Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 181


__ADS_3

"Mati kita Di. Mati kita." ucap Mas Gun. Suaranya bergetar ketika kami bersama-sama menyaksikan puluhan kuntilanak putih turun dari atas pohon.


Aku menelan ludah. Tanganku gemetar. Dengkulku lemas.


"Di, ada rencana apa Di? Lawan atau pasrah?" tanya Mas Gun lagi.


"Lawan Mas! Gue nggak mau mati konyol di tangan kuntilanak. Nggak keren. Cita-cita gue belum kesampaian. Gue harus tetap hidup." jawabku dengan penuh keyakinan.


"Kita doang berdua nih?" tanya Mas Gun.


"Mas,"


"Apa?"


"Hahahahahahaha." aku terbahak.


"Di, lo kenapa Di?" Mas Gun bertanya.


Aku masih tertawa terbahak.


"Di, lo kerasukan ya? Lo bukan Adi ya?"


Plakk. Mendadak Mas Gun menampar wajahku.


Terasa panas dan perih.


"Lo apa-apaan sih Mas?" tanyaku heran.


"Alhamdulillah. Gue kirain lo kerasukan, makanya gue tampar." ucap Mas Gun.


"Tadi kenapa ketawa-ketawa sih Di? Apa yang lucu?" tanya Mas Gun.


Aku senyum.


"Lo udah siap gila-gilaan?" tanyaku dengan senyum menyeringai.


"Eh, maksudnya?" tanya Mas Gun.


"Nggak usah mikir esok hari. Intinya malam ini kita bersenang-senang Mas. Bantai semua kuntilanak itu. Hehehehehe. Siap nggak?" ujarku sambil mengedipkan sebelah mata.


Mas Gun tersenyum, ia mengangguk pelan.


"HAHAHAHAHAHAHA." Mas Gun terbahak. Tawanya lebih keras dibandingkan aku.


Kang Ujang membuka matanya. Kemudian ia berdiri dengan senyum angkuh. Lalu terkekeh.


"Tawa saja sepuasmu gembrot! Sebentar lagi kau tak akan bisa tertawa lagi." Kang Ujang berucap.


Di hadapan kami, berdiri puluhan kuntilanak memakai gaun putih. Rambutnya yang tergerai panjang, mambuat pemandangan semakin menyeramkan.


"HAHAHAHAHAHAHA." Mas Gun masih saja terbahak.


Kang Ujang tampak terganggu dengan tawa Mas Gun.


"AYO KITA BANTAI DIIIII! HAHAHAHAHA. GUE SANGAT BERSEMANGAT NIH. HAHAHAHAHA." teriak Mas Gun.


Mendengar ucapannya, darahku seketika mendidih. Adrenalinku membuncah, tak tertahan. Tanganku gemetar, bukan ketakutan. Gemetar ingin membasmi para kuntilanak itu. Napasku menghembus kuat, bagai banteng.


"HIYAAAAAAAAAA!" aku dan Mas Gun teriak bersiap menyerang.


Tanganku bersinar biru, sedangkan Mas Gun bersinar kuning.


Baru beberapa langkah kami berlari.


Tiba-tiba..


SYUUTT. DUAARR.


SYUUTT. DUAARR.


SYUUTT. DUAARR.


SYUUTT.


DUAARR.


DUAARR.


Beberapa kuntilanak meledak terkena cahaya berwarna kuning.


Kang Ujang terhenyak.


Angin bertiup kencang.


"Kok pada nggak ngabarin sih?"

__ADS_1


Aku dan Mas Gun menoleh ke belakang.


Tika!


Tika berjalan pelan mendekatiku dan Mas Gun, tangannya bersinar berwarna kuning.


"Oohh jadi dia biang keladinya?" tanya Tika begitu melihat Kang Ujang.


Tika berdiri diantaraku dan Mas Gun.


"Kenapa dia belum mati? Lo berdua nggak bisa ngalahin dia?" tanya Tika menunjuk Kang Ujang.


Kang Ujang tampak geram.


"Payah lo semua. Lawan tukang kebun aja nggak menang." lanjut Tika.


Gila, ucapan Tika sangat menusuk.


Raut wajah Kang Ujang semakin kesal mendengar ucapan Tika.


"Yuk ah, gue ngantuk nih. Kita selesain sekarang deh." ajak Tika, ia memutar-mutar tangannya.


"BANYAK BACOT KAU PEREMPUAN SUNDAL! HEHEHEHEHE. MALAM INI, KAU AKAN BERGABUNG DENGAN NENEKMU DI NERAKA." teriak Kang Ujang.


Tika senyum kecut.


"Cih. Tukang kebun sok kuat. Beraninya mengandalkan demit. Suruh demit peliharaan lo maju semua!" balas Tika.


Aku bersiap. Tanganku memancarkan sinar biru.


Mas Gun memasang kuda-kuda. Tangannya bersinar kuning.


Tika berdiri santai, tangannya bersinar kuning.


"SERAAAANNGGG!!" teriak Kang Ujang dengan wajah bengis.


Seketika terdengar tawa mengikik dari puluhan kuntilanak. Mereka terbang berkelompok, mendekat ke arah kami bertiga. Angin bertiup sangat kencang.


Wuuussshhh. Mas Gun membuat perisai sangat besar. Perisainya membentuk kubah, lalu menutupi kami.


Luar biasa. Mas Gun kekuatannya sangat luar biasa.


"Tik, habiskan!" ucap Mas Gun.


Garis panjang bersinar kuning melayang menyerang sekelompok kuntilanak.


DUUUUAAARRRR.


Sekelompok kuntilanak musnah, tubuh mereka terbelah dan meledak terkena serangan Tika.


"Grrraaaaaaaaa!", beberapa kuntilanak menyerang dari balakang kami.


"Hiyaaaaaa!" kulemparkan beberapa bola yang bersinar biru


DUARR.


DUARR.


DUARR.


Beberapa kuntilanak musnah.


"HABISI MEREKAAAAA!" Kang Ujang berteriak.


Seketika kuntilanak berkumpul, mereka semua menempel pada perisai kubah yang dibuat oleh Mas Gun, lalu memeluknya.


Pandangan kami tertutup oleh banyak ya kuntilanak yang menempel di perisai. Wajah mereka menyeramkan. Mata mereka melotot melihat kami bertiga.


"Aaaaarrrggghh. Gu-gue. U-udah nggak k-ku-kuat lagiiiiii." ucap Mas Gun sembari mencoba menahan serangan kuntilanak itu.


"Mas. Tahan Mas!" ucapku.


Mas Gun menggeleng dengan mata yang terpejam.


"AAAAAARRRRGGGHHHHH!" Mas Gun berteriak.


BUUUUUMMMMM. Perisai meledak.


Tubuhku terasa melayang.


Dan..


BUGG. Tubuhku membentur sebuah pohon dan jatuh di tanah.


Kulihat Mas Gun meringis kesakitan.

__ADS_1


Tika terduduk bersandar pada pohon, ada luka gores di pipinya yang mengeluarkan darah.


Badanku nyeri di seluruh bagian. Napasku tersengal. Ya Tuhan, bagaimana ini? Ini baru permulaan, mareka baru mengirim para begundal kuntilanak merah itu saja. Belum pemimpinnya. Tenagaku terasa sudah habis. Mas Gun juga sudah mengeluarkan begitu banyak kekuatannya. Apa aku bisa mengandalkan Tika?


"HAHAHAHAHAHAHA." Kang Ujang tertawa dengan senangnya.


Aku bangkit berdiri.


Ya Allah, jika Kau perkenankan aku untuk membasmi segala kejahatan ini. Tolong beri kami kekuatan dan perlindungan. Amiiinn.


Aku berdoa dalam hati.


Syuuuuuuuuuuuuuttt. Dari jariku yang kupakaikan cincin, mengalir hawa panas yang menjalar hingga lengan.


Jantungku berdegup cepat.


Ayo demit! Ayo. Mari kita gila-gilaan malam ini.


Aku berdiri kokoh memasang kuda-kuda.


Wuuuuunggg. Tanganku bersinar biru.


Sekumpulan kuntilanak terbang mendekat ke arahku. Mereka melotot dengan tawa yang menjijikkan. Aku muak.


Mereka berteriak seraya menyerangku.


SYUUTT. Sebuah cahaya biru kutembakkan dari cincin yang kupakai.


Cahaya biru itu menusuk dan menembus tubub sekumpulan kuntilanak. Mereka binasa dan musnah seketika.


Grepp. Beberapa kuntilanak memeluk erat tubuhku dari belakang. Sambil tertawa mengikik, mereka menjepitku.


Tiba-tiba..


DARR.


Kepalan tangan menebus dahi sesososk kuntilanak. Kepalan tangannya terlihat besar.


"Sehat Di?" tanya Mas Gun sembari tersenyum.


DARR. Kepalan tangannya yang besar dan bersinar kuning, kembali menembus kepala sesosok kuntilanak.


Dua kuntilanak yang memelukku musnah di tangan Mas Gun.


Aku tos dengan Mas Gun. Namun tiba-tiba..


GROOOOAAAARRRR.


Eh, suara harimau?


Aku dan Mas Gun saling melirik. Tika datang bergabung bersamaku. Kang Ujang tampak was-was melihat ke sekeliling.


GROOOOAAAARRRR.


Srek.


Srek.


Srek.


Suara langkah kaki yang menyapu rerumputan.


GROOOOAAAARRRR. Auman harimau makin dekat terdengar.


Tiba-tiba muncul harimau berbulu putih, bulunya memendarkan cahaya putih. Tubuhnya sangat besar, sebesar gajah mungkin. Besarnya mungkin seukuran gajah. Harimau itu muncul dari belakangku. Kakiku lemas. Jantungku berdegup sangat cepat. Apa lagi ini? Siapa lagi yang datang?


Harimau melangkah maju, ia berhenti di depan kami. Harimau itu menatap Kang Ujang dan sekumpulan kuntilanak dengan tatapan buas. Sesekali mengaum dan menggeram.


"SIAPA KAU?" teriak Kang Ujang menatap harimau putih.


Tiba-tiba harimau itu duduk. Ia duduk sembari menjilati kakinya. Sesekali mengaum dengan tatapan tajam ke arah Kang Ujang.


"JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU! LEBIH BAIK KAU PERGI, DARIPADA MENGANTAR NYAWA!" ucap Kang Ujang lagi.


"HAHAHAHAHAHAHA." terdengar suara tawa yang menggema. Suara tawa lelaki, terdengar berat dan rada serak.


"KAU YANG TELAH MENGGANGGU CUCUKU. AKU TAK AKAN TINGGAL DIAM, MANUSIA LAKNAT." suara lelaki itu menggema.


Apa itu Kakek Halim?


Jantungku semakin berdetak kencang.


Mas Gun melihat ke sekeliling kebun.


Tika terdiam sambil memegang lengannya yang berdarah.

__ADS_1


__ADS_2