
"Orang yang pertama kali tahu kalau Nek Iyah meninggal saya kurang begitu jelas Bang. Ada yang bilang Pak RW, ada yang bilang warga sekitar. Tapi yang jelas, jenazah yang pertama kali ditemukan tewas adalah Ela dan Dini. Jenazahnya ditemukan di kebun kosong. Saksinya warga sekitar." jelas Arya.
"Lalu, selang tiga hari kemudian jenazah Kang Ujang ditemukan di tengah kebun kosong. Jenazah Kang Ujang ditemukan setelah maghrib, saksinya Hendra anak almarhum Pak Rahmat."
"Ini sampai membuat geger warga sekitar Bang. Ada gerangan apa dengan tewasnya Ela, Dini, dan Kang Ujang. Sampai-sampai polisi turun tangan. Area kebun kosong sampai ditempel garis polisi." lanjut Arya.
Aku, Mas Gun dan Tika saling tatap.
Astaga, alamat berurusan dengan polisi lagi. Aku membatin.
Ditengah obrolan kami, datang seorang Bapak ke hadapan kami. Memakai baju koko coklat susu dengan celana hitam. Kepalanya memakai songkok hitam.
"Pak." Arya menyapanya seraya melemparkan senyum.
"Kalian ini yang kost disini kan?" tanya si Bapak.
Kami pun berdiri.
"Iya betul Pak." jawab Mas Gun.
"Ada apa ya Pak?" tanyaku.
"Saya Aziz, RW disini." si Bapak menyodorkan tangannya, kami pun bersalaman.
"Begini Dek, beberapa minggu belakangan ini banyak warga yang memperbincangkan soal kejadian tewasnya orang-orang yang dekat dengan Nek Iyah. Dua perempuan yang kost disini, Ujang, dan Nek Iyah sendiri yang meninggal sekitar seminggu yang lalu." ujar Pak Aziz.
"Kalau berkenan, ada yang ingin saya bicarain sama Adik-adik semua." lanjut Pak Aziz.
"Oh boleh Pak, boleh." jawabku.
"Boleh kita ngobrolnya di rumah Nek Iyah saja? Disana enak, bisa sambil ngopi dan ngemil. Ayo " ajak Pak Aziz.
Aku, Mas Gun, dan Tika saling tatap. Arya pun melirik kami.
"Iya Pak. Boleh Pak." jawab Mas Gun.
"Yuk!" ajakku.
Kami bertiga berlalu menuju rumah Nek Iyah. Di teras rumah masih berkumpul warga sekitar, ada sekitar belasan orang Bapak-bapak. Mereka sedang bercengkrama. Namun terhenti ketika melihat kami datang.
"Ayo, di dalam saja ngobrolnya." ajak Pak Aziz.
Kami menganggukkan kepala tanda permisi kepada warga yang berkumpul di teras depan rumah Nek Iyah. Kemudian masuk ke ruang keluarga.
Di dalam rumah pun masih banyak warga sekitar yang berkumpul, mereka duduk di lantai beralaskan tikar. Belasan pasang mata menatap kami.
"Silakan Dek. Mau duduk di sofa atau di tikar? Silakan pilih aja. Senyamannya kalian aja." ucap Pak Aziz.
Kami pun duduk di tikar.
Jantungku berdegup cepat. Ada gerangan apa Pak Aziz mengajak kami ke rumah Nek Iyah? Dan lagi, tatapan para warga pada kami tampak tak mengenakkan.
"Mau ngopi atau ngeteh nih?" tanya Pak Aziz.
Tika memilih teh. Aku dan Mas Gun kopi. Seorang Ibu datang membawakan dua piring kue.
"Silakan di makan dulu Dek. Sembari tunggu kopi dan teh datang." Pak Aziz mempersilakan kami menikmati kue yang dihidangkan.
Mas Gun mencomot sepotong bolu pandan. Tika mengambil sebuah kue yang dibungkus daun pisang.
"Yang namanya Adi yang mana?" tanya Pak Aziz.
"Sa-saya Pak." ucapku.
Pak Aziz mengangguk.
__ADS_1
Arya datang, ia duduk bergabung bersama kami.
"Ya, ada apaan nih? Kayaknya gue mau disidang nih." bisikku.
"Santai aja bang. Palingan Pak RW cuma mau tanya-tanya sedikit." balas Arya.
Tak lama seorang Ibu yang lain datang membawa nampan berisi dua gelas kopi dan segelas teh. Ibu itu menaruh gelas sesuai dengan pesanan kami.
Pak Aziz membakar sebatang rokok.
"Silakan diminum Dek. Ayo, sekalian dimakan juga kuenya. Ayo, jangan malu-malu." ucap Pak Aziz menyuruh kami makan.
"Atau mau makan nasi?" Pak Aziz menawarkan.
"Ng-nggak usah Pak. Ini saja cukup." jawabku.
Pak Aziz mengangguk. Lalu berbicara dengan seorang Bapak di sampingnya.
"Bisa kita mulai obrolannya?" tanya Pak Aziz.
"B-boleh Pak. Silakan dimulai saja." sahutku.
"Kamu namanya siapa?" Pak Aziz menunjuk Tika di sebelahku.
"Saya Tika Pak."
"Kamu?"
"Guntur Pak."
"Baiklah. Begini Dek Adi, Dek Tika, dan Dek Guntur. Sebelumnya saya minta maaf karena mengajak kalian kesini dan mengganggu jam istirahat kalian." ujar Pak Aziz membuka obrolan.
"Iya nggak apa-apa Pak." sahut Mas Gun.
"Jadi, beberapa waktu lalu warga sini dihebohkan oleh ditemukannya dua jasad perempuan muda di kebun kosong sana. Setelah diselidiki ternyata dua perempuan itu adalah orang pendatang yang bekerja disini dan ngekost di rumah Nek Iyah. Lalu selang berapa hari kemudian, ditemukan lagi jasad Ujang atau lebih akrab disapa Kang Ujang. Di tengah-tengah kebun kosong itu. Dan selang berapa hari kemudian, Nek Iyah ditemukan meninggal dalam keadaan tidur di kamarnya." terang Pak Aziz.
"Silakan jawab. Mau siapa yang jawab? Adi? Guntur atau Tika? Terserah, silakan siapapun boleh jawab." pinta Pak Aziz.
"Sebelum kamu jawab. Bolehkah kami diizinkan untuk berdiskusi terlebih dahulu Pak?" tanyaku.
Warga saling pandang satu sama lain.
"Tenang saja. Saya akan jawab dan ceritakan semuanya tanpa ada yang saya tutup-tutupi. Asal saya diizinkan untuk berdiskusi dengan kawan-kawan saya terlebih dahulu." tambahku.
Pak Aziz dan beberapa Bapak tampak sedang saling bertanya.
"Silakan kalian berdiskusi dulu." ucap Pak Aziz.
Lalu Pak Aziz bangun dari duduknya. Ia pergi ke teras depan rumah. Terdengar ia berbicara dengan beberapa orang Bapak-bapak.
Kami pun menjauh dari kerumunan warga di dalam rumah.
"Di, gimana nih? Apa kita ceritain semua soal kejadian yang kita alami?" tanya Tika.
"Kalau kita ceritain semua, belum tentu ada yang percaya dengan yang kita alami. Karena nggak semua orang percaya dengan hal-hal gaib." balasku.
"Iya juga ya. Terus kita harus gimana Di? Apa yang harus kita ceritain?" tanya Mas Gun.
Pikiranku terganggu oleh belasan orang yang masuk ke dalam rumah. Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Mereka menatap kami dengan tatapan tak biasa. Ada apa sebenarnya ini? Apa yang mereka inginkan?
"Di. Udahlah, untuk apa kita tutup-tutupi kejadian yang sebenarnya. Toh, kalau mereka nggak percaya bukan masalah kita. Yang penting kita udah kasih tahu yang sebenar-benarnya." ujar Tika.
"Iya Di. Urusan mau percaya atau enggak bukan urusan kita." tambah Mas Gun.
"Tapi apa iya polisi mau percaya dengan apa yang kita ceritakan? Ini urusannya dengan hukum. Empat orang tewas tanpa ada kejelasan tentang penyebab kematiannya. Itu masalah besar Mas, Tik. Dan kita bisa terseret, karena nggak punya alibi jelas." tuturku.
__ADS_1
Tika diam.
Mas Gun menunduk.
"Terus lo mau cerita apa sama warga? Mau bilang pulang kampung? Kalau ditanya tiket bus atau keretanya mana, lo mau jawab apa ke mereka?" Tika berujar.
Jantungku berdegup semakin cepat. Aku tak dapat menjawab pertanyaan Tika.
"Adi. Kita udah hampir mati sama-sama. Nyawa kita terancam sama-sama. Kita memusnahkan banyak demit sama-sama. Kita udah kesakitan sama-sama. Kita capek sama-sama. Kita ke dunia lain sama-sama. Masa ke penjara sama-sama lo ragu?" tutur Mas Gun.
Aku mengangguk. Semoga kebersamaan kita akan terus terjalin sampai maut memisahkan.
"Oke. Bismillah ya." ucapku.
"Oke apa?" tanya Mas Gun.
"Oke, kita akan cerita ke mereka apa yang kita alami sesungguhnya. Deal?"
"Deal!" Tika dan Mas Gun menyahut.
Kamu kembali duduk di karpet yang tergelar di lantai. Di dalam rumah Nek Iyah, warga yang berkumpul semakin ramai. Sesak dan padat. Pak Aziz masih mengobrol dengan seorang Bapak berbaju putih.
Setelah melihat kami sudah kembali duduk, Pak Aziz dan seorang Bapak berbaju putih pun masuk ke dalam rumah.
Tapi..
Bruk. Ceklekk.
Tapi kenapa pintu rumah ditutup dan dikunci? Ini pasti ada yang nggak beres. Jelas ada sesuatu, Pak Aziz dan Arya pasti ingin menjebak kami.
Warga yang duduk di lantai, ramai-ramai merubah posisi duduknya. Mereka bersila dengan serempak. Sedangkan yang berdiri, mereka berdiri dengan tegap, sikap sempurna.
Mengherankan.
Apa mereka bukan manusia?
Arya pun tampak kebingungan dengan apa yang dilihatnya. Semua warga yang ada di dalam rumah menatap kami. Puluhan pasang mata menatap kami bertiga.
"Di, kok aneh ya." Tika berbisik pelan.
"Iya. Gimana nih Tik?" tanyaku.
Tika diam. Mas Gun pun tampak kebingungan.
Ada apa ini?
...______________...
...oke deh, cukup dulu yaa...
...kalo ceritanya gantung, ya mohon maaf...
...sudah jadi tugas otor, bikin penasaran pembaca. hehehehe....
...LIKE - KOMEN - FAVORIT...
...udah keharusan banget itu mah....
...kirim...
...HADIH & VOTE...
...udah wajib banget itu mah....
...tunggu part selanjutnya yaa...
__ADS_1
...makasih....