Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 33


__ADS_3

Langit akhirnya menumpahkan airnya, hujan turun dengan lebat. Kang Ujang masih menemaniku mengobrol. Adzan Maghrib berkumandang, terdengar tipis-tipis karena terhalang suara gemuruh hujan di sertai petir. Kami pindah mengobrol ke ruang depan kamarku, dan pintu kamar ku buka lebar. Angin terasa sejuk masuk ke dalam kamarku.


"Aduuh, niat mau ngobrol sebentar malah kejebak di kamar Dek Adi nih." ucap Kang Ujang.


"Santai aja kang. Mau ngopi lagi kang?" tawarku.


"Ah nggak usah dek. Hari ini saya sudah ngopi tiga gelas, sudah kebanyakan. Ini saya nggak ganggu istirahat Dek Adi nih?" tanya Kang Ujang sambil tersenyum.


"Santai aja kang. Jam segini belum waktunya saya tidur." tuturku.


Kang Ujang tinggal di sebuah rumah mungil di pinggir kebun kosong sana, tepatnya dekat gang masuk ke kost ini.


"Kapan-kapan main atuh ke sana dek. Gantian, Dek Adi ngopi di sana." Kang Ujang menawariku untuk datang silaturahmi ke rumahnya.


"Gampang kang. Nanti Insya Allah main ke sana."


"Kang, mau tanya lagi boleh?" aku berkata agak ragu.


"Sok atuh, mau tanya apa?" balas Kang Ujang.


"Jadi rumah depan itu benar-benar kosong ya?"


"Iya kosong dek, dari saya belum kerja di sini rumah itu sudah lama kosong. Memang kenapa dek?"


Bilang tidak ya? Apa aku harus menceritakan kejadian hari itu? Hari dimana ku lihat sosok wanita bergaun putih lusuh berdiri menghadap ke pintu rumah, dan di kelilingi puluhan ekor kucing.


"Em, sebenernya saya bingung mau bilang atau cerita ke Kang Ujang. Tapi saya penasaran euy." ucapku.


"Ya sok atuh bilang. Kenapa mesti bingung?"


Akhirnya ku ceritakan kejadian hari itu, ku lihat sosok wanita bergaun putih lusuh dan puluhan kucing. Awalnya Kang Ujang agak terkejut, namun mimik wajahnya seperti tak terjadi sesuatu. dan biasa saja.


"Jadi, menurut Kang Ujang yang saya lihat siapa?" tanyaku meminta pendapatnya.

__ADS_1


"Ah, itu sih bayang-bayang Dek Adi saja. Bukan apa-apa kok. Rumah kosong memang identik sama yang seram-seram, ada penunggunya lah, ada jurignya lah, ada demitnya lah. Tapi saya nggak pernah lihat hal-hal macam itu." jelasnya.


Aku agak kecewa dengan penjelasan Kang Ujang. Ku kira ia bakal menjawab dengan antusias, paling tidak ia membenarkan apa yang ku lihat waktu itu. Misalnya, mendukung teoriku kalau yang ku lihat itu betul-betul setan. Namun kenyataannya seolah menenangkanku dan yang ku lihat hanyalah ilusi.


"Oh gitu. Ya mudah-mudahan saya yang salah lihat, atau bisa jadi yang saya lihat cuma bayangan aja."


"Iya dek, kalau saya sebenernya sih kurang percaya dengan hal-hal macam itu." ujarnya lagi.


Aku diam.


"Kang, saya mau tanya satu hal lagi nih. Boleh ya?" tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di otakku, entah dari mana datangnya.


"Hahahahaha, Dek Adi ini hobi betul bertanya ya." gumam Kang Ujang sambil tertawa.


"Ya sok atuh,"


"Selama saya kost di sini, tiap jam tiga malam saya kebangun gara-gara dengar suara bayi nangis kang. Apa Kang Ujang tahu dekat-dekat sini ada tetangga yang habis melahirkan?" tanyaku.


Kang Ujang terperanjat. Ia salah tingkah. Aku heran melihat gerak-geriknya, posisi duduknya seolah tak nyaman.


"Eh. Emm. Anu, itu, itu. Em, Dek Adi nanya apa barusan?" Kang Ujang terlihat gugup.


"Kang, apa Kang Ujang tahu soal suara bayi nangis?" aku kembali bertanya.


"Bayi nangis? Ah, Dek Adi salah dengar mungkin." jawabnya.


"Nggak mungkin kang. Masa salah dengar hampir setiap malam sih, nggak masuk akal kang." tepisku.


"Saya. Em. Saya nggak tahu kalau itu dek." jawab Kang Ujang sekenanya.


Di luar masih hujan, masih deras. Bahkan petir sesekali menyambar. Angin pun bertiup kencang.


Ada yang aneh dengan gelagat dan jawaban dari Kang Ujang. Pasti ia tahu sesuatu, namun tak ingin membeberkannya. Jelas ada yang ia sembunyikan.

__ADS_1


"Sebenernya ada apa sih kang?" aku terus mendesaknya. Berharap ia menceritakan hal yang selama ini menggangguku. Hujan di luar masih deras, tak mungkin ia pamit pulang. Aku menang, sebentar lagi Kang Ujang pasti buka suara soal bayi menangis.


"Aduh, beneran kalau itu saya nggak tahu dek." jawab Kang Ujang, ia tak menatap mataku. Ia gugup.


"Masa Kang Ujang nggak tahu sih. Saya cuma mau tahu, tetangga dekat sini apa ada yang habis melahirkan? Itu aja sih." pancingku.


"Iya mungkin ada yang habis melahirkan dek." jawab Kang Ujang.


"Dek, saya pamit ya. Saya belum mandi euy, habis kerja. Nanti adek terganggu sama bau badan saya." ucap Kang Ujang seraya berdiri.


"Eh kang, kan masih hujan. Nanti aja pulangnya." sergahku.


"Nggak apa-apa dek. Saya pamit ya. Hatur nuhun kopinya." Kang Ujang bergegas pergi, ia berlari pelan, menembus derasnya hujan. Aku tak bisa mencegahnya pergi.


Kang Ujang meninggalkanku dengan seribu tanda tanya berdesakan di kepalaku. Ia pasti tahu soal bayi menangis tiap jam tiga malam, hanya saja ia tak berani menceritakan yang sebenarnya padaku. Aku makin penasaran, apa yang sebetulnya terjadi?


Pintu kamar ku tutup rapat, aku merebahkan badanku di ruang depan. Dan tiba-tiba saja di otakku muncul nama Kemala. Hmmm. Ku lupakan nama Kang Ujang saat ini.


Tik tik tik tik tik.


Aku nekat menyapanya lewat chat. Tak peduli nantinya di balas atau tidak olehnya.


Tring.


Hei, ia membalas. Keajaiban. Dan kami pun saling berkirim chat. Seru. Mendebarkan. Menyenangkan. Penuh intrik.


"Hahahahahaha."


Suara tawa perempuan? Siapa yang lewat depan kamarku? Aku bangun dari duduk, ku singkap sedikit gordyn kamarku. Oh, ternyata dua perempuan penghuni kamar 11d. Ela dan Dini, dan siapa itu?


Siapa yang berjalan agak tertatih di belakang Ela? Bajunya? Bajunya panjang berwarna merah. Apa itu teman mereka? Wajahnya tak jelas terlihat, tertutup rambutnya yang panjang. Teman kerja mungkin. Aku masih mengintip hingga Ela dan Dini terdengar membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam. Lalu, siapa wanita berbaju merah panjang yang berjalan di belakang Ela?


Ku acuhkan. Apa urusanku? Tak perlu repot-repot memikirkan baju mereka yang tak seragam, pikirku. Chat dengan Kemala jauh lebih mengasikkan.

__ADS_1


Hujan berganti menjadi gerimis. Suara air yang jatuh dari langit membuat irama di atas genting. Syahdu, layaknya nyanyian tidur. Aku berkirim chat cukup panjang dengan Kemala. Sampai-sampai, ku beranikan diri mengajaknya nongkrong di sebuah kedai kopi esok hari selepas kuliah. Ajaibnya, Kemala mengiyakan ajakanku. Hatiku berdebar-debar. Darahku seolah mengalir deras. Seperti ada energi dahsyat yang memenuhi tubuhku, mengisi tiap relung nadiku. Apa ini yang namanya jatuh cinta? Hahahahaha. Sepertinya aku salah makan tadi.


__ADS_2