukas Mas Gun.


"Eh, jangan mas. Lo jangan pindah kesana." sahutku.


"Lho, kenapa? Apa bedanya? Lo tetap tinggal disana, cuma bedanya bareng sama gue di sana. Simpel kan!"


"Jangan mas, gue takut terjadi apa-apa sama lo." tambahku.


"Di, lo tenang aja. Kali ini gue nggak akan biarin lo sendiri. Ayo kita hadapi bareng-bareng. Mau kuntilanak merah, biru, hijau, ungu! Kuntilanak mejikuhibiniu sekalipun, gue akan ada di samping lo." sergah Mas Gun.


"Tapi mas.."


"Nggak ada tapi-tapian. Besok gue angkut barang-barang gue kesana. Kita kost bareng di sana. Gue akan bantu lo ambil mustika itu dari tangan nenek sialan itu. Oke!" tambah Mas Gun.


Aku diam, berpikir sejenak. Aku takut terjadi apa-apa pada Mas Gun.


"Beneran lo mau kost di sana mas?" tanyaku meyakinkan Mas Gun.


"Kenapa lo yang ragu sih Di? Gue aja yakin. Memang kenapa kalau gue tinggal di sana bareng sama lo?" tanya Mas Gun.


"Nggak apa-apa mas. Justru gue takut terjadi sesuatu sama lo." jawabku.


"Ya kalau terjadi apa-apa sama gue, berarti memang itu takdir gue. Simpel kan! Intinya, gue akan bantu lo sampai masalah ini selesai. Sampai lo hidup normal lagi." balas Mas Gun.


"Tapi ingat, jangan pernah berhubungan lagi dengan hal-hal gaib. Oke!" tambah Mas Gun.


"Siapa yang mau mas, semua ini terjadi bukan kemauan gue. Sebut aja ini takdir gue. Iya nggak?" balasku.


Mas Gun senyum.

__ADS_1


Aku bingung bercampur senang. Saat aku bingung hendak melakukan apa, Mas Gun ada untuk mendukungku. Kali ini aku merasa benar-benar tak sendiri. Mas Gun dengan yakin akan tinggal bersamaku di kamar itu. Juga membantuku mengambil mustika itu. Salahku, kenapa tak dari dulu saja aku cerita pada Mas Gun. Kalau dari dulu aku cerita, mungkin saja ia sudah tinggal bersamaku di kost itu. Ia tak pernah berubah, kepeduliannya pada sesama memang tak pernah hilang.


__ADS_2