
"Mas, mbak, mohon maaf kita sudah mau tutup." seorang pramusaji menghampiri kami.
"Oh iya mbak. Maaf maaf." jawab Tika.
"Yaah, kita lanjut ngobrol di mana nih?" tanyaku. Jam di ponselku menunjukkan pukul 21:15.
"Gini saja, besok kita kumpul lagi. Masing-masing orang cari ide bagaimana cara untuk mengambil mustika itu dari Nek Iyah. Besok sore kita ketemuan lagi dan tiap orang presentasi soal rencananya masing-masing. Gimana?" ucap Tika.
Kang Ujang berpikir, aku pun berpikir.
"Boleh. Ketemuan di mana?" tanyaku.
"Besok jam empat sore, kita kumpul di sini lagi. Oke!" ujar Tika.
Kang Ujang mengangguk. Dan kami pun pulang. Aku jalan berdampingan dengan Tika pulang ke kost. Di perjalanan aku berbincang dengan Tika.
"Kalau lo punya rencana apa Tik?" tanyaku.
"Nggak tahu, belum kepikiran. Kalau lo gimana, ada ide biar Nek Iyah bisa keluar dari rumah?" tanya Tika.
Aku diam.
"Nggak tahu ah! Pusing kepala gue Tik. Hehehehe." balasku. "Eh Tika, sebenarnya sosok penunggu yang ada di kamar gue apa sih?" tanyaku.
Tika menghentikan langkahnya.
"Lo yakin mau tahu?" tanya Tika.
"Sebenarnya enggak juga sih, cuma gue penasaran aja. Apa betul yang gue lihat di mimpi sama dengan yang lo lihat." jawabku.
"Tapi lo yakin mau tahu?" Tika meyakinkanku.
Aku mengangguk ragu.
"Di kamar lo ada satu penunggu, karena dari dulu dia ada di sana. Dia mati di sana, di kubur di sana, dan sampai sekarang masih ada di sana." jelas Tika.
"Sebentar sebentar! Berarti di kamar gue ada kuburan Tik?" tanyaku.
Tika mengangkat bahunya.
"Tik, yang bener dong. Masa lo nggak tahu sih?" aku memaksa Tika menjawab.
"Eh Di, gue cuma bisa lihat dan merasakan hal gaib. Lo pikir gue bisa lihat juga kafannya di dalam tanah!" balas Tika.
Aku diam. Benar juga yang Tika bilang.
__ADS_1
"Terus sosok penunggu di kamar gue apa Tik?"
"Nanti kalau gue kasih tahu, apa lo masih tetap berani tinggal di kamar lo?" tanya Tika meyakinkanku.
Tika melihatku diam.
"Udah, mending nggak usah tahu deh! Nanti lo malah kepikiran, nanti malah nggak betah." tambah Tika.
"Iya deh, mending gue nggak usah tahu." ucapku.
Kami pun lanjut jalan pulang menuju kost.
* * *
Setelah shalat isya, aku merebahkan tubuhku di atas kasur. Aku memikirkan apa yang sudah Yuda perbuat, ia tega menukar kalung pemberian Kakek Badrun dengan uang. Tak habis pikir.
Bugg.
Aku terkejut, ada suara seperti benda jatuh di belakang kamarku. Aku bangun dari rebahku. Aku menuju pintu belakang kamar kost, kubuka pintu belakang kamar.
Wuss. Angin dingin berhembus menerpa wajahku.
Suasana kebun di belakang kamarku gelap, sangat gelap. Saking gelapnya sampai mataku tak dapat menangkap pemandangan apa pun. Aku melirik ke seluruh sisi kebun. Tak ada apa-apa. Aku menutup pintu belakang kamarku, tapi begitu hendak kututup, kulihat di ujung kebun ada sosok putih berdiri. Bentuknya seperti pocong, namun wajahnya hitam legam tak jelas terlihat. Tiba-tiba sosok putih itu bergerak loncat ke depan, lalu sedetik kemudian ia sudah berada di ujung kanan, ia seperti berpindah tempat dengan cepat. sosok itu kembali loncat, kali ini sudah berada di ujung kanan. Bulu kudukku berdiri merinding, segera kututup pintu belakang kamarku. Dan merangsek masuk ke dalam selimut di atas kasurku.
* * *
Tika?
Hah? Pukul 03:01, ada apa ia menghubungiku tengah malam gini?
"Oi, kenapa Tik?" aku menjawab panggilan Tika dengan mata sambil terpejam.
"Bangun Di! Cepat bangun!"
"Mau ngapain bangun Tik? Masih malam." jawabku dengan suara lemas.
"Bangun Di! Adi!" Tika berteriak.
Aku membuka mataku perlahan. Tiba-tiba, sosok pocong dengan kafan putih kumal melompat dari ruang tengah kamarku menuju ruang belakang. Lompatannya tak seperti tadi, pelan dan pendek. Aku menelan ludah, jantungku berdegup tak beraturan.
"Adi, Adi. Di!" suara Tika memanggilku.
Pocong itu pun diam persis diantara ruang tengah dan ruang belakang, ia membelakangiku. Aku menarik selimut dengan perlahan, ingin kututupi wajahku dengan selimut. Pocong itu menoleh juga dengan perlahan seiring gerakan selimut yang kutarik.
Deg deg deg. Jantungku berdebar-debar ketika melihat wajah pocong itu.
__ADS_1
Yuda! Wajah sosok pocong ini mirip dengan wajah Yuda. Rautnya datar, tatapannya kosong, kulitnya pucat seputih kapas.
Aku menarik selimut, menutupi wajahku dengan selimut. Panggilan Tika di telpon sudah terputus. Aku meringkuk memeluk guling dengan tubuh gemetar. Kenapa wajahnya seperti Yuda? Pertanda apa ini? Apa jangan-jangan Yuda dalam bahaya?
Aku masih memeluk bantal guling dengan tubuh yang masih bergetar dan mata terpejam, namun sesaat kemudian tiba-tiba aku mencium aroma bunga yang sangat harum. Aroma ini seperti sangat familiar di hidungku. Wanginya membuat bulu kudukku merinding. Astaga, ini aroma air mawar yang biasa di pakai untuk menyiram kuburan. Wangi air mawar makin menyengat, menyeruak memenuhi hidungku. Kubuka mataku perlahan.
"Aaaaaaaaaa.."
Sosok pocong dengan wajah Yuda sudah ada dalam pelukanku. Aku memeluk pocong. Bantal guling berubah menjadi pocong. Kudorong pocong yang kupeluk, aku bangun dari kasurku dan lari tunggang langgang keluar kamar. Nafasku tersengal, dadaku sesak, paru-paruku panas.
"Di, lo kenapa Di? Malam-malam gini teriak nggak jelas, ada apa sih?" tiba-tiba Tika membuka pintu kamarnya, ia bertanya dari depan pintu.
"Lo ngapain telpon gue tadi? Nyuruh-nyuruh bangun segala!" sungutku.
"Apa? Gue telpon lo? Kapan?" tanya Tika.
"Tadi, jam tiga lewat satu lo telpon gue. Lo nyuruh gue bangun, buat apa? Bangun supaya gue lihat pocong di kamar gue, gitu maksud lo?"
"Gue nggak ngerasa telpon lo? Justru gue kebangun gara-gara dengar lo teriak." sanggah Tika.
"Halaaahh, terus kalau bukan lo siapa? Masa pocong yang telpon gue!" balasku.
Tika ke dalam kamarnya, lalu kembali keluar membawa ponselnya.
"Nih lihat panggilan keluar di hape gue! Ini lihat!" Tika menyerahkan ponselnya untuk kuperiksa. Aku mengambilnya, dan memeriksa panggilan keluar. Eh, benar saja. Tak ada namaku.
"Nih!" kuserahkan kembali ponsel Tika.
"Puas?" tanya Tika.
Aku diam. Lalu siapa yang tadi menghubungiku? Aku berpikir.
"Lo lihat apa memangnya?" tanya Tika. "Pocong?"
"Tika, ada mantra tertentu nggak sih biar kita nggak di gangguin setan?" tanyaku.
"Kenapa? Mulai risih?"
Aku mengangguk.
"Kenapa selalu jam tiga malam mereka ganggu gue Tik? Gue udah capek, tidur gue selalu aja terganggu. Lama-lama gue bisa gila kalau gini terus." ujarku.
"Sabar Di, ada hikmah dari semua kejadian dan masalah yang kita hadapi. Besok gue kasih tahu amalan sebelum tidur, biar lo nggak di gangguin terus. Masuk sana! Udara udah mulai dingin nih."
Aku diam dan masih terpikirkan wajah pocong yang sangat mirip dengan Yuda.
__ADS_1
"Di, mikirin apa?" tanya Tika. "Udah sana masuk! Kalau bisa tahajud dulu sana sebelum lanjut tidur."
Aku pun masuk ke dalam kamar. Kuperiksa bantal guling yang tergeletak di atas kasur. Huuh, benar-benar bantal guling rupanya. Kukira masih sosok pocong. Aku berwudhu dan melaksanakan shalat tahajud, lalu berdoa pada Yang Maha Kuasa agar selalu di lindungi setiap waktu. Semoga saja wajah pocong mirip Yuda bukan pertanda apa pun.