
Kemala memutuskan untuk pulang sebelum adzan ashar berkumandang, ia tak ingin kejadian ojek online kemarin kembali terulang. Aku pun sependapat dengannya. Tak lama ia memesan, abang driver ojek pun datang menjemputnya dan Kemala pun pergi.
Hari menjelang sore, perasaanku agak malas untuk cepat-cepat kembali ke kost. Aku masih duduk di kedai kopi, gelas minumanku belum habis. Aku duduk sendiri, sembari melihat layar ponselku. Tumben sekali, Bang Dede tak terlihat, di kedai hanya ada Kak Nia.
"Sedih banget di tinggal pulang?" gumam Kak Nia menyindirku dari balik mesin kasir.
"Hahahahaha. Sedih kak, soalnya belum memiliki." sahutku.
"Hahahahaha. Ada yang curcol niiih." balas Kak Nia, ia bangun dari tempat duduknya, menghampiriku dan duduk di hadapanku.
"Emang belum jadian?" tanya Kak Nia.
"Belum sih." jawabku singkat.
"Emang pengen jadian?"
"Emm, mau sih." jawabku singkat.
"Eh apaan sih kak, kok tanya-tanya seputar dia. Ngobrol yang lain aja lah!" ujarku.
"Hahahahaha. Padahal mau gue kasih ilmunya biar lo bisa cepat jadian sama dia, tapi lo malah nggak mau. Payah!" balas Kak Nia.
Aku diam. Kak Nia mengeluarkan bungkus rokok, mengambilnya sebatang, lalu membakarnya di hadapanku.
"Eh, lo ngerokok kak?" tanyaku heran.
"Iya. Emang kenapa?"
"Nggak apa-apa sih, gue baru lihat aja cewek ngerokok." jawabku.
Kami mengobrol cukup lama, Kak Nia banyak cerita soal usaha kopinya dengan Bang Dede. Cerita perdebatan menu, perdebatan tempat, sampai hal-hal kecil seperti lampu kedai. Bang Dede orangnya saklek, ia mau A harus A, cerita Kak Nia. Tapi Bang Dede pribadi yang peduli dengan kawan dan partner kerja, enak di ajak sharing, seru di ajak bercanda, dan asik untuk teman main game.
"Usaha ini udah jalan berapa lama kak?" tanyaku.
"Yaa belum lama banget sih. Sekitar empat tahunan, tapi memang pindah ke sini baru sekitar dua bulan." jelas Kak Nia.
"Ooh gitu, lumayan lama ya. Tapi kenapa kopi? Maksud gue, kenapa usaha kopi? Yang gue tahu usaha kopi kan lagi menjamur nih, banyak saingan dong pastinya. Ada perasaan takut nggak sih bakal nggak laku?" tanyaku seolah wartawan yang sedang mewawancarai narasumber.
"Gue sih nggak takut ya, karena kita yakin sama barang yang kita jual. Maksudnya, kopi kita berkualitas lho. Dan orang-orang sekarang pastinya sudah lebih cerdas buat pilih mana yang mereka suka, tanpa memandang harga. Iya nggak sih?" jelasnya.
"Menurut gue sih iya. Karena ada harga ada kualitas kan." aku menanggapi.
__ADS_1
"Iya dong. Contoh kecilnya sedotan, beli satu pack harganya lima ribu isinya seratus. Lo lihat deh, sedotannya tipis udah gitu nggak kuat, meleyot-meleyot gitu. Hahahahaha." sambung Kak Nia.
Tak terasa kami mengobrol, adzan magrib berkumandang saling bersahutan. Aku pun pamit pulang.
"Iya. Makasih ya. Kalau senggang ke sini aja ngopi, kopi bikinan gue lebih ciamik ketimbang bikinan Dede. Hehehehe." ujar Kak Nia.
"Siiiip." aku memberi jempol dan pergi berlalu.
Aku mampir untuk melaksanakan shalat maghrib di masjid besar seberang kampus. Setelah selesai shalat, aku pun memutuskan untuk segera pulang ke kost. Aku berjalan melewati lapangan, masih pukul 18:20 dan masih ramai. Masuk ke dalam gang, tiba-tiba aura berbeda langsung ku rasakan. Ku percepat langkahku, aku memperhatikan tiang lampu di ujung jalan, jangan-jangan ada sosok kakek tua kemarin. Huft, untunya tidak ada. Aku sedikit bernafas lega.
Aku berjalan santai, memandang langit gelap. Kelelawar beterbangan ke sana ke mari. Setelah melewati tiang lampu, sebuah suara mengagetkanku.
"Hei kamu!"
Aku berhenti melangkah. Suaranya berat, rada serak. Aku menoleh. Terkejutnya aku ketika melihat sosok kakek tua tepat di belakang tiang lampu.
"Jangan takut nak." ucapnya pelan.
Kakiku lemas tak bisa ku gerakkan. Jantungku berdegup cepat. Tanganku gemetar.
"Aku tidak ada niat jahat kepadamu. Justru aku ingin menolongmu." ucap si kakek kembali.
"Jangan takut nak, aku manusia sama sepertimu." si kakek perlahan mendekatiku. Ia menunjukkan kakinya yang masih menapak di atas tanah.
Aku sedikit tenang.
"Ka..ka..kakek mau apa?" tanyaku gagap masih merasa takut.
"Nak, kakek hanya ingin membantumu. Tidak lebih." ucapnya pelan.
"Membantuku? Membantu dalam hal apa kek?" tanyaku.
Si kakek tak menjawab, lalu tiba-tiba wajah si kakek tampak panik, matanya jelalatan melihat sekitar, seperti ada sesuatu yang mengintai dan memperhatikannya. Ia terlihat awas, matanya bagai mesin scanning, melihat seluruh sisi, sampai melihat ke atas pepohonan. Lalu ia mundur perlahan.
"Kek, kakek kenapa?" tanyaku dengan heran melihat gelagatnya.
"Aku harus pergi, di sini tidak baik. Aku akan menemui kembali nak." balas si kakek, ia mundur perlahan ke balik pepohonan besar di kebun dan hilang tak terlihat lagi.
Aku terkejut. Apa ia benar-benar seorang manusia? Tanda tanya sebesar bola dunia menggelayut di otakku. Aku masih melihat ke arah kebun kosong, mencari sosok si kakek, namun tak ku dapati.
Kemudian aku berlalu menuju kost, ku buka gerbang dan ku tutup kembali. Baru saja berbalik badan, tiba-tiba..
__ADS_1
"Dek Adi." Nek Iyah sudah berdiri di belakangku, aku terperanjat.
"Eh astaga, i..iya nek, ada apa?" jawabku.
"Dek Adi, saya mau kasih tahu kamu sesuatu. Tapi boleh kita bicara di depan rumah?" tutur Nek Iyah.
"Boleh nek, boleh banget."
Nek Iyah mempersilakanku duduk di bangku teras rumahnya, kemudian ia duduk di hadapanku. Wajahnya nampak berseri tak seperti biasa.
"Kalau boleh tahu, saya sudah bikin masalah apa ya nek?" ujarku.
Nek Iyah tersenyum padaku, matanya terlihat sipit.
"Kamu nggak ada masalah apa-apa kok." jawab Nek Iyah.
Aku diam tak berkata lagi. Nek Iyah masih tersenyum menatapku. Aku jadi gugup bercampur bingung. Apa yang sudah ku perbuat ya?
"Terus, ada apa nek?" tanyaku pelan.
Nek Iyah tak langsung menjawab pertanyaanku, senyumnya malah semakin lebar. Aku jadi bingung menghadapinya, gelagatku tak keruan.
"Begini dek, saya cuma mau kasih tahu ke kamu. Kalau ada orang luar yang nggak kamu kenal dan bicara macam-macam soal kost ini, saya harap kamu nggak usah percaya." ucapnya.
Aku makin kebingungan dengan pernyataan Nek Iyah. Orang luar? Bicara macam-macam? Apa maksudnya?
"M..maksudnya apa nek?" tanyaku gugup.
"Saya yakin kamu banyak bertemu dengan orang-orang baru belakangan ini. Benar?" lanjutnya.
Aku mengangguk. Orang baru? Kemala? Bang Dede? Atau Kak Nia yang Nek Iyah maksud?
"Jadi, kalau ada yang bicara macam-macam tentang kost ini atau tentang saya, tolong jangan kamu percaya. Karena mereka nggak tahu apa-apa tentang kost ini atau pun saya. Ngerti?" sambungnya.
"I..iya nek." jawabku singkat.
Aku merasa di sidang oleh Nek Iyah, kharisma yang di miliki Nek Iyah amat kuat, menatap matanya saja aku tak sanggup.
"Yasudah, saya cuma mau kasih tahu itu saja. Ingat pesan saya Dek Adi." tutur Nek Iyah.
Aku pun pamit undur diri, terakhir ku lihat Nek Iyah masih saja tersenyum kepadaku. Gelagatnya seperti bukan Nek Iyah, pikirku. Lalu siapa? Entahlah.
__ADS_1