Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 164


__ADS_3

"Assalamualaikum." ucapku seraya masuk ke kamar.


Mas Gun sedang asik main game di ponselnya.


Ia segera melepas headset.


"Gimana Di? Apa kata polisi?" tanya Mas Gun.


Aku duduk menyandarkan tubuhku ke dinding kamar. Kaki kuselonjorkan. Ah, nyamannya.


"Alhamdulillah. Yuda nggak bersalah Mas. Terbukti Yuda nggak menjual mobil rongsokan. Polisi sudah menyelidiki mobil yang di pakai korban sampai menemui montir yang memeriksa mobil Yuda." terangku.


"Terus?"


"Ya terbukti bukan masalah di mobilnya. Tadi polisi juga bilang, ada beberapa faktor penyebab kecelakaan itu." ujarku.


"Apa aja faktornya Di?" tanya Mas Gun lagi.


"Antara si pengendara mengantuk, dan bisa jadi berkendara dalam pengaruh alkohol atau narkotik." jawabku.


"Alhamdulillah. Terus Yuda udah pulang?"


"Udah. Tadi dia antar gue sampai depan gang. Yuda salam juga buat lo." ucapku.


Mas Gun mengangguk.


"Lo udah makan Di?" tanya Mas Gun.


"Udah Mas. Lo udah makan?" tanyaku balik.


"Belum. Gue nunggu lo datang, takutnya belum makan. Kalau lo udah makan, gue beli makan buat sendiri aja."


Aku pamit untuk mandi. Mas Gun pergi keluar kost untuk membeli makan. Saat mandi, otakku berpikir tentang pesan Kakek Halim saat mimpi waktu itu. Aku harus berhati-hati dengan orang terdekatku. Siapa gerangan yang dimaksud Kakek Halim? Sial. Kenapa ada saja teka teki yang membuatku pusing memikirkannya.


Selesai mandi, kulaksanakan shalat isya. Mas Gun belum juga kembali membeli makan. Pergi kemana ia mencari makan?


Aku duduk di ruang depan kamar. Pintu kamar kubuka lebar. Angin sepoi menyeruak masuk ke dalam kamar. Menyejukkan. Sudah beberapa hari ini aku tak melihat Kang Ujang, Nek Iyah, dan penghuni kost lainnya. Ela dan Dini. Kemana mereka? Apa mereka yang pernah disebut sebagai persekongkolan oleh Kakek Badrun?


Suara motor Mas Gun terdengar di kejauhan. Ia datang membawa sekantung plastik nasi bungkus.


"Cari makan dimana Mas? Lama banget." tanyaku.


"Iseng aja gue muter-muter kampus. Ujung-ujungnya beli nasi goreng." jawab Mas Gun.


Mas Gun duduk, membuka bungkus nasi goreng. Asap tipis mengepul begitu bungkusnya dibuka. Terlihat menggoda. Namun perutku terlalu kenyang untuk sekedar mencicipi. Nasi goreng terlihat berwarna coklat, minyaknya terlihat mencilak. Sebuah telur dadar dengan hiasan daun bawang berwarna hijau tampak lebar menutupi sebagian nasi. Ada sejumput acar timun dan wortel di pinggirannya. Ditambah sebungkus krupuk berwarna putih warna-warni di pinggirannya.


"Kenapa lo lihatin aja? Mau?" Mas Gun menawarkan.


"Enggak Mas. Gue udah kenyang." jawabku.


Mas Gun mulai menyuap nasi goreng.


"Eh Di, tadi gue ketemu Kang Ujang di depan gang. Dia tanya kabar lo." ucap Mas Gun sembari mengunyah nasi goreng.


"Kang Ujang tanya kabar gue? Tumben banget. Terus lo bilang apa?" tanyaku.


"Ya gue bilang baik-baik aja. Masa gue bilang lo sakit."


"Terus?" tanyaku lagi.


"Terus apa? Nggak ada terusannya lagi. Udah gitu aja." sahut Mas Gun.


"Kang Ujang nggak bilang apa-apa lagi?" tanyaku.


Mas Gun memotong telur dadar dengan ujung sendok. Mengumpulkannya bersama nasi goreng dan beberapa potong acar timun. Kemudian menyuapnya.


"Enggak tuh. Dia cuma tanya kabar lo aja." jawab Mas Gun.


"Di, besok lo kuliah?" tanya Mas Gun.

__ADS_1


"Kuliah. Kenapa Mas?" tanyaku.


"Bareng ya. Gue udah lama nih nggak kuliah."


Apa orang terdekat yang di maksud Kakek Halim itu, Kang Ujang. Rasa-rasanya hampir tak mungkin. Ia justru orang luar Nek Iyah. Terbukti saat Keluarga Pak Rahmat dari Cirebon ingin melakukan ritual balas dendam pada kuntilanak merah itu, ia ingin kami tak ikut campur. Dan menolak untuk meyaksikan ritual itu. Malah Kang Ujang tampak marah pada Hendra.


Siapa orang terdekatku?


Kepalaku pening memikirkannya.


"Heh! Lo kenapa sih bengong gitu Di? Gue jadi takut nih." tegur Mas Gun.


"Hah? Bengong? Enggak ah. Siapa yang bengong?" tepisku.


"Ada masalah apa lagi Di?" tanya Mas Gun.


"Lo selesain dulu makannya. Nanti gue cerita." balasku.


Mas Gun dengan cepat menyelesaikan makan. Sebungkus nasi goreng dengan telur dadar sudah ludes, bersarang di dalam perutnya. Mas Gun menenggak segelas air putih. Lalu bersendawa dengan keras.


"Nah, udah kelar nih. Ayo buruan cerita!" pinta Mas Gun.


"Buang dulu tuh bungkus nasi goreng." suruhku.


Mas Gun sungut-sungut. Ia keluar kamar, melemparkan bekas bungkus nasi goreng ke tong sampah di depan kamar. Lalu duduk di hadapanku.


"Udah. Buruan cerita!" pintanya lagi.


"Ngerokok dulu. Mulut nggak enak kalau habis makan belum ngerokok." suruhku.


"Lo apa-apaan sih Di, mau cerita aja banyak banget syaratnya." gerutu Mas Gun seraya mengambil sebatang rokok.


Mas Gun membakar rokoknya.


"Nah, udah ngerokok nih. Cepet cerita!" suruhnya.


Aku tersenyum.


Mas Gun melemparkan bungkus rokok ke arahku. Ia tampak kesal. Aku hanya cengengesan sambil membuat secangkir kopi.


"Mau cerita aja ribet banget nih anak." Mas Gun sungut-sungut.


Kopi sudah jadi. Kuseruput sedikit. Nikmat.


"Mau apa lagi lo? Makan udah kelar, bungkus nasi udah dibuang, ngerokok udah, bikin kopi juga udah. Mau cuci baju dulu baru cerita?" tukas Mas Gun.


"Hehehehehe. Oke oke. Gue cerita nih. Jangan marah-marah dong, nanti gantengnya berkurang lho." ledekku.


"Udah buruan cerita." pinta Mas Gun.


"Jadi gini Mas. Setelah gue bersama Yuda melihat jenazah korban kecelakaan saat di rumah sakit. Besar kemungkinan orang itu menjadi tumbal untuk kuntilanak merah." aku membuka cerita.


"Hah, kok bisa? Lo yakin Di?" tanya Mas Gun terkejut.


"Dilihat dari ciri-ciri jenazah korban kecelakaan, kondisinya sama persis dengan jenazah almarhumah Mbak Wati dan almarhum Pak Rahmat." terangku.


"Memang gimana kondisi jenazah Mbak Wati dan Pak Rahmat?" tanya Mas Gun lagi.


"Tubuhnya menegang. Matanya melotot lebar. Dan lidahnya menjulur keluar. Serta urat-urat pembuluh darah di sekujur tubuhnya menonjol keluar." jelasku.


"Hiiiiiyy. Serem amat Di."


"Dan yang lebih membagongkan. Lo tahu apa Mas?" tanyaku.


Mas Gun menggeleng.


"Korban tumbal itu nantinya akan menjadi demit pengikut kuntilanak merah."


Mas Gun menelan ludah.

__ADS_1


"Itu artinya, kalau sudah jadi demit pengikut kuntilanak merah maka mereka akan menyerang kita." sambungku.


Mas Gun mematikan rokoknya. Ia kembali mengambil sebatang, lalu membakarnya.


"Memang seperti itu akhirnya Di?" tanya Mas Gun.


"Iya. Gue dan Tika sudah melawan demit Mbak Wati dan Pak Rahmat. Maka, sebentar lagi akan ada demit lagi yang menyerang." jawabku.


Mas Gun diam.


"Terus?" tanya Mas Gun.


"Ah gue baru ingat. Ternyata, malam hari sebelum terjadi kecelakaan itu. Korban sempat bersama seorang wanita. Polisi mendapat laporan kalau ditemukan jenazah wanita yang kondisinya sama persis dengan korban kecelakaan itu Mas. Seperti kondisi yang tadi gue jelaskan. Setelah polisi memeriksa GPS yang terpasang di mobil dan cctv di beberapa tempat, memang terbukti kalau korban malam harinya bersama wanita itu. Namun wanita itu diantar korban sampai di sebuah jalan. Entah, itu jalan rumah si wanita atau bukan." jelasku pada Mas Gun.


"Terus?" tanya Mas Gun.


"Wanita itu tewas dengan kondisi tubuh yang sama persis dengan kondisi tubuh korban kecelakaan."


Mas Gun menyeruput kopiku.


"Jadi?" tanya Mas Gun lagi.


"Jadi, ada dua korban tumbal kuntilanak merah. Yang artinyaa.."


"Akan ada dua demit yang siap menyerang kita. Iya?" sahut Mas Gun.


Aku mengangguk.


"Siapa wanita itu Di?" tanya Mas Gun.


"Entah. Polisi nggak menerangkan siapa wanita itu." jawabku.


Mas Gun diam.


"Kita harus siap-siap Di. Ini nggak main-main. Kuntilanak merah itu sudah menyusun rencana untuk menyerang kita. Lo punya rencana apa Di?" tanya Mas Gun.


"Rencana apa Mas? Gue sama sekali nggak ada rencana. Gue hanya berserah diri sama Gusti Allah." jawabku.


"Lo pasrah gitu?"


"Enggak Mas. Gue nggak pasrah. Gue akan melawan semampu gue. Nggak akan gue biarkan kuntilanak merah itu semakin menjadi-jadi. Tapi kita butuh pertolongan dari Gusti Allah Mas. Gue akan sangat siap, kapan pun kuntilanak merah itu datang." balasku.


Tok tok tok.


Kami menoleh ke arah pintu.


Tika sudah berdiri di depan pintu yang terbuka lebar.


"Bahas apa nih? Kok gue nggak diajak?" ucap Tika dengan wajah datar.


"Tik, kebetulan lo datang. Sini masuk!" suruh Mas Gun.


Tika duduk bergabung. Kami membuat lingkaran kecil.


"Ada kabar apa Di?" tanya Tika.


"Gawat Tik. Ini gawat. Gawat darurat." sahut Mas Gun.


Tika cengengesan.


"Apa yang gawat Mas?" tanya Tika.


"Di, ceritain ke Tika Di!" Mas Gun menyuruhku.


"Yeeee, gue kirain lo yang mau cerita ke Tika." sungutku.


Mas Gun terkekeh.


"Udah lo aja, kalau lo yang cerita lebih seru. Hehehehe. Masa lo suruh gue? Nanti jadinya stand up comedy. Hehehehe." ujar Mas Gun.

__ADS_1


Aku menghela napas.


__ADS_2