Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 145


__ADS_3

Kang Ujang menyeka air matanya. Ia meminta maaf padaku karena menangis terbawa emosi. Aku memakluminya. Ia menghela nafas panjang dan menghembuskannya. Mencoba membuat dirinya tenang. Aku tak memaksa Kang Ujang melanjutkan ceritanya. Aku hanya diam tak berkata.


"Sa-sampai dimana tadi saya ceritanya Dek?" tanya Kang Ujang.


"Sudah Kang, kalau memang nggak mau diterusin nggak apa-apa." balasku.


"Enggak. Dek Adi harus tahu kejahatan yang sudah lama tersembunyi disini. Saya mau lanjutin sampai tuntas. Biar nggak ada beban." ucapnya tegas.


Aku menatap Kang Ujang.


"Kang Ujang yakin mau lanjut cerita?" tanyaku.


Kang Ujang mengangguk. Ia kembali membakar sebatang rokok. Hisapan pertama membuatnya lebih rileks. Baguslah.


"Tadi Kang Ujang cerita sampai Ayah dan Ibu terkena teluh yang memantul." tuturku.


Kang Ujang kembali menghela nafas.


"Saya jadi saksi atas kejahatan Bi Tati. Malam itu seperti biasa, setelah shalat isya Ayah duduk di dipan bambu di luar rumah. Ia sedang merokok. Sampai akhirnya saya dan Ibu kaget karena mendengar Ayah berteriak di luar rumah."


"Ada bola api! Ada bola api!" Kang Ujang berkata.


"Bola api? Ayah Kang Ujang teriak seperti itu?" tanyaku.


"Iya Dek."


"Terus?"


"Kata Ayah bola api berjumlah dua. Meluncur dari kebun kosong dan hilang di atap rumah. Saat itu rumah penduduk di daerah sini masih sangat jarang. Kampus Dek Adi saja masih kebun luas."


"Ayah dan Ibu tak ambil pusing soal bola api. Kami pun tidur seperti biasa malam itu. Saya memang selalu tidur bersama Ibu, dan Ayah biasa tidur di ruang depan kamar."


"Saya nggak tahu jam berapa saya terbangun karena ingin kencing. Pokoknya sudah sangat sepi. Saya lihat Ibu tidur terlentang. Saya keluar menuju kamar mandi. Ayah tidur meringkuk berselimutkan kain sarung."


"Selesai dari kamar mandi saya lihat tubuh Ayah menegang. Matanya melotot, bagian putih matanya berwarna merah. Lidahnya menjulur keluar, dan suaranya seperti orang tercekik. Saya kaget dan dekatin Ayah, saya nangis. Saya panggil-panggil Ibu, untuk minta tolong. Tetapi Ibu tak menyahut. Saya pun lari ke kamar."


"Ketika saya masuk ke kamar. Hal yang sama terjadi pada Ibu, ia sama seperti Ayah. Saya menangis sejadi-jadinya. Puncaknya mereka berdua memuntahkan darah cukup banyak. Saya putuskan lari ke rumah Juragan untuk meminta pertolongan. Tetapi begitu Juragan dan Nek Iyah datang, nyawa Ayah dan Ibu sudah tak tertolong."


Kang Ujang menunduk.


Aku diam.


"Saya turut berduka cita Kang." ucapku.


Kang Ujang menatapku, sorot matanya sayu.


"Makasih Dek." ucapnya pelan.


"Saya boleh tanya sesuatu Kang?"


"Silakan Dek. Nggak usah izin atuh Dek." balas Kang Ujang.


"Apa yang membuat Kang Ujang tetap setia mengabdi pada Juragan dan Nek Iyah?"


Kang Ujang menghela nafas. Ia mundur, untuk menyandarkan tubuhnya ke dinding.

__ADS_1


"Malam itu saya sangat sedih dengan kepergian kedua orang tua saya, apalagi dengan cara yang tidak wajar seperti itu. Lebih tepatnya sedih bercampur marah. Saya di peluk oleh Nek Iyah. Nek Iyah hanya mengatakan satu hal pada saya,"


"Mengatakan satu hal? Apa Kang?" tanyaku.


"Ia bilang. Jangan khawatir, akan kita balas perbuatan yang menyebabkan Ayah dan Ibumu tewas dengan cara seperti ini Jang. Asal kamu terus ikut dengan saya dan Juragan. Begitu kata Nek Iyah. Dan saya berjanji akan setia mengabdi pada Juragan dan Nek Iyah."


"Lalu, bagaimana kelanjutannya Kang?" tanyaku.


"Sepeninggalan Ayah Ibu, saya diasuh oleh Nek Iyah dan Juragan. Rumah yang saya tempati sekarang adalah rumah pemberian Juragan untuk keluarga kami, saat awal Ayah dan Ibu bekerja untuk Juragan. Selang beberapa hari, saya diajak melayat ke satu rumah. Saya pergi bersama Juragan dan Nek Iyah."


"Saya sempat bertanya ke Nek Iyah, akan pergi melayat kemana. Tapi Nek Iyah tak menjawab, sampai kami tiba di rumah itu. Kami masuk ke sebuah rumah, warga penuh datang untuk melayat juga. Keluarganya menyambut kami ramah tanpa ada rasa curiga. Saya bersama Nek Iyah dan Juragan duduk di samping jenazah yang terbaring di tutup kain batik."


"Lalu Nek Iyah membuka kain yang menutup bagian wajah jenazah. Dek Adi tahu jenazah siapa itu?" tanya Kang Ujang.


Aku diam berpikir sejenak.


"Apa itu jenazah Bi Tati?" tanyaku dengan terkejut.


Kang Ujang senyum. Lalu mengangguk.


"Ya, itu jenazah Bi Tati. Dengan kulit menghitam seperti hangus terbakar. Mulutnya menganga lebar. Tubuhnya kurus kering. Menyeramkan Dek."


"Lalu. Lalu, dari mana Kang Ujang tahu kalau itu jenazah Bi Tati?"


"Nek Iyah berbisik pada saya. Itu orang yang sudah bikin Ayah Ibumu tewas Jang. Kau kenal dia Jang? Saya hanya menggeleng."


"Lalu Nek Iyah bilang lagi. Itu Tati, teman Ayah Ibumu. Abdi Juragan yang mengaku paling setia dengan Juragan. Tati si tukang masak."


"Terus, begitu Kang Ujang tahu itu Bi Tati. Apa reaksi Kang Ujang?" tanyaku.


Kang Ujang senyum.


Gila. Ini sebuah masalah balas dendam yang menakutkan. Dengan jawaban Kang Ujang yang berkata 'sangat senang', aku merasa sedikit takut dengannya. Senang dengan penderitaan Bi Tati yang tewas mengenaskan. Tapi aku tak tahu jika ada di posisi Kang Ujang saat itu, mungkin aku akan senang juga melihat pembunuh Ayah dan Ibu mati dengan cara seperti itu. Atau malah takut? Entahlah.


"Jadi, semua permasalahan yang terjadi di keluarga Pak Thamrin karena dendam Kang?" tanyaku.


"Bisa dibilang seperti itu juga."


Lalu kami larut dalam diam. Hanya suara jangkrik yang terdengar.


"Apa kesimpulan yang Dek Adi ambil dari cerita saya?" tanya Kang Ujang.


Aku berpikir.


"Kesimpulannya adalah karena dendam. Satu per satu terkuak misteri yang menjadi pertanyaan saya selama tinggal disini. Kalau saya boleh merangkum. Masalah pertama adalah kemarahan Juragan karena Nyai Asih tak menjaga bayi dalam kandungannya. Bi Tati yang di amanatkan menjaga dan mengasuh Nyai Asih selama Juragan pergi tugas, menurut Juragan tak becus merawat Nyai. Sampai akhirnya Nyai keguguran."


Kang Ujang diam dan mendengarkanku.


"Masalah kedua, menurut sudut pandang Bi Tati Juragan adalah suami yang tak sepenuhnya bertanggung jawab dan setia. Mungkin inginnya Bi Tati, Juragan mendampingi Nyai selama Nyai sakit. Atau sekedar ikut merasakan kepedihan yang dirasakan Nyai. Bukan malah kabur dan datang bersama perempuan lain." ujarku.


"Hmm, masuk akal Dek. Lalu?"


"Yang ketiga, yang membuat dendam Bi Tati makin menjadi-jadi adalah karena Juragan tak peduli dengan Nyai sampai Nyai meninggal dunia. Dan yang keempat adalah karena sakit hati."


"Sakit hati? Sakit hati kenapa?" tanya Kang Ujang.

__ADS_1


"Sakit hati karena Bi Tati dipecat. Sementara Ayah dan Ibu Kang Ujang tidak. Bi Tati merasa, harusnya bukan hanya ia saja yang disalahkan atas insiden keguguran Nyai. Harusnya Ayah dan Ibu Kang Ujang pun patut disalahkan. Tapi mengapa Ayah dan Ibu Kang Ujang tidak dipecat. Bener nggak?"


"Hmmm. Masuk akal juga sih. Iya ya, baru terpikirkan sama saya Dek. Terus, apa lagi?" tanya Kang Ujang.


Ah gila, aku seperti detektif saja. Harusnya aku tak mengambil jurusan ekonomi kalau otakku bisa bekerja maksimal seperti ini. Mungkin aku bisa jadi penyidik dan bekerja di kepolisian. Hehehehe. Sial, aku memuji diri sendiri.


"Dan yang terakhir, Bi Tati yang dikenal orang sakti akhirnya melancarkan misi balas dendam pada si pembuat masalah. Siapa? Yaitu Nek Iyah. Bi Tati merasa Nek Iyah biang keladinya, sampai Juragan bertekuk lutut dan berpaling dari Nyai Asih. Ia menggunakan kemahirannya untuk meneluh Nek Iyah. Gimana? Apa benar semua rangkuman saya Kang?"


Kang Ujang mengacungkan kedua jempolnya dan tersenyum lebar.


"Mantap Dek! Saya rasa sih benar apa yang Dek Adi simpulkan." balas Kang Ujang.


Semuanya menjadi saling berkaitan dan sangat jelas. Masalah keluarga Pak Thamrin, dan masalah gaib yang terjadi setelahnya. Cerita dari Kakek Badrun ditambah dengan cerita Kang Ujang. Hanya tinggal mencari kebenaran tewasnya Bagas, Mbak Wati, Pak Rahmat, dan Bang Oji. Apa benar mereka menjadi tumbal untuk Kuntilanak Merah itu? Namun, pada siapa aku bertanya soal permasalahan ini?


"Kang, setelah saya pikir. Cerita dari Kakek Badrun dan Kang Ujang menjadi saling terkait. Lalu, yang menjadi pertanyaan saya. Apa benar Nek Iyah mencari korban tumbal untuk Kuntilanak Merah?" tanyaku.


Kang Ujang diam. Diamnya membuatku curiga.


"Emm, kalau memang Kang Ujang nggak tahu ya nggak apa-apa." tukasku.


"Saya nggak punya kuasa untuk jawab iya atau tidak. Saya takut salah jawab. Lebih baik saya nggak jawab pertanyaan Dek Adi. Nggak apa-apa kan?"


Aku melempar senyum.


"Nggak apa-apa Kang. Saya nggak memaksa Kang Ujang." tuturku.


"Kalau boleh tahu, rumah kosong di depan itu dulu milik siapa Kang?" tanyaku.


"Rumah itu dibangun oleh Juragan untuk Mbak Ajeng. Memang kenapa Dek?" tanya Kang Ujang.


Aah, jadi itu rumah Mbak Ajeng. Penampakan sosok wanita dengan leher tergantung adalah roh penasaran Mbak Ajeng rupanya. Dan sosok penampakan wanita yang memakan kucing hidup-hidup itu pasti roh penasaran Mbak Gendis. Ya, semua jadi makin jelas.


"Kang," panggilku.


"Ya. Ada yang mau Dek Adi tanyakan lagi?" ucap Kang Ujang sembari tersenyum.


Aku terkekeh.


"Sebelum jadi kamar kost. Tempat apa ini?" tanyaku.


"Dulu ini gudang kecil, tempat simpan alat-alat. Dan ada makam Mbak Ajeng dan Mbak Gendis disini." jawab Kang Ujang.


Apa? Makam?


"Makam? Kuburan kan? Dimana makamnya Kang?"


"Iya kuburan. Saya kurang tahu persis dimana makam mereka, karena dulu pemakaman mereka selalu di lakukan malam hari. Pemakaman Mbak Ajeng, dilakukan malam hari. Bahkan pemakaman Mbak Gendis dilakukan tengah malam. Tapi setahu saya saat pembangunan kost ini, makam Mbak Ajeng dan Mbak Gendis di pindah ke pemakaman umum. Memang kenapa Dek?"


"Emmm, saya penasaran dengan cairan hitam yang pernah keluar dari sela-sela lantai kamar saya Kang. Cairan hitam yang berbau busuk. Ingat kan?"


"Iya saya ingat. Kan Dek Adi yang menuduh saya mengotori kamar. Memang kenapa cairan hitam itu Dek? Apa masih keluar dari lantai?"


"Oh sudah nggak pernah keluar lagi sih. Cuma saya penasaran aja asal cairan itu dari mana?" ungkapku.


Malam ini obrolan kami sangat berkualitas. Banyak informasi kudapat dari cerita Kang Ujang. Namun belum semua tabir terbongkar. Masih banyak misteri yang belum terungkap. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Dan keselamatanku pun masih menjadi pertanyaan. Aku dan Tika sudah ditandai oleh Kuntilanak Merah. Selanjutnya aku tak tahu harus berbuat apa. Kakek Badrun tak pernah lagi menampakkan wajahnya. Ibu Kemala yang bilang akan melindungiku ternyata hanya omong kosong belaka. Aku dan Tika harus berjuang untuk menyelamatkan diri. Atau melawan balik.

__ADS_1


Semoga ada jalan keluar. Amien.


__ADS_2