
Aku dan Kakek Badrun berjalan melewati perkebunan pisang. Gelap dan menyeramkan. Hujan lebat telah berubah menjadi gerimis kembali. Bajuku basah kuyup, celanaku pun basah.
"Kek maaf, bagaimana soal mustika ini?" tanyaku sembari berjalan beriringan dengan Kakek Badrun.
"Kau simpanlah nak. Sengaja ku berikan agar kau terhindar dari kekuatan jahat yang ingin mencelakaimu." jawab Kek Badrun.
"Kekuatan jahat apa kek? Memang benar ada yang mengincar saya?" tanyaku kembali.
Kek Badrun berhenti dari langkahnya.
"Nak Adi, kau pulanglah. Sebentar lagi temanmu datang. Nanti akan ku ceritakan semua saat waktunya telah tiba."
"Kek, tunggu kek!" aku menahan Kek Badrun yang tiba-tiba lenyap di balik pohon pisang yang berbaris.
Rasanya melihat sesuatu yang tiba-tiba menghilang dalam sekejap sudah tak asing lagi bagiku. Sudah tak kaget dan terasa biasa saja.
"Adiiiii.." panggil seorang. Suaranya tak asing. Mas Gun. Perkataan Kek Badrun benar, ada temanku yang akan datang. Yang menjadi pertanyaanku saat ini adalah, siapa sebenarnya Kek Badrun? Apakah ia manusia atau demit yang menyerupai manusia?
Aku berjalan melewati perkebunan pisang, jalan menjadi becek akibat hujan, aku sulit untuk melangkah. Beberapa kali aku hampir jatuh terpeleset, karena tanah menjadi pulen akibat di guyur hujan.
"Adiiiii.." panggil Mas Gun lagi.
"Iya mas. Tunggu bentar!" teriakku.
Mas Gun menungguku di depan jalan kecil, tepat di pinggir kebun pisang.
"Lo habis ngapain Di?" tanya Mas Gun dengan raut wajah panik.
"Maaf gue nggak jawab telpon lo Di. Untung lo kirim live share, jadi gue bisa tahu lo dimana. Ayo naik!" ujar Mas Gun.
Tubuh besarnya di balut jas hujan plastik berwarna biru. Kepalanya memakai helm cetok, lebih mirip batok kelapa.
"Iya nggak apa-apa mas." balasku. Aku pun duduk membonceng.
Bajuku basah kuyup. Untungnya ponselku tak mati terkena air hujan. Mas Gun memacu motornya cepat.
"Di, lo tidur di kontrakan gue aja dulu ya. Besok baru gue antar ke kost lo." ucap Mas Gun.
"Iya mas."
Tubuhku terasa amat lelah. Aku bersandar pada tubuh Mas Gun yang besar. Sepuluh menit kemudian, kami sampai di kontrakan Mas Gun. Ia menyuruhku mandi dan bersih-bersih, tak lupa menyuruhku untuk shalat isya.
"Nih, udah gue bikinin teh hangat. Minum nih!" Mas Gun menyodorkan secangkir teh hangat. Asap tipisnya menari-nari.
"Makasih mas." aku menyeruput sedikit teh hangat buatan Mas Gun. Hangat, manis jambu, dan menenangkan.
"Di, sebenarnya lo ada masalah apa? Tolong cerita ke gue. Lo masih anggap gue mas lo kan Di?" tanya Mas Gun pelan.
"Mas, maaf ya selama ini gue nggak cerita apa-apa sama lo. Gue takut malah jadi beban dan nambah pikiran lo mas." jawabku.
"Di, kita ini saudara. Jangan sungkan buat cerita apa pun ke gue. Ingat Di, ayah ibu titip lo ke gue, gue bertanggung jawab atas diri lo selama lo di sini. Makanya gue ngotot untuk ajak lo kost bareng gue." balas Mas Gun.
Aku diam, aku tersentuh dengan perkataan Mas Gun. Betapa baiknya ia denganku, dengan keluargaku.
Aku pun menceritakan beberapa kejadian yang ku alami sejak aku kost di kamar nomor 11b. Termasuk kehilangan sahabatku, Bagas. Mas Gun diam tertegun mendengar ceritaku, tanpa berkata.
Setelah puas mendengar ceritaku, Mas Gun menyuruhku untuk tidur.
"Lo tidur deh, istirahat yang cukup. Gue perhatiin muka lo agak pucat, kurang tidur pasti. Sana tidur."
Ku rebahkan tubuhku di atas kasur. Mas Gun menyalakan laptopnya. Tak berapa lama, aku pun pulas tertidur.
***
Aku mendengar tawa cukup keras, terdengar riuh ramai. Sekitar belasan orang tertawa, entah apa yang mereka tertawai. Aku beranjak dari pembaringan. Ku lihat ramai orang berdiri sambil tertawa membentuk lingkaran, di tengahnya ada beberapa orang berdiri dengan tangan terikat penuh luka. Dasar manusia tak punya akhlak, pikirku.
Aku berjalan ke sisi lain, guna melihat lebih jelas orang yang berdiri di tengah lingkaran dan di tertawai. Seorang lelaki dengan wajah tertunduk, dan seorang perempuan kurus dengan rambut terurai panjang. Selebihnya aku tak begitu jelas. Siapa mereka?
Aku mendekat ke arah sekelompok orang itu.
Astaga, itu Bagas. Lelaki yang berdiri dengan tangan terikat dan penuh luka itu Bagas, kawanku. Lalu siapa wanita di sebelahnya? Ku sipitkan mataku agar lebih tajam terlihat.
Ya ampun, bukankah itu Mbak Wati? Anak angkat Nek Iyah. Mengapa mereka di perlakukan seperti itu? Dan mengapa sekelompok orang ini menertawai mereka?
Aku mendekat, ingin ku terobos kerumunan orang yang menertawai mereka. Namun tubuhku tak kuasa mendorong sekelompok orang ini. Mereka berdiri amat kokoh, bak tiang pancang dengan pondasi amat dalam.
"Gaaasss. Bagaaaasss!" aku memanggil Bagas, tanganku ingin meraih tubuh Bagas, namun tak sampai.
__ADS_1
Sekelompok orang ini masih saja tertawa. Diantaranya bahkan hingga terbahak seraya memegang perutnya. Aku nahas melihat kawanku di tertawakan. Bagas tak bergerak, begitu pun Mbak Wati.
Tiba-tiba di atas Bagas dan Mbak Wati, muncul sosok wanita menyeramkan memakai gaun panjang berwarna merah. Kulitnya putih, jauh dari kata pucat. Rambutnya mengembang semrawut. Ia melihat Bagas dan Mbak Wati dengan tatapan buas, seolah ingin menerkamnya.
"Bagaaaasss!" teriakku kuat.
Lalu, wanita bergaun merah menatapku dengan penuh amarah.
"Kau tak bisahh.. larihh lagiihh.." ia berteriak padaku.
"Di, Adi. Di bangun Di!" Mas Gun menggoyang-goyang tubuhku.
Astaghfirullah, apa itu tadi? Mimpikah? Ku buka mataku.
"Di, lo kenapa Di?" Mas Gun masih menepuk-nepuk bahuku.
"Di, lo mimpi apa Di?"
Aku bangun dari tidurku, duduk lemas dan bersandar pada dinding. Butir-butir keringat membasahi dahiku. Mas Gun memberi segelas air putih, ku tenggak dengan cepat.
"Istghfar Di, istighfar." ucap Mas Gun.
"Lo mimpi apa Di?"
"Yasudah, tenangin dulu pikiran lo. Ambil nafas dulu." suruh Mas Gun.
"Mas,"
"Ya,"
"Jam berapa mas?" tanyaku.
"Jam tiga Di. Kenapa?"
Jam tiga malam. Memang di waktu inilah aku selalu bangun.
"Lo mimpi apa Di?" tanya Mas Gun.
Ku seka keringat di dahiku.
"Mimpi almarhum kawan gue mas." jawabku.
__ADS_1
Mas Gun diam, ia menatapku dengan melas.
"Ambil wudhu sana, kalau bisa sekalian shalat tahajud. Biar hati lo tenang." ujar Mas Gun.
Aku pun beranjak ke kamar mandi, aku berwudhu lalu shalat tahajud dua rakaat. Alhamdulillah hatiku menjadi sedikit lebih tenang. Masih dalam keadaan duduk bersila, Mas Gun bertanya,
"Di, lo masih mau kost di sana?"
Aku tak menjawab langsung pertanyaan Mas Gun.
"Nggak tahu mas. Mungkin bukan gara-gara kost-nya sampai-sampai gue mengalami kejadian aneh. Mungkin sebab yang lain." jawabku.
"Sebab yang lain apa Di? Coba lo pikir lagi Di, lo ingat-ingat lagi, sebelum kost di sana hidup lo normal. Tapi sejak lo pindah ke sana, lo jadi aneh." balas Mas Gun.
"Nanti gue pikir-pikir lagi mas. Sepertinya gue bakal pindah sih, cuma nggak tahu kapan pastinya." sahutku.
Mas Gun diam, ia tak berkata lagi. Mas Gun mengambil sebatang rokok lalu membakarnya.
"Keputusan ada di tangan lo Di. Intinya, kalau lo butuh bantuan, gue ada. Kalau lo mau cerita masalah yang sedang lo hadapi, gue juga ada. Oke." tutur Mas Gun.
"Iya mas. *Suwun yo*." ucapku. Aku kembali merebahkan tubuhku, dan kembali tidur.
\*\*\*
Pukul 07:00 pagi, aku hendak pulang ke kost, aku menolak keinginan Mas Gun untuk mengantarku.
"Gue jalan aja mas, sekalian olah raga. Hehehehe."
"*Sakarepmu ae*." gumamnya.
Udara pagi ini cukup segar, semalam hujan membuat jalan masih basah. Aku berjalan perlahan, menikmati udara segar pagi ini. Sinar matahari nampak malu-malu, karena embun masih riang memenuhi udara pagi.
Sampailah aku di depan gang, ku lihat ada bendera kuning di ikat pada sebuah batang pohon besar. Siapa yang meninggal? Aku berjalan terus menuju kost. Di depan gerbang rumah Nek Iyah ramai orang berkumpul. Ada apa ini?
"Permisi pak. Siapa yang meninggal ya?" tanyaku kepada seorang lelaki yang mengenakan peci hitam.
"Anaknya Nek Iyah dek, Mbak Wati." jawab lelaki itu.
Hah, Mbak Wati meninggal?
__ADS_1