
Perkuliahan hari ini selesai pukul 15:00, aku langsung menunggu Kemala di lobby gedung fakultas. Sebelumnya Yuda bersamaku, ia mengingatkan kembali soal mobil sedan antik milik Nek Iyah dan perjanjianku dengannya, aku mengiyakan dan akan segera bicara dengan Nek Iyah.
Rencananya, sore ini aku dan Kemala akan mampir ke kontrakan Mas Gun, guna mengambil mustika Batu Dewa Dawana pemberian Kakek Badrun. Lalu berangkat menuju rumah Kemala untuk bertemu ibu Kemala.
- Gue udah di lobby ya. - aku mengirim pesan ke Kemala.
- Oke. Bentar lagi gue turun. Lagi tunggu lift -
balas Kemala cepat.
Tak berapa lama Kemala pun datang. Kami pun bergegas menuju kontrakan Mas Gun.
"Naik apa nih ke rumah lo?" tanyaku.
"Naik ini dong." ucap Kemala sembari memutar-mutar kunci motor di jarinya.
"Ooh sekarang ke kampus udah pakai motor nih, nggak naik ojol lagi?" tanyaku.
"Iya. Alhamdulillah gue di beliin motor baru sama nyokap." jawabnya.
"Mantap. Eh, kita ke kontrakan saudara gue dulu ya sebentar. Ada yang mau gue ambil nih." pintaku.
"Oke. Yuk cabut!" ajak Kemala.
Aku mengendarai motor dan Kemala membonceng. Benar, motornya baru. Masih terlihat kinclong dan bersih berkilau. Kami menuju kontrakan Mas Gun.
Sesampainya di kontrakan Mas Gun, Kemala menunggu di motor sedangkan aku masuk ke dalam kontrakan.
"Assalamualaikum!" ucapku.
"Waalaikumsalam, woii tumben banget ke sini. Kirain udah lupa jalan ke sini." tegur Mas Gun yang sedang asik berkutat di depan laptopnya.
"Masa gue lupa sama lo mas, nggak mungkin itu terjadi." ucapku.
"Sama siapa lo?" tanya Mas Gun, ia melihat ke arah luar kamarnya.
"Oohh. Sama yayang mbeb toh! Memang udah jadian? Hehehehe." ledek Mas Gun.
"Doain ya mas. Eh mas, mau tanya dong."
"Tanya opoo?" sahut Mas Gun.
"Lo tahu nggak celana gue yang gue taruh di sini? Yang basah kena hujan malam kemarin itu lho mas." tanyaku.
"Tahu. Udah bersih tuh, ada di lemari." jawab Mas Gun singkat.
"Hah, udah bersih? Serius mas?"
"Iya Di, masa gue biarin aja celana basah di ember. Lama kelamaan kan bisa bau, bisa jamuran." jelas Mas Gun.
"Emm, sebelum di cuci lo periksa kantongnya nggak mas?" tanyaku.
"Gue periksa, ternyata nggak ada duitnya tuh. Sia-sia gue periksa kantong celana lo. Hehehehe."
"Hehehehehe. Emm, ada temuin sesuatu yang lain nggak di kantong celananya mas?" tanyaku ragu.
Mas Gun kini menatapku.
__ADS_1
"Di, sejak kapan lo simpan barang-barang kayak gitu?" tiba-tiba Mas Gun bertanya.
Kujawab, "Itu bukan punya gue mas, itu titipan dari seorang kakek-kakek. Sumpah deh."
"Iya iya, tapi ingat Di, percaya dengan benda-benda mistis kayak gitu musyrik. Kan lo belajar di pondok, masa nggak tahu." balas Mas Gun.
Aku menjawab dengan wajah tertunduk,
"Iya mas, gue ngerti. Tapi gue cuma di titipin saja, cuma di suruh simpenin. Nggak tahu kegunaannya apa." sahutku.
"Iya Di, gue cuma mau ingetin lo. Sekalipun cuma di titipkan, tolong jangan sampai terjerumus. Apalagi sampai ikut-ikutan masuk ke dalam kelompok mereka."
Mas Gun melanjutkan, "Ingat Di, Allah nggak akan mengampuni dosa syirik, dosa apa pun akan di ampuni sama Allah sesuai kehendak-Nya, kecuali dosa syirik. Karena syirik termasuk ke dalam dosa besar. Ada di quran surah An-Nisaa ayat 48. Ingat kan?"
Aku hanya diam mendengar nasihat Mas Gun.
"Yasudah, ambil tuh kalungnya di dalam lemari. Kembalikan ke yang punya, bilang ke yang punya kalau lo nggak bisa simpan barang ini. Jujur saja sama yang punya, Insya Allah bisa ngerti kok." tutur Mas Gun.
"Iya mas, nanti gue balikin." jawabku.
"Udah shalat ashar belum?" tanya Mas Gun.
"Belum mas."
"Naah kan, jangan lalai Di. Ingat, shalat is number one! Oke." ucap Mas Gun.
"Nggih mas."
"Yasudah, habis ini lo mau kemana memangnya?" tanya Mas Gun.
"Ooh yasudah hati-hati. Salam buat Kemala, maaf lama nunggu. Soalnya Adi di nasihatin dulu 2 SKS. Hehehehe." ujar Mas Gun.
Aku pun pamit dengan Mas Gun, lalu bergegas menyamperi Kemala. Ku lihat Kemala berdiri di samping motornya.
"Maaf ya nunggu lama." ucapku.
"Nggak apa-apa, udah biasa nungguin orang." jawab Kemala sedikit ketus.
"Iya maaf ya."
Aku menghidupkan motor, menekan gas, lalu berangkat menuju rumah Kemala. Sebelumnya Kemala sudah mengubungi ibunya, bahwa aku ingin silaturahmi dan sedikit mengobrol dengan ibunya.
Perjalanan menempuh sekitar dua puluh menitan, tak terlalu jauh namun tak telalu dekat juga. Motor di parkir di halaman rumah. Aku di persilakan duduk di kursi di teras rumah. Kursi kayu a la betawi, dengan meja bulat di tengahnya.
Tak berapa lama, ibu Kemala keluar. Aku bersalaman mencium tangannya. Ibu Kemala tak terlalu tua, masih terlihat segar dan bugar. Rambutnya di konde, mengenakan kaus berbalut cardigan dan rok panjang. Kemala pun keluar membawa segelas sirup jeruk.
"Ayo di minum dek. Tadi siapa namanya? Ibu lupa." tanya ibu.
"Adi bu. Yang waktu itu pernah anterin Kemala pulang pas maghrib-maghrib." jawabku.
"Pas maghrib? Ooh iya iya, saya ingat. Maafin saya ya dek, waktu itu saya marah-marah sama kamu." balas ibu Kemala.
"Iya bu, saya ngerti kok. Wajar kalau seorang ibu khawatir sama anaknya, apalagi anak perempuan kan." sahutku.
"Jadi, mau bicara soal apa dek?" tanya ibu Kemala.
Aku merapatkan sedikit ke depan. Kemala tak ikut nimbrung. Hanya aku dan ibunya.
__ADS_1
"Begini ibu, saya tahu dari Kemala kalau ibu mengerti hal-hal seputar gaib. Cuma memang tidak membuka praktek layaknya orang lain..."
ibu Kemala mendengarkanku.
"Ada hal yang mau saya ceritakan dan saya tanyakan ke ibu, karena jujur saja, untuk hal-hal seperti ini saya sangat awam dan belum pernah mengalami selama hidup." ujarku membuka obrolan.
"Oh gitu. Iya, memang benar saya nggak buka praktek. Saya cuma sekedar suka membantu, dan nggak seperti yang lain. Saya cuma turunan aja, nggak terlalu mendalami, kalau saya nggak mampu, ya saya bilang nggak mampu." ucapnya.
"Terus, apa yang mau kamu ceritain?" tanya ibu Kemala.
Aku pun menceritakan apa yang telah aku alami, persis apa yang ku ceritakan pada Kemala siang tadi.
"Begitu ceritanya bu. Apa ibu bisa menerawang mungkin, atau melihat dari sisi supranatural, atas apa yang saya alami atau yang akan menimpa saya?"
"Coba saya lihat tangan kamu." pinta ibu Kemala.
Tangan kanan ku julurkan di atas meja, ibu Kemala memegang tanganku. Ia memejamkan matanya. Aku diam. Jantungku berdegup cepat. Was-was bercampur dengan penasaran, menunggu hasil terawangan ibu Kemala.
Ia membuka mata. Kemudian melepas tanganku.
"Saya nggak sanggup dek. Terlalu tebal." ucapnya.
"Hah? Terlalu tebal, maksudnya apa bu?" tanyaku.
"Saya nggak bisa menerawang. Ada sebuah kekuatan besar yang melindungi kamu." jelasnya.
"Terus?" tanyaku.
Ibu Kemala diam, nampak sejenak berpikir.
"Ada sebuah kekuatan yang melindungi kamu dari kekuatan jahat. Kamu ini sudah di tandai dari awal, sejak datang ke kost itu. Saya lihat ada aura berwarna merah di tengkuk belakangmu, emmm.. seperti cap."
Aku mendengarkan dengan seksama.
"Mungkin kekuatan itu berasal dari kalung yang kamu bawa." sambungnya.
"Ibu bisa tahu siapa yang mau mencelakai saya?" tanyaku.
"Susah dek, saya nggak sanggup. Kekuatannya besar. Kalau saja neneknya Kemala masih ada di sini, mungkin beliau bisa membantu." ucap ibu Kemala.
"Memang neneknya Kemala tinggal di mana bu? Boleh saya ketemu sama beliau? " tanyaku.
"Beliau sudah meninggal dek, beliau orang sakti dulunya dek. Terkenal. Bisa sembuhin orang sakit, bisa bikin jabatan awet, macam-macam. Tapi saya nggak mau jadi seperti beliau." cerita ibu Kemala, lalu terdiam dengan tatapan kosong.
"Maaf Bu, saya nggak tahu kalau beliau sudah wafat." ucapku.
"Me..memang kenapa ibu nggak mau di wariskan ilmu?" tanyaku ragu.
"Meninggalnya susah dek. Karena anak-anaknya tak ada yang mau di wariskan ilmunya secara langsung. Sakaratul mautnya sampai berhari-hari. Ngeri dek." terang ibu Kemala.
"Seantero sini sampai kampus kalian, pasti tahu orang sakti yang bisa sembuhin orang sakit. Karena saking terkenalnya." sambung ibu Kemala.
"Memang siapa nama nenek Kemala bu?" tanyaku.
"Maryati. Tapi pasien-pasien nenek biasa memanggilnya Bi Tati."
Bi Tati?
__ADS_1