
"Hihihihihihihihi." kuntilanak tertawa melihat kami berbaris dengan wajah gahar menghadapnya.
"Kalian ingin mengeroyokku rupanya? Hihihihihihihi. Kenapa tak kalian panggil juga Badrun? Biar kuhabisi semuanya. Hihihihihi." ujar kuntilanak merah.
Aku menghampiri Ibu Kemala dan Tika.
"Tik, apa Ibu Kemala bisa menyebuhkan Mas Gun?" tanyaku.
Tika tak langsung menjawab. Ia memandang Mas Gun dengan tatapan sangat serius.
"Di, setidaknya dengan bantuan Bi Yana luka di tangan Mas Gun tak cepat menyebar. Kita hanya bisa memperlambat penyebaran lukanya. Kekuatan kuntilanak merah itu sangat luar biasa." jawab Tika.
Bi Yana, ya itulah nama Ibu Kemala.
Bi Yana masih duduk bersila di sebelah Mas Gun, ia tetap memegang erat tangan kanan Mas Gun yang sudah menghitam sampai ke lengan.
Aku berjongkok di samping kepala Mas Gun.
"Mas, sabar ya Mas. Gue yakin lo bisa sembuh secepatnya." ucapku.
Wajah Mas Gun pucat. Ia mengangguk dengan pelan sambil meringis kesakitan.
Ya Tuhan, semoga kami bisa mengalahkan kuntilanak merah itu. Semoga Mas Gun bisa segera disembuhkan. Aku tak ingin kehilangan orang-orang tersayang.
Tiba-tiba..
DUUUUAAARRRRR. Terdengar ledakan yang sangat keras.
Aku dan Tika menoleh.
Pemandangan luar biasa di depan mata kami. Nek Iyah dan Kakek Halim menembakkan kekuatannya ke arah kuntilanak merah. Dua melawan satu. Nek Iyah menembakkan sinar berwarna merah tua. Kakek Halim sinar berwarna putih. Dan kuntilanak merah itu mengeluarkan sinar berwarna merah kehitaman.
Mereka saling adu kekuatan.
DUUUAAARRR.
Tak ada yang menang dan kalah.
Nek Iyah dan Kakek Halim terbang menyerang kuntilanak merah.
Nek Iyah melancarkan pukulan, Kakek Halim melayangkan tendangan. Namun kuntilanak merah dengan mudahnya menangkis dan menepisnya, sambil tersenyum menyeringai.
Pukulan dan tendangan Kakek Halim tak pernah mengenai kuntilanak itu. Begitu pula serangan Nek Iyah, dengan mudahnya dapat dipatahkan. Kuntilanak merah itu sakti sekali rupanya. Bisa mengimbangi kedua lawannya tanpa menunjukkan ekspresi kewalahan.
GROOOOOAAAAARRRR.
SRAAKK. Harimau putih ikut menyerang, dan berhasil mengenai kuntilanak merah. Cakarnya lagi-lagi berhasil melukai kuntilanak merah.
Kuntilanak merah terbang menjauh. Tampak dari belakang punggungnya ada kepulan asap hitam tipis.
"Hihihihihihihihihi. Kucing itu sangat mengganggu rupanya." ucap kuntilanak merah.
Kemudian ia memejamkan mata.
Nek Iyah hanya diam melihatnya. Kakek Halim tampak kebingungan. Aku dan Tika hanya melongo.
"Halim, sepertinya kita akan bekerja lebih keras lagi." ucap Nek Iyah.
"Apa maksudnya?" tanya Kakek Halim.
.
.
.
Tiba-tiba..
BZZZZZZZZZTTT.
Aku dan Tika terkejut.
Nek Iyah memasang wajah buas.
Kakek Halim terkesiap.
Kuntilanak merah membelah dirinya menjadi dua. Kini ada dua kuntilanak merah yang siap menyerang.
"Ini yang kubilang kita akan bekerja lebih keras lagi." ucap Nek Iyah.
Kedua kuntilanak merah hanya tersenyum.
"Perkenalkan, ini diriku. Hihihihihihihihi." ungkap kuntilanak merah.
"Sama sepertiku. Sama-sama sakti. Sama-sama kejam. Sama-sama ingin mengambil jiwa kalian semua. Jangan pilih-pilih, aku dan dia sama saja." lanjut kuntilanak merah.
__ADS_1
Sama saja? Tak mungkin seperti itu rasanya. Bagaimana bisa keduanya sama-sama sakti. Ibarat spons pencuci piring, jika satu spons dibelah dua maka tiap-tiap satu spons akan berkurang daya serap airnya. Karena terbagi menjadi dua spons.
Kalau seperti kuntilanak itu apakah sama dengan perumpamaan spons? Entahlah, ini hanya kemungkinan bodoh yang spontan keluar dari pikiranku. Mungkin mereka sebenarnya hanya satu. Kalau seperti itu, bisa jadi sumber kekuatannya hanya pada satu kuntilanak dan kuntilanak satunya hanya pemain figuran, tugasnya mungkin hanya membuat repot dan bingung musuhnya.
Atau mereka berbagi kekuatan. Kalau berbagi kekuatan, berarti tiap-tiap kuntilanak memiliki kekuatan yang sama rata. Dan tak terlalu sakti jika seperti itu. Perumpamaan spons pencuci mungkin bisa dipakai kalau seperti ini.
"HIHIHIHIHIHIHIHI."
"Biarkan diriku yang lain melawan kucing peliharaanmu Halim. Hihihihihihihi."
Kuntilanak merah terbang melesat ke arah Nek Iyah dan Kakek Halim. Sementara satu kuntilanak lainnya menghadapi harimau putih. Pertarungan berjalan sengit. Sesekali kuntilanak merah menerima pukulan dari Kakek Halim. Namun berbeda dengan kuntilanak merah yang melawan harimau putih, kuntilanak itu tampak sakti dan beberapa kali menyerang si harimau.
Harimau putih mengaum, mengibaskan cakarnya menyerang kuntilanak merah. Namun serangan harimau putih nihil. Tiba-tiba kuntilanak merah itu mengeluarkan kekuatannya, sinar merah kehitaman berbentuk sabit. Sinar itu ditembakkan dari kedua tangannya.
Dan..
CRAASSS.
DUUAAKK. Kakek Halim terkena pukulan.
Kakek Halim jatuh di tanah.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI." kuntilanak merah yang melencarkan serangan pada harimau putih tertawa keras.
"HALIM, APA KAU TAK KASIHAN MELIHAT PELIHARAANMU INI? LIHATLAH HALIM! HIHIHIHIHIHIHIHI."
Kakek Halim menoleh ke arah suara.
Matanya terbelalak.
Aku pun samar-samar melihat kuntilanak merah dan harimau putih.
"PUTIIIIIHHHH!" Kakek Halim berteriak.
Terlihat tubuh harimau putih terkapar di atas tanah. Tubuhnya terbelah dua. Harimau putih tewas di tangan kuntilanak merah lainnya.
DUUAAKK. Nek Iyah terkena pukulan telak di pipinya.
Brukk. Tubuh Nek Iyah menghantam tanah.
"Hihihihihihihihi." kuntilanak merah tertawa.
Mereka saling mendekat, kedua kuntilanak merah melayang saling berdampingan.
"Halim, apa kau baik-baik saja? Hihihihihi. Badriyah. bagaimana kabarmu? Hihihihihi. Sudah kubilang, kalian tidak akan mampu melawanku." lanjutnya.
Kakek Halim lemah tak berdaya, sumber kekuatannya tewas di tangan kuntilanak merah.
"Tik, apa harimau putih itu bisa dibangkitkan lagi?" tanyaku.
Tika menggeleng.
"Ia sudah mati Di. Dan sekarang Kakek Halim menjadi lemah. Kalau hanya terluka, mungkin bisa gue sembuhkan." jelas Tika.
"HIHIHIHIHIHIHI. BADRIYAH, BAGAIMANA KAU MAU MEMUSNAHKANKU KALAU KALIAN BERDUA SAJA TIDAK BISA MELUKAIKU? HIHIHIHIHIHIHI." teriak kuntilanak merah, mereka masih melayang berdampingan.
"HALIM SUDAH TAK BISA APA-APA. SIAPA LAGI YANG MAU KAU ANDALKAN BADRIYAH? CUCUNYA? HIHIHIHIHIHIHI."
Aku menghampiri Nek Iyah dan membantunya berdiri.
"Bagaimana ini Nek?" tanyaku.
Nek Iyah terdiam.
Tak lama, Bi Yana mendekati kami.
"Nyai, aku sudah tak sanggup mengobati luka bocah itu. Kekuatan yang menempel di tangannya sangat besar. Walaupun kekuatanku dan Tika digabung, tak mampu juga." ujar Bi Yana.
Kuntilanak merah masih tersenyum senang, ia merasa sudah memenangkan pertempuran.
Bagaimana ini?
Tiba-tiba..
Sebuah cahaya terbang dari atas langit. Cahayanya berwarna kuning keemasan. Nek Iyah tampak sumringah melihatnya. Ada apa dengan cahaya itu?
Cahaya kuning mendarat di tanah, dan terdengar bunyi dentuman sangat keras terdengar.
Debu bertebangan karena hantaman cahaya kuning tersebut. Siluet seseorang yang sangat akrab. Aku sangat mengenalnya.
"MAAFKAN AKU. AKU TERLAMBAT DATANG." ucapnya.
Nek Iyah tersenyum.
Aku sumringah.
__ADS_1
Tika tampak senang.
Ya, ia datang juga akhirnya.
KAKEK BADRUN!
"HIHIHIHIHIHIHI. AKHIRNYA DATANG JUGA KAU BADRUN. AKU MEMANG MENGHARAPKAN KAU CEPAT DATANG DAN BERGABUNG DALAM PERTEMPURAN INI. HIHIHIHIHIHI." teriak kuntilanak merah.
"TAK LENGKAP RASANYA KALAU AKU TAK MEMBINASAKANMU JUGA."
Kakek Badrun berjalan pelan menghampiri kami.
"Benarkah yang kau katakan Merah?" tanya Kakek Badrun sambil melangkah mendekati kami.
"Wah wah wah, begitu spesialnya diriku. Sampai demit sakti macam kuntilanak merah mengharapkan aku datang." ujar Kakek Badrun lagi.
Kakek Badrun bergabung bersama kami.
"Badriyah, sedang apa kau?" tanya Kakek Badrun.
"Mari kita musnahkan demit itu Kang." balas Nek Iyah.
"Kang?"
"HAHAHAHAHAHAHA." Kakek Badrun terbahak.
"Hahahahahaha. Sudah lama panggilan itu tak kudengar dari mulutmu. Hahahahahaha. Heh Badriyah? Apa kau salah makan sebelum kesini?" tanya Kakek Badrun.
Nek Iyah diam, ia hanya menunjukkan wajah tak enak.
"Memangnya kenapa kalau aku panggil Kang? Memang salah?" tanya Nek Iyah.
"Hahahahahaha. Tidak salah. Aku jadi tak biasa mendengarnya. Karena selama ini kau selalu memanggilku Badrun Badrun saja." balas Kakek Badrun.
"HEI, SUDAHLAH! REUNI KELUARGANYA NANTI SAJA DI AKHIRAT! MUAK SEKALI AKU MELIHAT KALIAN AKRAB SEPERTI ITU." sela kuntilanak merah.
Kakek Badrun merenggangkan tubuhnya. Memutar kepalanya. Senyumnya lebar.
"Jadi kau benar-benar sudah insyaf Badriyah? Jangan-jangan kau serigala berbulu domba." tanya Kakek Badrun.
"Buat apa aku rela datang dan terluka seperti ini, kalau hanya untuk berpura-pura. Aku benar-benar sudah lelah dengan semua ini. Sama seperti yang kau rasakan dulu." jawab Nek Iyah.
Kakek Badrun menatap Nek Iyah.
"Badriyah, kalau kau benar-benar serius untuk menyudahi ini semua. Mari kita bantu anak itu." Kakek Badrun berucap seraya menoleh ke arahku.
"NAK ADI!" panggil Kakek Badrun.
Aku menghampiri mereka.
"Ada apa Kek?" tanyaku.
"Sudah siap untuk memusnahkan iblis itu?" tanya Kakek Badrun.
Aku mengangguk pasti.
"Badriyah, mari kita mulai." ucap Kakek Badrun.
"Ayo Kang. Dek Adi, mari bersama-sama satukan kekuatan dan serang iblis jahanam itu." tutur Nek Iyah.
"Baik Nek."
Aku, Nek Iyah, dan Kakek Badrun menghadap kuntilanak merah. Ia kini sendiri, tak membelah lagi dirinya. Kuntilanak merah itu tersenyum menyeringai dengan sinisnya.
Hanya malam ini kesempatan untuk memusnahkan kuntilanak merah itu. Tak ada malam dan hari lainnya. Cuma malam ini, aku harus hentikan semuanya. Jika malam ini tak berhasil, entah apa yang akan terjadi setelahnya.
Aku menengadahkan tangan seraya berdoa pada Sang Pemilik Kekuatan. Kupejamkan mata, berdoa dengan khusyuk. Memohon kekuatan dan perlindungan. Karena kuyakin Tuhan tak akan membiarkan kejahatan di buminya terus berlangsung.
..._______________...
...segini dulu ya updatenya...
...semoga besok sempat update....
...LIKE....
...KOMEN yg positif ya....
...FAVORIT juga yaa....
...makasih yg kasih HADIAH...
...wajib VOTE yaa....
...makasih...
__ADS_1