
Aku mencoba teriak sekencang-kencangnya. Tapi suaraku masih tak dapat kudengar. Sepi. Aku sendiri di lapangan ilalang. Sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan ilalang yang bergoyang senada dengan hembusan angin.
Ngiiiiiiiiinnggg. Lagi-lagi suara ini. Eh, aku bisa mendengar!
Aku membekap telingaku, sembari tengkurap di atas ilalang. Namun suara lengkingan ini masih saja terdengar.
"Aaaaaaaaaaaaaaaa!!" aku berteriak.
Akhirnya.
Aku bisa mendengar suaraku sendiri. Dan suara memekakkan telinga pun mendadak berhenti. Aku menilik sekitar. Sepi. Benar, aku sendiri. Di mana letak rumah reot itu? Tempat Tika dan Kakek Badrun berada.
Secara mengejutkan, di ujung pandanganku kulihat pendaran cahaya putih berkelip. Apa itu kode yang di berikan Tika atau Kakek Badrun untukku? Agar aku menghampirinya. Kubaca basamalah dalam hati, sontak cincin yang kupakai memancarkan sinar biru yang amat menyilaukan. Kuangkat tanganku, kubalas memberi kode pada cahaya itu. Kulambai-lambaikan tanganku.
Cahaya di ujung mendadak padam.
Lho?
Apa itu bukan kode dari Tika atau Kakek Badrun?
Aku duduk lemas menyelonjorkan kaki. Sambil masih menatap letak cahaya yang baru saja padam. Lalu ada cahaya seperti meteor yang terbang ke atas langit, letaknya tepat di tempat cahaya yang barusan padam. Mendadak aku sumringah, jangan-jangan itu Tika atau Kakek Badrun yang akan menjemputku. Aku langsung bangun dari dudukku. Tangan kulambai-lambaikan, cahaya dari cincin yang kukenakan bersinar silau.
"Hooooooiiii! Di siniiiiii!" aku teriak.
Cahaya itu terbang meninggi, lalu berbelok menuju arahku. Alhamdulillah, akhirnya aku di selamatkan. Tapi siapa itu? Kakek Badrun atau Tika? Ah peduli setan, siapa pun dia yang jelas aku senang dan bisa berkumpul kembali bersama mereka.
Masih kulambaikan tanganku. Cahaya itu berbentuk bulat, ada ekor di belakangnya. Ya, persis seperti meteor. Kupicingkan mataku, agar lebih terlihat jelas siapa yang datang menjemputku. Tak jelas terlihat siapa sosok itu.
Ya, ia semakin mendekat. Kini mataku mencermati cahaya yang semakin dekat ke arahku.
Makin mendekat.
Makin mendekat.
Eh? Siapa itu?
Tatapanku membidik cahaya yang semakin mendekat.
Lho, siapa itu? Itu bukan Tika juga Kakek Badrun. Aku mundur perlahan, menjauh guna mengantisipasi. Itu bukan kawanku.
Syuuuttt. Cahaya itu berubah menjadi sosok wanita. Kemudian menapak di atas tanah. Ia berdiri memandangiku. Tatapannya datar, raut wajahnya biasa terkesan hambar.
Wanita bergaun putih. Rambutnya putih panjang sampai menyentuh tanah. Air muka yang datar membuatku bergidik ketakutan. Ia hanya berdiri mematung menatapku. Kulitnya pucat seputih salju. Wajahnya cantik, namun menyiratkan pesona mengerikan.
"Hei, siapa kau?" tanyaku.
Wanita itu hanya diam, wajahnya tak ada ekspresi. Matanya lengket memandangku. Aku siap-siap, cincin di jariku mengeluarkan hawa dingin, kemilau cahayanya makin terang. Aku tak boleh lengah. Biar bagaimana pun, tak mungkin wanita ini datang bukan tanpa sebab. Ia pasti anak buah dari cecunguk kuntilanak merah itu.
Kuarahkan tanganku yang bersenjatakan cincin ke arah wanita itu.
"Hei, siapa kau?" suaraku lantang bertanya padanya.
Masih juga tak menjawab.
Mendadak wanita itu bergerak, ia maju mendekat ke arahku. Aku mundur, sambil terus mengarahkan cincin ke wanita itu.
"Jangan mendekat! Atau cincin ini akan membuatmu musnah!" ucapku.
Wanita itu menghentikan langkahnya. Ia tersenyum simpul, tatapannya tak lepas dariku. Senyumnya makin lebar, kini ia menyeringai. Lalu pemandangan mengerikan baru saja kulihat.
Senyumnya makin lebar, hingga merobek pipi dan mengeluarkan darah segar. Gigi-giginya tajam, berwarna putih gading. Lalu bola matanya berubah seperti bola mata kucing. Iris matanya runcing berwarna hitam. Ya, seperti mata kucing.
"Bismillahi. Allahu Akbar!" tanpa ragu kulancarkan serangan ke arah demit itu.
__ADS_1
Duarr.
Sett. Demit wanita itu tiba-tiba hilang. Jantungku berdebar. Mataku memindai seluruh hamparan ilalang, mencari sosok wanita demit itu.
Tak ada. Ia hilang.
Tiba-tiba, sepasang tangan kurus merangkul dadaku dari belakang. Kuku-kukunya panjang dan tajam, jari-jemarinya ceking.
Grep.
Tangan kurus ini mendekap dadaku kuat. Aku berontak mencoba melepas dekapannya. Tapi terlalu kuat. Nafasku jarang. Dadaku sesak terasa panas. Aku sempat menoleh ke belakang. Apa? Tak ada sosok demit wanita. Lalu, dari mana datangnya tangan ini? Aku coba melerai dua tangan ini, tapi sia-sia.
Sshhhh. Tangan yang mendekapku membakar dadaku, mengeluarkan asap. Aku berteriak, amat kuat. Nafasku semakin sesak. Pandanganku kabur, semua terlihat blur dan tak jelas. Lalu gelap.
"Hihihihihihihihi." aku yang setengah sadar mendengar suara tawa riang.
Adi, kau tak boleh lemah. Sudah banyak yang kau korbankan untuk bisa sampai di sini. Selangkah lagi Adi. Selangkah lagi. Yuda membutuhkanmu. Tika menunggumu. Kakek Badrun menantimu. Kau terlalu berharga untuk tewas di tempat hina seperti ini Adi. Bangun Adi! Bangun!!
Ngiiiiiiiiinnggg.
"Uhukk uhukk." aku sadar, bangun dan terbatuk.
Sepasang tangan kurus ini masih mencengkramku dengan kuat. Sejujurnya, aku lemas. Tapi tekadku bulat, aku harus selamatkan Yuda dan berkumpul kembali bersama Tika juga Kakek Badrun. Mereka pasti khawatir denganku yang terpisah.
Kubaca ayat kursi dalam hati. Lalu..
"LAA HAWLAA WALAA QUWWATA ILLA BILLAAAAAHHH!!"
Kucerai-beraikan sepasang tangan yang mendekapku. Alhamdulillah tangan itu terlepas, kemudian menghilang. Cincin yang kupakai sinarnya makin terang. Aku cari sosok demit wanita itu.
"Sini kau! Sini kalau berani! Tunjukkan wajah jelekmu! Demit sialan!!" teriakku.
"Hihihihihihihihi." suara tawa terdengar menggaung.
"Kau bilang apa barusan?" suara demit wanita itu bertanya mengagetkanku. Ia berdiri beberapa jarak di belakangku. Aku berbalik badan.
"Kau bilang apa barusan?" tanya demit itu lagi.
"Kenapa? Kau keberatan jika di bilang demit jelek? Hah?" rasa takutku sudah hilang saat ini, seujung kuku pun tak ada. Sudah berganti, kini menjadi rasa ingin membunuh demit.
"Manusia lancang! Kau bilang aku jelek!" ucapnya.
"Ooh, rupanya ia tak suka di bilang demit jelek. Wajahnya cantik, jika tak berubah seperti sekarang ini." aku membatin.
"Iya, memang kau demit berwajah buruk yang pernah aku jumpai seumur hidupku. Kau tahu, lebih mending aku melihat Buto Ijo di bandingkan melihatmu." aku memancing emosinya.
Semoga strategi ini berhasil.
Ia tampak marah.
"Huueekk! Cuih!" aku meludah. "Wajahmu itu terlalu menjijikkan. Kulit pipi yang robek, taringmu yang amburadul, dan matamu yang mirip mata kucing kampung, dan lagi rambutmu yang putih itu, persis seperti nenekku. Hahahaha." aku meledek demit itu.
"Grrrrrrrr." ia menggeram, tampak amarahnya terpancing. "Berani-beraninya kau menyamakan aku dengan Buto Ijo. Mulutmu terlalu lancang! Lihat saja, setelah kutelan bulat-bulat jiwamu, kau akan rasakan akibatnya karena telah menghinaku." ujarnya dengan wajah marah dan tatapan yang berapi-api.
"Jangan meminta ampun saat kutelan jiwamu dengan perlahan manusia!"
Aku bersiap menerima serangan, aku tak boleh lengah. Demit wanita ini sedang marah besar, ia bisa melakukan apa pun untuk bisa memusnahkanku.
Set. Lagi-lagi demit itu menghilang dengan cepat.
Aku tak ingin tertipu lagi, aku pun buru-buru berbalik badan. Kulancarkan serangan dari cincin.
Duarr.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaaaaa." demit wanita teriak terkena seranganku. Tubuhnya terlempar jauh.
Ah, seperti ini ternyata trikmu demit sialan.
Kubaca ayat kursi dalam hati, setelahnya La Hawla.
"Bismillahi. Allahu Akbar!!" aku teriak kencang sambil berputar menembakkan cahaya biru. Tanpa kusadari tubuhku melayang. Aku masih menembakkan cahaya biru, tubuhku melayang ke atas sambil berputar. Berputar bagai gasing.
Cincin yang kupakai berhenti menembakkan cahaya biru. Tubuhku masih melayang, aku turun dengan perlahan. Kakiku sampai di atas ilalang. Alhamdulillah.
Tapi di mana sosok demit wanita itu? Mataku masih terus waspada. Dadaku yang terbakar terasa perih. Aku menilik ke berbagai arah, menatap hamparan padang ilalang. Tapi tak kutemukan sosok demit wanita itu.
Tetapi, ada kepulan asap yang terlihat beberapa meter di depanku. Aku pun berlari menghampiri. Dengan nafas terengah, kulihat sosok demit wanita dengan tubuh yang terbelah menjadi tiga bagian, ia terkapar di atas tanah. Tubuhnya mengeluarkan asap, lalu hilang dan musnah.
Aku jatuh terduduk sambil memegang dadaku yang terbakar. Aku menghela nafas panjang. Sekarang, bagaimana caranya agar aku kembali ke rumah reot itu? Kakek Badrun dan Tika pasti sangat khawatir denganku.
Aku duduk bersila, kupejamkan mataku. Aku berdoa agar di pertemukan kembali dengan Kakek Badrun dan Tika.
"Nak Adi! Nak Adi!"
"Adiii."
Aku membuka mata.
Kakek Badrun dan Tika. Mereka menghampiriku, lalu memelukku erat.
"Di, lo nggak apa-apa?" tanya Tika. Tika menitikkan air mata, wajahnya penuh luka lebam, dan ada tetesan darah di ujung bibirnya.
"Alhamdulillah nggak apa-apa Tik." jawabku.
"Nak, kami khawatir denganmu. Demit wanita itu tak sampai terpikirkan oleh kakek. Kakek takut terjadi apa-apa denganmu Nak Adi." ucap Kakek Badrun.
"Apa kau berhasil mengalahkannya?" tanya Kakek Badrun, wajahnya tak keruan, beberapa luka gores dan lebam menghiasi wajahnya.
Aku mengangguk.
"Alhamdulillaaaahh." ucap Kakek Badrun seraya mengusap wajah dengan kedua tangannya.
"Kalian baik-baik aja?" tanyaku.
"Alhamdulillah Di. Walaupun kita banyak luka, tapi banyak demit yang kita musnahkan." jawab Tika.
Kakek Badrun membantuku bangun. Aku sampai di halaman depan rumah reot itu.
"Nak Adi."
"Ya kek."
"Apa kau masih kuat?" tanya Kakek Badrun.
"Insya Allah kek." jawabku dengan pasti.
"Ingat nak, tujuan kita hanya menyelamatkan Yuda. Tak ada tujuan lain." Kakek Badrun mengingatkan kembali.
"Iya kek."
Dengan membaca basmalah bersama, kami bertiga pun melangkah memasuki rumah. Hembusan angin di sertai asap menyambut kedatangan kami, aroma busuk menyeruak memenuhi seisi rumah. Aromanya menusuk, sungguh sangat bau. Suasana di dalam rumah pun gelap.
Sampai kulihat pemandangan yang membuat hatiku bergetar. Air mata menggenang di pelupuk mataku. Bibirku gemetar.
Aku..
Aku sangat rindu dengan mereka.
__ADS_1
Ibu dan ayahku.