Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 86


__ADS_3

"Da, antar gue ke kost sekarang!" ucapku pada Yuda.


Yuda nampak heran.


"Memang ada apa Di?" tanya Yuda.


"Udah ayo antar, nanti gue ceritain di mobil."


"Iya iya. Bayar dulu sebentar." Yuda merogoh kantong celananya, mangambil dompet dan menaruh selembar uang seratus ribu rupiah di atas meja.


"Bang, kembaliannya nanti aja ya." ucap Yuda ke Bang Dede. Bang Dede hanya menatapku dan Yuda penuh heran.


Aku berlari menuju mobil Yuda.


"Ada apaan sih Di?" tanya Yuda. Kami pun masuk ke dalam mobil.


"Da, ternyata yang bunuh diri lompat dari jembatan penyebrangan itu tetangga kost gue, Bang Oji." jelasku.


"Innalilahi, yang bener lo?" tanya Yuda.


"Beneran, barusan Kang Ujang chat gue."


Yuda menyalakan mesin mobil, menginjak gas dengan cepat menuju Kost Pak Thamrin. Mobil memasuki gang, lalu parkir di samping rumah tempat almarhum Bagas di temukan. Sudah ada dua mobil petugas, dan satu unit ambulance yang ramai di kelilingi orang.


Aku bergegas keluar dari mobil dan mendekat ke ambulance. Kulihat Nek Iyah sedang terisak dekat kantung jenazah berwarna oren, di belakangnya Kang Ujang merangkul mencoba menenangkan. Aku menerobos orang yang mengerumuni ambulance mendekat ke Nek Iyah.


"Nek, turut berduka cita nek." ucapku. Nek Iyah hanya mengangguk, pipinya basah oleh air mata.


"Ibu, mau lihat jenazahnya atau tidak?" ucap petugas. Nek Iyah masih menangis, ia mengangguk pelan.


"Baik. Kalau begitu saya buka kantung jenazahnya. Ibu yang sabar ya bu." ucap si petugas. "Bismillahirrahmanirrahim."


Sreeettt. Resleting kantung jenazah di buka oleh petugas.


Deg


.


.


.


.


"Aaaaaaaa.. Ojiiiii, Ojiiii." tangis Nek Iyah pecah saat melihat kondisi jenazah Bang Oji.


Tengkukku pun merinding begitu melihat jenazah Bang Oji. Kang Ujang membuang muka.


Kondisi jenazah Bang Oji amat memprihatinkan. Tempurung kepalanya remuk, otaknya berwarna putih berceceran. Wajahnya gepeng tak berbentuk. Bola matanya tak ada. Tubuhnya remuk, ada ceplakan hitam mirip seperti bentuk ban mobil di kulit perutnya. Darah menggenang dalam kantung jenazah, baunya anyir. Sangat memprihatinkan.


Seketika pandanganku berkunang-kunang. Tubuhku lemas.


Sreeettt. Petugas menutup kembali kantung jenazah.


"Sabar ya bu. Ikhlaskan saja bu." ucap si petugas.


Lalu Nek Iyah di tuntun menuju rumahnya, di bantu oleh Kang Ujang. Beberapa petugas ikut menuju rumah Nek Iyah. Aku mengekor di belakang bersama Yuda.


Nek Iyah di tuntun menuju ruang tamu di dalam rumah, ia duduk di sofa. Petugas dari kepolisian pun ikut duduk bersama Nek Iyah. Kang Ujang pergi ke dapur, aku mengikutinya.


"Kang, mau bikin minum ya?" tanyaku.


"Iya dek."


"Saya bantu ya." ucapku. Kang Ujang mengangguk.


Dapur Nek Iyah terkesan jadul, tapi perabotannya tampak modern. Sinar lampunya sedikit remang. Kang Ujang membuat lima gelas teh manis hangat, dan segelas besar teh tawar panas.


"Dek Adi tolong berikan ini ke bapak-bapak polisi ya." pinta Kang Ujang. Aku pun segera membawa lima gelas teh manis di atas nampan. Sementara Kang Ujang membawa segelas besar teh tawar.


Gelas kuletakkan di atas meja, tepat di depan petugas. Seorang petugas bertanya soal Bang Oji.


"Sudah berapa lama korban meninggalkan kontrakan bu?"


"Kurang lebih sudah empat hari pak. Dia cuma bilang mau pergi saja, tapi nggak bawa tas nggak bawa apa-apa." jawab Nek Iyah.


"Sebelumnya apa ibu pernah lihat korban menunjukkan sikap yang tidak biasa? Atau tidak normal?"


"Sejak kematian anak saya, dia jadi lebih pendiam pak. Seharian hanya di dalam kamar saja. Seperti mengurung diri."


"Hmm. Apa korban punya musuh?"


"Setahu saya nggak punya pak. Cuma saya nggak tahu kalau di tempat kerjanya."


Cukup lama petugas bertanya ke Nek Iyah. Jenazah Bang Oji akan di bawa untuk keperluan penyelidikan, dan Nek Iyah setuju. Rencananya, Bang Oji akan di makamkan tepat di sebelah makam Mbak Wati. Setelah selesai menginterogasi Nek Iyah para petugas pun meninggalkan rumah Nek Iyah, begitu pula ambulance yang membawa jenazah Bang Oji.


Aku pun menuju kamar. Di depan kamar 11a duduk tetangga baruku, Tika, Yuli, dan seorang perempuan lainnya.


"Misii." sapaku sambil tersenyum.


"Iya bang. Bang Adi semalam nggak ada di kamar kost ya?" tanya Tika. Yuli dan seorang lainnya hanya tersenyum.


"Oh iya, semalam nginep di rumah teman." jawabku sambil membuka pintu kamar. Yuda ngeloyor masuk ke dala kamarku lebih dulu.


"Ooh pantesan aja." gumam Tika.


"Emm, memang kenapa Tik?" tanyaku.


Tika bangun dari duduknya, kedua temannya acuh. Tika menghampiriku.

__ADS_1


"Penunggu kamar kost Bang Adi semalam mondar-mandir aja." ujar Tika.


Deg deg deg deg. Jantungku berdebar.


Tika bilang penunggu? Makhluk halus maksudnya?


"Eh, penunggu? Maksudnya?" tanyaku dengan suara pelan.


"Saya nggak mau cerita banyak kalau di sini bang. Penghuni di sini pada rese, ada pemimpinnya. Tuh, di atas." Tika menunjuk jendela kamar di lantai dua rumah Nek Iyah.


"Ah, masa sih? Nggak mungkin ada begitu-begituan di sini." ucapku menenangkan diri.


"Ya terserah Bang Adi aja mau percaya atau enggak. Kapan Bang Adi ada waktu, boleh kita ngobrol. Tapi jangan di sini, saya ceritain semua yang ada di sini." terang Tika.


Aku diam tak berkata.


"Lo memang bisa lihat yang gaib-gaib?" tanyaku.


"Ciyeee ciyeee. Seru banget ngobrolnya." Yuli meledek kami.


Raut wajah Tika berubah, ia seperti bete.


"Dahlah, nanti aja kita obrolin kalau ada kesempatan." ucap Tika.


"Eh eh Tik, nanti dulu. Gue mau cerita banyak sama lo. Kapan kita bisa ngobrol? Lo anak fakultas apa sih?" tanyaku.


"Komunikasi." jawabnya singkat. "Kalau mau ngobrol, besok jam dua belas siang, gue tunggu di kantin komunikasi ya. Oke." ujar Tika.


"Oke oke." jawabku.


Barangkali Tika dapat menjawab semua pertanyaanku soal kejadian-kejadian yang kualami selama kost di sini. Aku pun masuk ke dalam kamar. Yuda sedang asik main game, ia membuat secangkir kopi.


"Oohh bikin kopi cuma segelas doang nih?" sindirku.


"Minta bikinin sama pacar baru lo sana. Hehehehe." sahut Yuda. "Eh Di, tadi gimana kondisi jenazah Oji? Serem ya?" Yuda bertanya.


"Aduuuhh, kalau ingat-ingat rasanya gue mau muntah Da. Nanti aja deh gue ceritanya." jawabku.


"Yaaahh, ibu kost lo lagi berduka. Kapan gue bisa ambil mobil nih. Memang mau di makamin di sini Di?" tanya Yuda.


"Kata Kang Ujang sih gitu. Gue jadi iseng deh, mana meninggalnya nggak wajar lagi."


"Hayo lo, malem-malem di samperin lo sama setan Oji. Hiiiyyy." Yuda menakutiku, belum saja kuceritakan soal penampakan yang kulihat di kamar ini, bisa terkencing-kencing dia.


"Nggak takut gue." balasku.


"Wah ini anak malah nantangin. Beneran di samperin lo nanti, gue nggak mau bantuin ah kalau soal gaib-gaib begitu. Hiiiyyy ngeri gue." ujar Yuda.


***


Selepas shalat isya, petugas mengabarkan ke Nek Iyah akan mengantar jenazah malam ini dan harus segera di kebumikan. Kang Ujang sibuk mencari tukang gali kubur, lalu menghubungi ustad untuk membantu memimpin shalat jenazah. Yuda pulang setelah shalat maghrib, rencananya untuk menyelesaikan pembayaran dan menderek mobil antik harus ia tunda sampai keadaan kembali normal.


"Kang, silakan kopinya. Pak ini kopinya ya." aku mengantar empat gelas kopi. Tiga pria sedang sibuk memacul tanah, peluhnya membasahi dahi.


"Wah, makasih banyak Dek Adi. Alhamdulillah ada yang bikinin kopi." sahut Kang Ujang.


Aku berjongkok dekat Kang Ujang.


"Kang, memang siapa yang pertama kali mengabari Kang Ujang soal Bang Oji?" tanyaku pelan.


"Nggak ada yang mengabari saya sih, saya cuma di suruh Nek Iyah untuk ke jalan raya, karena beliau bilang ada sesuatu yang terjadi." jawabnya sambil meniup pelan kopi yang masih panas.


"Hah, Terus dari mana beliau tahu kalau Bang Oji bunuh diri?" tanyaku kembali.


"Nggak tahu dek. Saya cuma ikut perintah Nek Iyah saja untuk pergi ke jalan raya. Eh, begitu saya lihat ada ramai-ramai ternyata ada yang bunuh diri."


"Lalu?" tanyaku.


"Ternyata Bang Oji. Awalnya saya nggak mengenali wajahnya karena sudah hancur terlindas mobil, tapi begitu lihat tato di punggungnya saya langsung mengenali itu Oji." jelas Kang Ujang.


Aku berpikir, bagaimana Nek Iyah tahu kalau ada kejadian di jalan raya?


"Yang jadi pertanyaan saya kang, bagaimana Nek Iyah tahu bakal ada kejadian di jalan raya? Itu dia poinnya kang. Dan ternyata memang ada kejadian Bang Oji bunuh diri." ungkapku.


"Perasaan saja mungkin dek. Kan Nek Iyah dan Bang Oji masih ada hubungan saudara." tutur Kang Ujang.


Aku diam. Kang Ujang pun diam.


"Apa ada saksi yang melihat Bang Oji lompat dari atas jembatan penyebrangan kang?" tanyak lanjut.


"Emm.." Kang Ujang berpikir. "Oh ada dek! Ada tukang kebab yang biasa mangkal dekat jembatan." jawabnya.


"Apa dia sudah di tanya sama petugas mengenai kejadian tadi siang?"


"Belum sepertinya, ada tukang parkir yang bilang, setelah Oji lompat si tukang kebab kabur entah kemana. Karena dia teriak dan semua orang langsung melihat ke arah jalan raya." jelas Kang Ujang.


Misteri apa lagi ini? Mengapa si tukang kebab lari begitu melihat Bang Oji lompat dari atas jembatan penyebrangan. Normalnya, ia pasti meminta bantuan orang sekitar bukan?


Liang lahat telah selesai di gali, banyak warga yang sudah berkumpul untuk membantu pemakaman Bang Oji. Aku dan Kang Ujang duduk di teras depan kamarku. Nek Iyah tampak duduk di kursi, tepat dekat pintu belakang rumahnya di temani Ela dan Dini. Kami yang hadir menunggu ambulance datang membawa jenazah Bang Oji.


Kriiiiinnnggg. Ponsel Kang Ujang berdering. Ia bangun dari duduknya, kemudian menjauh. Tak lama pembicaraan di telepon pun usai, Kang Ujang menghampiri Nek Iyah, ia terlihat berbicara dengan Nek Iyah. Nek Iyah pun mengangguk.


Kang Ujang kembali menghampiriku. Dan kembali duduk di sampingku.


"Siapa yang telepon kang?" tanyaku penasaran.


"Itu tadi petugas ambulance dek, ia bilang ada kendala pengiriman jenazah. Mobil ambulance tiba-tiba mogok. Akan di usahakan untuk di antar secepatnya." jawab Kang Ujang.


***

__ADS_1


Sudah pukul 21:10, namun mobil ambulance yang mengantar jenazah Bang Oji tak kunjung datang. Ada beberapa warga yang memutuskan untuk pulang. Kami semua menunggu dengan sabar. Nek Iyah di minta untuk istirahat di dalam rumah, sembari menunggu ambulance.


"Jang, jadi di makamin malam ini nggak?" tanya seorang pria penggali kubur.


"Jadi bang." jawab Kang Ujang.


"Kok, lama banget sih." balasnya.


"Di tunggu aja ya." ucap Kang Ujang.


Aneh, mengapa bisa selama ini petugas mengantar jenazah Bang Oji. Sudah dua jam, tapi mobil ambulance tak kunjung datang.


.


.


.


.


.


Pukul 22.00.


Ambulance belum ada tanda-tanda datang. Warga sudah pulang semua. Di halaman kost, hanya sisa aku, Kang Ujang, tiga orang pria penggali kubur, Ela, dan Dini.


.


.


.


.


.


Pukul 23.05.


Mobil ambulance belum juga datang. Pria penggali kubur memutuskan untuk pulang. Karena terlalu lama menunggu. Tinggallah aku, Kang Ujang, dan Arya. Arya di minta Kang Ujang untuk datang membantu. Sedangkan Ela dan Dini sudah masuk kamar sejak tadi.


Mataku sudah mulai mengantuk. Kang Ujang pun sudah terlihat lelah.


Tiba-tiba hujan turun tak terlalu lebat, namun dingin menusuk tulang sumsum. Aku mengajak Kang Ujang dan Arya untuk menunggu di dalam kamarku.


.


.


.


.


.


Pukul 00:10


Aku sudah tidur, begitu pun Kang Ujang, hanya tinggal Arya yang belum tidur, ia asik melihat ponselnya.


.


.


.


.


.


Pukul 01:05


"Assalamualaikuuumm." seseorang mengucap salam dari luar kamarku. Arya beranjak dan membuka pintu kamarku, aku pun bangun. Di luar hujan turun dengan lebat. Seorang pria dengan seragam putih yang telah basah oleh hujan berdiri di depan teras kamarku.


"Waalaikumsalam. Ada apa pak?" jawab Arya.


"Mas, saya mau antar jenazah." ucapnya. Aku terkejut, semalam ini baru sampai jenazah Bang Oji. Dari mana saja ia?


"Pak, kok lama banget sih? Bilangnya di antar habis isya, ini sudah jam berapa?" Kang Ujang sungut-sungut, ia sudah bangun tidur.


"Aduh pak saya juga bingung, sudah empat ambulance yang mau antar jenazah Pak Oji selalu saja ada kendala." jawab si petugas.


"Pak, jenazahnya harus segera di makamkan malam ini juga ya, soalnya sudah tercium bau busuk." sambung si petugas.


"Di mana jenazahnya pak?" tanya Kang Ujang.


"Itu di mobil pak. Ayo!"


Kami pun bergegas menuju mobil yang mengangkut jenazah Bang Oji. Begitu kami lihat, astaga jenazah Bang Oji di antar oleh mobil los bak. Kami mandi hujan malam itu.


"Pak, memang nggak pakai peti ya? Ini kan korban kecelakaan, masa pakai kantung jenazah?" tanyaku.


"Petinya habis pak. Sudah di cari kemana-mana nggak ada yang sedia." jawabnya. "Ayo angkat pak!" suruh si petugas.


Aku, Kang Ujang, dan Arya saling pandang.


"Pak, ayo buruan angkat. Langsung di makamin ya." si petugas kembali menyuruh.


Kami bertiga masih saling tatap, bingung. Apa yang harus kami lakukan. Hujan makin deras, petir menyambar menggelegar, kilatan cahayanya sesekali menerangi malam.


"Pak, kok malah pada bengong sih. Nanti jenazahnya keburu bau busuk. Ayo angkat pak!"

__ADS_1


Aku diam. Kang Ujang menelan ludah. Arya hanya menatap kantung jenazah di depannya. Apa yang harus kami perbuat dengan jenazah Bang Oji? Sementara kami hanya bertiga.


__ADS_2