
"Hah? Kuntilanak merah?" Yuda terkejut.
"Di, lo nggak becanda kan? Lo nggak serius kan?" tanya Yuda.
Aku menatap Yuda dalam.
"Nggak. Gue nggak becanda, gue nggak sedang mengarang. Semua memang begini kenyataannya." jawabku.
"Kuntilanak merah yang mengancam jiwa gue Da. Sedari awal gue tinggal di sana, jiwa gue sudah di tandai. Dalam darah gue mengalir kekuatan dari leluhur gue, sehingga menjadi incaran kuntilanak merah. Entah semua kebetulan atau memang rencana Yang Maha Kuasa. Tapi Kakek Badrun bilang, cuma gue yang bisa menumpas kejahatan yang sudah terjadi begitu lama di kost itu. Itu alasan gue marah banget sama lo, lo udah tega menukar kalung pemberian Kakek Badrun dengan uang yang nggak seberapa. Sedangkan nyawa gue terancam." jelasku.
Yuda diam.
"Maafin atas apa yang udah gue perbuat Di. Gue nggak tahu-menahu soal kalung itu dan masalah yang sedang lo hadapi." ucap Yuda
"Santai Da, semua udah lewat. Gue nggak butuh kalung itu lagi." jawabku.
"Terus kejahatan apa yang udah terjadi di kost lo Di?" tanya Yuda.
"Dari dulu, sudah banyak korban yang menjadi tumbal untuk kuntilanak merah. Dan semua itu terencana dengan baik, tak melibatkan orang lain. Otak kejahatannya hanya seseorang dan iblis peliharaannya." terangku.
"Siapa Di?" Yuda bertanya.
"Badriyah, atau lebih di kenal dengan panggilan Nek Iyah. Ibu kost gue." jawabku.
"Hah? Jadi dalang semua yang terjadi itu ibu kost lo?" tanya Yuda.
Aku mengangguk.
"Termasuk kematian Bagas juga?" Yuda makin penasaran.
"Iya Da, termasuk tewasnya kawan kita Bagas." jawabku.
"Dari mana lo tahu kalau Bagas tewas karena perbuatan ibu kost lo? Gue takut lo salah tuduh Di, salah sangka. Bisa bahaya itu Di." ujar Yuda.
Aku menyedot es kopi yang tinggal sedikit. Kuhabiskan dengan sekali sedot.
"Dari mana gue tahu kalau itu perbuatan ibu kost? Dari tetangga kost gue yang kerasukan kuntilanak merah." jawabku.
"Apa? Kerasukan?"
"Iya kerasukan. Malam itu gue sedang tidur, tiba-tiba gue dengar teriakan dari kamar sebelah. Gue keluar kamar dengan segera, bahkan almarhum tetangga kost, Bang Oji pun ikut bangun dan membantu. Nama si perempuan Ela. Saat kerasukan Ela berkata, 'aku suka anak muda yang kemarin, aku ingin pemuda lagi badriyah'. Kalau lo dengar itu, apa kesimpulan lo? Sedangkan Ela kerasukan beberapa hari setelah jasad Bagas di temukan di rumah kosong depan gerbang."
Yuda kembali mengusap-usap dagunya.
"Bisa di simpulkan memang perbuatan ibu kost lo." jawab Yuda.
Aku pun menceritakan beberapa kematian orang-orang terdekat. Seperti kematian Mbak Wati dan Pak Rahmat. Mbak Wati meninggal setelah aku menyimpan kalung pemberian Kakek Badrun. Malam sebelum kematian Mbak Wati, aku sempat di jebak oleh llham temannya Mas Gun. Kalungku ingin di rebut untuk gurunya, Ki Sona. Beruntungnya Kakek Badrun datang menolong.
Lalu kematian Pak Rahmat. Aku mengobrol dengan Pak Rahmat sepulang menyolatkan jenazah Mbak Wati, Pak Rahmat menyuruhku untuk segera angkat kaki dari kost itu. Karena banyak mahasiswa yang kost di sana tidak bertahan lama. Pak Rahmat menceritakan kalau ada sesuatu yang bisa mengancam siapa pun penghuni kost itu. Obrolanku dengan Pak Rahmat di dengar oleh Bang Oji. Sejak saat itu pula sikap Bang Oji berubah padaku. Dan tak lama kemudian, Pak Rahmat meninggal dunia.
"Jadi kesimpulannya ibu kost, kuntilanak merah, kalung, dan semua yang tewas itu saling berkaitan Di?" tanya Yuda.
"Iya Da. Kesimpulan yang gue ambil saat ini seperti itu.
"Di, maaf nih ya, lo kenapa nggak pindah aja sih?" ucap Yuda.
Aku tersenyum.
"Buat apa gue pindah kalau kuntilanak itu tetap mengincar gue? Bahkan bukan cuma gue, orang-orang terdekat gue pun bisa menjadi korbannya." jawabku.
Yuda diam, matanya menerawang ke atas langit-langit kedai.
"Ckckckck." Yuda berdecak.
"Kenapa lo Da?" tanyaku heran melihat tingkah Yuda.
"Gila. Ini gila Di. Gue nggak habis pikir lho! Di zaman serba internet dan modern gini, masih ada aja hal-hal seperti ini." gumam Yuda.
"Hahahahahaha. Kocak lo. Emang hal gaib ngikutin perkembangan zaman. Mau zaman apa pun, namanya gaib tetap ada Yuda." sahutku.
Lalu Yuda terdiam, ia terlihat gelisah dan terlihat tak nyaman.
"Kenapa lagi Da? Gerak-gerik lo bikin gue risih." tuturku.
__ADS_1
"Sejujurnya Di, setelah kejadian gue di sekap di alam lain. Hidup gue jadi nggak nikmat. Mau apa-apa takut. Bahkan tidur sendiri pun gue takut. Gue jadi serba salah, mau ngapa-ngapain takut." ujar Yuda.
"Hmm. Wajar sih kalau lo ngerasa takut. Sekalinya punya pengalaman gaib sampai di sekap sama demit. Hehehehehehe." ucapku.
"Di, gue boleh minta tolong nggak?" tutur Yuda.
"Mau minta tolong apa Da?" tanyaku.
"Emm, gini Di. Bisa nggak lo mintain jimat pelindung ke Kakek Badrun buat gue? Siapa tahu Kakek Badrun punya jimat lain. Gue beli deh!" Yuda berujar.
Ucapannya membuatku kaget.
"Astaghfirullah Da. Sadar lo! Percaya dengan kekuatan jimat itu musyrik." balasku.
"Kalau percaya kekuatan jimat itu musyrik, kenapa lo masih pakai cincin mustika itu?" bela Yuda.
"Cincin ini pemberian kakek buyut gue, di titipkan memang untuk gue. Karena Kakek Badrun adalah sahabat kakek buyut gue. Gue bukan percaya dengan kekuatan cincin ini, tapi cincin ini sebagai perantara saja untuk melindungi gue. Gue tetap minta perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Soal cincin ini bisa memusnahkan demit, itu bukan kuasa gue." jelasku.
Yuda pun terdiam lagi.
"Lagipula, gue nggak tahu di mana Kakek Badrun. Jika ada kepentingan, beliau pasti muncul dengan tiba-tiba entah dari mana." lanjutku.
Yuda menyandarkan tubuhnya di kursi, tangannya di lipat ke belakang kepala. Matanya menatap langit-langit, tatapannya kosong. Entah apa yang sedang di pikirkannya.
"Da, gue nggak bisa bantu apa-apa selain berdoa untuk keselamatan orang-orang terdekat gue. Soal pelindung untuk diri lo sendiri, lo harus minta ke Yang Maha Kuasa." ucapku menenangkan Yuda.
Yuda tersenyum. Ia menatapku.
"Ternyata hidup di dunia ini nggak ada yang instant ya. Cuma mie doang yang instant. Bahkan, meminta perlindungan saja kita harus tetap berdoa dan beribadah ya." tutur Yuda.
Aku diam dan tersenyum.
"Doakan gue biar bisa memusnahkan kuntilanak merah itu Da. Gue pun ingin hidup normal lagi." aku pun menyandarkan tubuhku di kursi. Mataku menatap langit-langit kedai.
"Kalau semua ini sudah berakhir, gue pingin pulang kampung Da. Gue kangen ayah dan ibu. Gue kangen suasana kampung gue. Gue kangen masakan ibu. Gue kangen jalan di pematang sawah. Menikmati indahnya sore, sambil melihat bocah-bocah mandi di sungai. Gue kangen itu semua." ucapku.
Yuda membetulkan posisi duduknya, ia kini tegap.
"Di, lo sudah ada rencana untuk melawan kuntilanak merah itu?" tanya Yuda.
Lalu aku menggeleng pelan.
"Belum ada?" Yuda terkejut. "Strategi udah punya?" tanya Yuda lagi.
Aku kembali menggeleng pelan.
Yuda menepuk dahinya, matanya terpejam.
"Astaga Adiiii. Gimana lo mau memusnahkan kuntilanak merah itu kalau lo nggak punya rencana dan strategi?" ujar Yuda.
Aku pun merubah posisi dudukku.
"Kalau lo jadi gue, apa strategi lo?" tanyaku.
Yuda tampak berpikir. Raut wajahnya pun tampak serius.
"Nggak ada sih. Hehehehehe." Yuda terkekeh.
Kupukul lengannya.
"Makanya jangan asal ngomong." sahutku.
"Eh Da, balik yuk! Udah mau maghrib nih." ajakku.
"Yaelah Di, nanggung amat balik sekarang. Sebentar lagi maghrib, mending kita shalat dulu di masjid. Habis itu baru balik." usul Yuda.
Aku tersenyum.
"Oke deh." ucapku.
"Kak! V60 satu yaa. Toraja Kalosi ada nggak?"
"Siap Bos Yuda! Ready stock kakaaakk! Ditunggu ya." teriak Kak Nia dari balik gerobaknya.
__ADS_1
"Kok lo malah pesan kopi lagi Da?" tanyaku.
"Sambil nunggu adzan lebih enak sambil ngopi Di. Hehehehe." jawab Yuda sekenanya.
* * *
Aku di antar Yuda pulang sekitar pukul tujuh malam. Yuda melanjutkan ngopi setelah selesai shalat maghrib. Heran, lambungnya kuat sekali menikmati kopi.
"Da, thank you ya." ucapku begitu turun dari motor. "Ingat! Shalat dan doa, minta perlindungan sama Yang Maha Kuasa." sambungku.
"Siap Mas Adi. Doain gue juga biar aman-aman aja." balas Yuda.
"Kita saling mendoakan ya." sahutku.
Yuda pun pamit, ia memutar gas motor pelan. Motor pun melaju meninggalkanku. Aku masih berdiri di depan rumah kosong dekat gerbang. Aku melihat motor Yuda perlahan menghilang setelah belokan tiang lampu.
Kubuka gerbang, lalu kututup kembali. Aku berjalan di halaman rumah Nek Iyah.
Eh, ada Nek Iyah sedang duduk di kursi teras rumah. Entah apa yang sedang beliau lakukan. Duduknya tegap, Nek Iyah menatap ke arah garasi. Tatapannya kosong.
"Permisi nek." ucapku.
Aku melirik ke arah Nek Iyah, tampak mulutnya komat-kamit dengan cepat, tak jelas yang ia ucapkan. Aku tak menggubrisnya, aku berjalan cepat meninggalkan halaman menuju kamar. Sesampainya di halaman kost, kulihat motor Mas Gun sudah terparkir di depan kamar. Pintu kamarku pun terbuka lebar.
"Assalamualaikum." ucapku.
"Kumsalam." Mas Gun teriak dari dalam kamar.
Aku membuka sepatu, lalu masuk ke dalam kamar. Mas Gun sedang asik merebahkan badannya sambil main game di ponselnya.
"Kuliah apaan sampai jam segini?" tanya Mas Gun.
"Hehehehehe. Tadi ngopi dulu sama Yuda. Lo udah makan mas?" tanyaku.
"Kebetulan udah tadi sore. Lo udah makan?" Mas Gun balas bertanya.
"Belum mas. Tapi belum lapar juga sih." jawabku.
Aku ngeloyor masuk ke dalam dan mandi. Selesai mandi aku duduk di ruang depan, bergabung bersama Mas Gun yang masih asik bermain game di ponselnya.
"Eh mas, tadi lo ketemu ibu kost nggak?" tanyaku.
Mas Gun cuek, ia diam, tak menjawab pertanyaanku. Matanya terpaku ke layar ponsel.
"Mas! Woi!" panggilku.
"Yaa." ucapnya.
"Tadi lo ketemu ibu kost nggak?" tanyaku.
"Iyaa." jawabnya singkat.
"Lo udah bilang belum kalau lo kost di sini bareng gue?" tanyaku lagi.
"Bilang." Mas Gun kembali menjawab singkat.
"Terus apa kata ibu kost?" tanyaku.
Mas Gun tak menjawab, raut wajahnya serius memandangi ponsel. Jemarinya menari di atas layar.
"Mas!" panggilku. "Mas! Mas Gun!" aku sedikit berteriak.
"Apaaaa?" ia bertanya dengan suara lantang. "Aaaahh sial, mati kan gue! Di keroyok sih, jelas mati kalau di keroyok." ujarnya kesal.
"Mas." aku memanggil lagi.
"Apa Adiiii?" tanya Mas Gun.
"Mas, ibu kost bilang apa kalau lo udah bicara soal lo tinggal di sini?" tanyaku.
"Nggak bilang apa-apa, gue malah di cuekin." jawab Mas Gun.
"Di cuekin? Memang lo ketemu sama ibu kost kapan?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Tadi pas maghrib." balas Mas Gun. "Ibu kost lo malah komat-kamit nggak jelas, nggak ngerti gue dia ngomong apaan!"
Sama denganku barusan, Nek Iyah duduk di kursi teras rumah dengan tatapan kosong dan komat-kamit nggak jelas. Benar Nek Iyah kah itu? Entahlah.