
"Hahahahahahaha. Badruuunn, untuk apa kau ajak bocah-bocah ini? Junjungan kami pasti akan sangat senang malam ini, ia akan kami berikan tiga jiwa sekaligus. Hahahahahaha." ujar makhluk menyeramkan itu.
"Hei bocah! Mau saja kau ikuti kakek bodoh ini. Apa kau sudah bosan hidup? Hah? Hahahahahaha." lanjutnya.
Keadaan menjadi semakin tegang. Kakek Badrun dan Tika sudah pasang kuda-kuda. Aku mundur perlahan agak ke belakang. Cincin yang kukenakan memancarkan sinar kebiruan, kini sinarnya makin cemerlang.
"Tika, apa kau sanggup melawan Buto Ijo itu sendiri?" tanya Kakek Badrun dengan suara pelan.
"Mari kita coba saja kek! Tak ada salahnya bukan!" jawab Tika.
Buto Ijo? Ooh, jadi seperti ini rupa Buto Ijo yang sebenarnya. Astaga, aku tak menyangka akan semenakutkan ini penampakannya.
"Bersiaplah kau cecunguuukk!" teriak Buto Ijo, lalu ia lompat dengan tinggi. Kami semua melihatnya. Aku menganga.
Duarr.
Buto Ijo mendarat tepat di tengah-tengah kami. Tanah dan kerikil-kerikil kecil terpercik karena ia mendarat dengan sangat kuatnya. Kami lompat menjauh ke belakang.
"Gggrrroooooaaarrrhhh!" teriak Buto Ijo sambil mengayunkan tangan kanannya menyerang kami dengan gerakan memutar. Beruntung jangkauan tangannya tak sampai. Kalau sabetan tangannya mengenaiku, mungkin sudah tamat aku di buatnya.
Tangan Tika tiba-tiba memancarkan sinar kuning keemasan. Wajah Tika tampak sangat beringas. Secepat kilat, Tika melompat menuju Buto Ijo. Ia berteriak dengan kuat, tangannya yang bersinar siap menyerang Buto Ijo.
Duakk!!
Buto Ijo berhasil menangkis serangan Tika dengan kedua tangannya. Tapi kaki Tika terlihat bebas, Tika mengayunkan kaki kanannya menuju ke dagu Buto Ijo. Ayunan kakinya cepat dan terlihat kuat.
Duagg!!
Bunyi keras dari hantaman kaki Tika ke dagu Buto Ijo. Buto Ijo terlempar jauh ke belakang, ia berteriak kesakitan dengan kencang. Tika tersenyum menyeringai. Tubuh Buto Ijo tampak jatuh ke tanah dan tubuhnya terdorong hingga beberapa meter. Aku dan Kakek Badrun hanya menyaksikan kehebatan Tika. Aku tak menyangka Tika begitu lincah dan jago.
Buto Ijo bangun, ia mengelus-elus dagunya. Kini ia tampak semakin marah. Buto Ijo menggeram bagai singa, hingga liurnya yang berwarna hijau tua menetes, sangat menjijikkan.
"Bocah tengik! Sialan kau! Waaaaaaa!!" Buto Ijo berteriak, lalu lompat sangat tinggi.
Tika bersiap menghadang serangan. Cahaya berwarna kuning masih bersinar di kedua tangannya. Buto Ijo menyerang Tika sambil berteriak, bagusnya Tika dapat menepis pukulannya. Buto melancarkan pukulannya secara bertubi-tubi, namun Tika amat lincah. Ia mengeles dan menangkis. Satu pukulan keras di layangkan Buto Ijo, tapi Tika terlambat menahannya.
Buakk!!
Pukulan Buto Ijo telak mengenai perut Tika. Tika melayang di udara akibat terkena pukulan. Secara tiba-tiba, Buto Ijo melompat menghampiri Tika yang masih melayang di udara. Kepalan tangannya siap menyerang Tika.
"Bismillahi. Allahu Akbar!" aku membatin, kuarahkan cincin di jariku ke Buto Ijo.
Wusshh. Cincin di jariku menembakkan cahaya berwarna biru.
DUAARRRR!!
Cahaya biru tepat mengenai perut Buto Ijo. Tika terkejut dengan serangan yang tiba-tiba kulancarkan. Mata Buto Ijo terbelalak. Tika dan Buto Ijo masih melayang di udara. Sampai akhirnya Buto Ijo jatuh terlentang menghantam tanah, suaranya berdentum sangat kuat. Tika mendarat dengan selamat.
"Kau hebat Nak Adi! Kau bisa menggunakan cincin itu." sanjung Kakek Badrun, ia senang melihatku.
Tika mendekati kami. Dari ujung bibirnya menetes darah akibat terkena pukulan Buto Ijo.
"Makasih Di. Untung lo bantu, kalau enggak mungkin sudah habis gue kena hantam si Buto." ucap Tika.
Aku tersenyum, "Sama-sama Tik."
Kami mendekati Buto Ijo yang tewas terkapar. Perutnya berlubang akibat serangan dari cincin yang kulancarkan. Tiba-tiba tubuh Buto Ijo mengeluarkan asap tebal, dan hilang. Ia musnah.
"Alhamdulillah. Bagus Nak Adi, seranganmu tadi sangat membantu Tika." ujar Kakek Badrun. Aku dan Tika tersenyum.
"Tapi jangan senang dulu, akan ada banyak demit yang akan kita hadapi. Hemat-hematlah tenaga kalian." lanjut Kakek Badrun.
Benar apa yang di katakan Kakek Badrun. Belum sempat aku bernafas lega. Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang. Membuat dedaunan kering beterbangan membentuk pusaran. Angin semakin kencang, seperti ****** beliung. Kami menutupi pandangan dengan kedua tangan.
Duakk! Satu pukulan mengenai pipiku. Aku jatuh tersungkur.
Duakk! Pukulan lain menghantam Tika.
Duakk! Pukulan ketiga mendarat di ulu hati Kakek Badrun.
Kami bertiga jatuh tersungkur. Entah siapa yang memukul, aku tak dapat melihat sosoknya. Tika tengak-tengok, begitu pula Kakek Badrun yang keheranan sambil meringis memegang perutnya. Angin berhenti bertiup.
"Waspada! Demit ini mungkin jauh lebih kuat di bandingkan dengan Buto Ijo." Kakek Badrun berkata.
__ADS_1
Kami bertiga bangun, punggung kami saling merapat. Sambil terus mencari sosok yang menyerang kami tadi. Pandanganku sangat awas, aku tak ingin kecolongan untuk kedua kalinya.
Angin lagi-lagi bertiup dengan kencangnya, dedaunan yang tertiup angin lagi-lagi membentuk pusaran layaknya angin tornado.
"Khukhukhukhukhu." suara tawanya aneh, suaranya mirip anak kecil.
Dari balik pusaran angin terlihat sosok misterius. Ia berjalan keluar dari pusaran angin, berjalan mendekat ke arah kami bertiga. Sampai beberapa meter di depan kami, ia menghentikan langkahnya.
Tubuhnya kurus dan pendek, serta bongkok. Pipinya tirus, bahkan terlihat tulang pipinya yang menonjol. Matanya sangat besar, hampir memenuhi seluruh wajahnya. Hidungnya kecil mungil. Mulutnya lebar hingga ke ujung telinga. Tulang iganya terlihat, membentuk garis-garis di perutnya. Pusarnya bulat dan bodong menonjol keluar. Ia memegang tongkat kayu di tangan kanannya. Rupanya sungguh sangat aneh.
"Khukhukhukhu." ia terkekeh memandang kami.
"Demit besar itu apa hebatnya! Cih! Terkena satu jurus saja langsung modar. Khukhukhukhu." umpatnya soal si Buto Ijo.
"Khukhukhukhukhu. Siapa di antara kalian yang bernama Badrun?" tanya sosok bongkok itu.
Kami diam, Kakek Badrun memberi isyarat untuk diam.
"Hei manusia! Aku tanya, siapa di antara kalian yang bernama Badrun?" sosok bongkok membentak dengan suara lantang.
Lagi-lagi Kakek Badrun memberi kami kode untuk diam.
"Khukhukhukhukhu. Baiklah kalau tidak ada yang menjawab. Kuanggap kalian semua Badrun. Jadi aku tak perlu repot memilih, kuhabisi saja kalian semuanya. Khukhukhukhu."
Set. Sosok bongkok itu tiba-tiba menghilang.
Kemudian angin lagi-lagi bertiup dengan kencang.
"Mundur! Yang ini biar kakek saja." ucap Kakek Badrun.
Aku membaca ayat kursi dalam hati, kubuat tameng di sekelilingku dan Tika. Tentunya dengan kekuatan cincin yang kupakai. Tameng bersinar, cahayanya berwarna biru.
"Khukhukhukhukhu. Rupanya kau kakek tua yang bernama Badrun! Khukhukhukhu." suara si bongkok menggema.
Kakek Badrun berdiri mematung, ia memejamkan matanya. Kedua tangannya bersedekap di depan dada. Sosok si bongkok tak dapat kulihat. Hanya angin yang berhembus kencang.
Duak. Tampak tangan Kakek Badrun bergerak menepis serangan si bongkok yang tak terlihat. Kakek Badrun menepis serangan dengan mata terpejam. Luar biasa, ilmunya sangat tinggi.
"Hei tua bangka! Buka matamu! Kau meremehkan aku! Hah!!" suara si bongkok menggema.
Lagi-lagi Kakek Badrun dengan lihainya menepis serangan-serangan si bongkok yang tak terlihat. Satu gerakan tangan dari Kakek Badrun, ia seperti meraih sesuatu dari atas.
Ajaib, sosok si bongkok di tangkap menggunakan satu tangan oleh Kakek Badrun entah dari mana. Awalnya serangan bertubi-tubi dari si bongkok yang tak terlihat itu selalu di mentahkan, kini malah sosoknya di cengkram oleh Kakek Badrun. Kemudian di bantingnya si bongkok ke atas tanah dengan kuat. Si bongkok pun berteriak kesakitan. Ia mengerang.
Kakek Badrun mengambil ancang-ancang, tangannya bersinar berwarna kuning keemasan, sungguh menyilaukan. Dan...
Duagg!
Satu pukulan telak mendarat di wajah si bongkok.
"Kkhhaaaaaaa..." teriakan si bongkok memecah malam.
Wuuussss. Si bongkok berasap dan lenyap. Musnah. Hebat, Kakek Badrun sungguh hebat. Dengan mata terpejam saja Kakek Badrun dapat dengan mudah menepis serangan yang di lancarkan oleh si bongkok. Dan dengan sekali pukul, si bongkok meregang nyawa. Teriakannya tadi adalah teriak terakhirnya.
Set. Tameng yang kubuat sengaja kuhilangkan. Keadaan kini jauh lebih baik. Aku dan Tika mendekat ke Kakek Badrun. Ia menepuk-nepuk tangan, seolah membersihkan debu dari tangannya.
"Kalian nggak apa-apa?" tanya Kakek Badrun.
"Alhamdulillah nggak apa-apa kek. Tadi Adi bikin tameng kek, sepertinya sekarang Adi mulai terbiasa menggunakan kekuatan cincin itu." ujar Tika.
Kakek Badrun tersenyum.
"Bagus Nak Adi. Biasakan dirimu, cincin itu akan sangat berguna untukmu." ucapnya padaku.
"Sekarang, ayo kita coba masuk ke dalam rumah itu!" ajak Kakek Badrun.
Aku dan Tika mengangguk dengan pasti. Kami pun berjalan pelan menuju rumah reot. Mata kami tetap waspada melihat sekeliling. Takut datang serangan mendadak dari para pengikut kuntilanak merah itu.
Kini kami sampai di depan pintu rumah. Kami bertiga saling pandang.
Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnngggggggg.
Tiba-tiba ada suara melengking, membuat telinga kesakitan. Suaranya menusuk ke dalam lubang telinga. Kami meringis menahan sakit sambil menutup telinga.
__ADS_1
Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnngggggggg.
Suaranya masih saja terdengar. Aku bahkan sampai berjongkok menahan sakit. Gendang telingaku seperti di terobos oleh suara itu. Suaranya memekakkan. Suara apa ini?
Sesaat kemudian datang hening.
.
.
.
.
.
.
Hening.
.
.
.
.
.
.
.
Sepi.
.
.
.
.
.
.
.
Tak terdengar suara apa pun.
Aku bertanya pada Tika dan Kakek Badrun.
Eh, aneh. Sangat aneh. Aku tak dapat mendengar suaraku sendiri.
Kakek Badrun berbicara, bibirnya bergerak ke atas ke bawah. Tapi suaranya tak dapat kudengar.
Tika pun sama, kulihat ia seperti berbicara. Namun suaranya tak bisa kudengar. Tika memberi isyarat padaku, bahwa ia pun tak bisa mendengar suaraku.
Kami bertiga tuli.
Hanya keheningan bercampur sunyi.
Tiba-tiba, ada sesuatu yang menarikku sangat kuat. Aku tertarik ke belakang. Aku berteriak meminta pertolongan pada Tika dan Kakek Badrun. Tapi suaraku sendiri saja tak bisa kudengar. Yang kulihat terakhir hanya wajah terkejut dari Tika dan Kakek Badrun yang melihatku.
Aku semakin menjauh dari rumah reot itu. Dan menjauh juga dari Tika dan Kakek Badrun. Aku berusaha melepaskan cengkraman, tapi entah apa yang menarikku dari belakang. Suaraku masih tak bisa kudengar.
Semua hening.
Aku terhempas di atas ilalang. Tubuhku berguling-guling. Rasa perih sangat terasa di tangan dan kakiku karena tergesek ilalang yang tajam.
Aku terlentang. Nafasku tak beraturan. Sampai saat ini, aku masih tak dapat mendengar suaraku sendiri. Aku bangun, kulihat sekelilingku. Hanya hamparan ilalang setinggi perut, di naungi langit yang gelap gulita. Aku seorang diri di alam lain. Aku terpisah dari Tika dan Kakek Badrun. Sesuatu yang memisahkan kami, dan entah apa yang menarikku sampai sejauh ini. Jantungku berdebar. Aku ketakutan.
__ADS_1