Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 47


__ADS_3

Cukup lama aku tak dapat kembali tidur, namun akhirnya rasa kantuk menyerangku tiba-tiba. Aku dan Bang Oji tidur beralaskan selimut, di ruang depan kamar 11d. Bang Oji sudah pulas sejak meletakkan badannya di atas selimut.


Alarmku berdering keras, aku bangun dan mematikan alarm, pukul 04:00. Aku mendengar suara pintu kamar mandi di buka, dan suara air dari kran mengucur deras, mungkin Dini yang ke kamar mandi. Kembali ku pejamkan mataku.


Ceklek. Suara pintu kamar di buka.


Reflek aku pun membuka mata. Hah, Ela? Aku diam tak tak memanggilnya, aku pura-pura tidur. Aku takut ia masih dalam kondisi kerasukan. Lampu ruang depan memang sengaja di matikan, jadi mungkin Ela tak bisa melihat aku yang sedari awal melihatnya. Ela diam di depan pintu, tak bergerak.


Lama.


Ela hanya berdiri mematung tak bergeming di depan pintu. Mungkin sudah sekitar lima belas menit lebih. Diam-diam, jari telunjukku mencolek pipi Bang Oji untuk membangunkannya. Bang Oji membuka matanya, telunjukku ku letakkan di depan bibirku, memberi isyarat ke Bang Oji untuk diam. Aku hanya menunjuk ke arah Ela tanpa bersuara, memberi tahu Bang Oji.


Baru saja Bang Oji membuka matanya dan menoleh ke arah Ela, tiba-tiba alarm di ponselku berdering sangat kencang. Aku gelagapan mencari ponselku untuk mematikan alarm. Ela menoleh pelan ke arahku dan Bang Oji. Ada pantulan cahaya dari luar menerangi wajahnya sebelah, matanya melotot ke arahku dan Bang Oji.


Klik.


"Eh udah pada bangun semuanya?" ucap Dini menyalakan lampu sambil menguap. Aku dan Bang Oji seketika melihat ke arah Dini, lalu ke arah Ela kembali. Ela yang semulanya melotot ke arahku dan Bang Oji, tiba-tiba wajahnya berubah drastis menjadi datar seolah tak menyiratkan sesuatu.


"Lho, kok ada Bang Oji sama Bang Adi di kamar kita Din? Mereka ngapain tidur di sini?" tanya Ela ke Dini.


"Eh, semalam kamar lo kemasukan tikus banyak banget. Gue sama Adi bantu ngusir tikus, Nek Iyah sampai suruh gue sama Adi jagain kamar lo." jelas Bang Oji berbohong.


"Hah, tikus? Beneran Din?" tanya Ela.


Bang Oji mengedipkan matanya ke arah Dini memberi isyarat. Dini sepertinya paham dengan kerlingan mata Bang Oji.


"I..iya La, ada berapa semalam tikus masuk ya bang? Tujuh ekor ya?" sambar Dini.


"Iya, gue sama Adi ngejar-ngejar tikus. Sampai geser-geser lemari. Lo tidur aja sih, kecapean ya?" sergah Bang Oji.


"Masa Ela sampai nggak bangun sih? Aneh, biasanya Ela tidur nggak sampai segitunya lho." Ela berpikir.


Bang Oji menyenggol pinggangku dengan sikunya.


"Aaahh lo kurang enak badan mungkin La! Coba di ingat-ingat lagi, belakangan ini badan lo kurang fit mungkin." aku meneruskan.


"Emmm.." Ela berpikir sejenak.


"Iya sih bang, dua hari lalu tengkuk Ela pegal banget. Udah pakai minyak angin, sampai di tempelin koyo, cuma nggak hilang-hilang." sahut Ela.


"Naaahh itu dia, itu!" aku menyambar setelah Ela selesai berkata.


Bang Oji menepuk bahuku.


"Bikin kaget aja lo. Sial!" seru Bang Oji.


"Hehehehehe. Maaf bang. Itu mungkin penyebabnya La, sampai-sampai lo tidur pulas banget. Parah sih!" ujarku lagi.


"Iya. Padahal Dini teriak-teriak kenceng banget, lo kagak bangun-bangun." kata Bang Oji.


"Yasudah, kalau udah pada bangun. Gue sama Bang Oji balik ke kamar ya. Kalian berdua jangan lupa shalat." ucapku.


"Iya, gue cabut ya. Pinggang gue pegal nih semalaman tidur di lantai. Haduuuhhh." sahut Bang Oji sambil meregangkan badannya.


"Bang Oji, Bang Adi makasih ya udah jagain kita." tutur Dini.

__ADS_1


"Oke seloooww." balas Bang Oji.


"Siiipp." balasku sembari mengangkat jempol dan berlalu ke kamarku.


Setelah ku laksanakan shalat subuh, aku merebahkan badan, ku peluk bantal guling. Ah, baiknya aku tidur sebentar.


***


Aku sampai di depan gedung fakultas, hari ini jadwal kuliahku pukul 10:00 pagi.


"Adiii!" aku menoleh ke arah suara yang memanggilku.


Kemala.


"Eh, Mala." sahutku. Kemala menghampiriku.


"Kuliah jam berapa lo?" tanya Kemala.


"Jam sepuluh nih. Lo jam berapa?" tanyaku balik.


"Sama, lo masih nggak sadar juga ya kalau kelas kita selalu barengan."


"Ah, masa sih?" tanyaku.


"Yeeee ni anak, baru kuliah dua hari ya? Hahahaha."


"Kelas A sama B jadwalnya samaan, kelas gue C dan kelas lo D, jadwal kelas kita samaan. Gitu Di." jelas Kemala.


"Serius gue baru tahu lho." ujarku.


"Eh, lo pernah cerita kan kalau lo kost di belakang kampus?" tanya Kemala. Kami sudah di dalam lift.


"Iya, memang kenapa?" tanyaku.


"Nanti sore gue mau main ke kost saudara gue. Katanya dia kost di belakang kampus kita." jawab Kemala.


"Oh, tapi lo udah izin sama nyokap mau main ke tempat saudara? Nanti nyokap lo khawatir lagi." tanyaku.


"Udah dong. Sebenernya dia itu saudara gue dari almarhum bokap. Kita udah lama banget nggak ketemu. Kalau lo kost di belakang kampus, nanti kita jalan bareng ya sekalian lo balik kost."


"Iya iya, gue nggak di ajak nih ke kost saudara lo? Hehehehe." candaku.


"Yeee, maunya. Nanti berkabar ya Di." tutur Kemala.


Kemala melambaikan tangannya, lalu masuk ke dalam kelas. Ah, senangnya melihat ia ceria seperti itu.


"Okee."


Aku masuk ke dalam kelas. Sudah banyak kawanku yang datang. Yuda pun sudah duduk manis di kursi belakang, nampak asik melihat layar ponselnya tak bergeming.


"Woi, serius banget!" aku menyapa Yuda sambil memukul pelan lengannya.


"Aaahhh mati lagi. Gara-gara lo nih Di." sungut Yuda.


"Udah ah bete gue, kalah mulu." keluh Yuda.

__ADS_1


"Heh mas ndeso, lo udah ngobrol sama ibu kost belum?" tanya Yuda.


"Sial lo! Belum nih Da, semalam niatnya mau tanya-tanya tapi situasinya lagi kurang bagus. Takutnya mood ibu kost gue lagi nggak bagus, malah nggak berhasil." jelasku.


"Yaelah Di, segala pikirin mood nenek-nenek. Udah langsung tanya aja!" sahut Yuda.


"Emang lo siapin uang berapa buat beli itu mobil? Biar enak gue bilangnya." tanyaku.


"Lo nggak usah tahu sampai situ Di, tugas lo cuma tanya dan yakinin ibu kost buat jual mobilnya. Kalau oke kabarin gue, nanti gue yang nego." balas Yuda.


"Oke deh."


"Semangat kawan! Ingat, kost lo gue bayarin dua bulan. Hehehehehe." gumam Yuda.


"Heh, lo janji mau ngajak gue ngopi di Satu Arah. Kapan nih?" tanyaku menagih.


"Oh iya ya, kemarin nggak jadi ya. Yuk sore ini kita ngopi. Sekalian, lo nginep di rumah gue yuk Di! Bokap nyokap lagi tugas ke luar kota nih." ajak Yuda.


"Emmm gimana ya kalau nginep?" aku seolah berpikir.


Dosen mata kuliah Manajemen Ekonomi Syariah masuk ke dalam kelas, Pak Riza. Dan kelas pun segera di mulai.


"Nanti aja kita obrolin lagi deh." ucapku.


***


Setelah zuhur kelas di mulai kembali, kali ini mata kuliah Pengantar Ekonomi Syariah. Rasa kantuk menyerang mataku secara gerilya, mengendap-endap perlahan, namun pasti. Astaga, berat sekali mata ini. Padahal makanku tak terlalu banyak tadi. Aku menggerakkan badanku agar kantuk ini hilang. Ku lihat Yuda yang duduk di barisan belakang, sudah asik bersandar pada dinding, matanya terpejam amat lekat, mulutnya sedikit menganga. Sudah pasti ia tertidur pulas.


Pening kepalaku menahan rasa kantuk, aku pasrah. Kedua tanganku menopang daguku, dan ku pejamkan mataku. Ah nikmatnya.


Sayup-sayup terdengar suara dosen yang bicara di depan kelas. Biarkanlah ia mengoceh, mataku lebih penting untuk di pejamkan saat ini.


"Adiiii.." ada yang memanggilku? Suaranya lembut di iringi bunyi-bunyian merdu.


Ku buka mataku. Dosen masih asik berbicara di depan kelas. Aku tengak-tengok ke seluruh anggota kelas, tak ada gerak-gerik yang mencurigakan, semua memperhatikan dosen di depan kelas. Ku perhatikan Yuda, tak mungkin rasanya. Mulutnya masih terbuka, dan matanya terpejam, sesekali nafasnya terdengar seperti dengkuran tipis. Jelas bukan Yuda yang memanggilku.


Ah sial, mengganggu tidur siangku saja. Aku kembali menutup mataku, kedua tanganku kembali menopang dagu. Sejujurnya, aku hanya butuh memejamkan mata, tak tidur pun tak mengapa. Suara dosen di depan kelas masih terdengar. Santai Adi, rileks. Nikmati tiap detik yang berjalan. Lemaskan tubuhmu Adi, aku bergumam dalam hati. Sungguh nikmat.


"Adiiii.." suara lembut kembali memanggil, masih di iringi nada merdu.


Aku tak membuka mata, biarkan saja ada yang memanggilku. Ku nikmati saja nada-nada yang merdu ini.


"Adiiii.." suaranya kembali menyebut namaku. Aku masih memejamkan mata. Nikmat.


"Nak Adi." aku terkaget suara berat dan sedikit serak memanggil namaku, terasa akrab di telingaku.


Segera ku buka mataku cepat. Itu suara si kakek yang menemuiku tadi malam. Aku celingak-celinguk ke seisi ruangan kelas, mencari sosok si kakek. Apa ia berada di dekatku saat ini?


"Hei kamu! Cari siapa?" tanya Pak Hen. Seketika mata seisi kelas memandangku.


"Eng..enggak pak. Nggak cari siapa-siapa." jawabku gagap.


"Kok kelihatannya bingung? Cari siapa?" Pak Hen kembali bertanya.


"Enggak pak." jawabku dengan cepat.

__ADS_1


Dari mana si kakek itu memanggilku? Aneh, wujudnya tak ku temukan. Kantuk akhirnya hilang, syukurlah. Ada hikmahnya juga di panggil oleh si kakek. Mataku kini jadi segar.


__ADS_2