
Semalaman Pak Thamrin tidak pulang, entah ia pergi kemana. Pagi-pagi, Nyai Asih sudah duduk bersimpuh di samping makam calon bayinya, makamnya terletak di belakang rumah. Ia menangis meratapi nasibnya, menangisi jabang bayinya, menangisi suaminya yang murka. Bi Tati hanya bisa menatap nyai dari dalam dapur.
Tiba-tiba saja nyai meringis kesakitan memegang perutnya, Bi Tati yang sadar segera mendekati nyai. Di bantunya nyai berdiri, kemudian di tuntun berjalan memasuki rumah.
"Teh." ucap Nyai Asih sambil melihat ke arah betisnya yang putih.
Bi Tati terkejut melihat darah yang mengucur membasahi betis Nyai Asih. Bi Tati segera membawa nyai masuk ke dalam kamar, menidurkan nyai di atas ranjangnya, kemudian melesat menuju dapur. Bi Tati kembali ke kamar nyai membawa sebaskom air hangat dan handuk kecil, di bersihkannya noda darah yang membasahi paha hingga betis nyai. Nyai Asih masih meringis kesakitan memegang perutnya.
"Nyai, kita harus segera ke mantri atau dukun beranak. Saya takut nyai kenapa-kenapa." saran Bi Tati.
Nyai Asih menggeleng, ia hanya menangis dan menangis. Setelah membersihkan darah nyai, Bi Tati pun keluar kamar. Tak lama Bi Tati kembali ke kamar nyai, membawa sepiring nasi dengan lauk pauk dan segelas teh hangat.
"Nyai makan dulu ya, biar perut nyai nggak kosong." ucap Bi Tati sembari merapatkan kursi kecil ke samping ranjang.
"Saya nggak nafsu makan teh." jawab nyai.
"Nyai harus makan, sedikit saja. Nyai harus segera pulih. Sedikit saja ya." Bi Tati menyodorkan sendok berisi nasi ke dekat mulut nyai, nyai menggeleng. "Nyai, saya mohon sedikit saja." ucap Bi Tati sambil mengangguk meyakinkan Nyai Asih.
Nyai pun membuka mulutnya dan menyuap sesendok nasi. Bi Tati senyum. Terbukti Bi Tati sangat sayang pada nyai, ia yang mengurus nyai. Bi Tati sangat telaten, ia tak mau nyai terus menerus larut dalam kesedihannya. Bi Tati ingin nyai sehat kembali.
***
Malamnya, Nyai Asih mengalami demam hebat. Tubuhnya menggigil, suhu badannya panas. Bi Tati dan ibu merawat nyai malam itu. Wajah nyai pucat, ia lemah. Sesekali nyai memegang perutnya yang kesakitan. Bi Tati tidak tega melihat kondisi nyai, sampai-sampai ia menitikkan air mata. Bi Tati geram dengan kelakuan Pak Thamrin, Pak Thamrin seolah tak peduli dengan keadaan istrinya. Hingga malam ini, Pak Thamrin belum juga pulang.
Ibu sedang mengompres dahi nyai dengan air, Bi Tati sedang ke belakang. Tiba-tiba nyai bangun dari tidurnya dan duduk, lalu muntah. Selimutnya basah oleh muntahan. Ibu dengan sergap menarik selimut. Tapi begitu selimut di tarik, ibu terkejut melihat darah sudah membanjiri sprei, darah pun mambasahi paha hingga betis nyai. Nyai Asih mengalami pendarahan hebat.
"Teh Tatiii! Teeehh! Teh Tatiiii!" ibu teriak memanggil Bi Tati.
Dengan tergopoh-gopoh Bi Tati berlari memenuhi panggilan ibu.
Bi Tati terhenyak melihat darah yang begitu banyak membanjiri kaki nyai.
"Panggil Mang Engkus, pindahkan nyai ke kamar saya teh!" suruh Bi Tati.
Ibu memanggil ayah, ayah datang dengan berlari ke kamar nyai.
"Mang, tolong gotong nyai dan pindahkan ke kamar saya!" ucap Bi Tati.
Ayah membopong nyai, di rebahkan tubuh nyai di atas kasur milik Bi Tati. Tubuh nyai menggigil hebat. Ibu kembali mengompres dahi nyai dengan handuk kecil.
"Mang, tolong angkat kasur milik nyai ke belakang ya." pinta Bi Tati.
Malam itu suasana menjadi tegang, namun Bi Tati menyuruh ibu dan ayah agar tidak panik dan tetap tenang.
Bi Tati kembali membersihkan darah yang mengotori kaki nyai. Bi Tati pun mengganti baju nyai yang kotor akibat terkena darah. Sambil sesekali menitikkan air mata. Ia amat sayang pada Nyai Asih, seolah menganggap Nyai Asih adalah anaknya sendiri.
Malam itu Bi Tati dan ibu berjaga sampai tidak tidur, guna merawat nyai. Dalam hati, Bi Tati amat geram dengan Pak Thamrin. Bisa-bisanya Pak Thamrin meninggalkan nyai dan pergi entah kemana. Sudah dua malam juragannya tak pulang.
***
Pagi harinya. Bi Tati, ibu, dan juga ayah sepakat untuk mencari Pak Thamrin. Keadaan ini tak bisa di biarkan terus-menerus, Pak Thamrin harus tahu kondisi nyai yang sedang sakit dan lemah. Ayah yang di tugaskan untuk mencari Pak Thamrin di kantornya, di rumah kedua adiknya, atau di mana pun.
Tak menunggu lama, ayah mengajakku untuk ikut menemani mencari Pak Thamrin.
Kami naik mobil milik Pak Thamrin, tujuan pertama adalah kantor. Ayah memarkir mobilnya, lalu turun menemui seorang petugas keamanan. Aku hanya menunggu di dalam mobil. Tak lama kemudian ayah kembali.
__ADS_1
"Juragan nggak ada, sudah dua hari nggak masuk kantor." ucap ayah sembari menghidupkan mesin mobil, dan kami meninggalkan kantor Pak Thamrin.
"Lalu sekarang mau kemana yah?" tanyaku.
"Ke rumah adik juragan."
Seharian kami mencari alamat rumah adik kandung Pak Thamrin yang di berikan oleh Bi Tati, bermodalkan tanya sana sini. Cukup lama kami berputar-putar mencari alamat, menjelang sore sampailah kami di sebuah rumah mungil.
"Ayo ikut turun Jang." ajak ayah.
Kami mendekat ke rumah mungil tersebut. Rumahnya biasa saja, tak mewah. Di depan rumah ada dua buah kursi usang serta sebuah meja kayu terlihat lapuk. Cat temboknya sudah banyak yang mengelupas. Ayah mengetuk pintu rumah pelan, lalu mengucap salam.
"Waalaikumsalam." jawab seorang wanita dari dalam. Pintu rumah di buka.
"Cari siapa pak?" tanya si wanita.
"Maaf, apa betul ini rumah Mbak Ajeng?" tanya ayah.
"Iya betul." jawabnya.
"Mbak Ajeng ada di rumah mbak?" ayah kembali bertanya.
"Saya Ajeng pak. Maaf ada perlu apa ya?" tanya si wanita yang mengaku Mbak Ajeng.
"Oh Mbak Ajeng, maaf mbak mengganggu waktunya. Saya Engkus, saya yang bekerja di rumah Juragan Thamrin. Em, boleh bicara sebentar mbak?"
"Boleh pak. Silakan masuk." Mbak Ajeng menyuruh kami masuk.
Dalam rumah tak banyak perabotan, rumah Mbak Ajeng terkesan biasa saja, berbeda dengan rumah Pak Thamrin. Kami pun duduk di bangku kayu panjang.
Ayah pun menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke rumah Mbak Ajeng. Serta menceritakan duduk permasalahan yang sedang di hadapi keluarga Pak Thamrin. Wajah Mbak Ajeng memerah, ia nampak kesal.
"Maaf pak, saya sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan Mas Thamrin. Mana mau dia bertemu saya, kalau pun dia datang ke sini nggak akan saya izinkan masuk. Saya sudah nggak peduli dengan kehidupannya dan keluarganya, saya justru kasihan dengan Nyai Asih, mau saja nyai menikah dengan lelaki serakah macam Mas Thamrin." ujar Mbak Ajeng.
"Mungkin di rumah Mbak Gendis pak. Coba bapak datang saja ke sana. Barangkali Mas Thamrin ada di sana. Tapi saya tak yakin dia ada di sana, karena Mbak Gendis juga sangat membenci Mas Thamrin."
Mbak Gendis? Apa mungkin adik Pak Thamrin yang lain? Bi Tati hanya memberi tahu soal Mbak Ajeng, ia tak menyebutkan nama Mbak Gendis sedikit pun.
"Boleh saya minta alamat Mbak Gendis?" pinta ayah. Mbak Ajeng mengambil secarik kertas dan pena, lalu menuliskan sebuah alamat dan memberikannya ke ayah.
"Terima kasih mbak, maaf kalau saya mengganggu waktunya." ucap ayah pamit.
"Iya pak. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Nyai Asih."
Aku dan ayah pun meninggalkan rumah Mbak Ajeng. Kami kembali mencari sebuah alamat yang di berikan oleh Mbak Ajeng. Alamat rumah Mbak Gendis.
Hari semakin sore, matahari berwarna jingga kemerahan. Cahayanya menyatu bersama arak-arakan awan, melukiskan keindahan yang tak bisa di ungkapkan.
Langit sudah gelap, cukup lama juga kami mencari-cari rumah Mbak Gendis. Kami sampai di depan sebuah rumah kecil di kelilingi kebun pepaya. Cahaya lampu di depan rumah berwarna kuning. Ayah mengajakku lagi untuk turun.
"Assalamualaikum." ayah mengucap salam dan mengetuk pintu rumah dengan pelan.
Tak ada jawaban.
"Assalamualaikuum." kali ini ayah lebih kencang mengucap salam.
__ADS_1
Lagi-lagi tak ada jawaban.
"Pak! Cari siapa pak?" panggil seorang pria dari pinggir jalan. Ayah pun mendekat ke pria tersebut.
"Maaf pak, saya mau tanya. Apa betul itu rumah Mbak Gendis?" tanya ayah.
"Iya betul pak. Bapak cari Neng Gendis ya? Neng Gendis kalau maghrib gini memang tak ada di rumah pak, ia pasti di surau sedang mengajar ngaji." jawab si pria.
"Oh begitu. Boleh saya tahu di mana surau itu pak?" tanya ayah.
"Itu di ujung jalan, ada di sebelah kanan. Dekat kok." tunjuk si pria ke sebuah jalan yang gelap.
Aku dan ayah pun berjalan menuju surau. Surau adalah sebuah bangunan kecil yang di gunakan untuk tujuan keagamaan, seperti shalat, mengaji, dan sebagainya. Sebetulnya fungsi surau sama saja dengan masjid atau mushola.
Aku dan ayah terlebih dulu melakukan shalat maghrib. Memang tampak sekelompok anak kecil yang sedang belajar mengaji di bimbing oleh seorang perempuan manis dengan mukena yang menutup seluruh tubuhnya, itu pasti Mbak Gendis. Di dalam surau ada beberapa pria sedang membaca quran. Setelah melaksanakan shalat maghrib, kami menunggu Mbak Gendis selesai mengajar quran pada anak-anak.
Adzan isya berkumandang, anak-anak kecil berduyun-duyun mengambil air wudhu. Kemudian ayah mendekati perempuan bermukena tersebut.
"Assalamualaikum mbak."
"Waalaikumsalam."
"Apa benar mbak yang bernama Gendis?" tanya ayah.
"Iya betul pak. Ada apa ya?" tanya Mbak Gendis.
"Mbak, ada yang mau saya bicarakan dengan Mbak Gendis."
"Soal apa pak?" tanyanya.
"Juragan saya, Pak Thamrin. Boleh kita bicara di luar surau mbak?" pinta ayah.
"Oh boleh boleh. Sebentar ya pak, saya mengatur anak-anak dulu." ujar Mbak Gendis.
Aku dan ayah menunggu di luar surau, sementara Mbak Gendis mengatur anak muridnya untuk tertib masuk ke dalam surau dan duduk berbaris membentuk shaf shalat. Tak lama, Mbak Gendis menghampiri kami.
"Memang ada apa dengan Mas Thamrin?" tanya Mbak Gendis.
Ayah pun menjelaskan tujuan datang menemui Mbak Gendis, tak lain untuk mencari Pak Thamrin yang tak pulang sudah dua hari.
"Mohon maaf pak, tapi Mas Thamrin tidak ada di rumah saya."
Ayah pun menceritakan masalah yang sedang di hadapi keluarga juragannya, dan menceritakan kondisi Nyai Asih.
"Astaghfirullah Mas Thamrin, dari dulu nggak pernah berubah. Pak sejujurnya, saya sendiri maupun Mbak Ajeng memang sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu dengan Mas Thamrin. Bukan kemauan saya dan Mbak Ajeng, tapi memang Mas Thamrin sendiri yang seolah sudah tidak menganggap kami sebagai saudaranya." jelas Mbak Gendis.
Apa yang sebenarnya terjadi antara mereka bertiga?
"Mbak, punten banget. Maaf kalau saya lancang. Memang sebetulnya ada apa dengan Mbak Gendis, Mbak Ajeng, dan juragan? Maaf pisan, saya bukan mau ikut campur urusan keluarga mbak, tapi saya kasihan melihat kondisi Nyai Asih yang sedang sakit karena juragan pergi. Saya hanya peduli dengan kesehatan nyai." ujar ayah.
Mbak Gendis diam.
"Saya mengerti perasaan bapak. Tapi maaf, saya tidak bisa menjelaskan soal permasalahan yang keluarga kami hadapi." jawab Mbak Gendis. "Begini saja pak, Insya Allah saya akan bantu cari Mas Thamrin, demi Nyai Asih. Insya Allah juga saya akan menjenguk Nyai Asih dan mengajak Mbak Ajeng." lanjut Mbak Gendis.
Ayah mengucapkan banyak terima kasih ke Mbak Gendis, lalu kami pun pamit pulang. Ayah khawatir dengan kondisi Nyai Asih di rumah, ayah takut Bi Tati dan ibu kewalahan mengurus Nyai Asih. Karena tak ada lelaki lain di rumah itu. Ayah menginjak pedal gas kuat, ia ingin segera sampai. Semoga di rumah baik-baik saja.
__ADS_1