
Sore ini langit mendung, dari timur awan hitam berarak perlahan. Sesekali kilat menampakkan cahaya putihnya, membentuk garis bak retakan di langit. Sebentar lagi turun hujan. Aku duduk di teras depan kamarku, di temani secangkir teh hangat sambil melihat-lihat beranda Instagram.
"Dek Adi," panggil seseorang.
Kang Ujang memanggilku dari arah garasi mobil.
"Eh, Kang Ujang. Lagi ngapain kang?" tanyaku.
"Ini dek, lagi beres-beres barang bekas. Sendirian aja?"
"Iya kang. Sini kang, ada kopi nih!" tawarku.
"Iya dek, makasih." jawab Kang Ujang.
"Saya buatin ya." aku menawarkan kembali.
"Iya makasih Dek Adi."
Aku pun ke dalam kamar mambuat secangkir kopi. Setelah itu ku letakkan di lantai teras.
"Kang, ini kopinya."
"Aduh, repot-repot segala buat kopi dek." ujar Kang Ujang dari garasi.
"Nggak repot kang, cuma kopi doang." balasku.
"Sebentar saya selesain kerjaan dulu. Takut keburu hujan."
Kang Ujang melanjutkan pekerjaannya membereskan gelas dan botol plastik, memasukkannya ke dalam karung. Lalu menumpuknya dengan karung lainnya. Tak lama kemudian, ia datang dan duduk di sebelahku.
"Sudah pulang kuliah dek?" tanya Kang Ujang.
"Sudah kang, kebetulan hari ini kuliah cuma sampai siang."
"Saya minum kopinya ya dek." ucap Kang Ujang.
"Silakan kang, di bikin memang untuk di minum kang."
Kang Ujang meniup perlahan, asap tipis mengepul dari cangkir kopi, lalu menyeruputnya sedikit.
__ADS_1
"Gimana, betah di sini dek?" tanya Kang Ujang seraya mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam kantong celananya.
"Betah kang, suasananya yang bikin saya betah di sini." ucapku.
"Rokok dek." Kang Ujang menawarkan rokoknya.
"Iya kang makasih. Saya jarang-jarang ngerokok, kalau lagi mau aja." ucapku.
"Kang, saya mau tanya sesuatu deh."
"Mau tanya apa dek?"
"Soal kejadian kemarin kang." ucapku.
"Yang mana ya?"
"Itu kang, kawan saya yang hilang beberapa hari. Dan di temuin di rumah depan." jelasku.
"Oh iya iya. Mau tanya apa?"
"Siapa yang pertama temuin jasad kawan saya di dalam rumah itu kang? Karena memang dari kemarin-kemarin saya bingung mau tanya ke siapa, mau tanya ke Nek Iyah nggak enak. Nah kebetulan nih ada Kang Ujang, siapa tahu saya dapat info."
"Oh Kang Ujang. Gimana ceritanya kang?" tanyaku penasaran.
"Subuh hari itu, Nek Iyah telpon saya. Sudah waktunya membersihkan rumah almarhum adik Pak Thamrin, ya rumah depan itu. Rumah itu memang niat di jual oleh Nek Iyah, tapi sampai sekarang belum laku. Rumah itu memang selalu di bersihkan seminggu sekali, berjaga-jaga siapa tahu ada calon pembeli yang datang ingin melihatnya." jelas Kang Ujang sambil sesekali menghisap rokoknya.
"Jadi, rumah itu memang benar kosong kang?" tanyaku.
"Iya dek, sudah lama banget kosong. Memang kenapa?"
"Eng, enggak. Enggak apa-apa." jawabku gagap.
"Terus kang?" tanyaku lagi.
"Ya sehabis shalat subuh saya ke rumah itu. Saya buka kunci pintu depan. Begitu saya masuk, saya lihat ada orang terlentang di pojok ruangan. Pakai baju putih sama celana pendek. Saya nggak terlalu curiga, karena memang biasanya ada saja yang masuk lewat pintu belakang." jelas Kang Ujang.
"Sebentar deh kang, ada saja yang masuk? Maksudnya?" tanyaku.
"Iya, jadi pintu belakang memang nggak pernah di kunci, karena rusak. Di gembok berkali-kali pun tetap aja rusak. Kadang ada pemulung yang numpang tidur, beberapa kali pernah di masukin orang gila." jawab Kang Ujang.
__ADS_1
"Oh gitu. Terus kang?"
"Nah, pas saya lihat ternyata bukan pemulung atau orang gila. Saya nggak kenal dan belum pernah lihat sebelumnya. Saya cek denyut nadinya, nggak ada. Saya coba dengar detak jantungnya, nggak ada. Saya panik, akhirnya lapor ke Pak RT." cerita Kang Ujang.
Aku menyimak tiap kata yang Kang Ujang utarakan. Tak ingin telingaku mendengar hal lain, selain cerita Kang Ujang.
"Setelah lapor ke RT, saya lapor ke Nek Iyah. Terus, Nek Iyah bilang jangan lakuin apa-apa sebelum polisi datang. Dan, Nek Iyah akhirnya hubungi Dek Adi."
"Kang Ujang berarti jadi saksi dong ya?" tanyaku.
"Iya dek. Saya dua hari belakangan ini sering di panggil ke Polsek, untuk di mintai keterangan. Ya saya jelasin yang sebener-benernya." sambung Kang Ujang.
"Tapi Dek Adi udah tahu laporan dari tim forensik mengenai jenazah temannya?"
"Belum kang. Emang Kang Ujang tahu?" tanyaku, penasaran hebat menyerang seketika.
"Saya sih nggak terlalu jelas. Cuma kemarin pas saya datang ke Polsek untuk kasih keterangan, saya curi-curi dengar aja."
"Iya apa penyebab kematian kawan saya?" aku makin penasaran.
Kang Ujang celingak-celinguk melihat sekeliling. Ia mendekat ke arahku. Sementara kilat menyambar di iringi suara gemuruh. Langit yang tadinya gelap, kini sepintas terang. Aku menelan ludah.
"Kawan Dek Adi meninggal karena dehidrasi tingkat tinggi atau dehidrasi berat. Istilah kedokterannya itu kalo nggak salah syok.. syok.. syok apa ya." Kang Ujang garuk-garuk kepala.
"Syok apa kang?" tanyaku.
"Syok hilus atau apa gitu." jawabnya asal.
Aku mengambil ponsel, membuka Giigle. Mengetik dehidrasi berat, lalu muncul puluhan artikel. Syok Hipovolemik? Apa ini yang di maksud Kang Ujang.
Syok Hipovolemik adalah kondisi gawat darurat yang di sebabkan oleh hilangnya darah atau cairan tubuh dalam jumlah yang besar, sehingga jantung tidak dapat memompa cukup darah ke seluruh tubuh.
Syok Hipovolemik sering kali di sebabkan oleh pendarahan dan dehidrasi berat.
Ini penjelasan dari artikel yang ku baca.
"Syok Hipovolemik ya kang?" tanyaku.
"Emm, iya mungkin dek. Saya nggak hapal namanya. Cuma ingat syok-nya saja." jawab Kang Ujang.
__ADS_1
Bagas terkena Syok Hipovolemik? Ia kehilangan banyak cairan tubuh atau kehilangan banyak darah? Otakku berpikir keras. Apa aku harus bertanya ke tim forensik? Ah mana mungkin boleh? Apa wewenangku? Aku siapa?