Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 116


__ADS_3

Aku berlari mendekati Tika yang masih nampak terpukul dengan kejadian tadi. Jujur, aku juga terpukul dan Kakek Badrun pun kurasa terpukul atas kejadian barusan. Bagaimana tidak, rumah meledak dengan dahsyat akibat sekumpulan demit yang bejibun, lalu memancarkan kekuatan mereka secara serentak. Dan sedetik kemudian kami semua terpental ke arah yang berlainan, lalu terseret jauh.


"Tik, lo nggak apa-apa?" tanyaku.


"Nggak apa-apa Di." jawab Tika. "Di, tolong bantu gue bangun." pinta Tika.


Aku membantunya bangun. Lalu wajah Tika meringis kesakitan.


"Tik, lo kenapa?" tanyaku.


Tika menunduk, matanya tertuju ke bagian pahanya.


Serrr.


Astaga, ada goresan cukup panjang dan luka yang cukup dalam. Darahnya merah kental mengalir cukup deras. Aku terkejut melihat luka di paha Tika.


"Tik, lo luka Tik. Astaga, lo nggak apa-apa Tik?" tanyaku khawatir.


Tika senyum, lalu kembali meringis kesakitan.


"Nggak apa-apa Di." balasnya.


Tika tampak tengak-tengok, entah apa yang ia cari.


"Lo cari siapa Tik?" tanyaku. "Itu Kakek Badrun di sana!" lanjutku, Kakek Badrun kulihat sudah berdiri menghadap ke arah bola besar yang bersinar itu.


"Dimana Kanjeng Ratu Sekar Di?" tanya Tika. "Lalu, kuntilanak merah itu kemana?" lanjut Tika bertanya.


Aku mengangkat bahu tanda tak tahu.


Memang tak terlihat sosok Kanjeng Ratu Sekar dan kuntilanak merah, hanya demit-demit kacangan yang beterbangan melayang di langit. Suaranya merintih, meringkik, dan memekik.


Aku membantu Tika berjalan, kurangkulnya dan membantunya berjalan. Ia jalan dengan pincang. Kami berjalan menuju ke arah rumah yang sudah hancur berantakan. Masih terlihat bola besar yang bersinar, sinarnya berwarna hijau putih, berpendar-pendar.


Aku dan Tika sampai di rumah yang sudah tak terlihat seperti rumah. Hanya lantai kayu dan dua tiang yang masih berdiri. Kakek Badrun kaget melihat Tika, ia bergegas membantuku untuk menuntun Tika berjalan mendekat ke arah bola besar.


"Kek, ini apa?" tanya Tika dengan wajah meringis menahan sakit. Darahnya terus mengucur membasahi sampai betisnya.


Kakek Badrun menggeleng, ia menatap bola besar yang bersinar ini dengan tatapan heran.


"Kakek pun tak tahu nak." jawab Kakek Badrun sambil terus memandangi dari dekat.


Wuuuuunngggg. Suara bola itu berdengung seperti lebah.


Kakek Badrun mencoba menyentuh bola besar ini, ujung telunjuknya pelan-pelan mendekat tapi tampaknya ia sedikit ragu.


"Kek!" panggil Tika mengangetkan. Kakek Badrun terperanjat lalu wajahnya menengok ke arah Tika, ia menarik kembali tangannya.


Wuuuuunngggg. Dengungan suara dari bola besar terdengar pelan, tapi tampak menakutkan. Bunyinya seperti aliran listrik.


"Hati-hati kek!" ucap Tika.


Kakek Badrun hanya mengangguk. Ia kembali mencoba menyentuh bola besar ini, ujung telunjuknya tampak gemetar. Kulihat Kakek Badrun menelan ludah.


Pelan jari telunjuknya maju.


.


.


.


Pelan.


.


.


.


Semakin dekat.


.


.


.


Dekat dan lebih dekat.


.


.


.


Aku menatap dengan was-was.


.


.


.


Dan..


.

__ADS_1


.


.


Tep.


Bola besar berhasil di sentuh dengan ujung telunjuk Kakek Badrun. Ia menoleh ke arahku dan Tika. Aku dan Tika berdebar melihatnya. Namun tak terjadi apa-apa. Hanya suara dengungan saja yang terdengar.


Kakek Badrun mencabut jari telunjuknya dari bola besar yang bersinar.


"Apa rasanya kek?" tanyaku penasaran.


"Nggak ada rasa apa-apa!" jawab Kakek Badrun.


"Ah, masa sih?" aku ragu.


"Benar, memang nggak ada rasa apa-apa." sahut Kakek Badrun meyakinkanku.


"Coba sentuh lagi kek!" pinta Tika.


"Kalian ini nggak percaya amat sih!" gerutu Kakek Badrun.


Lalu telunjuknya lagi-lagi mendekat ke arah bola besar itu, suara dengungan masih saja terdengar. Kali ini Kakek Badrun tak ragu, ia langsung menyentuh bola besar itu. Tinggal beberapa centimeter telunjuknya menapak di bola besar itu, tiba-tiba suara dengungan berhenti. Kakek Badrun mencabut telunjuknya dengan cepat, menatapnya penuh kewaspadaan.


Suara desiran tiba-tiba terdengar.


Seiring bunyi berdesir, seketika ujung bola besar di bagian paling atas sinarnya memudar. Memudar perlahan, terus ke bawah. Dan terus pudar hingga ke bagian bawah. Terlihat ada gambaran samar-samar seseorang. Siluet Kanjeng Ratu Sekar Dara!


Ya, itu pasti Kanjeng Ratu Sekar Dara!


Bola besar yang bersinar, mendadak hilang seiring memudarnya sinar tersebut. Kami semua terkejut melihat Kanjeng Ratu Sekar Dara, ia menghadap kami dengan senyuman manisnya. Dan Kanjeng Ratu Sekar memeluk seorang lelaki.


Tiba-tiba, lelaki itu terlepas dari pelukan Kanjeng Ratu Sekar, tubuh lelaki tersebut melayang ke udara, dan perlahan turun.


Yuda!


Begitu kutahu itu sosok Yuda, tangisku pecah. Air mataku tumpah ruah. Yuda memejamkan mata tak sadarkan diri. Tubuh Yuda perlahan turun dan mendarat di tanah dengan lembut. Aku dengan cepat memeluknya, tangisku pecah, air mataku tumpah, banjir membasahi pipi. Aku menangis meraung-raung memanggil nama Yuda, tapi mata Yuda masih saja memejam.


"Yudaaaaa." aku teriak memanggil namanya.


Tapi Yuda tetap tak membuka matanya. Kakek Badrun jongkok di sampingku, ia mengusap-usap punggungku, mencoba menenangkanku. Apa Yuda telah tiada? Tangisku tak reda, aku tak berhenti pula memanggil nama Yuda.


"Yudaaaaa. Bangun Daaaa. Yudaaaa." ucapku sambil terus menangis. "Kanjeng Ratu Sekar, tolong selamatkan Yuda. Tolong Kanjeng Ratu, tolong." aku memohon pada Kanjeng Ratu Sekar Dara.


Kanjeng Ratu Sekar Dara hanya menatapku, ia diam tak berkata apa pun. Lalu Kanjeng Ratu Sekar tersenyum padaku dengan manisnya.


"Adi, bangunlah nak!" suruh Kanjeng Ratu Sekar Dara.


Tangisku perlahan menyurut, aku menyeka air mata dengan lenganku. Nafasku sesenggukan. Aku pun berdiri.


"Beneran Kanjeng?" tanyaku antusias, sambil menyapu air mataku yang masih terasa basah di pipi.


Kanjeng Ratu Sekar kembali tersenyum.


"Benar. Sebentar lagi ia akan segera sadar." jawab Kanjeng Ratu Sekar Dara.


Aku menunggu dengan hati tak sabaran. Kakek Badrun juga menunggu Yuda sadar, Tika pun sama.


Tiba-tiba, kelopak mata Yuda bergerak-gerak pelan. Ia membuka matanya dengan perlahan.


"Yudaaaaa!" teriakku sambil memelukku Yuda. Tangisku pecah kembali.


Yuda sontak kaget, aku memeluk menindih tubuh Yuda.


"Diiii." ucap Yuda, suaranya lirih. Tangisku masih meraung-raung.


"Diiii." panggil Yuda lagi, aku tak mempedulikannya.


"Adiiii." Yuda memanggilku lagi, suaranya masih terdengar lemah.


"Kenapa Da?" tanyaku yang masih menangis.


"Be-berat Diii." ujarnya pelan. "Lo berat banget Diii." lanjutnya.


Aku langsung bangun, kutarik tangan Yuda, membantunya duduk. Kupeluk lagi tubuh Yuda sambil masih menangis. Yuda pun menangis.


"Diii, gue takut Diiii. Gue takuuuttt." ucapnya sambil merengek. "Bawa gue pulang Diii, bawa gue pulaaanngg. Gue takuuutt." sambungnya.


"Iya Da iyaa. Kita pulang, kita pulang." jawabku.


Yuda masih menangis, ia menyesali perbuatannya.


"Maafin gue Diii. Maafin gue. Gue udah berbuat nggak bener Diii."


"Iya iyaa. Udah udah, gue maafin. Kita pulang yaaa. Bokap nyokap lo pasti udah nungguin lo di rumah." balasku.


Pelukan kami terlepas, Yuda masih merengut. Aku tersenyum melihatnya, aku senang temanku selamat. Aku membantu Yuda bangun, ia berdiri sambil kurangkul pundaknya.


"Da, semua ini yang sudah bantu untuk menyelamatkan lo." ucapku. "Ini Tika, Kakek Badrun, dan yang paling berjasa menyelamatkan lo adalah Kanjeng Ratu Sekar Dara." aku memperkenalkan.


Yuda tersenyum.


"Makasih Tika, makasih Kakek Badrun. Makasih juga Kanjeng Ratu." ujar Yuda dengan nada pelan.


Kanjeng Ratu Sekar Dara tersenyum.


"Nak Yuda, ini menjadi pelajaran sangat berharga untukmu. Kau sudah berurusan dengan orang yang salah, yaitu Badriyah. Sebelum kau berbuat hal apa pun pada orang lain, pastikan dulu dengan siapa kau berurusan." Kanjeng Ratu Sekar berkata. Yuda menunduk, aku dan yang lain hanya memperhatikan.

__ADS_1


"Di dunia ini kita hidup berdampingan, alammu dan alam kami. Banyak manusia yang menganggap alam kami tak ada, karena tak terlihat oleh mata. Alam kami tak masuk dalam logika mereka. Untuk itu, beruntung kau memiliki sahabat yang rela menolongmu. Adi datang jauh-jauh ke alam ini hanya untuk menyelamatkanmu. Berterima kasihlah padanya, juga pada Tika dan juga Kakek Badrun. Mereka orang-orang yang sangat berjasa, karena telah menyelamatkan jiwamu." sambung Kanjeng Ratu Sekar Dara.


Kami semua diam.


"Nak Adi." Kanjeng Ratu Sekar Dara memanggilku.


"Saya Kanjeng Ratu." balasku.


"Kau anak baik Nak Adi. Kamu memiliki jiwa solidaritas yang amat tinggi, kau juga mempunyai bakat sebagai pengganti kakek buyutmu. Pantas jika kakek buyutmu mewariskan cincin itu padamu. Cincin itu sama dengan kalung pemberian Badrun. Mustika itu pun bernama Dawana. Walaupun ada dua mustika Dawana, tapi jika satu mustika telah di gunakan lebih dulu, maka mustika yang lain tidak akan bisa memberi kekuatan. Dengan kata lain, mustika Dawana yang di pegang oleh Badriyah hanya secuil batu biasa. Karena mustika Dawana yang di pegang olehmu telah digunakan." jelas Kanjeng Ratu Sekar Dara.


"Ja-jadi, kalung mustika yang saat ini di pegang oleh Nek Iyah cuma jadi batu biasa? Begitu Kanjeng Ratu?" tanyaku terkejut.


Kanjeng Ratu Sekar Dara tersenyum.


"Ampun Kanjeng Ratu, tapi bagaimana bisa seperti itu?" tanya Kakek Badrun.


"Dunia yang di ciptakan oleh Yang Maha Kuasa memiliki rahasia. Alammu dan alamku jauh berbeda, tapi Yang Maha Kuasa menciptakan kedua alam bukan tanpa sebab. Semua memiliki keterikatan dan keseimbangan. Tugas kita sebagai makhluk ciptaan-Nya, hanya menjaga keseimbangan dunia. Duniaku, juga duniamu. Begitu pula dengan mustika Dawana, harus ada keseimbangan di antara keduanya. Jika satu sudah di gunakan, maka satu mustika lain tak bisa di gunakan." jelas Kanjeng Ratu Sekar.


Aku sangat senang mendengar penjelasan Kanjeng Ratu Sekar Dara. Aku menoleh ke arah Tika dan Kakek Badrun, kami senyum berbarengan.


"Kau simpan baik-baik cincin itu Nak Adi. Jaga dan gunakan untuk kebaikan dan tolong menolong. Tanya ke Badrun bagaimana cara menggunakannya dengan baik." tambah Kanjeng Ratu Sekar di iringi senyuman.


"Baik Kanjeng Ratu, terima kasih banyak." jawabku.


Kanjeng Ratu Sekar Dara melemparkan senyumannya, manis.


"Lalu kau Nak Tika."


"Saya Kanjeng Ratu." jawab Tika.


"Kau pun memiliki bakat luar biasa, nenekmu orang sakti. Dalam darahmu mengalir darah orang sakti. Kau menggunakan kekuatanmu dengan tidak sembarang. Kau anak yang baik dan juga peduli sesama. Kuberi hadiah untukmu. Terimalah." ucap Kanjeng Ratu Sekar seraya mengibas selendangnya.


Tiba-tiba cahaya hijau mengerling dari kibasan selendang Kanjeng Ratu Sekar, dan muncullah batu berwarna putih susu melayang-layang. Batu itu berukuran kecil, batu itu bergerak. Tika membuka tangan kanannya, batu mendarat di telapak tangan Tika dengan lembut. Tika sumringah.


"Ampun Kanjeng Ratu. Ini batu apa?" tanya Tika.


"Hadiah dariku. Nenekmu dulu adalah seorang sakti yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit orang-orang. Kau gunakanlah batu itu untuk menjadi penerus nenekmu dan gunakanlah dengan sebaik-baiknya." jelas Kanjeng Ratu Sekar.


"Terima kasih banyak Kanjeng Ratu." ucap Tika lembut. Kanjeng Ratu Sekar tersenyum.


"Badrun." panggil Kanjeng Ratu Sekar sambil tersenyum manis.


"Saya Kanjeng Ratu."


"Terima kasih telah membantu anak-anak ini untuk menyelamatkan Yuda. Dalam hati kecilmu, kau tahu kalau misi ini akan gagal. Tapi dengan kebulatan tekadmu, kau pun menepis keraguan itu. Terima Kasih Badrun." ucap Kanjeng Ratu Sekar.


"Baik Kanjeng Ratu." jawab Kakek Badrun.


"Aku ingin memberimu hadiah Badrun. Tapi aku bingung ingin memberimu apa. Apa yang kau mau Badrun?" tanya Kanjeng Ratu Sekar.


"Ampun Kanjeng Ratu. Saya tidak ingin hadiah apapun dari Kanjeng Ratu." jawab Kakek Badrun.


"Apa? Kau menolak pemberianku Badrun?" sahut Kanjeng Ratu Sekar.


"Ampun Kanjeng Ratu, tapi bolehkah saya meminta satu permohonan?"


"Sebutkan Badrun." jawab Kanjeng Ratu Sekar.


"Sa-saya mohon, Kanjeng Ratu berkenan untuk mencabut ilmu kanuragan milik Badriyah. Apa Kanjeng Ratu berkenan?" balas Kakek Badrun.


Kanjeng Ratu Sekar tersenyum.


"Bukan aku tak bisa Badrun. Tapi jika aku mencabutnya, maka nyawa Badriyah pun akan ikut terseret. Ilmu Badriyah sudah mendekati sempurna, sudah menyatu dengan jiwanya. Untung Adi lebih dulu menggunakan cincin itu, jika terlambat, aku takut Badriyah yang akan menggunakannya. Jika sampai itu terjadi, maka bisa di pastikan ia jauh lebih sakti." terang Kanjeng Ratu Sekar.


"Ampun Kanjeng Ratu. Biarkan saja Kanjeng, saya ikhlas nyawanya ikut tercabut." sahut Kakek Badrun.


Kanjeng Ratu Sekar kembali melempar senyuman.


"Badrun. Kau tak boleh seperti itu, biar bagaimana pun Badriyah adalah saudaramu. Biarkan ia melakukan kehendaknya, kau hanya cukup percaya pada balasan Yang Maha Kuasa. Ingat pesanku ini Badrun." balas Kanjeng Ratu Sekar.


"Baik Kanjeng Ratu Sekar." sahut Kakek Badrun.


"Satu lagi, kuntilanak merah itu belum musnah. Demit-demit yang di pimpin kuntilanak itu menolongnya. Aku tak mengira strategi mereka seperti itu, tapi yang jelas kuntilanak merah itu sudah kehilangan setengah kekuatannya. Kalian harus terus waspada, terutama kau, Adi. Kuntilanak merah itu sangat suka denganmu, kau berhati-hatilah." jelas Kanjeng Ratu Sekar.


"Karena ia kehilangan kekuatan, maka ia dan para hambanya akan giat mencari tumbal. Kalian pun harus menjaga keluarga, saudara, dan teman dari kuntilanak merah itu. Jangan ada lagi tumbal. Mengerti?" Kanjeng Ratu Sekar bertanya.


"Mengerti Kanjeng Ratu." kami menjawab serempak.


Bunyi kerincing lonceng kecil terdengar dari kejauhan, di iringi ringkikan kuda. Kereta kencana megah berlapis emas dan taburan batu berlian berwarna-warni menghiasi dengan indahnya, kereta kencana dan empat ekor kuda putih nan kekar terbang mendekat ke arah kami semua. Mendarat dengan mulus dekat Kanjeng Ratu Sekar Dara.


"Pulanglah. Orang-orang tersayang menunggu kalian. Luka yang kalian dapatkan, rasa sakit yang kalian rasakan akan hilang begitu kalian sampai di alam kalian. Dan selalu ingat semua pesanku." ucap Kanjeng Ratu Sekar Dara sambil menaiki kereta kencana.


"Ampun Kanjeng Ratu Sekar." tutur Kakek Badrun.


"Ada apa Badrun?"


"Kenapa Kanjeng Ratu Sekara datang membantu kami?" tanya Kakek Badrun.


Kanjeng Ratu Sekar tersenyum, kecantikannya merona kuat.


"Kita masih berteman Badrun, kau ingat itu!" jawab Kanjeng Ratu Sekar seraya duduk dengan anggunnya.


Di iringi ringkikan kuda, kereta kencana bergerak perlahan, roda berputar pelan, lalu keempat ekor kuda melayang bersama kereta kencana. Kanjeng Ratu Sekar Dara sempat menoleh ke arah kami dengan senyuman manisnya, lama-kelamaan kereta kencana terbang tinggi, hingga hilang di telan pekatnya malam.


Aku menghela nafas panjang. Kami semua tersenyum. Aku tersenyum, aku senang bisa menyelamatkan Yuda dengan bantuan Tika, Kakek Badrun, dan juga Kanjeng Ratu Sekar Dara. Tentunya pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebentar lagi kami akan pulang kembali ke alam kami. Dan sebentar lagi Yuda akan kembali bertemu dengan kedua orang tuanya.


Aku mengucap syukur dalam hati. Pengalaman ini menjadi cerita tersendiri dalam lembaran hidupku. Luar biasa. Hidupku sungguh luar biasa semenjak tinggal di kamar nomor 11b.

__ADS_1


__ADS_2