Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 49


__ADS_3

Aku sedikit berlari menuju kost, menuruni jalan menuju kost, mendekati rumah depan, dan sampai di gerbang. Ku buka gerbang perlahan kemudian menutupnya. Huh, lelahnya. Aku mengambil nafas dan menghelanya. Aku diam sebentar di gerbang, melihat ponselku yang tadi bergetar.


Mas Gun.


- Besok kita ngopi yuk! -


Ku balas.


- Siiipp, ngopi di langgananku yuk. Kopinya uenak tenan mas. -


- Woke, - balas Mas Gun singkat, sudah lama juga aku tak mengobrol dengannya. Kemarin tak sempat mengobrol, karena pikiran dan hatiku sedang gundah.


Ah, hampir saja terlupa, aku ingin melapor ke Nek Iyah soal cairan hitam yang sering keluar dari lantai ruang tengah kamarku. Mumpung aku ingat, dan mumpung pintu rumah Nek Iyah masih terbuka. Aku mendekat ke arah teras rumah Nek Iyah. Selalu bersih, selalu rapi, terasnya saja membuatku betah.


"Assalamualaikum nek. Nek Iyah!" aku mengetuk pintu yang tak tertutup.


Mataku jelalatan, merangsek ke dalam rumah mencari sosok Nek Iyah. Dimana Nek Iyah?


"Assalamualaikuuumm. Nek Iyah!" salamku kali ini lebih keras.


Hening.


Ku buka pintu yang tak tertutup. Setengah badanku sudah masuk ke dalam. Aku melihat ke dalam rumah Nek Iyah, lantainya berwarna hitam. Perabot rumahnya rapi. Ada sofa tua di sudut sebelah kiri dengan hiasan vas bunga di mejanya. Cahaya lampu di dalam sedikit remang. Aku melihat tangga kayu di sebelah kanan, persis di samping kamar dengan pintu bertirai merah tua. Sedangkan di ujung depanku, ada tirai lagi berwarna sama, sepertinya menuju dapur atau pintu belakang rumah.


"Assalamualaikum. Nek Iyah, permisi nek."


Tak ada jawaban lagi.


Pada dinding banyak terpajang foto, ku perhatikan dengan seksama tiap figura yang menempel di dinding. Ada pria gagah mengenakan seragam prajurit, lengkap dengan topinya. Wajahnya terkesan tegas, terlihat dari rautnya. Kumis tipis dan mata besar, alisnya lebat. Sungguh gagah, apa ini foto almarhum Pak Thamrin? Di sampingnya ada foto pernikahan sepasang insan, lelaki gagah tadi dan seorang perempuan bertubuh langsing, parasnya manis. Ini Nek Iyah sewaktu muda dulu.


"Assalamualaikum." aku kembali mengucap salam. Lagi-lagi tak ada jawaban.


Kriiett kriiett.. ngiik ngiik ngiik..


Eh, suara apa itu? Aku mencari-cari asal suara.


Tiba-tiba, tirai kamar di samping tangga terbuka perlahan. Ada bentuk menyembul keluar dari balik tirai, bukan bentuk manusia. Ini lebih pendek. Makin keluar, dan tirai pun tersingkap. Aku kaget bukan main, seorang perempuan kurus duduk di sebuah kursi roda. Tangan si perempuan yang kecil menggerakkan roda. Wajahnya pucat, rambutnya panjang tergerai sebagian menutup wajahnya, matanya sayu, mulutnya terbuka dengan liur yang selalu menetes ke baju dasternya. Siapa perempuan ini?


"Aa.. aa.. auu. Ee..i." suaranya tak jelas. Aku tak paham dengan yang ia katakan.


"E..i, aa..a..nghh. E..iii." kini ia meneriakiku. Aku jadi takut, perlahan aku mundur ke luar. Perempuan masih saja berteriak sesuatu yang tak ku mengerti.


"E..ii! a..anhh. e..aii!" ia masih meneriakiku.


Tiba-tiba, matanya terbelalak. Lalu hitam matanya tak nampak, menjadi putih. Matanya putih semua. Lidahnya menjulur keluar. Liur makin banyak dan deras menetes membasahi bajunya. Aku bergidik melihatnya. Tak lama, ia pun kejang. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Aku lari tunggang langgang menuju kamar kost, aku takut di salahkan. Ku tinggalkan perempuan itu di kursi roda. Dan tak jadi melapor soal cairan hitam di kamarku.

__ADS_1


"Woii, ngapain lo lari-lari Di?" panggil Bang Oji.


"Hah hah.. itu.. Hah hah.. itu bang." jawabku dengan nafas tersengal-sengal.


"Itu itu apaan? Duduk dulu, ambil nafas dulu!" suruh Bang Oji, ia sedang mencuci motornya. Hanya menggunakan celana pendek dan kutang.


Aku pun duduk di teras depan kost-ku. Menenangkan diri sembari mengatur nafas. Kaki ku selonjorkan. Bang Oji menghampiriku.


"Kenapa Di? Habis liat setan? Hehehehe." tanya Bang Oji.


"Hah.. bukan bang." jawabku seraya meletakkan tas kuliah di sebelahku.


"Terus kenapa lari-lari? Muka lo kelihatan panik lagi, kenapa sih?" tanya Bang Oji.


Aku mengambil nafas dalam, lalu menghembuskannya.


"Bang, Nek Iyah nggak tinggal sendirian kan di rumah itu?" tanyaku.


"Iya, memang kenapa?" jawab Bang Oji.


"Siapa perempuan yang di kursi roda bang? Nggak mungkin lo nggak tahu. Siapa bang?" tanyaku kembali.


"Ooh, jadi lo lari habis ketemu Mbak Wati ya? Hahahahaha."


Mbak Wati, siapa itu?


"Perempuan yang lo lihat di kursi roda itu Mbak Wati namanya, anak Nek Iyah." jelas Bang Oji.


"Terus?" tanyaku lagi.


"Terus apa? Hahahaha."


"Ceritain bang soal Mbak Wati. Gue baru pertama kali ketemu soalnya, jadi agak seram lihatnya. Hehehehe." pintaku.


"Aaahh bikin kerjaan aja lo. Nanti deh, gue selesain dulu cuci motor. Tugas lo bikin kopi ya, nanti baru gue mau cerita. Sekalian lo ganti semua baju bekas kuliah ya." tutur Bang Oji seraya kembali mencuci motornya.


"Hehehehehe. Siap bang, cuma bikin kopi doang sih cincai laaahh." balasku.


"Emang kenapa baju bekas kuliah gue? Bau ya? Hahahahaha."


"Berasa dekat tong sampah gue! Hahahaha." sahut Bang Oji sambil menyikat ban motor.


Sesuai perintah Komandan Oji, aku pun akhirnya mandi tak lupa ku laksanakan shalat maghrib. Setelah selesai, aku menyambangi Bang Oji yang masih berkutat pada motornya.


"Woii bang, udah wangi nih. Mana kopinya?" panggilku ke Bang Oji.

__ADS_1


"Itu di dalam Di, di ruang depan. Airnya masak dulu di teko pemanas ya. Gelas ada di rak, kopi sama gula ada di lemari kecil."


"Siap komandan!" aku memberi hormat ke Bang Oji. Ia hanya senyum kecut.


Aku membuat dua cangkir kopi, pesanan Bang Oji seperti biasa, dua sendok kopi dan setengah sendok gula. Kopiku, biasa saja, tak terlalu pahit dan tak terlalu manis.


"Kita nongkrong di mana nih?" tanyaku ke Bang Oji.


"Depan kamar lo aja Di, di sini becek." ujar Bang Oji.


Aku membawa dua cangkir kopi ke depan kamarku, dan duduk bersila di lantai. Tak lama Bang Oji menghampiriku dan duduk di sampingku. Mengambil sebatang rokok lalu membakarnya, menghisapnya dalam dan menghembuskan asap lebatnya ke atas.


"Gimana kuliah, lancar?" tanya Bang Oji.


"Ya gitu deh. Lancar-lancar aja." jawabku.


"Jadi tadi gimana ceritanya, kok lo bisa lari ngelihat Mbak Wati?" tanya Bang Oji.


Ku ceritakan dari awal maksudku menemui Nak Iyah, sampai akhirnya ku jelaskan aku bertemu dengan Mbak Wati yang berbicara tak jelas, dan akhirnya Mbak Wati kejang-kejang di atas kursi roda.


"Hahahaha. Cuma gara-gara itu lo sampai lari Di?" tanya Bang Oji.


"Iyalah, gue takut bang. Memang Mbak Wati itu siapanya Nek Iyah bang?" tanyaku.


"Gini Di, Mbak Wati itu anak angkatnya Nek Iyah. Mbak Wati dulu di adopsi sama almarhum Pak Thamrin. Sebetulnya, Mbak Wati itu anak dari adiknya Pak Thamrin, alias masih keponakan Pak Thamrin sih. Karena, sejak Pak Thamrin menikah dengan Nek Iyah, mereka sama sekali nggak di karunia anak." jelas Bang Oji.


Aku diam mendengarkan cerita Bang Oji.


"Pak Thamrin dulu punya dua istri. Sejak istri pertamanya sakit-sakitan, akhirnya Pak Thamrin menikah untuk kedua kalinya dengan Nek Iyah." sambung Bang Oji.


"Ooh gitu bang. Nah, kalau lo sendiri ada hubungan saudara apa sama almarhum Pak Thamrin? Waktu itu lo sempat bilang ke gue, lo punya hubungan saudara sama almarhum." tanyaku.


"Sebenarnya gue nggak ada hubungan saudara sama almarhum, justru gue keponakan Nek Iyah. Ibu gue, adik dari Nek Iyah." jelas Bang Oji.


"Ooh lo keponakan Nek Iyah ternyata. Memang almarhum Pak Thamrin berapa bersaudara bang?" aku lanjut bertanya.


"Mereka tiga bersaudara. Pak Thamrin anak paling sulung dan satu-satunya lelaki di keluarganya. Semua adiknya perempuan. Mbak Wati, adalah anak dari adik Pak Thamrin." jelas Bang Oji.


"Waaah, silsilahnya membingungkan juga ya. Hehehehe." ujarku.


"Terus, Mbak Wati sakit apa bang?" tanyaku kembali.


"Sakit Mbak Wati gue juga nggak terlalu tahu. Yang jelas sakitnya sudah tahunan. Karena nggak sembuh-sembuh, akhirnya Mbak Wati jadi lumpuh begitu." terang Bang Oji.


Malam ini banyak informasi mengenai keluarga Nek Iyah yang ku dapat dari Bang Oji. Sambil sesekali menyeruput kopinya, Bang Oji terus bercerita soal keluarga Nek Iyah. Menurut cerita Bang Oji, ketiga adik dari almarhum Pak Thamrin sudah meninggal, jauh sebelum Pak Thamrin di panggil Yang Maha Kuasa.

__ADS_1


Cukup lama aku mengobrol dengan Bang Oji, sampai aku tak sadar sudah dua jam berlalu. Kopi pun sudah tersisa ampasnya, dan rokok Bang Oji pun sudah habis ludes di hisapnya.


__ADS_2