
Aku masih memanjatkan doa. Kupejamkan mataku dengan khusyuk.
"Nak Adi." kudengar Kakek Badrun memanggilku.
Kuacuhkan.
"Nak Adi," panggil Kakek Badrun lagi.
Tak kugubris.
Ya Allah, jika kau perkenankan aku menerima setitik kekuatan-Mu untuk menumpas kejahatan ini, maka kuatkanlah aku. Dan jika bukan takdirku untuk menghentikan kebathilan ini, maka lindungilah aku. Lindungi seluruh keluargaku dan orang-orang di sekitarku. Sesungguhnya hanya pada-Mu tempat kuberlindung. Hanya pada-Mu tempat kumeminta pertolongan. Amiiiin.
"Nak Adi," Kakek Badrun masih memanggilku.
Tak kuhiraukan.
Kuusap wajahku pelan.
Kubuka mataku perlahan.
Alangkah terkejutnya aku, ketika kulihat cincin yang kupakai bersinar biru menyilaukan. Lama-kelamaan cincin itu berubah menjadi sebuah cahaya biru berbentuk bulat yang perlahan meresap ke dalam tanganku. Kemudian cahaya biru menjalar ke seluruh tanganku, memenuhi tiap urat nadiku sampai ke seluruh tubuhku. Ada hawa panas yang terasa menggerayangi tubuhku.
"Halim! Apa yang terjadi dengan cucumu?" tanya Kakek Badrun.
Kakek Halim sumringah.
Ia bangkit berdiri sambil memegang dadanya.
"Mustika itu memang cocok denganmu cucuku. Mustika itu menyatu dengan jiwamu. Kini kau akan jauh lebih sakti dibandingkan aku." jelas Kakek Halim.
Kulihat Kakek Badrun dan Nek Iyah terpana melihatku.
"Nak Adi, kini kami yang bergantung padamu. Kamu yang akan memusnahkan kuntilanak merah itu. Kamu yang mempunyai kekuatan besar diantara kita semua." ucap Kakek Badrun.
Apa benar yang diucapkan Kakek Halim dan Kakek Badrun.
Kakek Badrun berbalik badan, menghadap kuntilanak merah kembali.
"HEI MERAH! PERSIAPKAN DIRIMU UNTUK MENEMUI AJALMU." teriak Kakek Badrun.
"CIH. BANYAK BACOT KAU TUA BANGKA! MARI KITA BUKTIKAN, SIAPA YANG AKAN MENEMUI AJAL LEBIH DULU." balas kuntilanak merah.
"Nak Adi, jika kekuatanmu seperti itu maka kau bisa berbagi dengan Tika atau Bi Yana. Ia butuh kekuatan lebih untuk menyembuhkan Guntur. Sementara, biar aku dan Badriyah yang akan menghadapi iblis ini." suruh Kakek Badrun sambil menatap tajam ke arah kuntilanak merah.
Aku mengangguk.
Kuhampiri Tika dan Bi Yana. Pandanganku cerah dan terang. Semua yang kulihat bersinar.
"Tik, gimana cara gue bisa berbagi kekuatan dengan kalian?" tanyaku.
"Taruh kedua tangan lo di pundak Bi Yana. Lalu fokuskan kekuatan lo ke tangan yang ada di pundak Bi Yana." jelas Tika.
"Lalu?"
"Sudah seperti itu. Kekuatan lo akan mengalir dengan sendirinya ke dalam tubuh Bi Yana. Makin besar kekuatan lo, makin cepat kita bisa menyembuhkan Mas Gun." terang Tika.
Aku segera duduk di belakang Bi Yana, kutaruh kedua tanganku di pundaknya. Lalu kupejamkan mata dan fokus dengan kekuatan di tanganku.
Bismillahirrahmanirrahiem.
Ya Tuhan, dengan setitik kekuatan yang Kau titipkan padaku, kumohon berilah manfaat bagi orang yang membutuhkan pertolongan. Hanya pada-Mu tempat kubergantung. Amiiin. Aku berdoa dalam hati.
Hawa panas terasa menjalar dari lengan sampai ke jemariku. Terasa menggerayangi tanganku.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrghhhh!" Mas Gun teriak.
Mata masih kupejamkan dengan rapat. Kedua tanganku masih menempel di pundak Bi Yana.
"Ayo Di. Terus Di." kudengar suara Tika di sebelahku.
BUAKK.
BUAKK.
JDARR.
JDUKK.
DUAG.
DUAG.
Suara perkelahian antara Kakek Badrun dan Nek Iyah melawan kuntilanak merah terdengar di kejauhan. Erangan dan teriakan terdengar dari mulut mereka.
Aku harus tetap fokus mengalirkan kekuatan pada Bi Yana. Mas Gun harus tertolong.
"AAAAAAAAAAAAAAAAA!" suara teriakan Nek Iyah.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHI. MAMPUS KAU BADRIYAH!" kuntilanak merah berteriak kegirangan.
__ADS_1
Apa yang terjadi dengan Nek Iyah?"
"Aaaaaaaaaaaa! Sakiiiiiiiiitt!" Mas Gun berteriak.
"Sakiiiiiiiiiiiiittt. Ampuuuuuunnn. Udaaaaahh." teriak Mas Gun lagi.
Ya Allah, semoga Mas Gun bisa disembuhkan. Kuatkan dirinya Ya Allah.
.
.
.
Tak terdengar lagi suara Mas Gun. Yang terdengar hanya suara perkelahian.
.
.
Aku masih memejamkan mata.
.
.
Apa yang terjadi dengan Mas Gun?
.
.
Apa Mas Gun bisa disembuhkan?
Lalu kudengar suara helaan napas panjang dari Bi Yana.
Hei, apa yang sebenarnya terjadi? Tolong beri tahu aku! Tika. Mengapa Tika tak bersuara? Kemana Tika?
.
.
"Alhamdulillah." ucap Bi Yana.
"Sudah Dek," sambungnya.
Kulepaskan kedua tanganku dari pundak Bi Yana. Dan kubuka mata perlahan.
Aku sumringah.
Kulihat Mas Gun duduk bersila dengan luka hitam di tangannya yang sudah menghilang. Ia tersenyum padaku. Bi Yana senyum padaku. Tika tersenyum manis padaku.
"Makasih Di." ucap Mas Gun.
Bahagianya aku, melihat Mas Gun sembuh dari serangan kuntilanak merah.
Mas Gun bangkit berdiri. Kami semua bangkit berdiri. Kuhampiri Mas Gun, kupeluk dirinya erat.
"Di, makasih banyak. Lo udah selamatin hidup gue." ucap Mas Gun pelan.
"Nggak akan gue biarkan lo jadi demit Mas. Sekarang apa lo udah siap buat balas kelakuan setan itu?" bisikku pelan.
"Yuk! Gue sebel banget dengar tawanya." balas Mas Gun.
Kami melepas pelukan.
"Bi Yana, makasih banyak udah menolong Mas Gun." ucapku pada Ibu Kemala.
"Sama-sama Dek."
Kami melihat Kakek Badrun dan Nek Iyah sedang bertarung dengan kuntilanak merah. Pertarungan mereka sengit, saling jual beli serangan terjadi. Saling menerima pukulan dan tendangan tak terelakkan.
Lalu, pada satu momen tak terduga. Kekuatan kuntilanak merah berhasil mengenai Nek Iyah. Sinar merah kehitaman yang ditembakkan dari tangannya, meledak tepat di pinggang Nek Iyah. Nek Iyah menjerit, tubuhnya terhempas ke tanah.
Kakek Badrun lengah, ia melihat Nek Iyah yang terjerembab di tanah. Dan..
DUAAARRR.
Sinar merah kehitaman mengenai perut Kakek Badrun.
Tubuh Kakek Badrun pun terhempas, menjauh dari kuntilanak merah dan terseret di tanah.
Kuntilanak merah melayang turun, menapak di tanah. Ia melihat Nek Iyah dan Kakek Badrun yang terkena serangannya dengan tatapan bahagia. Senyum di bibirnya tak pudar sedikit pun.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHI."
"Kalian berdua bukan lagi tandinganku. Ilmu kalian berbeda jauh denganku." ucap kuntilanak merah.
Aku maju beberapa langkah menghadap kuntilanak merah.
__ADS_1
"Mau apa kau bocah? Mau menghadapiku sendirian? Hihihihihihihihi. Lihatlah Kakekmu! Tak bisa berbuat apa-apa. Dan sekarang cucunya maju sendirian. Hihihihihihi." ujar kuntilanak merah.
"AKAN KUMAKAN JIWAMU BOCAH!" teriaknya dengan mata terbelalak.
Ada sejumput rasa takut menyerangku. Terngiang kembali kejadian malam saat pertama kali kulihat penampakan kuntilanak itu di ruang depan kamarku. Membuatku merinding.
"AYO MAJU BOCAH! AKU SUDAH LAPAR!" teriak kuntilanak merah padaku dengan senyum menyeringai.
"Hati-hati Nak Adi." ucap Kakek Badrun.
Tiba-tiba Mas Gun berdiri di sampingku. Tatapannya gahar melihat ke arah kuntilanak merah.
"Ayo Di, ini saatnya kita yang ambil alih." ucap Mas Gun.
Aku mengangguk.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI."
"YANG SATU BOCAH INGUSAN YANG MERASA SAKTI. YANG SATU LAGI BOCAH GENDUT TUKANG MAKAN. HIHIHIHIHIHIHI. INGIN MELAWANKU, KALIAN YAKIN?" teriak kuntilanak merah dengan jumawa.
"HIYAAAAAAA!" tiba-tiba Bi Yana terbang ke arah kuntilanak merah tanpa aba-aba.
Membuat kami semua terkejut.
Kuntilanak merah hanya tersenyum. Lidahnya mengecap membasahi bibirnya, seperti melihat makanan lezat yang ada di depannya.
"BI YANAAAAA!" Tika berteriak.
Dari tangan Bi Yana muncul sinar bulat berwarna kuning.
Tiba-tiba..
Grepp. Kuntilanak merah menangkap dan mencekik leher Bi Yana dengan satu tangannya. Wajahnya tampak bengis.
"Hihihihihihihihi. Mau apa kau wanita ******? Kau ingin menyusul Ibumu di akhirat?" tutur kuntilanak merah.
"Kkekk. Kkekk." Bi Yana tak bisa berkata. Suaranya tercekik.
Lalu Bi Yana tersenyum.
Dan..
DUUUAAAARRRR.
Sinar bulat berwarna kuning di tangannya meledak di tubuh kuntilanak merah.
Kuntilanak merah terpental. Bi Yana pun terpental ke arah lain.
"BIBIIIIIIIIII!" Tika teriak. Lalu ia melesat terbang menangkap tubuh Bi Yana.
Berhasil tubuh Bi Yana dapat segera ditangkap oleh Tika. Lalu mereka mendarat di tanah. Tubuh Bi Yana dibaringkan di atas tanah, Tika duduk di sebelah Bi Yana.
"ADI! TOLONG BI YANA DI. ADIII." teriak Tika.
Aku dan Mas Gun menghampiri Tika.
Kondisi Bi Yana mengkhawatirkan. Ada bekas luka tusukan kuku di batang lehernya. Jelas itu kuku si kuntilanak merah.
"Tik, cepet sembuhkan Bi Yana. Cepet Tika!" suruhku.
Wuusshh. Tangan Tika bersinar, berwarna kuning.
Tapi begitu tangan Tika hendak menempel ke leher Bi Yana. Tiba-tiba, tangan Bi Yana menangkap tangan Tika. Bi Yana menggeleng.
"Ng-ng-nggak usah di-di-disembuhkan." ucap Bi Yana.
"Bibi. Bibi masih bisa selamat. Biar Tika sembuhkan lukanya." balas Tika seraya menangis.
Bi Yana kembali menggeleng.
"Bi-bibi m-m-ma-mau pu-lang. Bibi ma-mau p-p-pulang." ungkap Bi Yana.
"Iya kita pulang sekarang. Tapi Bibi harus disembuhkan dulu. Biarin Tika sembuhkan luka Bibi." balas Tika keukeuh ingin menyembuhkan luka Bi Yana.
"Ng-nggak u-usah. Tika. T-t-to-tolong ja-ga K-Kemala. J-j-ja-ga Ke-Kema-la." ucap Bi Yana.
Perlahan Bi Yana memejamkan mata. Memejamkan mata untuk selama-lamanya. Tika menangis meraung-raung, memeluk tubuh Bi Yana yang perlahan menjadi debu dan hilang tertiup angin. Jiwa Bi Yana kini musnah. Menyisakan raga yang terbujur kaku entah dimana.
Aku dan Mas Gun hanya diam dan mencoba menenangkan Tika. Tika terus menangisi Bi Yana. Aku berjongkok di samping Tika sambil mengusap pundaknya.
"Sabar Tik. Gue akan balas perlakuan kuntilanak merah itu. Kita akan menang malam ini." ucapku.
"Janji? Janji kita akan sama-sama musnahin demit itu?" tanya Tika.
"Janji. Asal lo selalu ada disamping gue." balasku.
Tika memelukku erat. Sangat erat. Tangisnya masih terdengar pelan. Pelukan hangatnya membuatku bergetar, bahwa ia sungguh merasa kehilangan.
Tika, gue janji akan balas apa yang telah kuntilanak merah itu perbuat. Walau jiwa gue taruhannya. Aku membatin.
__ADS_1