
"Mas, lo yakin kalau perempuan difoto yang lo lihat di mimpi?" tanyaku dengan jantung berdebar.
"Yakin banget Di. Memang wajahnya samar terlihat, tapi jelas perempuan ini yang hadir dimimpi gue." jawab Mas Gun.
Aku menelan ludah. Tanda apa lagi ini?
"Di, pokoknya lo harus kembalikan foto ini secepatnya. Harus!" tukas Mas Gun.
"I-iya mas, besok pagi kalau ketemu Kang Ujang."
"Kalau ketemu Kang Ujang? Kenapa harus tunggu Kang Ujang segala Di? Lo nggak curiga dengan yang terjadi sama gue? Coba lo pikir, kenapa bisa pas? Foto ini lo ambil dari rumah itu dan bawa kesini, lalu gue mimpi perempuan ini." ujar Mas Gun.
Benar, tak mungkin ini kebetulan.
"Tapi rumah itu dikunci mas. Cuma Kang Ujang yang pegang kunci rumah itu." jawabku dengan cepat.
Mas Gun geleng-geleng kepala. Ia menghela nafas panjang.
"Ayo!" tutur Mas Gun seraya bangun dari duduknya.
"Ayo kemana?"
"Ke rumah itu. Ayo kita dobrak pintunya dan kembalikan foto itu ke tempat asalnya. Ayo!" ajak Mas Gun sedikit memaksa.
"Apa? Dobrak? Nggak mas. Nggak mau gue. Nggak sopan kalau kita ngelakuin itu mas." sahutku.
"Apa? Sopan lo bilang? Eh Di, itu rumah kosong. Nggak ada pemiliknya, ngapain kita sopan segala. Ayo buruan!"
"Nggak mas. Gue nggak mau." aku menolak tegas.
Mas Gun senyum.
"Oke, kalau lo nggak mau. Biar gue sendiri yang balikin foto itu." ujar Mas Gun sambil berlalu keluar kamar dengan cepat.
Aku mengejar Mas Gun. Kucoba menghalangi niat Mas Gun untuk mendobrak pintu rumah itu. Tapi Mas Gun keukeuh ingin mengembalikan foto itu saat ini juga. Tubuh besarnya tak bisa kutahan. Ia tetap jalan menuju rumah kosong.
"Mas, tolong jangan dobrak pintunya mas. Tunggu sampai besok pagi saja. Mas, jangan lakuin itu mas." aku menghalangi Mas Gun.
Namun Mas Gun tak menggubrisku.
Kami sudah berdiri di depan rumah kosong. Malam memang belum larut, tapi suasana amat sepi terasa. Dari luar, rumah ini tampak menyeramkan. Aku dan Mas Gun berdiri menatap rumah.
"Mas, besok saja kembaliin fotonya. Gue takut terjadi hal lain kalau lo dobrak pintu rumah itu mas." aku masih berusaha mencegah Mas Gun.
"Nggak! Malam ini juga, harus kita balikin foto sial ini ke tempatnya. Kalau lo nggak mau bantu, nggak apa-apa biar gue sendiri." balas Mas Gun. Ia masih saja keras kepala.
"Lagian kenapa sih lo menghalangi gue? Gue balikin foto ini demi kebaikan kita bersama Di. Demi kebaikan lo. Jangan sampai kita diganggu lagi oleh demit-demit sialan itu. Sekarang gue tanya, lo mau bantu atau nggak?" Mas Gun menyudutkanku.
"Mas, apa perasaan lo kalau rumah lo dimasukin orang tanpa izin? Orang itu masuk dengan cara mendobrak pintu lo. Gimana perasaan lo?" tanyaku.
Mas Gun diam, ia tampak berpikir.
"Lo jangan mengalihkan pembicaraan Di. Ini nggak ada hubungannya dengan rumah gue. Intinya sekarang lo mau bantu apa nggak?" ujar Mas Gun.
Sial. Si gembrot satu ini keras kepala sekali sih.
"Gue lebih baik nggak bantu lo. Gue nggak mau hal yang nggak diinginkan terjadi." jawabku pelan.
Mas Gun mengacungkan jempolnya padaku. Tanpa berkata, ia langsung berjalan menuju depan pintu. Mas Gun mengambil aba-aba, bersiap untuk mendobrak pintu rumah.
Duakk. Pintu dihantam dengan lengannya yang besar. Pintu bergetar. Nun belum terbuka.
Mas Gun mundur dua langkah, lalu mengambil ancang-ancang.
.
.
.
Duakk. Hantaman kedua.
Mas Gun belum mau menyerah. Ia kembali mundur dan bersiap.
.
.
.
Duakk.
.
.
__ADS_1
.
Duakk. Celah kecil di pintu mulai terlihat.
.
.
.
Duaaakkk. Hantaman terakhir yang membuat pintu terbuka dengan lebar. Aku menganga melihat Mas Gun mendobrak pintu.
Mas Gun menengok ke arahku. Dahinya basah keringat.
"Mau ikut masuk, atau lo tetap disini?" tanyanya.
"Silakan. Lo aja, gue nggak ikut-ikutan." jawabku.
Mas Gun pun masuk, aku menunggu diluar dengan perasaan was-was. Tak butuh waktu lama, sesaat kemudian Mas Gun keluar seraya menyeka keringat di dahinya.
"Cuma gitu doang Di. Apa yang lo takutin?"
"Nggak gitu mas. Gue lebih menghormati penghuni rumah itu, walaupun mereka bukan manusia. Gue takut, cara lo salah." ujarku.
Kami berjalan, menuju kamar kost.
"Hahahahaha. Sejak kapan lo hormat dengan makhluk yang mengganggu lo? Apa karena lo udah pernah jalan-jalan ke alam mereka? Jadi rasa respect lo tinggi. Hahahahaha, Adi Adi."
Aku tak menanggapi ocehan Mas Gun.
Kami sampai teras depan kost. Mas Gun duduk dengan kaki berselonjor, nafasnya terengah. Bajunya basah oleh keringat.
"Kalau lo nunggu besok, entah apa yang akan terjadi malam ini Di." ucap Mas Gun, ia membuka bajunya. Perut yang penuh lemak tampak mengilat karena keringat.
"Semoga nggak terjadi apa-apa." sahutku.
Tiba-tiba, angin bertiup dengan kuat. Menggoyang dahan, menerbangkan dedaunan kering, membuat udara terasa lebih dingin.
"Naaahh gitu dong. Yang gue cari memang angin." ucap Mas Gun dengan wajah riang.
Aku masuk kedalam kamar, tubuhku tak kuat diterpa angin yang cukup kuat. Kuseduh secangkir kopi. Lalu duduk bersandar pada dinding. Pandanganku tertuju pada sebuah jaring laba-laba di langit kamarku. Pikiranku menerawang. Sepintas kembali teringat tentang nasibku dan Tika yang sudah ditandai. Apa aku akan selamat nantinya?
"Mas, mau kopi nggak?" aku setengah teriak memanggil Mas Gun.
"Boleh Di." sahutnya. Kubuatkan kopi untuk Mas Gun. Kamipun duduk diteras depan kamar. Mengobrol tak tentu arah.
"Permisi Bang Adi." sapa Ela ramah.
"Mariiii." jawabku.
"Dini," aku memanggil Dini.
Dini menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.
"Iya bang."
Aku bangun dari duduk dan menghampirinya.
"Boleh ngobrol berdua nggak? Itupun kalau Dini nggak keberatan." tanyaku. Ela dan Dini tampak sedikit terkejut, lalu mereka tersenyum.
"Ciiiyeeee. Boleh bang. Kalau ngobrol sama cowok Dini nggak pernah keberatan kok." Ela menyahut sembari meledek.
Dini menepuk lengan Ela.
"Ngobrol berdua? Ngobrol soal apa bang?" tanya Dini menunjukkan gelagat malu.
"Nggak ada yang serius sih. Cuma mau ngobrol saja." ucapku.
"Ciiyyeee. Uhuyyy. Ngobrol serius juga boleh kok bang." Ela lagi-lagi menimpali. Dini cuma senyum simpul.
"Didepan kamar Dini saja ya." Dini menawarkan.
Mas Gun hanya mesem-mesem melihatku.
"Oh. Boleh, biar nggak ada fitnah. Memang lebih baik didepan kamar saja." balasku.
Aku, Dini, dan Ela menuju teras depan kamar 11d. Sebelum masuk kamar, Ela mempersilakanku untuk duduk. Aku duduk berdampingan dengan Dini. Mas Gun tetap mesem-mesem melihat ke arah kami.
"Mau ngobrolin apa bang?" tanya Dini.
"Nggak tahu nih mau ngobrol apa. Yang penting ngobrol sama Dini aja."
"Bang Adi apaan sih. Serius niiihh, mau ngobrolin apa sama Dini?"
"Eh Dini, Bang Adi boleh tanya sesuatu nggak?"
__ADS_1
"Boleh bang. Tapi jangan banyak-banyak ya pertanyaannya." sahut Dini sambil tersenyum. Manis juga bocah satu ini.
"Emmm, Dini ingat nggak pernah kasih nasi bungkus ke Bang Adi?" tanyaku.
"Iya bang, Dini ingat. Memangnya kenapa?"
"Gini, itu nasi bungkus Dini yang beli atau pemberian dari orang?"
"Itu pemberian orang bang. Memangnya kenapa? Bukannya itu udah lama ya?" ungkap Dini.
"Pemberian orang? Tapi kenapa waktu Dini kasih nasi bungkus itu, seolah pemberian dari Dini. Ingat nggak? Dini sampai minta maaf sama Bang Adi, karena lauknya seadanya. Sebenarnya itu pemberian siapa?"
"Emmm, maaf bang. Sebenarnya itu pura-pura saja, seolah nasi bungkusnya pemberian Dini."
"Kenapa harus pura-pura Din?" tanyaku.
"Maafin Dini bang."
"Yaudah, nggak apa-apa. Lalu, siapa orang yang kasih nasi bungkus itu ke Dini?" tanyaku lagi.
"Dini nggak kenal bang. Pokoknya Dini papasan sama orang itu didepan rumah kosong itu." jawabnya.
"Ciri-cirinya seperti apa?" tanyaku.
"Cewek bang, umurnya sekitar empat puluh tahunan. Pakai baju brukat warna merah, kain batik merah tua. Rambutnya konde, mirip cewek jaman dulu deh pokoknya bang." jawab Dini.
Aku diam, mencerna ciri-ciri yang Dini sebutkan. Merah. Aneh.
"Perempuan itu ngomong sesuatu sama Dini?" tanyaku lagi.
Dini berpikir sejenak, mengingat-ingat kejadian itu.
"Dia cuma bilang, titip ini untuk Adi. Jangan sampai salah orang ya nak. Udah cuma ngomong itu aja bang. Memang kenapa bang?"
Aku diam, tak langsung menjawab pertanyaan Dini.
"Bukan apa-apa sih. Sebenarnya, Bang Adi cuma mau tanya itu saja sih." ucapku.
"Jadi cuma mau tanya itu aja?"
"Iya. Bang Adi penasaran itu aja." jawabku.
"Nggak mau tanya yang lain?"
"Emmm, sementara itu dulu deh. Kalau nanti Bang Adi ada perlu boleh kan ngobrol-ngobrol lagi?"
Raut wajah Dini seketika bete.
"Boleh. Yaudah, Dini masuk ya." ucapnya, kemudian langsung masuk kamar.
"Iya Dini. Makasih banyak ya." ucapku.
Dini tak menjawab. Pintu kamarnya langsung ditutup.
Aku kembali ke teras depan kamar, duduk bergabung bersama Mas Gun. Kuseruput kopi yang sudah menghangat. Mas Gun mesem-mesem sambil menghisap rokoknya.
"Kenapa? Ditolak? Hehehehehe." tanya Mas Gun.
Aku tak menggubrisnya.
Obrolan kami cukup sampai jam sembilan malam. Aku dan Mas Gun memutuskan untuk masuk kamar dan beristirahat. Setelah shalat isya, aku langsung merebahkan tubuhku. Mataku terasa berat. Tak kupikirkan lagi cerita Dini tentang perempuan yang menitipkan nasi bungkus untukku.
\* \* \*
Suara gonggongan anjing membangunkanku. Kurenggangkan tubuhku. Kulihat jam di ponselku, pukul 03:02. Gangguan apa lagi ini? Sejak awal aku tinggal di kost ini, ada saja gangguan tiap jam tiga malam. Kali ini gonggongan anjing. Aku beranjak dari kasur, menuju ruang depan. Kulihat Mas Gun telentang dengan mulut menganga, dengkurannya cukup keras. Tapi gonggongan anjing masih saja terdengar.
Wuuuuussssshhh. Angin dengan kencang meniup gordyn. Jendela kamarku terbuka ternyata. Dengan sigap kututup jendela kamar. Kulihat keluar kamar, suasana sangat sepi. Angin diluar bertiup dengan kencangnya, menggoyang dahan dan menerbangkan dedaunan.
Buuaakkk. Seketika pintu kamarku terbuka. Layaknya didobrak dari luar. Angin merangsek masuk kedalam kamar, dedaunan ikut masuk bersama angin. Kuhalangi pandanganku dengan tangan.
Samar-samar kulihat sosok yang berdiri tepat di halaman kost.
Deg deg deg deg deg deg deg. Jantungku berdegup dengan cepat. Dengkulku lemas. Bulu kudukku meremang. Tubuhku menggigil ketakutan.
Sosok yang sangat kukenal.
.
.
.
.
Kuntilanak merah.
__ADS_1
Ia tersenyum menyeringai dengan mata melotot.
"Hihihihihihihihihihihi." ia tertawa mengikik menatapku.