Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 58


__ADS_3

Ayah bercerita, Pak Thamrin adalah seorang juragan tanah dan seorang tentara. Ia kaya, baik, tersohor, sholeh, ramah namun tegas. Kami tinggal di sebuah rumah mungil tak jauh dari rumah Pak Thamrin dan Nyai Asih. Rumah ini terletak di pinggir kebun milik Pak Thamrin.


"Kus, kau tempati rumah itu. Rumah itu ku berikan untukmu sebagai permintaan maafku." ucap Pak Thamrin.


Lagi-lagi ayah berterima kasih pada Pak Thamrin, ia bak malaikat penolong bagi keluarga kami.


Ayah ingat, hari itu hari senin minggu kedua di bulan Oktober. Keluarga kami sudah dua bulan bekerja di rumah Pak Thamrin, malam itu ia mengumpulkan kami semua yang bekerja di rumahnya. Ayah, ibu, aku, dan Tati si tukang masak. Setelah shalat magrib kami duduk melingkar di ruang tengah, Tati membuat teh dan menyediakan talas goreng kesukaan Pak Thamrin.


"Tati, Engkus, Kokom, dan kamu Ujang.." Pak Thamrin berkata.


"Besok saya akan tugas ke luar kota selama satu bulan. Ini adalah tugas negara, saya tidak bisa menolak. Saya minta, kalian jaga Nyai Asih." ucap Pak Thamrin sambil mengelus perut Nyai Asih.


"Nyai hamil?" tanya Tati sumringah.


Nyai Asih hanya senyum anggun. Kecantikannya tak pernah padam.


"Alhamdulillah, berkat doa kalian semua." ucap Nyai Asih pelan.


"Nah, kalian semua sudah tahu kabar gembiranya kan. Untuk itu saya minta tolong sama kalian semua, menjaga Nyai Asih dengan baik selama saya tugas di luar kota." sambung Pak Thamrin.


Kabar gembira untuk Pak Thamrin dan keluarga, terlebih lagi untuk kami yang mengabdi padanya, yang bergantung hidup padanya. Pak Thamrin dan Nyai Asih sudah membina rumah tangga selama tujuh tahun, namun belum di karuniai buah hati. Barulah saat ini Tuhan memberi berkah teramat besar untuk Pak Thamrin dan Nyai Asih.


Ibu sudah bangun sebelum adzan berkumandang, ia membantu Bi Tati menyiapkan sarapan untuk juragannya, Pak Thamrin yang hendak berangkat tugas ke luar kota. Tepat setelah shalat subuh dan sarapan, ayah mengantar Pak Thamrin menuju kantornya menggunakan sedan kesayangan Pak Thamrin. Nyai Asih melepas kepergian suami terkasih dari depan teras rumah, sembari memegang perutnya di temani ibu dan Bi Tati.


Saat Pak Thamrin berangkat tugas, aku masih terlelap. Umurku baru lima tahun saat itu, belum mengerti dan sadar akan semua hal.


Siang hari aku membantu ibu menjemur pakaian di belakang rumah Pak Thamrin, belakang rumah ada sebuah gudang berukuran 2x5 meter, memanjang ke belakang. Kebun kosong penuh pohon rambutan, nangka, mangga, dan pisang menghias halaman belakang rumah.


"Ujaaaanngg. Ujaaaanngg." panggil Nyai Asih.

__ADS_1


"Saya nyai." aku menghampiri Nyai Asih yang sedang duduk di kursi goyang ruang tamu.


"Tolong beri makan kucing ya. Badan saya sedang tidak enak nih." pinta Nyai Asih.


"Baik nyai." aku pun berlalu menuju ruangan tempat kucing peliharaan Nyai Asih berada, ruangannya tepat di samping dapur. Belasan kucing beraneka macam warna, terawat dan gemuk, tak seperti kucing kampung dekil dan bau.


***


Satu minggu sejak Pak Thamrin pergi mengemban tugas ke luar kota, keadaan rumah dan Nyai Asih nampak baik. Hanya saja, dalam keadaan hamil muda Nyai Asih acap kali sering muntah, tak nafsu makan, dan hanya ingin tidur di kamarnya. Keadaan ini membuat ibu dan Bi Tati khawatir dengan keadaan Nyai Asih.


Ibu dan Bi Tati kadang bingung mencari cara agar Nyai Asih bisa makan, paling tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam perutnya. Sesekali Nyai Asih makan, namun kembali ia muntahkan makanan tersebut.


Minggu kedua sejak Pak Thamrin tugas ke luar kota, badan Nyai Asih menjadi kurus. Wajahnya pucat, aura kecantikannya memudar namun tak hilang sisi manisnya. Malam itu aku sedang duduk di belakang rumah, di dapur ada ibu dan Bi Tati sedang berbincang soal Nyai Asih. Resah memikirkan cara agar kondisi Nyai Asih tak seperti ini.


"Saya kenal mantri di daerah Hilir, mungkin bisa memberi ramuan atau jamu nafsu makan untuk ibu hamil." ujar Bi Tati.


"Nggak salah kan di coba, daripada begitu terus saya kasihan lihat nyai. Toh kalau berhasil, nama kita yang bagus di mata juragan." tutur Bi Tati.


"Yasudah, saya ikut teteh saja. Kapan teteh mau ke mantri?" tanya ibu.


"Besok pagi, lebih cepat lebih baik." balas Bi Tati.


Selama Pak Thamrin bertugas, aku sekeluarga tinggal di rumah utama menemani Nyai Asih dan Bi Tati. Pak Thamrin yang menyuruh, agar ada pria di rumah untuk berjaga-jaga. Ayah tidur di ruang depan bersamaku, kami menggelar tikar, memasang obat nyamuk bakar dan membawa kain sarung sebagai selimut. Sedangkan ibu dan Bi Tati tidur di kamar sebelah kamar Nyai Asih.


 _____


Allahu Akbar Allaaaahu Akbar..


Adzan maghrib berkumandang, terdengar dari kejauhan. Kang Ujang diam sesaat.

__ADS_1


"Dek, kita shalat maghrib dulu yuk. Nanti saya lanjutin ceritanya setelah shalat." ucap Kang Ujang.


"Iya kang. Kita jamaah aja di sini ya." ajakku.


Aku shalat berjamaah dengan Kang Ujang, ia menjadi imam dan aku makmum. Suaranya merdu, bacaan qurannya fasih dan rapi. Setelah shalat kami berdoa, Kang Ujang memimpin doa. Doa pun selesai dan kami bersalaman.


"Dek, sebentar saya ke rumah Nek Iyah."


"Masih ada kerjaan ya kang?" tanyaku.


Kang Ujang berlalu tak menjawab pertanyaanku. Di luar kost-ku, karpet sudah di gelar, lampu tenda pun sudah terang benderang. Beberapa tetangga sudah hadir, terutama ibu-ibu yang menyiapkan hidangan untuk warga yang hadir pada acara tahlil malam pertama. Nampak Dini dan Ela pun ikut sibuk membantu.


Setelah shalat isya, warga sudah mulai berdatangan. Ramai berkumpul dan duduk di karpet yang di pasang di halaman depan kost. Pak Rahmat ku lihat pun hadir, sudah seharusnya sebagai seorang RT hadir dalam acara kewargaan seperti ini.


Aku pun keluar kamar, bersalaman dengan beberapa bapak dan duduk tepat di depan kamar Bang Oji, menghadap ke arah kebun yang ada di samping kamar 11a. Tenda cukup terang, beberapa lampu gantung memang di pasang di tenda.


Tuk tuk tuk


"Cek..cek." Pak Rahmat mengetuk pelan mikrofon, ia berdiri.


"Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh." Pak Rahmat mengucap salam.


Pak Rahmat memberi kata pembuka sebagai ketua RT, sekaligus mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga yang di tinggalkan. Aku menoleh ke kanan kiri, melihat seluruh hadirin yang datang, tapi tak menemukan sosok Bang Oji. Ku lihat lampu kamarnya pun mati, berarti ia sedang tidak di sini. Kang Ujang persis duduk di seberangku, wajahnya tertunduk sejak meninggalkan kamarku tadi.


Tahlil pun di mulai, di pimpin seorang ustad. Wajahnya teduh, janggutnya tipis, memakai baju koko putih bersih dengan sorban hitam menempel di bahunya, serta songkok hitam di kepalanya, umurnya sekitar empat puluh tahunan. Setelah membaca surat yasin, kemudian di lanjutkan dengan tahlil dan di tutup dengan doa.


Kue, camilan, buah, dan macam-macam makanan ringan di sajikan sepiring-sepiring. Teh celup, kopi kemasan, gula, beserta termos air panas pun di siapkan tuan rumah. Bapak-bapak asik mengobrol berkelompok sambil mencomot sajian di piring. Aku duduk diam mengunyah risol, ku tatap Kang Ujang yang sibuk membantu Ela dan Dini mengantar piring cemilan ke seluruh hadirin.


Aku harus cari kesempatan untuk bisa mengobrol kembali dengan Kang Ujang. Ceritanya belum tuntas, pertanyaanku belum terjawab. Harus! Malam ini atau kapan pun, pokoknya harus. Sesegera mungkin kalau bisa.

__ADS_1


__ADS_2