
"Dek, ceritanya saya lanjut besok ya. Sudah malam, sudah jam sebelas nih." ucap Kang Ujang.
"Astaga, iya ya. Sudah jam sebelas, nggak terasa. Oke kang, besok kita lanjut lagi ya."
Kang Ujang membereskan cangkir lalu pamit untuk pulang. Aku pun masuk ke dalam kamar. Ku rebahkan tubuhku di atas kasur, hari ini cukup lelah. Lampu kamar belum ku matikan, aku terlentang sambil melihat atap kamar. Menerka-nerka cerita Kang Ujang, menyambungkan beberapa rangkaian, mencocokkan dengan kejadian-kejadian yang ku alami.
Nyai Asih pecinta kucing, apa kucing-kucing yang ku lihat waktu itu ada hubungannya dengan Nyai Asih? Perempuan dengan baju putih lusuh yang di lihat Yuda dan Bagas di rumah depan, apa itu arwah Nyai Asih? Dan penampakan menyeramkan yang ku lihat di clubbing, apa itu arwah Nyai Asih juga? Ah, masih terlalu dini menyimpulkan dan merangkai semuanya.
Nah, malam saat aku tidur di kontrakan Mas Gun aku bermimpi melihat Bagas dan Mbak Wati. Apa ada hubungannya dengan tumbal dan Nek Iyah?
Lalu sepintas aku teringat akan sosok Kakek Badrun dan mustika Batu Dewa Dawana. Mustikanya? Di mana ku taruh mustika pemberian Kakek Badrun? Aku bangun dari pembaringan, membongkar isi lemari, merogoh tiap kantung celanaku, mengeluarkan isi tas. Di mana mustika itu? Astaga bodohnya aku. Ku ingat-ingat kembali saat terakhir ku simpan mustika itu. Ya ampun, mustika itu ku bawa saat bertemu dengan llham dan Ki Sona. Lalu hujan mengguyur. Celana! Ada di celana basah yang ku pakai malam itu. Celana itu ada di kontrakan Mas Gun. Ku tepuk jidatku, bodoh nya kau Adi. Kenapa sampai bisa lupa.
Aku kembali merebahkan tubuhku, besok sepulang kuliah aku harus ke kontrakan Mas Gun untuk mengambil mustika itu. Bisa bahaya jika Kakek Badrun menanyakan keberadaan mustika itu dan aku tak memegangnya.
Ku pejamkan mataku, berharap kantuk segera menyerang. Baru sebentar ku pejamkan mataku, tiba-tiba terbayang kondisi Mbak Wati yang tergeletak tak bernyawa dengan mulut menganga dan darah yang keluar dari lidahnya yang putus karena di gigit. Matanya yang terbelalak, serta gambaran urat-urat di tubuhnya yang menonjol keluar. Menyeramkan.
Ah sial, mataku jadi segar begini. Tiba-tiba rasa merinding menyerang, bulu kuduk berdiri. Brrr.. ku rasakan seperti ada sesuatu yang aneh. Ku tarik selimut, menutupi seluruh tubuhku. Ku paksa mataku terpejam, sambil ku baca doa dalam hati. Tiba-tiba, punggungku terasa di sentuh, di usap, bergerak perlahan sampai ke pinggul. Seketika tubuhku menggigil ketakutan, keringat membasahi dahi. Aku mengumpulkan keberanianku.
"Aaaaaa..!!" aku teriak kencang sambil membuka selimut dan melihat ke arah belakangku.
Tak ada siapa pun.
Sentuhannya sangat terasa di punggung hingga pinggulku. Ah sial, apa karena aku tak menyimpan mustika pemberian Kakek Badrun? Ah, masa iya aku percaya dengan sebuah batu? Percuma aku belajar agama. Ku tenangkan diriku, aku mencoba santai dan rileks. Ku rebahkan kembali tubuhku, ku peluk bantal guling, ku pejamkan mataku, ku baca doa dan ayat kursi dalam hati. Aku memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menjaga dan melindungiku.
Tak sampai lima menit, aku tidur dengan sangat pulas.
***
Mataku terbuka, langsung ku lihat jam di ponselku, 03:01. Tumben sekali tak ada suara tangis bayi yang ku dengar. Aku pun kembali tidur.
__ADS_1
Ngikk kriett.. ngikk kriett.. ngiiikk..
Eh, suara apa itu?
Ngikk kriett.. ngikk kriett..
Lagi-lagi terdengar. Suara apa itu?
Aku bangun dan duduk, menajamkan telingaku agar terdengar lebih jelas. Sudah tak terdengar lagi. Ah mengganggu saja, aku pun kembali rebah.
Ngikk kriett.. ngikk kriett.. ngiiikk..
Baru saja merebahkan badan, suara itu terdengar kembali. Entah apa itu? Aku bangun dan berdiri. Suaranya terdengar dari luar, ada di halaman kost nampaknya.
Ngikk kriett.. ngikk kriett..
Aku menyingkap sedikit ujung gordyn jendela kamarku, lalu mengintip ke halaman kost. Suara aneh itu masih terdengar, sangat mengganggu. Tapi tak ada apapun di halaman kost.
Ngikk kriett.. ngikk kriett.. ngiiikk..
Klek. Aku memutar kunci dan hendak membuka pintu kamar. Ternyata rasa penasaranku mengalahkan segalanya.
Pintu kamar ku buka, aku masih di dalam. Aku hanya mengintip, celingak-celinguk mengamati tiap sisi halaman kost sampai garasi tempat mobil sedan tua mangkrak. Embun malam ini tak terlalu tebal, jarak pandangku pun cukup jauh.
Ngikk kriett.. ngikk kriett.. ngiiikk..
Suara apa sih itu? Sial, aku sangat terganggu. Mangkel rasanya hatiku, aku pun melangkah ke luar kamar. Menoleh ke kanan dan kiri, mengamati tiap sudut.
Tapi, begitu ku lihat ke arah kebun samping kamar 11a. Seketika bulu kudukku berdiri, lidahku kelu, gigiku gemeletuk saling beradu, dengkulku lemas.
__ADS_1
Aku melihat kursi roda milik almarhumah Mbak Wati bergerak maju mundur, tepat di samping makamnya. Suara aneh yang tadi ku dengar berasal dari roda yang mulai menua. Kursi roda itu bergerak maju mundur, seolah menabrak makam Mbak Wati.
Secepat kilat aku lari ke dalam kamar. Dengan cepat ku kunci pintu, aku merebahkan badanku di atas kasur, tubuhku masuk merangsek ke dalam selimut. Badanku menggigil hebat. Aku ketakutan setengah mati.
Ngikk kriett.. ngikk kriett.. ngiiikk..
Suara itu masih terdengar. Sial, sial sekali aku. Ku bekap telingaku dengan bantal, namun suara itu seolah menembus gumpalan kapuk bantal dan memaksa masuk ke dalam telingaku.
Mimpi apa aku, sampai-sampai melihat kursi roda almarhumah Mbak Wati yang bergerak sendiri di makamnya. Apa salahku ke Mbak Wati? Aku berdoa dalam hati, ku baca ayat kursi tak putus. Perlahan tak ku dengar lagi suara itu.
Dan, aku pun tertidur.
***
Aku telah siap menuju kampus untuk kuliah. Perasaanku tak keruan pagi ini, mungkin karena melihat kursi roda almarhumah tadi malam. Apa pula alasan Nek Iyah menaruh kursi roda di samping makam Mbak Wati? Benar-benar di luar nalar, dasar nenek peyot, aku sungut-sungut dalam hati.
Aku berjalan menuju garasi, lalu sengaja menengok ke arah makam Mbak Wati. Eh, tak ada kursi roda! Kemana kursi sialan itu? Ah biarlah, biar di gondol setan sekalipun aku tak peduli. Aku berjalan melewati garasi. Ah iya, kembali teringat tawaran Yuda tempo hari. Aku berharap bertemu dengan Nek Iyah di halaman depan.
Srekk Srekk Srekk.
Eh, suara sapu lidi. Sudah pasti jadwal Nek Iyah menyapu halaman setiap pagi. Aku tersenyum. Nanti jika ketemu dengan Nek Iyah, langsung saja ku tanyakan apakah mobil ini ada niat untuk di jual? Ku susun rapi pertanyaanku untuk ku lontarkan ke Nek Iyah. Aku berjalan pelan, suara sapu lidi masih terdengar.
Lho?
Aku sudah berada di halaman.
Lah?
Kemana perginya Nek Iyah? Apa secepat itu ia masuk ke dalam rumahnya? Dan lagi, halaman masih nampak berantakan, dedaunan kering masih terhampar. Tidak ada tanda-tanda halaman bekas di sapu. Lalu suara sapu lidi yang ku dengar tadi? Tak mungkin salah, telingaku masih bekerja dengan baik, fungsinya pun masih sangat optimal. Bagaimana bisa salah dengar? Aku berdiri diam di halaman, sekali mengucek-ucek lubang telingaku dengan ujung kelingking.
__ADS_1
Ah sudahlah. Aku pun beranjak menuju kampus.