Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 29


__ADS_3

Yuda tak kunjung datang, aku masih di temani Bang Oji di teras depan kamarku. Belasan chat kukirim, namun tak ada balasan. Kemana bocah ini? Alamat gagal berkunjung ke rumah duka, pikirku.


"Kenapa dari tadi kelihatan gelisah banget Di?" tanya Bang Oji.


"Ini kawan gue Yuda, kita janjian mau ke rumah almarhum malam ini. Tapi gue chat nggak bales." jawabku.


"Eh bang, lo belum jawab pertanyaan gue tadi." sergahku.


"Apaan sih Di?" tanya Bang Oji.


"Tadi gue tanya, kost ini angker ya? Lo malah jawab angker yang memabukkan." tukasku.


"Hahahahaha, emang iya ya?" Bang Oji ngeles mirip bajaj di jalanan.


"Gini ya Di, gue kost di sini udah lama. Banyak penghuni keluar masuk, gue kenal dan akrab sama banyak penghuni kost di sini. Tapi, nggak pernah ada pertanyaan soal kost ini angker. Cuma lo doang." jelas Bang Oji.


"Sekarang malah gue yang penasaran nih. Memang selama lo kost di sini, udah ketemu setan apa aja?


Aku diam tak menjawab.


"Naah, berarti bener nih lo udah pernah lihat setan di sini?" sergah Bang Oji.


"Bang, mau tanya deh."


"Tanya apa lagi Di? Lo mirip wartawan ya, banyak pertanyaan. Hahahahaha." ungkap Bang Oji.


"Hahahahaha. Kan biar obrolan makin panjang bang." balasku.


"Mau tanya apa?"


"Bang, lo pernah nggak kebangun jam tiga malam gara-gara dengar suara bayi nangis?" tanyaku.


Bang Oji tak langsung menjawab. Ia nampak heran dengan pertanyaanku.


"Bangun gara-gara bayi nangis?" ungkapnya.


"Iya. Pernah nggak? Selama lo kost di sini."


Bang Oji nampak berpikir, matanya melihat langit-langit.

__ADS_1


"Kayaknya sih dulu pernah, dulu banget. Cuma sekali perasaan gue."


"Emang kenapa Di?" tanya Bang Oji.


Aku diam.


"Emang lo pernah dengar bayi nangis jam tiga malam ya?"


"Awal gue kost di sini bang, kalau nggak salah dua malam berturut-turut gue dengar bayi nangis. Menurut lo itu apa bang?" tanyaku.


"Apa ya? Menurut gue, ya bayi. Emang apa? Hahahahaha." Bang Oji kembali menjawab dengan candaan.


"Rese lo! Gue tanya serius, lo malah becanda."


Jam di ponselku menunjukkan pukul 21:10, sampai saat ini Yuda belum terlihat batang hidungnya. Bahkan, chat dariku pun tak di balasnya.


Bang Oji undur diri, obrolan kami pun selesai. Dan beberapa pertanyaanku di jawab dengan candaannya. Aku membereskan teras depan kamarku. Menyapu abu rokok bekas Bang Oji dan membuang beberapa sampah.


Aku merebahkan tubuh di ruang depan kamarku, jempolku asik menari di layar ponsel. Hari ini sungguh melelahkan. Astaga, perutku tiba-tiba lapar. Bagaimana ini? Mau cari makan di mana? Ah, perutku makin melilit. Aku mengambil dompet dan bergegas ke luar.


Aku berjalan melewati garasi dan mobil tua, lalu menuju halaman rumah Nek Iyah. Kemudian melewati pohon mangga yang dedaunannya cukup lebat. Gerbang ku buka pelan, lalu ku tutup kembali.


Aku berjalan menyusuri jalan menanjak, kanan kiri tampak kebun yang sangat gelap. Jangan sampai aku bertemu dengan hal-hal aneh, pikirku. Langkah kembali ku percepat. Aaahh, tak ada apa-apa.


Beruntungnya, warung nasi dekat gang masih buka dan tampak sepi. Aku pun makan dengan lahap, telur dadar dan tempe orek berhasil kusikat dalam hitungan menit.


"Bu, sudah bu." aku memanggil ibu penjual nasi.


"Iya, tadi makan pakai apa saja ya?" tanya si ibu.


"Telur dadar sama tempe orek saja bu."


"Sepuluh ribu dek."


Aku memberikan selembar uang pecahan sepuluh ribu.


"Makasih bu." ucapku.


"Sama-sama. Lho, yang makan cuma adek saja?" tanya si ibu penjual nasi.

__ADS_1


"Eh? Maksudnya gimana bu?" tanyaku.


"Tadi datang ke sini bukannya berdua ya?" si ibu berkata.


"Eh, berdua? Saya sendirian kok." jawabku, aku masih tak mengerti dengan maksud si ibu penjual nasi.


"Sendiri? Tadi temannya nggak ikut makan ya?" si ibu kembali bertanya.


"Teman apa bu? Teman siapa?" aku makin heran.


"Tadi adek ke sini saya lihat berdua dengan temannya. Cuma, kamu masuk teman kamu di luar. Sudah pulang duluan ya temannya?" si ibu penjual nasi menjelaskan.


"Te..teman, kayak gimana orangnya bu?" tanyaku gugup.


"Pakai celana pendek sama kaus putih. Waktu itu pernah makan di sini juga kok malam-malam sama kamu juga."


Deg deg deg


Jantungku berdegup cepat. Aku menelan ludah. Celana pendek dan kaus putih? Pernah makan di sini malam-malam?


Bagas!!!


Aku pernah makan di sini dengan Bagas. Ya, malam hari. Celana pendek dan kaus putih, pakaian yang Bagas pakai malam saat ia keluar kost.


Seketika bulu kudukku berdiri. Tengkuk terasa berat. Dengkul pun agak lemas.


"Ah, masa sih bu?" ucapku seolah tak percaya.


"Saya datang sendirian kok." lanjutku.


"Lho, saya lihat sendiri kamu datang berdua. Masa saya bohong." jawab si ibu penjual nasi.


Jantung ini masih bergetar hebat.


"Yasudah, makasih bu." ucapku sambil melesat cepat ke luar warung nasi.


Bagas. Yang ibu penjual nasi bilang itu Bagas. Aku berlari kencang, tak peduli dengan gelapnya kebun di sisi kanan dan kiri jalan. Terus ku berlari, melewati rumah depan. Mataku sama sekali tak melirik rumah itu. Gerbang ku buka dengan cepat, dan ku tutup kembali. Aku kembali berlari menuju kamarku. Kubuka pintu kamar dengan gerak cepat, kemudian segera ku tutup. Keringat membasahi dahi, napasku tak beraturan. Aku duduk bersandar pada pintu kamarku. Tenggorokanku kering.


Apa Bagas menghantuiku? Aku ketakutan. Tak mungkin juga ibu penjual nasi membohongiku. Tapi, apa benar yang ibu itu lihat? Ia melihat Bagas mengikutiku ke warung nasi. Ini gila. Ini benar-benar sangat gila.

__ADS_1


__ADS_2