
Aku menghela napas panjang. Syukurlah, berkat bantuan dari Kubil. Aku bisa mengalahkan demit ini. Sejauh ini, Kubil cukup membantu.
"Kerja bagus Tuan Adi." ucap Kubil menghampiriku. Ia tersenyum padaku.
"Terima kasih Kubil, bantuanmu sangat berarti banget." balasku membalas senyum.
JLEBBB.
Aku terkejut.
Kubil tertusuk sebuah benda hitam tepat di dadanya.
Mata Kubil terbelalak. Ia terbatuk sambil memegang benda hitam runcing yang menembus dadanya.
"KUBIIIIIIILLLL!" teriakku seraya mendekatinya.
Ternyata benda hitam yang menusuk dada Kubil adalah rambut dari demit wanita bersisik ular. Rambutnya memanjang dan tiba-tiba menyerang Kubil. Ujung rambutnya terlihat seperti tombak yang tajam.
CRASSHH. Wanita bersisik ular mencabut rambutnya. Cairan hitam kental memercik dari tubuh Kubil. Aku ngilu melihatnya.
Kubil ambruk terlentang di atas tanah. Ada lubang menganga di dadanya, cukup besar. Aku duduk bersimpuh di samping Kubil.
"T-t-tu-tuan Adi," panggilnya pelan. Suaranya merintih menahan sakit.
"M-m-maafkan aku Tuan. A-aku tidak bisa m-m-membantu Tuan sampai a-akhir." ucap Kubil terbata.
"Kubil. Maafkan aku Kubil. Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkanmu." balasku.
Kubil tersenyum. Dari mulutnya memuntahkan cairan hitam kental.
"T-t-tidak apa-apa Tuan. Aku s-s-senang bisa mem-membantu Tuan Adi." balas Kubil.
Aku mengangguk. Hatiku teriris pedih melihatnya sekarat seperti ini.
"Satu p-pe-pesan dariku Tuan. Kelemahan k-k-kunti-kuntilanak merah itu ad-adalah Tuan sendiri. Ja-ja-jangan takut padanya Tuan. Ja-jangan takut. Ja-ngan. Jang-an ta-k-k-kut." ucap Kubil di penghujung ajalnya.
Kubil memejamkan matanya. Perlahan-lahan tubuhnya berubah menjadi debu, lalu hilang tertiup angin. Kubil musnah.
Aku geram. Amarahku kian memuncak. Aku terbang menuju Tika. Akan kumusnahkan demit wanita bersisik ular itu. Beraninya ia, sudah memusnahkan temanku.
"HAHAHAHAHAHA. AKHIRNYA BERKURANG SATU SERANGGA." ucap Kang Ujang dengan suara lantang. Sungguh memuakkan.
"HEI MERAH! KAU INI TERLALU BANYAK MAIN-MAIN DENGAN MEREKA. AYO CEPAT SELESAIKAN SEMUA INI DENGAN CEPAT!" Kang Ujang berkata pada kuntilanak merah.
Kuntilanak merah hanya menatap Kang Ujang dengan tatapan sinis. Ia tak berkata.
"HEI DEMIT, JANGAN MENATAPKU SEPERTI ITU. AKU INI TUANMU, KAU HARUS TUNDUK PADAKU." Kang Ujang berkata pada kuntilanak merah.
Kuntilanak merah hanya terdiam.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHI." tawa kuntilanak merah menggema.
"HEI DEMIT! KALIAN DENGAR APA YANG DIKATAKAN TUAN KITA. AYO CEPAT HABISI MEREKA!" kuntilanak merah memberi perintah.
Kang Ujang tersenyum dengan jumawanya.
Tika dan demit wanita bersisik ular kembali berjibaku. Kakek Halim berhasil memusnahkan tiga demit kacangan, hanya tinggal melawan demit bertanduk.
GROOOOOAAAAARRR. Harimau putih mengaum di belakang Kakek Halim.
Tiba-tiba..
JLEBBB.
GRRROOOAAAARRRR.
Kuku panjang kuntilanak merah menancap tepat di perut harimau putih. Harimau itu mengaum dengan kerasnya. Sedangkan kuntilanak merah tersenyum angkuh.
"Uhukk uhukk." Kakek Halim batuk, tubuhnya mendadak lunglai.
Kakek Halim jatuh terduduk.
CRAKK. Kuku panjang dicabut dari tubuh harimau putih.
__ADS_1
"Hihihihihihihihi." kuntilanak merah tertawa sembari melayang pelan ke arah Kakek Halim.
"Harimau itu kan yang menjadi kelemahanmu Halim? Hihihihihihihi." ucap kuntilanak merah.
"Ba-bagaimana kau bisa tahu Merah?" Kakek Halim bertanya.
"Jelas saja aku tahu. Selama kau hidup, kau memang mempunyai peliharaan sesosok siluman harimau putih bukan? Asal kau tahu, harimau putih itu sama sepertiku, sama-sama penghuni Gunung Komang. Kekuatanmu banyak didapat darinya bukan? Hihihihihi. Hanya dengan mengendus baumu saja aku sudah tahu kalau kau memang memelihara dan berbagi kekuatan dengan siluman harimau putih itu Halim." ujar kuntilanak merah.
Kakek Halim hanya terduduk dan diam tak berkata, sambil memegang dadanya.
"Aaaahhh, sekarang jadi tak menyenangkan. Rasanya terlalu cepat pertempuran ini. Harusnya kau dan cucumu yang terakhir kubinasakan. Hihihihihihihihi." lanjut kuntilanak merah.
Kakek Halim masih diam. Sementara harimau putih tergeletak tak bergerak. Apakah harimau itu mati? Dan apa Kakek Halim akan kalah dari kuntilanak merah itu?
"Kalau sudah seperti ini, mau bagaimana lagi? Sepertinya memang harus cepat-cepat kusudahi pertempuran ini. Hihihihihihihihi. Dan kau harus mengakui kalau aku pemenangnya Halim." sambung kuntilanak merah.
"HEI MERAH! SUDAH, JANGAN TERLALU BANYAK BACOT, HABISI SAJA KAKEK TUA ITU BESERTA CUCUNYA." teriak Kang Ujang di belakang sana.
Kuntilanak merah terdiam.
"TUNGGU APA LAGI DEMIT. CEPAT BUNUH MEREKA!" Kang Ujang berteriak lagi.
Kuntilanak merah berbalik badan. Ia menatap Kang Ujang tajam.
"APA? MAU APA KAU? MAU MEMBUNUHKU? INGAT, AKU INI TUANMU. CEPAT LAKSANAKAN PERINTAHKU!" suruh Kang Ujang.
Kuntilanak merah kembali menghadap Kakek Halim. Ia menghunuskan kuku-kukunya yang panjang dan berwarna hitam.
"Maaf Halim. Kau harus musnah malam ini juga." ucap kuntilanak merah seraya mengangkat tangannya.
GRROOOOOAAARRRR. Tiba-tiba harimau putih lompat seraya mengaum ke arah kuntilanak merah.
SRAAKKK. Cakar harimau putih mengenai lengan kuntilanak merah.
Dengan cepat kuntilanak merah menjauh dari Kakek Halim. Bekas cakaran harimau putih mengeluarkan asap hitam yang mengepul tipis di lengan kuntilanak merah.
"Hihihihihihihihi. Rupanya peliharaanmu kuat juga Halim. Masih bisa bangun dan sempat-sempatnya menyerangku." ucap kuntilanak merah seraya tersenyum.
Harimau putih duduk bersimpuh di samping Kakek Halim. Wajahnya tertunduk, tampak lemah.
BUAKK. Perutku terkena tendangan cukup keras.
Aku terpental dan membentur sebuah pohon. Punggungku terasa nyeri.
Kulihat Tika sedang menghindari serangan wanita bersisik ular. Tika masih begitu lincah, tenaganya seakan tak habis-habis.
Kulihat juga kuntilanak merah sedang tersenyum jahat menatap Kakek Halim dan harimau putih yang sedang terluka. Kakek Halim masih terduduk memegang dadanya.
Aku menoleh ke Mas Gun yang duduk bersandar pada pohon. Ia meringis kesakitan dengan tangan yang menghitam.
DRAP.
DRAP.
DRAP.
DRAP.
Suara derap kaki berlari? Dari mana asal suara itu? Aku melihat ke sekeliling mencari sumber suara.
"KAKEK, AWAAAAASSSS!" teriakku lantang.
Kakek Halim menoleh ke belakang.
Tiba-tiba..
DUUUUAAAAAAAKKKK.
Demit bertanduk itu menyeruduk tubuh Kakek Halim.
Kakek Halim dengan mata terpejam melayang ke udara. Lalu jatuh menghantam tanah dengan keras. Aku tercengang melihat pemandangan barusan. Apa benar kekuatan Kakek Halim terletak pada harimau putih itu? Apa benar kelemahan Kakek Halim tergantung pada harimau putih itu?
Bahaya.
__ADS_1
Ini tak bisa dibiarkan.
Aku kembali terbang menuju Tika dan wanita bersisik ular.
Harus secepat mungkin kukalahkan wanita itu. Harus. Aku tak boleh lemah. Aku tak boleh kalah.
Grepp. Kujambak rambut wanita bersisik ular. Ia tampak terkejut. Aku menggelayut di pundaknya, sambil mencekik dengan kuat lehernya. Kusilangkan kakiku pada tubuhnya. Kupusatkan tenagaku pada tangan dan kaki. Tak akan kulepaskan kau wanita iblis.
"HABISI DIA TIK! CEPAT TIKAAAA!" teriakku.
Tika menunjukkan tatapan buasnya. Tangannya bersinar kuning keemasan. Terlihat percikan sinar di sekitaran tangannya.
Tika teriak sangat keras, seraya terbang dengan cepat.
"CEPAT TIKAAAAA! GUE UDAH NGGAK TAHAAAAANN!" teriakku.
Wanita bersisik ular meronta dengan ganas. Tangannya mencoba meraih kepalaku. Kuku di jemarinya terlihat tajam.
CRASSHH. Kepalaku terkena cakarnya.
Sedikit lagi. Tahan Adi. Tahan!
Rambut wanita itu bagai ular kobra yang menari-nari mendengar tiupan seruling. Sesekali rambut itu mencoba menusukku, bentuknya seperti ujung tombak yang sangat tajam. Aku kewalahan menghindari serangannya.
"MAMPUS KAU WANITA JALAAAAANNGGG!" teriak Tika di hadapan wanita bersisik ular.
CRAAASSSSS.
Aku terkejut membelalak.
Tika memenggal kepala wanita bersisik ular dengan sinar di tangannya yang berpendar menyilaukan. Wajah Tika sangat buas, terlihat dari tatapan matanya pada demit itu. Mata yang menyimpan dendam. Mata yang mengubur sakit hati. Entah apa yang ada di dalam benaknya saat ini. Yang jelas aku bergidik melihatnya.
Aku melepas cengkeraman pada tubuh demit itu.
Namun sesuatu di luar dugaan terjadi..
JLEBBB. Ujung rambut wanita bersisik berbentuk tombak menusuk perutku.
Aku terkaget.
Ba-bagaimana bisa?
Bagaimana bisa ia masih melancarkan serangan di saat kepalanya sudah berpisah dari tubuhnya?
Aku terjatuh bersama tubuh wanita bersisik ular. Pandanganku kabur. Berkabut. Di pikiranku hanya ada nama Mas Gun. Lalu semua terlihat gelap.
Sayup-sayup kudengar Tika memanggil namaku.
Lalu semua hening.
.
.
.
.
.
Semua gelap.
...___________...
...maaf otor update segini dulu ya....
...jangan lupa LIKE,...
...KOMEN yg positif dan membangun,...
...klik FAVORIT kalo suka....
...kirim HADIAH boleh banget,...
__ADS_1
...nge-VOTE dianjurkan banget (hehehehe)...
...makasih...