Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 71


__ADS_3

Adzan maghrib berkumandang, segera mungkin aku berwudhu, ku gelar sajadah di lantai dan melaksanakan shalat. Selesainya, ku buka surah yasin pada quran, kemudian ku baca perlahan. Aku berdoa memohon perlindungan dari segala mara bahaya dan yang ingin mencelakaiku, berbuat jahat padaku, serta memohon agar Allah melancarkan saat aku menuntut ilmu.


Kriiiiinnnggg.


Kang Ujang menghubungiku.


"Assalamualaikum Dek Adi, mau ikut tahlilan ke rumah almarhum Pak Rahmat tidak?"


Kang Ujang bertanya lewat telepon.


"Waalaikumsalam kang, iya saya ikut. Ketemu langsung di rumah almarhum saja ya, saya sebentar lagi jalan kesana." jawabku.


"Oh iya dek. Saya jalan duluan kesana kalau gitu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Aku mengganti baju, lalu beranjak keluar. Sebelumnya pintu ku kunci. Aku melihat ke arah kamar Bang Oji. Sejak kemarin motornya terparkir di sana, apa ia tak kerja sejak kemarin.


"Eh, Bang Adi. Mau kemana bang?" sapa Ela yang baru saja tiba di halaman kost. Ia sendiri, tak bersama Dini. Tumben sekali.


"Eh, iya Ela. Ini saya mau tahlil ke rumah Pak RT. Ela tumben sendirian, Dini mana?"


"Dini ada jadwal lembur bang. Saya masuk dulu bang, mari." ucap Ela.


"Iya, mari." balasku. Aku pun berlalu.


Ku berjalan di garasi, cahaya lampunya kuning remang, membuat mata sakit. Aku melihat beberapa kucing berbaris tepat di samping sedan tua. Berbaris seperti dulu ku lihat. Mereka menatapku tajam, tak bergeming. Aku balas menatap kucing-kucing itu dengan melotot. Seekor menggeram memamerkan dua taringnya yang tajam. Aku berhenti melangkah.


"Hush!" aku mengusir kucing-kucing ini. Tapi mereka tak takut dengan gertakanku. Tatapannya makin menusuk, mereka tak bergerak satu centi pun.


Ku acuhkan, buat apa memikirkan kucing-kucing itu. Mereka seperti itu memang sudah biasa mungkin, tak takut dengan gertakan manusia. Garasi ku lewati, aku berjalan di halaman rumah dan hampir sampai di gerbang. Ah iya, aku teringat akan mobil dan Yuda. Sekalian saja aku bicara dengan Nek Iyah, aku pun berbalik badan menuju rumah Nek Iyah.


Astaga!


Nek Iyah sudah berdiri di teras rumahnya, membuatku terkaget. Ia berdiri dengan tangan ke belakang, persis seperti tadi sore ku lihat. Wajahnya sumringah dengan senyum terukir di bibirnya.


"Em, nek."


"Ya Dek Adi, ada yang mau di omongin?" tanya Nek Iyah.


Aku berjalan mendekat ke teras rumah.


"Mari duduk." Nek Iyah mempersilakanku duduk.


Aku pun duduk.


"Em, gini nek. Em, ada yang mau saya tanyain ke Nek Iyah." ucapku.


"Mau tanya apa dek?" jawabnya, ia masih saja tersenyum.


"Sa..saya mau tanya, apa mobil yang di garasi itu ada rencana untuk di jual?" aku mengutarakan pertanyaan dengan gugup.


Nek Iyah melihat mobil tua di garasi.

__ADS_1


"Itu mobil kenangan almarhum Pak Thamrin. Itu juga mobil kesayangan almarhum." ucapnya.


"Em, kalau memang nggak di jual nggak apa-apa nek, saya cuma tanya saja." balasku.


"Em, ka..kalau gitu saya permisi nek."


Aku berdiri dan melangkah menjauh dari teras.


"Dek Adi." Nek Iyah memanggilku.


"Iya nek." langkahku terhenti, aku berbalik badan menghadap kembali ke Nek Iyah.


"Mau kemana buru-buru?" Nek Iyah bangun dari duduknya.


"Itu memang mobil kesayangan almarhum, tapi itu dulu. Tapi sekarang Pak Thamrin nggak akan mungkin memikirkan mobilnya.." ucapnya sambil melangkah mendekatiku.


"Jadi, bisa saja saya jual. Memang siapa yang mau membeli mobil rongsokan itu?" tanya Nek Iyah.


Hah? Apa benar yang di katakan Nek Iyah.


"Benar mau di jual nek?" tanyaku dengan wajah sumringah.


"Siapa yang mau membeli mobil itu?" tanya Nek Iyah.


"Teman saya nek, Yuda. Dia juga pernah numpang menginap di sini." jawabku.


Nek Iyah nampak sejenak berpikir.


"Baik nek. Terima kasih banyak nek." aku bersalaman dengan Nek Iyah, ku cium tangan nya yang tak keriput. Eh, kulit tangannya tak keriput.


"Kalau begitu saya pamit nek. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." ucap Nek Iyah dengan senyum tetap mengembang.


Aku berjalan menuju rumah Pak Rahmat dengan gagah, pikirku sebentar lagi aku akan dapat komisi dari Yuda. Aku senang, aku bahagia, jalanku mantap, langkahku pasti. Senyumku lebar. Tak sabar rasanya untuk cepat-cepat menghubungi Yuda, guna memberi kabar gembira ini. Tak terbayang ekspresi wajahnya ketika ku beri tahu kabar ini.


Aku pun sampai di rumah Pak Rahmat, warga sudah banyak berkumpul. Ada tenda tepat di depan rumah, dan bangku berjejer rapi. Kang Ujang melambaikan tangannya, aku menghampiri Kang Ujang dan duduk di sebelahnya.


Seorang bapak membuka acara tahlil malam ini, sepertinya ia tokoh yang di tuakan di daerah ini. Acara tahlil pun di mulai, di awali dengan pembacaan surah yasin bersama, kemudian di lanjutkan zikir, dan di tutup dengan doa oleh seorang ustad muda, ustad yang membaca doa, saat tahlil di rumah Nek Iyah tempo hari.


Tahlil pun selesai, ibu-ibu bertugas mengantar makanan dan camilan, di bantu pemuda dan pemudi.


"Kang, mau minum apa kang?" tanya Hendra anak almarhum Pak Rahmat.


"Saya kopi aja Dra."


"Abang mau minum apa bang?" Hendra bertanya padaku.


"Kopi juga deh bang. Makasih ya." balasku.


Aku menikmati camilan, begitu pun Kang Ujang. Kami berbincang menunggu kopi datang.


"Kang, Kang Ujang udah ketemu Bang Oji belum?" tanyaku.

__ADS_1


"Belum sih dek. Eh tapi kemarin malam saat tahlil, Bang Oji ada kan ya? Soalnya saya lihat dia, cuma nggak sempat negur karena sibuk bantu-bantu."


"Iya, kemarin malam ada. Tapi saya lihat kelakuan Bang Oji rada aneh deh kang."


"Aneh? Aneh gimana maksudnya?" tanya Kang Ujang sambil mengigit bolu.


"Gelagatnya kang, gerak geriknya juga aneh, seperti bukan Bang Oji yang saya kenal. Mukanya juga agak pucat saya lihat."


"Mungkin dia sakit dek. Tapi Dek Adi tadi lihat Bang Oji nggak di kost?" tanya Kang Ujang.


"Motornya dari kemarin ada di depan kost-nya, sampai tadi saya lihat masih ada." jelasku.


Kang Ujang diam sejenak.


"Besok coba saya ke kamarnya, mungkin Bang Oji sakit."


"Kang, kapan mau di lanjutin ceritanya?" pintaku.


"Oh iya ya, saya utang cerita ke Dek Adi ya."


Hendra datang membawa dua gelas kopi hitam.


"Kang Ujang, bang, ini kopinya." Hendra menyerahkan dua gelas kopi.


"Makasih Dra. Eh Dra, gimana kabar ibu? Sudah baikan?" tanya Kang Ujang.


"Alhamdulillah sudah baikan, tapi sepertinya masih terpukul dengan kejadian yang mendadak gitu kang." Hendra pun duduk di samping Kang Ujang.


"Apalagi dengan kondisi jenazah bapak yang menurut saya dan keluarga seperti nggak wajar kang." lanjut Hendra.


"Terus, keluarga dari Cirebon sudah datang Dra?" Kang Ujang bertanya.


Hendra duduk lebih mendekat ke Kang Ujang.


"Sudah kang, menurut salah seorang paman saya. Ini jelas ada hubungannya dengan hal mistis. Keluarga dari Cirebon sampai nggak terima dengan kejahatan macam ini, dan katanya akan membuat perhitungan dengan setan yang membuat bapak seperti itu." terang Hendra.


"Maksudnya membuat perhitungan gimana bang?" tanyaku.


"Keluarga dari Cirebon katanya akan mengadakan ritual untuk menyerang setan yang sudah membuat bapak seperti itu, balas dendam istilahnya. Cuma saya kurang paham dengan hal-hal seperti itu bang."


Wah, akan ada pertempuran gaib nampaknya. Aku pun ikut senang, biar hancur sekalian.


"Memang sudah tahu siapa yang membuat bapak seperti itu Dra?" tanya Kang Ujang lagi.


Hendra tengak tengok, kanan dan kiri.


"Sudah kang."


Hah? Sudah tahu siapa pelakunya? Wah, aku jadi makin penasaran. Wajah Kang Ujang pun menyiratkan tanda tanya.


"Kuntilanak merah yang bikin bapak seperti itu." ucap Hendra sedikit berbisik.


Aku dan Kang Ujang kaget. Kami pun saling pandang.

__ADS_1


__ADS_2