Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 98


__ADS_3

Hari ini kami cukup bersenang-senang, kami melihat banyak buku dan puluhan novel bagus di Gramedio, kami makan siang bersama, kami makan es krim bareng, dan kami menonton film bersama. Rasanya aku tak ingin hari ini berakhir. Tapi sore sudah tiba, Kemala harus segera pulang ke rumah. Jangan sampai ia telat pulang, dan aku tak ingin ia kena marah oleh ibunya. Rencana pertemuanku dengan Tika dan Kang Ujang pun harus di undur, Tika sibuk mengerjakan tugas, sedangkan aku sedang asik bersama Kemala.


Motor melesat membelah jalan kota sore ini, lalu lintas tak terlalu padat. Aku membonceng Kemala, lagi-lagi tangannya erat memegang pinggangku. Ah sungguh senangnya aku.


"Di, makasih ya udah temenin gue hari ini. Sampai di traktir nonton segala, filmnya seru banget." ucap Kemala di atas motor.


"Iya sama-sama La. Eh, cowok lo nggak marah nih lo jalan sama gue?" tanyaku.


Kemala diam tak menjawab.


"Jangan bahas cowok gue lagi ya Di. Nggak penting." jawabnya.


Ada apa sebenarnya dengan Kemala dan Panji? Apa hubungan mereka telah usai? Apa ada masalah di antara mereka? Ah, peduli setan! Yang penting hari ini aku cukup bersenang-senang dengan Kemala.


Tiiiinnn tiiiiiiinnn tiiiiiiinnn. Sebuah mobil membunyikan klakson di belakang kami.


"Apaan sih itu mobil! Kurang kerjaan banget." sungutku kesal.


Tiiiiiiinnn tiiiiiinnn.


"Itu mobil Panji!" ucap Kemala.


Apa? Mobil Panji. Wah, bahaya! Aku bisa di tuduh merebut pacar orang kalau begini.


"Serius itu mobil cowok lo?" tanyaku panik.


Mobil mendahului kami, lalu memotong dan berhenti tepat di depan motor yang kukendarai. Aku menekan rem dengan kuat. Tubuh Kemala menabrak punggungku.


"Astaga! Lo nggak apa-apa La?" tanyaku sembari menurunkan standar motor. "Udah gila kali ni orang! Main potong jalan aja."


"Nggak apa-apa Di." jawab Kemala.


Panji keluar dari mobil, lalu membanting pintu mobil dengan kuat. Raut wajahnya penuh amarah.


Ia mendekatiku, menarik kerah bajuku dengan kedua tangannya.


"Emang nggak ada cewek lain yang bisa lo ajak jalan? Hah!" Panji membentakku.


Kudorong dengan kuat tubuhnya. Panji terdorong ke belakang, cengkramannya pada bajuku terlepas.


"Apa-apaan lo! Cari ribut!" balasku dengan suara lantang.


"Panji! Udah udah! Adi, tahan emosi. Udah udah!" Kemala mencoba melerai kami.


Panji masih saja ngotot mendekatiku, tapi Kemala menahannya. Aku sudah pasang posisi siap, tanganku sudah mengepal.


"Sial lo, lo mau rebut cewek gue! Hah!" ujarnya marah.


Aku diam tak merespon perkataannya. Tiba-tiba kepalan tangan Panji melesat menuju wajahku, aku bersiap. Aku menghindar dengan cepat, kulempar kepalan tanganku ke perutnya.

__ADS_1


Bugg!


Pukulanku mendarat tepat dekat ulu hatinya. Panji jatuh terduduk, ia meringis kesakitan memegang perutnya.


"Adi, lo apa-apaan sih!" Kemala membentakku, ia jongkok di samping Panji yang meringkuk kesakitan.


"Apaan! Gue cuma membela diri. Lo tanya tuh cowok lo, kenapa tiba-tiba mau pukul gue." balasku.


Kemala membantu Panji bangun, dan memapahnya berjalan masuk ke dalam mobil. Kemala menghampiriku.


"Kan tadi gue bilang tahan emosi! Lo nggak harus main pukul aja!"


"Lho, kenapa jadi gue yang salah sih?" tanyaku.


Kemala naik ke atas motornya, ia kenakan helm dan menghidupkan mesin motornya.


"Karena lo nggak bisa tahan emosi lo!" ujar Kemala, lalu ia pergi meninggalkanku di pinggir jalan. Mobil Panji pun pergi.


Aku berdiri mematung sendiri, beberapa orang di seberang jalan tampak masih berkumpul karena kejadian tadi.


"Udah cari cewek lain bang!" seseorang pria teriak dari seberang jalan.


"Keren bang! Pukulannya tepat sasaran!" seorang lainnya menyambut.


"Semangat bang!" tambah seorang lagi.


"Allahu Akbar, Allaaaaahu Akbar."


adzan maghrib berkumandang dari masjid di seberang jalan. Sungguh, hidupku hari ini penuh dengan kebetulan-kebetulan yang sangat indah. Aku pun bergegas menuju masjid.


* * *


"Stop di sini aja deh mas." aku menepuk pundak abang ojol pelan.


Motor pun berhenti. Aku membayar dengan uang tunai. Lalu si Abang ojol pun pergi. Aku sengaja turun dekat lapangan, karena perutku terasa lapar dan tujuanku adalah warung nasi dekat gang. Aku berjalan sedikit lunglai.


"Nak Adi."


Langkahku terhenti. Suara Kakek Badrun. Aku tengok kanan kiri mencari sosok Kakek Badrun. Aku berbalik badan, Kakek Badrun sudah berdiri beberapa langkah di belakangku.


"Kek! Tolong kek." ucapku.


"Ada apa Nak Adi?"


"Sebelumnya, saya minta maaf kek. Kalung pemberian Kek Badrun sudah tidak saya simpan." aku berkata sambil menundukkan wajah.


"Memang di mana kalung itu sekarang nak? Apa kau menghilangkannya?" tanya Kakek Badrun.


"Ka-kalung itu ada di, ada di tangan Nek Iyah kek." jawabku ragu.

__ADS_1


Kakek Badrun diam. Kedua tangannya tolak pinggang.


"Ma-maaf kek, saya tidak bisa menjaga amanah Kek Badrun." tambahku.


"Sudah, tidak apa-apa. Walapun kakek merasa sangat khawatir sebenarnya. Memang, bagaiamana ceritanya sampai kalung itu bisa ada di Badriyah?" tanya Kakek Badrun.


Kuceritakan soal Yuda yang sengaja menukar kalung itu dengan sejumlah uang. Kuceritakan semua apa adanya, tak ada yang kulebih-lebihkan.


"Temanmu tak sepenuhnya bisa di salahkan, karena ia tidak tahu kalung itu bukan kalung sembarangan. Tapi yang jelas, kau harus ambil kembali kalung itu dari tangan Badriyah nak." ujar Kakek Badrun.


Kami pun terdiam.


"Kek, memang apa efek kalung itu kalau tetap di simpan oleh Nek Iyah?"


Kakek Badrun menghela nafas.


"Nak, itu yang kakek khawatirkan. Jika kalung itu di pegang oleh pemilik ilmu hitam, maka ia akan bertambah sakti. Badriyah itu penganut ilmu hitam, saya takut ia akan semakin sakti. Dan peliharaannya yang paling kuat, yaitu kuntilanak merah. Akan semakin kuat dan susah untuk di kalahkan." terang Kakek Badrun.


"Jadi, saya harus gimana kek? Apa yang harus saya lakukan?" tanyaku.


Kakek Badrun mengusap jenggotnya. Ia tampak sedang berpikir.


"Nak Adi, untuk saat ini memohon pertolongan dari Yang Maha Kuasa adalah jalan satu-satunya."


"Dengan cara apa kek? Shalat wajib tidak pernah saya tinggal, berdoa pun sudah. Apa yang kurang lagi?" tanyaku.


"Tiap jam tiga malam kau akan mendapat gangguan-gangguan, di saat itulah kau bangun dan laksanakan shalat tahajud. Tahajud bisa mengabulkan segala hajat." jelas Kakek Badrun. "Yang kakek takutkan, peliharaan Badriyah, si kuntilanak merah itu, bisa datang kapan saja untuk mengganggumu." sambung Kakek Badrun.


"Apa? Kuntilanak merah? Astaga, sosok itulah yang paling menyeramkan kek." ujarku kaget. "Lalu, apa kakek ada rencana untuk mengambil kembali kalung itu?" aku lanjut bertanya.


Kakek Badrun diam, raut wajahnya samar-samar terlihat sangat serius.


"Nak Adi, ada satu cara untuk mengambil kalung itu. Tapi ini tak sepenuhnya bisa berhasil, kita hanya bisa mengandalkan keberuntungan dan kebetulan." ucap Kakek Badrun.


"Maksudnya keberuntungan dan kebetulan apa kek?" tanyaku penasaran.


"Begini, tiap bulan purnama di minggu kedua tepatnya malam jumat kliwon, Badriyah sebagai penganut ilmu hitam akan pergi ke sumur batu di kaki Gunung Komang. Ia akan melakukan ritual mandi kembang di sana. Itu yang kakek maksud keberuntungan dan kebetulan. Keberuntungan agar kau bisa masuk ke dalam rumahnya mencari kalung itu sebelum Badriyah kembali saat tengah malam."


"Lalu, kebetulannya apa kek?" tanyaku.


Kakek Badrun menatapku tajam.


"Kebetulannya adalah Badriyah tidak membawa kalung itu di ritual mandi kembangnya." jelas Kakek Badrun.


"Kalau sampai Nek Iyah membawa serta kalung itu di ritualnya, bagaimana kek?" tanyaku.


Kakek Badrun menghela nafas panjang.


"Maka bahaya akan mengintai." jawabnya singkat.

__ADS_1


__ADS_2