Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 132


__ADS_3

Aku langsung berlari, tujuanku hanya satu. Rumah kosong di depan. Tak ada yang lain. Kutepis pikiran macam-macam soal Mas Gun. Ia pasti ada di sana, di rumah kosong itu. Kejadian yang menimpa kawanku Bagas tak boleh terulang kembali. Ah tak mungkin, tak boleh, dan tak akan terjadi.


Suara kucing masih terdengar, memenuhi isi telingaku. Aku pun sampai di gerbang kost. Di gembok! Sial sial siaaall. Aku berlari kembali ke kamar kost. Panik menyerangku. Keringat bercucuran. Nafasku tersengal. Kusambar ponselku, kuhubungi Kang Ujang. Siapa tahu ia bisa membantuku mencari Mas Gun. Tak ada jawaban.


Aku kembali berlari menuju gerbang kost. Kang Ujang terus kuhubungi, namun ia tak menjawab panggilan teleponku. Sial. Ponsel kukantongi. Nekat. Akhirnya kupanjat gerbang kost yang tak terlalu tinggi.


"Nak Adi!" aku menoleh. Nek Iyah memanggilku dari teras rumahnya. "Mau kemana panjat gerbang segala?" tanya Nek Iyah dengan santai.


Amarahku memuncak begitu melihat nenek tua itu. Aku turun dari gerbang, lalu kuhampiri Nek Iyah yang berdiri di teras rumah. Dahiku basah oleh keringat.


"Kamu mau kemana dek?" tanya Nek Iyah.


"Dimana teman kost saya?" tanyaku dengan suara lantang. Nek Iyah sempat terkejut.


"Demit mana yang membawanya? Hah?" tanyaku lagi. Nek Iyah diam, ia menatapku.


"Demit apa? Teman kost kamu siapa?" tanya Nek Iyah.


"Jangan pura-pura bodoh! Kali ini nggak akan saya biarkan teman saya menjadi tumbal lagi!" ucapku dengan lantang. Lalu pergi meninggalkan Nek Iyah. Ingin kupanjat lagi gerbang dan menuju rumah kosong yang ada di depan.


Kupanjat kembali gerbang sembari menatap sinis ke arah Nek Iyah. Nek Iyah hanya tersenyum kecut.


"Hihihihihihihihi." seketika Nek Iyah tertawa cekikikan.


Aku diam melihatnya. Dasar iblis! Ia malah tertawa dengan senangnya. Tunggu waktunya tiba, akan kumusnahkan kau beserta semua demit yang kau pelihara.


"Hihihihihihihihihihihi." Nek Iyah masih tertawa mengikik sambil menatapku.


Tiba-tiba wajah Nek Iyah berubah, kulitnya berubah menjadi pucat seputih kapas. Rambutnya memanjang dengan seketika, semrawut. Wajahnya berubah menyeramkan. Matanya bulat menonjol, dan iris matanya berubah seperti mata kucing. Dalam sekejap tubuhnya menjadi tinggi dan makin meninggi. Ia tertawa mengikik. Ia berubah. Nek Iyah berubah menjadi kuntilanak merah.


Aku diam tak bisa bergerak. Kakiku lengket dengan tanah yang kupijak. Hanya bisa menelan ludah, melihat pemandangan mengerikan ini. Jantungku berdetak tak keruan.


"Hihihihihihihihihihi." Nek Iyah alias kuntilanak merah tertawa.


Terdengar menggetarkan dadaku. Tawanya menyeramkan. Tawanya membuatku bergidik ngeri. Tawanya sangat kukenal. Jelas itu si kuntilanak merah.


"Hihihihihihihihihihihi. Matiiii! Matiiii! Matiiii!" teriak kuntilanak merah padaku. Matanya membelalak menatapku.


"Matiiiiiiii!" ia berteriak sambil menyeringai padaku.


 __________________________________


Aku membuka mata. Nafasku tak beraturan. Keringat di dahiku banjir. tenggorokanku kering. Mimpikah tadi? Aku beristighfar. Kulihat sekelilingku. Ya, ini kamar kost-ku. Ruang tengah tempat kutidur. Alhamdulillah, cuma mimpi. Aku menghela nafas dengan lega. Kuseka keringat yang membasahi dahiku.


Aku duduk di atas kasur, bersandar pada dinding kamar. Kuselonjorkan kakiku. Kutenangkan diri, sembari mengatur nafas. Gila, mimpi apa tadi? Sungguh begitu nyata rasanya. Hampir tiap detil kulihat dan rasakan.


Aku tersadar, di ruang tengah kamar hanya aku seorang diri. Kusambar ponselku, jam menunjukkan pukul 03:59. Ah, sebentar lagi subuh.


Aku bangun dan beranjak ke ruang depan. Aku ingin minum, sangat haus rasanya, tenggorokanku kering.


Lho? Tidak ada Mas Gun!


Aku menoleh ke arah pintu. Hah? Pintu kamarku tak tertutup rapat!


Ponsel Mas Gun tergeletak di lantai. Enggak, nggak mungkin jadi kenyataan mimpiku tadi. Jantungku perlahan memompa darah dengan kuat, aliran darah terasa deras memenuhi tiap nadiku. Panik mulai menyerangku diam-diam.


"Mas! Mas Gun!" aku memanggil Mas Gun ke arah kamar mandi.


.


.


.


Tak ada jawaban. Dengan cepat aku menuju kamar mandi, kudorong pintu kamar mandi. Kosong!


Sial, nggak mungkin! Mimpiku jadi kenyataan? Ah, yang benar saja?

__ADS_1


Tak pakai pikir panjang, aku segera melesat keluar kamar. Aku berlari, tujuanku hanya satu. Ya, rumah kosong di depan sana.


Aku berlari melewati garasi, kemudian melewati halaman. Tak ada waktu untuk berpikir, langsung kupanjat gerbang rumah Nek Iyah. Dengan sedikit tergopoh aku lompat, dan kembali berlari menuju rumah kosong.


Sampai di depan pintu rumah kosong.


"Mas! Mas Gun! Mas!" kupanggil Mas Gun sambil menggedor pintu dengan kuat. Sial, pintu terkunci. Suasana gelap dan tampak menyeramkan. Namun rasa takutku hilang, rasa takutku sirna. Berganti dengan kepanikan yang memenuhi otak dan perasaanku.


Duakk. Duakk. Duakk. Kutendang pintu rumah dengan sekuat tenaga. Sial, tak terbuka juga!


Andai saja kayu ini tak terpaku menyilang di jendelanya, mungkin bisa kupecahkan kacanya dan menerobos masuk ke dalam. Di dalam otakku hanya ada nama Mas Gun.


Duakk. Duakk. Lagi, kudorong pintu dengan lenganku. Nihil. Pintu tak bergerak sedikit pun.


"Dek Adi!" aku menoleh ke arah suara yang memanggilku.


Kang Ujang! Astaga, kebetulan yang tak kupercaya.


"Ngapain dek?" tanya Kang Ujang, wajahnya tampak bingung melihatku menghantam pintu rumah kosong.


"Hah, hah, hah. Kang, tolong kang. Hah, hah, hah. Tolong kang!" ujarku dengan nafas tak beraturan.


Kang Ujang menghampiriku.


Aku membungkuk kelelahan. Nafasku terengah-engah. Keringatku banjir tak keruan.


"Dek Adi ngapain di sini malam-malam?" tanya Kang Ujang.


"Kang, tolong buka pintu rumah ini kang! Tolong kang!" ucapku memohon.


"Memangnya ada apa dek? Dek Adi mau apa?" Kang Ujang kembali bertanya.


"Teman saya di dalam rumah ini kang. Kejadian ini sama dengan kejadian kawan saya yang di temukan meninggal di rumah ini kang. Tolong buka pintunya kang!" jelasku.


"Dek Adi yakin?"


"Yakin kang. Cepat tolong bukain kang!" aku menjawab dengan panik.


Clekk ceklek. Kunci di putar. Kang Ujang membuka pintu rumah kosong ini dengan lebar.


"Nah, sok atuh di cari temannya!" ucap Kang Ujang. "Saya tunggu di luar saja ya dek." lanjutnya.


"Kenapa nggak ikut masuk kang?" tanyaku.


"Hehehehehe. Kalau malam saya nggak berani masuk ke dalam dek." jawab Kang Ujang sambil menggaruk rambutnya.


Aku pun melangkah masuk ke dalam rumah seorang diri.


Wussshh. Tercium aroma tak mengenakkan dari dalam rumah. Aroma lembab bercampur apek. Aku menutup hidung dengan telapak tangan. Senter di ponsel kunyalakan. Kusinari seluruh isi rumah. Terlihat lantai yang kotor dan berwarna hitam. Di tengah ruangan ada sketsa tubuh yang di gambar dengan pilox berwarna putih di lantai. Ini mungkin sketsa tubuh kawanku Bagas. Menyedihkan. Ada dua buah sofa di sudut ruangan, dengan busa yang sudah hancur dan robek di sana-sini.


Aku menengok ke kanan, ada sebuah kamar tanpa pintu. Kusinari kamar tersebut, mencari sosok Mas Gun. Kosong. Di dalam hanya ada ranjang kayu lapuk termakan usia. Lantainya pun berwarna hitam.


Kresekk.


Aku terkejut. Suara apa barusan? Aku berbalik, menyinari seluruh ruangan mencari sumber suara yang mengejutkanku.


Sett. Ada yang lewat di ujung, ada sebuah pintu menuju ruang belakang. Aku berjalan perlahan menuju pintu tersebut.


"Dek! Ketemu nggak temannya?" teriak Kang Ujang dari luar rumah.


Tak kugubris panggilan Kang Ujang. Aku masih berjalan perlahan menuju pintu. Aku terkaget begitu melihat sebuah foto dengan figura kayu yang sudah keropos. Foto seorang wanita dengan rambut keriting dan senyum manis. Kuperhatikan foto itu sejenak, permukaannya penuh debu, sehingga tak terlalu jelas terlihat. Dalam foto ini si wanita sedang berpose di sebuah taman atau kebun, entahlah. Yang jelas di belakangnya terlihat pohon rindang dan apa ini? Ada sebuah tiang dan genting rumah yang terlihat hanya sepotong. Wanita ini seperti berpose di depan sebuah rumah.


"Dek Adiiii! Ayo cepat keluar! Udaranya dingin banget nih!" ujar Kang Ujang, ia berteriak dari luar rumah.


Lagi-lagi aku tak menggubrisnya. Kunyalakan kamera ponselku, kuambil gambar foto wanita ini.


Aku beralih ke pintu di ujung ruangan. Pintu kayu dengan ukiran yang terlihat biasa saja. Bagian bawah pintu sudah hancur.

__ADS_1


Ngiiikk. Kubuka pintu, agak sulit. Engselnya mungkin sudah berkarat.


Sebuah ruangan memanjang. Di ujungnya ada pintu lagi. Ini mungkin dapur dan pintu yang di ujung sana mungkin kamar mandi. Dinding di penuhi lumut. Lantainya di penuhi daun kering. Tapi dari mana daun kering ini masuk? Kusinari atap. Ternyata ada lubang besar di atap, bahkan gentingnya pun hancur berantakan. Pantas saja ruangan ini lebih dingin, angin pasti masuk dari lubang besar itu.


Aku pun berbalik. Tak kutemukan Mas Gun di rumah ini.


Baru tiga langkah berjalan meninggalkan ruangan belakang. Tiba-tiba, ada yang mendorongku dengan kuat. Aku terjerembab di lantai penuh debu dan kotoran tikus. Dada dan perutku sakit, karena menghantam lantai cukup keras.


Jantungku berdegup cepat. Kusinari seluruh ruangan, mencari sosok yang mendorongku.


"Kikikikikikikik." ada suara tawa mengikik terdengar samar.


Aku bangun.


"Dek Adi!" Kang Ujang berdiri di depan pintu, kepalanya menjorok ke dalam ruangan. Ia tak berani masuk.


"Dek Adi kenapa?" tanya Kang Ujang kembali.


"Nggak apa-apa kang. Tadi kepleset." balasku sembari menepuk-nepuk baju membersihkan debu dan kotoran yang menempel di bajuku.


Aku kembali melihat foto wanita yang menempel di dinding. Kuambil foto beserta figura kayu yang telah keropos.


"Dek, foto itu mau di bawa kemana?" tanya Kang Ujang.


"Mau lihat aja kang. Nanti saya balikin lagi." jawabku sambil menenteng foto dan keluar dari rumah ini.


Kang Ujang hanya diam.


Mas Gun tak ada di rumah ini, lalu di mana dia? Aku kebingungan memikirkannya. Jika tidak ada di rumah ini, lalu di mana Mas Gun?


"Temannya ada di dalam dek?" tanya Kang Ujang.


"Nggak ada kang."


Kang Ujang kembali mengunci rumah kosong. Aku dan Kang Ujang pun kembali menuju kost.


"Kang Ujang ngapain jam segini ke rumah Nek Iyah?" tanyaku.


"Hmmm. Ini dek, saya di suruh Nek Iyah selama empat puluh hari ke depan untuk mengambil air dan mengisinya di sebuah kendi besar." jawab Kang Ujang.


"Lho, memang harus malam-malam begini?" tanyaku dengan penasaran.


"Iya. Sebelum ayam berkokok saya harus sudah mengisi penuh kendi itu." balas Kang Ujang.


Aneh. Sungguh aneh. Mengisi air di kendi besar harus malam hari. Kenapa? Untuk apa?


"Memang Nek Iyah sudah pulang berobat kang?" tanyaku lagi.


"Sudah dek. Sejak pulang berobat, Nek Iyah nggak pernah keluar kamar. Makanya saya di suruh isi air di kendi yang di taruh di depan kamarnya, mungkin untuk keperluan bersih-bersih atau mengambil wudhu barangkali." jawab Kang Ujang.


"Jam berapa Nek Iyah sampai rumah kang?" tanyaku.


"Tadi siang. Pas jam dua belas. Beliau lalu menjelaskan pada saya pekerjaan yang harus saya lakukan, setelah itu langsung masuk ke dalam kamar." jelas Kang Ujang.


Siang? Dan Nek Iyah tak keluar kamar sejak siang. Lalu siapa yang kulihat di teras saat maghrib tadi? Bahkan, Mas Gun pun melihat sosok Nek Iyah.


Mas Gun!!!


Astaga, aku sampai lupa dengan Mas Gun. Karena asik mengobrol soal Nek Iyah dengan Kang Ujang.


"Kang, apa di kawasan rumah Nek Iyah dan kost ada ruangan atau gudang?" tanyaku lagi.


"Hmmm. Gudang? Ruangan? Kayaknya nggak ada deh. Kawasan rumah Nek Iyah hanya rumah, garasi, kost. Memang kenapa?" tanya Kang Ujang.


"Bantuin saya cari teman kost ya kang. Saya takut terjadi hal yang nggak di inginkan." jawabku.


"Cari dimana?"

__ADS_1


"Kebun belakang kost. Yuk!" ajakku.


Kang Ujang terkejut, raut wajahnya tak enak.


__ADS_2