Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 134


__ADS_3

Krakk. Suara tulang pergelangan Mas Gun yang sedang di kembalikan ke posisi normal. Aku linu dan bergidik mendengar suaranya. Mas Gun teriak sekuat tenaga, wajahnya memerah. Di dahinya muncul bulir-bulir keringat.


Pada akhirnya kami berhasil menemukan pengobatan tradisional urut patah tulang tak jauh dari kawasan kampus. Wanita paruh baya dengan kerudung motif bunga-bunga yang mengurut tangan Mas Gun. Ia adalah generasi ketiga yang mewarisi ilmu urut patah tulang, ujarnya di sela-sela mengurut pergelangan tangan Mas Gun.


"Ini udah balik seperti semula tangannya, tapi tangan kamu harus di gips ya. Biar nggak bergerak banyak." ucapnya sembari mengoleskan minyak berbau menyengat di pergelangan Mas Gun.


Mas Gun hanya mengangguk. Sesekali ia meringis kesakitan. Bulir keringatnya kini mulai mengalir membasahi wajahnya. Aku diam di samping Mas Gun, kadang menjadi pelampiasan sebagai penahan rasa sakitnya. Tanganku di cengkram keras, lenganku di cubitnya dengan kuat.


* * *


Kami sampai kembali di kamar kost. Ada beberapa pantangan yang harus di taati oleh Mas Gun jika tangannya ingin cepat sembuh. Ibu tukang urut bilang, Mas Gun tak boleh minum susu sampai gips yang membungkus tangannya di buka. Karena susu mengandung kalsium yang bisa mempengaruhi pertumbuhan tulang. Sedangkan tulang tangan Mas Gun sedang dalam masa penyembuhan.


Hari masih pagi, kami bersantai di ruang depan, Mas Gun merebahkan tubuhnya di lantai. Wajahnya tampak lesu. Energinya habis terkuras karena menahan rasa sakit ketika di urut tadi. Aku belum berani bertanya padanya tentang apa yang terjadi tadi malam.


"Assalamualaikum." salam Tika mengagetkan kami.


"Waalaikumsalam. Eh, Tika." jawabku.


Tika melepas sepatunya lalu masuk ke dalam kamarku.


"Mas Gun kenapa Di? Ada yang jahilin ya?" tanya Tika.


"Hah? Kok lo tahu?" sahutku.


"Tadi pagi Kang Ujang yang cerita. Kata Kang Ujang Mas Gun hilang dari semalam. Memang benar?" Tika lanjut bertanya.


"Iya Tik." jawabku singkat. Mas Gun hanya diam dengan senyum tipis terukir di bibirnya.


Tika duduk dekat pintu. Lalu memberikan sekantung plastik gorengan.


"Nih, sarapan dulu!"


Aku mengambil plastik gorengan dan mengeluarkan isinya, lalu menaruh seluruh gorengan di sebuah piring plastik.


"Makasih ya Tik. Eh lo mau minum apa nih? Adanya kopi doang nih, mau gue buatin?" tanyaku pada Tika.


"Nggak usah Di. Makasih." jawab Tika.


"Mas, jadi gimana ceritanya sampai lo bisa hilang semalam?" Tika memulai introgasinya.


Mas Gun bangun dari rebahnya, wajahnya sedikit meringis kesakitan. Lalu duduk bersandar pada dinding.

__ADS_1


"Sambil makan gorengan ya ceritanya." ucap Mas Gun seraya mencomot satu pisang goreng.


"Iya silakan sambil makan mas." ucap Tika.


"Gue tahu kalian penasaran dengan yang terjadi ke gue semalam. Jadi begini, semalam sekitar jam sebelas tiba-tiba perut gue lapar. Salah gue juga sih, kenapa saat Adi pergi beli makan gue nggak titip makanan juga. Mie instant pun nggak ada di kamar. Akhirnya, gue memutuskan untuk keluar kost. Karena gue pikir baru jam sebelas, dan gerbang kost pasti belum di kunci. Gue udah nyalain motor, dan pergi lewat halaman. Eh ternyata sial, gerbang kost udah di kunci. Kesel banget rasanya hati gue. Terpaksa balik lagi ke kost." cerita Mas Gun.


Aku mendengarkan sambil menggigit sepotong tempe goreng. Tika pun diam menyimak.


"Gue balik ke kamar, rebahan lagi di ruang sini sambil main game. Mungkin dengan main game gue bisa mengalihkan rasa lapar gue. Awalnya memang iya, tapi cuma sebentar. Kalau nggak salah, sekitar jam setengah dua belas perut gue keroncongan parah. Wah, ini udah nggak bisa di tahan nih. Kalau gue tahan ujungnya bisa masuk angin. Dalam hati, gue panjat juga tuh gerbang. Bodo amat deh, yang penting perut gue bisa keisi makanan." lanjut Mas Gun.


"Terus, lo panjat gerbang kost mas?" tanyaku sembari menyobek bungkus kopi.


"Sabar dong. Pelan-pelan. Ini mau gue ceritain. Mau di lanjutin nggak nih?" balas Mas Gun.


"Tau nih. Main potong aja sih." gumam Tika.


"Hehehehe. Iya iya, maaf. Lanjutin dong! Gue udah bikin kopi nih, masa nggak di lanjutin." sergahku sambil mengaduk kopi.


"Gue pun keluar dari kamar, jalan lewatin garasi. Begitu sampai di halaman, suasana sepi banget. Dan perasaan gue nggak enak, seperti ada sesuatu gitu. Hmmm, seperti ada yang perhatiin gue." lanjut Mas Gun.


"Ternyata perut lapar memang bikin kita sedikit nggak waras. Otak jadi kurang bisa berpikir jernih lho. Dan itu terbukti sama gue." ujar Mas Gun.


"Maksudnya gimana mas?" tanya Tika.


"Lalu?" gumam Tika.


"Akhirnya gue panjat gerbang kost. Posisi gue masih nangkring di atas gerbang. Tiba-tiba ada sesuatu yang gue lihat di rumah kosong itu. Serem banget Di. Asli gue nggak bohong. Hiiyyyy amit-amit deh. Nggak mau lagi gue lihat itu lagi." terang Mas Gun.


"Memang apa yang lo lihat mas?" tanyaku penasaran.


"Iya, memang lo lihat apa mas?" Tika pun bertanya seraya merapatkan posisi duduknya lebih ke depan.


"Cewek gantung diri." ujar Mas Gun.


Aku terkejut, Tika pun terhenyak mendengar jawab Mas Gun.


"Yang bener mas?" tanyaku.


"Sumpah Di, gue nggak bohong. Seumur hidup gue, belum pernah gue lihat penampakan sejelas dan seseram itu." ungkap Mas Gun.


"Dulu waktu di pondok paling apaan sih gangguan dari hal gaib yang kita alami? Paling cuma suara tentara baris-berbaris tiap tanggal 30 September. Iya kan?" jawab Mas Gun.

__ADS_1


"Iya sih." balasku. "Memang rupanya gimana mas cewek yang gantung diri itu?" tanyaku lagi. Tika hanya diam memperhatikan.


"Cewek itu menggantung persisi di depan pintu rumah. Rambutnya keriting, sebagian wajahnya tertutup rambutnya. Dari mulutnya keluar cairan hitam Di. Saat gue lihat, cewek itu masih bergerak-gerak, seperti sakarotul maut gitu. Seperti meronta-ronta. Serem banget Di." jelas Mas Gun.


"Terus, lo gimana begitu lihat pemandangan itu?" tanyaku.


"Gue lompat dari atas gerbang, nggak pakai pikir panjang, nggak peduli seberapa tingginya gerbang itu. Begitu gue mendarat, gue kabur gue lari. Sialnya, kaki gue tersandung pot bunga sialan milik ibu kost. Gue jatuh, tersungkur di halaman. Saat gue berdiri, gue sempatin untuk menengok ke arah rumah kosong itu. Dan ternyataaa.."


"Ternyata apa mas?" tanyaku.


"Ternyataaa.."


"Ternyata apaan sih mas?" Tika pun sungut-sungut.


Mas Gun diam. Aku menatap tajam ke arah Mas Gun. Tika memasang wajah serius.


"Ternyata cewek yang gantung diri itu udah nggak ada. Berarti yang gue lihat itu apa?" ujar Mas Gun.


Aku diam.


Tika pun diam.


"Apa ayo? Berarti cewek yang gue lihat itu apa?" tanya Mas Gun padaku dan Tika.


"Se-setan?" Tika menjawab


"Iya betul! Ternyata yang gue lihat itu setan. Tapi baru kali ini gue lihat penampakan setan yang begitu jelas dan seram."


"Terus, kenapa lo bisa ada di atas pohon? Padahal lihat setannya di rumah kosong depan." tanyaku.


"Nah, ini yang akan gue ceritakan selanjutnya pada kalian." jawab Mas Gun. Ia mengambil cangkir kopi, meniupnya pelan, lalu menyeruputnya sedikit.


Aku dan Tika menunggunya bercerita. Kami sangat penasaran dengan kejadian yang Mas Gun alami. Kenapa ia bisa ada di atas pohon nangka di kebun belakang. Dan Kubil bilang, ada gangguan dari genderuwo penunggu kebun kosong belakang kost.


"Eh Di, sebentar deh. Sebelum gue lanjutin ceritanya, gue mau tanya sama lo." ucap Mas Gun.


"Mau tanya apa mas?"


"Ruang belakang kamar kita kok selalu bau amis ya? Dekat kamar mandi gitu asal baunya. Apa ada bangkai tikus ya di loteng atas?" tanya Mas Gun.


Aaahh, Kubil. Ia pasti ada di sana. Kehadirannya memang identik dengan bau amis mirip seperti pasar ikan. Tak mungkin aku katakan dengan jujur pada Mas Gun kalau memang ada demit bocah di sana.

__ADS_1


"Coba nanti minta tolong ke Kang Ujang deh buat periksa di loteng. Barangkali memang ada bangkai di atas." aku menjawab sekenanya.


Tika hanya melirikku. Aku yakin Tika tahu asal dari bau amis itu.


__ADS_2