Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 83


__ADS_3

Sore hari.


Setelah kupikir-pikir dengan matang dan penuh pertimbangan, aku tak jadi melaporkan perempuan sial itu ke polisi. Setelah perkuliahan selesai siang tadi, aku sempat cerita kejadian dan masalahku ke Yuda. Ia pun menyarankan agar kulupakan saja dan tak perlu terbawa emosi. Amarahku tadi pagi hanya sesaat. Aku pun mengurungkan niatku untuk melaporkannya ke pihak berwajib, lebih baik bertetangga dengan baik dan memperbanyak teman daripada mencari musuh.


Yuda mampir ke kost, ia ingin bertemu dengan Nek Iyah untuk membicarakan kelanjutan jual-beli mobil antik milik almarhum Pak Thamrin.


"Udah Di, nggak usah di perpanjang. Maafin aja, lagian temannya cakep Di. Siapa tahu bisa jadi pacar lo. Hehehehe." ucap Yuda sambil memboncengku.


Kutepuk helmnya pelan, "Apaan sih lo! Omongan lo seputar cewek terus sih. Nggak ada yang lain apa?"


"Ya wajar dong yang gue bahas cewek, kan gue normal." sahutnya.


Tak berapa lama, kami pun sampai. Yuda memarkir motornya tepat di depan kamarku. Aku turun dari motor. Baru saja kakiku menapak, perempuan yang menuduhku keluar dari kamar dengan berlari, ia memegang tanganku meminta maaf.


"Eh eh eh, apaan nih?" ujarku kaget.


"Abang maafin saya bang. Jangan laporin saya ke polisi bang. Saya anak rantau bang. Maafin saya bang." tuturnya, lalu berderailah air matanya.


"Eh iya iya iya. Iya gue maafin. Tapi lepasin dong!" aku menarik tanganku, tapi cengkramannya kuat.


"Bang, maafin saya bang. Saya ngaku salah bang. Jangan laporin saya ke polisi bang." ia terus saja memohon dan meminta maaf.


"Udah udah, bangun!" Yuda menarik tangannya.


"Iya gue maafin, udah udah lepasin!" ucapku. Si perempuan melepas cengkramannya, ia menyeka air matanya.


"Maafin saya ya bang." ucapnya lagi. Matanya sembab.


"Iya iya, udah jangan nangis. Udah gue maafin. Jadiin ini pelajaran buat lo, kalau ada masalah kroscek dulu ya, jangan asal menyimpulkan." aku memberi nasihat dengan sok bijak.


"Iya bang, maafin Yuli ya bang." ucap perempuan sial ini, ia memperkenalkan dirinya Yuli.


"Yaudah. Eh, gimana teman lo? Udah nggak apa-apa?" tanyaku.


"Siapa? Tika?"


"Iya, Tika ya namanya. Udah nggak apa-apa kan? Atau masih nangis-nangis?" tanyaku.


"Udah normal bang. Tadi Tika juga cerita soal kejadian semalam." ucap Yuli.


"Baguslah kalau sudah normal. Yaudah, gue masuk dulu ya." ucapku. "Inget ya, jangan sampai kejadian lagi masalah kayak gini." lanjutku.


"Iya bang. Makasih ya bang." tutur Yuli.


Aku membuka pintu kamar, masuk dan menaruh tas di ruang depan. Yuda pun masuk, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas lantai. Aku ke ruang tengah dan menemukan sesuatu yang ganjil.


Apa ini? Tapak kaki kucing!


Kok, bisa ada tapak kaki kucing di ruang tengah kamarku? Dari mana kucing itu bisa masuk ke dalam kamarku? Aku melihat ke langit-langit kamarku, barangkali ada atap yang bolong. Tapi tidak ada satu atap pun yang berlubang. Aneh.


"Di, mau ngopi apa Di?" Yuda teriak bertanya padaku.


"Kopsus Da!" jawabku.


Kubersihkan dengan lap pel tapak kaki kucing yang mengotori ruang tengah kamarku. Memang tak sekotor cairan hitam dulu, tapi sungguh mengganggu.


Setelah selesai membersihkan tapak kaki kucing, aku bergabung bersama Yuda. Ia duduk di teras depan kamar. Yuda sudah membuat dua cangkir kopi.


Tak lama, Yuli datang membawa sepiring tahu goreng.


"Bang, ini dari Yuli bang. Sebagai permohonan maaf. Di makan ya." Yuli menyerahkan sepiring tahu isi.


"Waahh, beneran buat gue nih?" tanyaku.


"Iya bang. Makasih udah nggak laporin Yuli ke polisi ya bang." katanya.


"Udah udah, nggak usah di bahas lagi. Eh by the way, makasih ya tahu isinya." ucapku. Yuda hanya senyum. Yuli senyum lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.


Aku dan Yuda mengobrol sambil menikmati sore di temani kopi dan tahu isi pemberian Yuli. Beberapa kali Yuda meledekku untuk mendekati Yuli.


"Udah sana pedekate! Hehehehe. Manis kok anaknya, nggak kalah sama Kemala."


Yuli, perempuan dengan postur badan agak tinggi. Pipinya sedikit gembil. Alisnya tebal, dan bulu matanya lentik. Dengan dua buah gigi taring yang terlihat menonjol ketika ia tersenyum. Memang manis.


"Wah, lagi santai nih dek." sapa Kang Ujang dari arah garasi.


"Kang, sini kang! Ada tahu isi nih. Sini kang!" aku memanggil Kang Ujang untuk bergabung bersamaku dan Yuda.


"Iya dek." jawabnya.

__ADS_1


"Ayo sini kang, mumpung masih hangat nih." kupanggil kembali.


Kang Ujang mencuci tangannya di kran air dekat garasi, lalu menghampiri kami.


"Duduk kang. Mau ngopi apa nih?" aku menawari Kang Ujang, ia duduk dekat Yuda.


"Sudah, nggak usah repot-repot dek." ujarnya.


"Saya repot kalau harus tanam biji kopinya dulu kang. Kalau cuma seduh kopi seperti ini sih nggak bikin repot. Mau kopi apa nih? Hitam? Atau Kopi susu?"


"Hitam saja dek. Makasih Dek Adi." jawab Kang Ujang.


"Siiipp! Sebentar ya." aku masuk ke dalam, dan segera membuatkan secangkir kopi untuk Kang Ujang.


"Mangga kang kopinya." aku menaruh cangkir kopi tepat di depan Kang Ujang.


"Makasih dek." ucapnya. "Eh dek, Bang Oji kemana ya? Dek Adi kemarin ketemu sama Bang Oji nggak?" tanya Kang Ujang.


"Oh iya ya. Bang Oji nggak kelihatan dari kemarin-kemarin kang, cuma ada motornya saja tuh." jawabku.


"Terakhir kita ketuk pintu kamarnya, kata Nek Iyah dia pergi ya. Dek Adi belum tanya ke Nek Iyah lagi kemana Bang Oji pergi?"


"Belum kang, semalam ketemu Nek Iyah cuma nggak kepikiran buat tanya Bang Oji." balasku.


Yuda sibuk main game di ponselnya, ia punya dunia sendiri dalam game. Makanya tak kuusik, kadang ia suka marah kalau terusik.


"Eh kang, semalam ada kejadian aneh." aku merendahkan suaraku.


"Aneh? Apa lagi dek?" tanya Kang Ujang.


"Kang Ujang sudah tahu belum, kalau tiga mahasiswi yang kemarin lihat kamar sama Kang Ujang, tengah malam mereka langsung pindah ke sini."


"Ooh berarti benar mereka tertarik sama kamar itu. Soalnya kemarin sampai bilang, tolong kamarnya jangan di sewakan ke orang lain." jelas Kang Ujang. " Terus saya bilang, silakan bilang ke ibu kost. Kalau itu wewenang Nek Iyah, saya nggak boleh ikut campur."


"Terus kejadian anehnya di mana dek?" tanya Kang Ujang.


Kuceritakan soal penampakan yang kulihat semalam, wanita dengan leher tergantung di tali tambang. Kang Ujang bergidik. Dan kuceritakan aku bertemu salah seorang penghuni kost baru bernama Tika di depan kamar. Sampai kuceritakan saat-saat Tika di dorong hingga tersungkur di lantai oleh sesuatu yang tak bisa kulihat. Akhir cerita kututup dengan tuduhan teman Tika bernama Yuli padaku.


"Wah, kok main asal tuduh sih. Memang yang mana orangnya dek? Biar saya kasih tahu!" Kang Ujang terbawa emosi sambil memegang sepotong tahu isi.


Kujelaskan padanya kalau masalah sudah selesai, dan sudah kumaafkan. Sampai akhirnya Yuli memberikan sepiring tahu isi untukku sebagai permohonan maafnya.


Kami lanjut mengobrol, akhirnya Yuda pun ikut dalam obrolan aku dan Kang Ujang. Di tinggalkan game di ponselnya. Sambil menikmati kopi dan tahu isi pemberian Yuli.


***


Sehabis shalat maghrib, aku dan Yuda berencana ingin bertemu dengan Nek Iyah. Yuda sudah tak sabar ingin memboyong mobil antik milik Pak Thamrin. Untuk itu ia ingin membicarakan kelanjutan kesepakatannya dengan Nek Iyah. Soal pembayaran, pengambilan unit, dan lain-lain.


"Da, sebenarnya itu mobil untuk lo pakai atau lo jual lagi sih?" tanyaku.


"Emang lo mau tahu banget?" sahut Yuda sambil memakai sepatunya.


"Enggak, gue cuma tanya aja. Kan lo pernah bilang sudah ada pembeli mobil antik yang menunggu. Makanya gue penasaran, itu mobil untuk di pakai sendiru atau di jual lagi." balasku.


"Kalau udah gue beli, itu mobil mau gue pakai sendiri atau mau gue jual lagi kan hak gue Di. Sekarang mah bilangnya ke ibu kost lo buat pakai pribadi aja, nantinya mau gue jual lagi kan urusan gue. Iya kan?"


"Iya deh, terserah lo aja. Eh, mau ke rumah Nek Iyah sekarang Da?" tanyaku.


"Iya dong, ini gue udah pakai sepatu mau kemana memangnya. Yuk!" ajak Yuda.


Kami pun menuju rumah Nek Iyah. Kuketuk pelan pintu rumah Nek Iyah seraya mengucapkan salam. Tak lama Nek Iyah membuka pintu, menjawab salamku, dan mempersilakanku serta Yuda duduk.


"Ada perlu apa ini dek?" tanya Nek Iyah.


"Ini nek, kawan saya Yuda mau ngobrol kelanjutan soal mobil yang mau di beli.


"Ooh iya iya. Mau obrolin soal apa Dek Yuda?" tanya Nek Iyah.


"Begini nek saya mau tanya, kira-kira kapan saya bisa membayar mobilnya nek?" tanya Yuda.


"Terserah Dek Yuda saja, kalau mau cepat di ambil mobilnya ya langsung bayar saja. Lebih cepat lebih baik. Lagipula, saya sudah jengah melihat mobil itu, hanya mangkrak dan berdebu. Bikin nggak nyaman lihatnya." jawab Nek Iyah.


"Kalau lusa saya bayar sekaligus saya ambil mobilnya nggak apa-apa nek?" Yuda kembali bertanya.


"Boleh saja. Surat-surat kendaraan sudah saya siapkan semuanya, nanti tinggal saya kasih begitu Dek Yuda bayar." ujar Nek Iyah.


"Baik nek, itu saja yang mau saya pastikan. Kalau jelas kan jadi lebih enak." tutur Yuda.


"Itu saja?" tanya Nek Iyah.

__ADS_1


"Iya nek, cuma itu saja." ucap Yuda. "Kalau begitu kami permisi nek, terima kasih ya nek." Yuda beranjak dari duduknya, aku pun begitu.


Kami bersalaman dengan Nek Iyah lalu pamit undur diri. Nek Iyah pun kembali masuk ke dalam rumah.


"Asiiikkk, gue dapat duit nih." gumamku.


"Hehehehe. Tenang Di, pokoknya bagian lo udah gue siapin." sahut Yuda. "Eh, gue balik ya. Di, lo nginep di rumah gue yuk!" ajak Yuda.


"Ngapain gue nginep di rumah lo? Emang lo sendiri?" tanyaku. Kami berbincang sambil berjalan menuju kamar kostku.


"Iya nih. Bokap lagi ke Medan, nyokap lagi ke Bandung. Yuk!" ajak Yuda.


"Aduh, gue lagi males kemana-mana Da. Emang sampai kapan ortu lo pergi?" tanyaku.


"Emm, kalo nggak salah bokap tiga hari di Medan. Nyokap gue sampai kapan ya, lupa gue. Ayolah Di, temenin gue." Yuda merayu.


"Besok malam aja deh ya." balasku.


"Yaah, nggak asik lo."


"Udah besok malam aja. Oke!" sahutku.


"Bener ya besok malam?" Yuda meyakinkan.


"Iya besok malam."


"Janji?" Yuda mengacungkan jari kelingkingnya.


"Apaan sih lo! Iya gue janji, nggak usah pake salaman kelingking, geli gue!"


"Hahahahahaha." Yuda terbahak.


Yuda mengambil tas dan helm miliknya, ia menyalakan motor dan pamit pulang.


"Eh Da Da!" aku berteriak memanggil Yuda yang sudah sampai garasi. Yuda menghentikan motornya.


"Apaan?" tanya Yuda.


"Gue nebeng sampai depan gang. Mau beli makan." ucapku.


"Ayo!"


Aku menghampiri Yuda, naik membonceng di belakangnya. Kami pun pergi meninggalkan kost.


"Da Da, bentar Da." aku menepuk pundak Yuda menyuruhnya berhenti. Kami sudah sampai di jalan dekat kebun kosong.


"Apa lagi sih Di?" tanya Yuda kesal.


"Hehehehehe. Sorry Da, hape gue ketinggalan." aku turun dari motor.


"Ya ampun Mas Ndesoooo. Ada-ada aja sih! Yaudah sana ambil! Gue tunggu di sini." suruh Yuda.


"Emm, nggak usah deh. Lo jalan duluan aja, biar nanti gue jalan kaki aja ke warung nasi." balasku.


"Beneran?" tanya Yuda.


"Iya beneran. Udah sana lo balik!" suruhku seraya menepuk jok motor.


Yuda pun memutar gas, dan motor melaju. Aku jalan menuju kamar ingin mengambil ponselku yang tertinggal.


Baru dua langkah aku berjalan, aku menoleh ke arah Yuda yang memacu motornya. Suara knalpotnya pun masih terdengar. Tiba-tiba, ada hal ganjil yang kulihat.


Siapa itu?


Ada bayangan putih yang duduk di belakang Yuda, membonceng. Sosoknya tak terlalu jelas kulihat. Tapi rambut hitamnya yang panjang sangat nampak ketara.


"Yudaaaaaa!" aku berteriak kencang memanggil Yuda. Namun motornya dengan cepat melaju dan hilang tak terlihat lagi.


Siapa itu yang membonceng di belakang Yuda? Apa Yuda sudah di tandai?


Astaga!


Tumbal!


Jangan-jangan Yuda yang akan menjadi tumbal selanjutnya.


Bahaya!


Yuda dalam bahaya!

__ADS_1


__ADS_2