
Aku berlari dengan cepat menuju kamarku, kuambil ponsel dengan segera. Kuhubungi Yuda.
Tuuut tuuut tuuut
Ah sial, ia tak menjawab panggilanku. Kuambil mustika pemberian Kakek Badrun, semoga mustika ini bisa melindungi Yuda. Aku segera berlari keluar. Kubuka gerbang dengan cepat dan kututup kembali. Aku berlari menuju depan gang. Gumamku dalam hati semoga aku dapat abang ojek, lagipula belum terlalu malam. Pasti masih ada ojek pangkalan yang masih standby.
Dalam otakku hanya terpikirkan nama Yuda. Semoga tidak terjadi apa-apa sebelum aku sampai rumahnya.
Sampai di depan gang, tak ada satu pun abang ojek yang mangkal. Aku kembali berlari menuju jalan raya. Nafasku terengah, keringatku banjir, rasa lapar seketika hilang. Yuda tetap kuhubungi, namun ia tak menjawab panggilanku.
Sampai di pinggir jalan raya, aku mencari-cari ojek yang biasanya mangkal dekat pertigaan. Anehnya tak ada satu pun abang ojek yang terlihat. Apa harus kupesan ojek online? Ah sial, aku tak tahu alamat Yuda. Aku berlari menuju pertigaan jalan, berharap bertemu dengan seorang abang ojek pangkalan.
Kosong. Tak ada satu pun.
"Dek, cari siapa?" tanya seorang pria yang sedang duduk di warung rokok pinggir jalan.
"Emm, saya cari ojek pangkalan. Kok tumben pada nggak ada ya?" sahutku.
"Ojek pangkalan pada mogok narik dek, gara-gara udah banyak ojek online." ucap si pria. "Memang mau kemana dek?" tanya si pria.
"Kalau alamatnya saya nggak tahu bang, kalau jalannya saya hapal."
"Mau saya anter? Tarifnya samain aja kayak ojek pangkalan." si pria menawari.
"Boleh bang!" jawabku cepat.
Si pria menyalakan mesin motornya, aku naik membonceng dengan tergesa. Si pria lalu memakai helm, lalu memacu motornya.
"Bang, ngebut ya!" pintaku.
"Oke dek!" jawabnya, ia lalu memutar gas motor dengan kuat. Motor pun melesat dengan cepat. Skill mengendarai motor si pria ini tak di ragukan, motor meliuk-liuk di antara barisan mobil, salip kanan dan kiri.
Kami menempuh waktu sekitar dua puluh lima menit untuk sampai di rumah Yuda. Aku turun dari motor.
"Berapa bang?" aku bertanya upah si pria yang sudah mengantarku sampai rumah Yuda.
"Gocap aja dek." jawabnya.
"Hah, kok mahal amat bang?" tanyaku.
"Saya kan udah ngebut dek, biar cepet sampai dan selamat sampai tujuan. Nggak mahal kalau segitu."
Aku mengambil dompet, mengeluarkan selembar uang pecahan lima puluh ribu rupiah, lalu memberikannya kepada pria yang mengantarku dengan selamat sampai rumah Yuda.
"Makasih ya dek. Perlu di jemput lagi nggak nanti?" tanya pria itu.
"Nggak usah bang. Makasih ya."
__ADS_1
Si pria pun melaju dengan motornya meninggalkanku.
"Assalamualaikum." aku mengucap salam.
Seorang pria dengan seragam satpam mendekat ke gerbang, ia berjalan dari dalam pos.
"Waalaikumsalam. Cari siapa dek?" tanya si satpam.
"Yuda ada pak?" tanyaku.
"Mas Yuda belum pulang dek. Maaf, adek siapa?" tanya si satpam lagi.
"Saya Adi, teman kuliahnya Yuda pak. Ooh jadi Yuda belum pulang ya."
"Ooh teman kuliah Mas Yuda. Mau tunggu saja atau mau titip pesan dek?" tanya si satpam.
"Saya tunggu saja pak." ucapku. Aku terus mengubungi ponsel Yuda. Tapi tak ia jawab dari tadi. Kemana bocah ini? Bikin khawatir saja.
Si satpam membuka gerbang dan mempersilakanku untuk menunggu di teras rumah. Aku pun masuk, lalu duduk di kursi teras. Kenapa aku lebih dulu sampai? Apa Yuda tak langsung pulang ke rumah?
Tak lama kemudian seorang mbak asisten rumah tangga keluar.
"Temannya Mas Yuda ya mas?" tanya si mbak.
"Iya mbak, saya yang waktu itu menginap di sini." ujarku.
Lalu si mbak menawariku minum. Ya, kebetulan sekali. Kuminta air minum dingin, lelah karena berlari tadi, dan tenggorokanku pun terasa kering. Si mbak kembali masuk ke dalam rumah. Aku masih tetap menghubungi ponsel milik Yuda, namun tetap saja tak ia jawab. Kesal bercampur khawatir, perasaan ini yang menggangguku sekarang.
"Silakan mas." ucapnya.
"Iya, sama -sama mbak."
Si mbak berlalu, kembali ke dalam rumah.
Kusedot sirup jeruk di gelas kuat-kuat. Aaahh menyegarkan. Tenggorokanku pun basah oleh es sirup, mulutku menikmati tiap tetesnya.
Tak lama Yuda pun datang, ah ia duduk sendiri. Lalu sosok putih yang tadi kulihat membonceng di belakangnya kemana? Aaahh syukurlah, sosok itu tak mengikutinya sampai rumah. Ia parkir motornya di depan pintu garasi yang cukup lebar. Ia melepas helm, lalu berjalan menghampiriku.
"Heh, ngapain lo? Tadi bilangnya nggak mau nginep." tanya Yuda.
"Emm, tiba-tiba gue berubah pikiran Da. Hehehehehe." jawabku asal.
"Yeee Mas Ndesooo. Yaudah, yuk masuk!" ajak Yuda sembari membuka pintu. "Terus tadi lo kesini naik apa?" tanya Yuda.
"Naik ojek." jawabku.
"Kan, lo suka nyusahin diri sendiri sih. Coba tadi ikut bareng gue, duit lo pasti utuh." sahut Yuda.
__ADS_1
Kami pun naik menuju kamar Yuda di lantai atas. Seperti biasa, kamarnya rapi dan wangi. Aku merebahkan badan di atas karpet bulu, nikmatnya.
"Lo dari mana sih Da? Kok lama banget sampe rumahnya?" tanyaku.
"Tadi gue mampir ke bengkel om gue. Rencananya sih mau bilang, kalau lusa ada mobil mau masuk. Tapi om gue nggak ada di bengkelnya." jelas Yuda sembari melepas jaket dan kemejanya.
"Eh Di, besok lo ke kampus bawa motor gue yang matic ya."
"Ngapain ke kampus? Kan besok libur Da."
"Astaga, gue lupa. Iya ya, besok libur ya." ucap Yuda.
"Memang motor matic lo kenapa? Kan motor baru." tanyaku.
"Nggak enak banget tuh motor, pas balik dari kost lo terasa beraaaaat banget. Gua putar gas kuat-kuat, tetap aja jalannya pelan. Nggak beres tuh motor, harus di bawa ke bengkel." terang Yuda.
Berat? Apa karena sosok putih yang membonceng di motor Yuda.
"Terus pas lo balik dari rumah om lo, apa motornya masih terasa berat?" tanyaku.
"Eh, enggak sih. Eh iya ya kok gue baru sadar sih, tadi gue bawa motor itu dari rumah om gue normal aja. Pokoknya gue ngerasa motor itu nggak beres saat balik dari kost lo." jelas Yuda.
Sial, apa sosok putih yang kulihat itu ada di rumah om si Yuda? Bisa bahaya kalau ternyata benar.
"Da, om lo tinggal sama siapa di bengkelnya?" tanyaku.
Yuda menoleh ke arahku. Raut wajahnya nampak heran.
"Kenapa lo tanya-tanya sampai sedetil itu?"
"Hehehehe. Cuma nanya doang Da. Jawab aja sih! Di pikirin amat pertanyaan gue." gumamku.
"Itu bengkel Di, bukan rumah. Om gue tinggal di rumahnya. Tapi di bengkel ada karyawannya yang tinggal di sana. Kenapa sih Di?"
"Nggak apa-apa Da." jawabku.
Walah, berarti karyawan bengkel om si Yuda yang dalam bahaya kalau seperti ini. Bagaimana cara agar karyawan itu pergi dari bengkel itu ya? Cukup malam ini saja. Aku memutar otak.
"Eh Di, lo udah makan belum?" tanya Yuda.
"Ah iya, gue sampai lupa makan saking buru-burunya mau nginep di rumah lo." jawabku.
"Yaudah yuk makan! Gue juga lapar nih." Yuda mengajakku makan.
Kami turun ke lantai bawah, menuju meja makan besar dekat dapur. Aku selalu terkesan jika main ke rumah Yuda. Rumahnya tertata rapi dan cantik. Yuda membuka tudung saji di atas meja makan.
Jreng!
__ADS_1
Ada empal goreng, tempe dan tahu goreng, sayur santan berisi wortel, kentang, dan kembang kol. Tak lupa sambal, juga ada satu stoples besar krupuk. Aku menelan ludah, perutku berbunyi.
Aku makan dengan lahap. Yuda mengingatkanku untuk pelan-pelan saja. Tapi insting bar bar dalam diriku menolaknya, sendok demi sendok dengan cepat masuk ke dalam mulutku. Kulupakan sejenak sosok bayangan putih yang tadi membonceng di motor Yuda.