
Eh, suara tangis bayi?
Dimana aku?
Kenapa semuanya terlihat gelap?
"Mas Guuun. Mas. Jangan bercanda Mas!" teriakku.
Owee owee owee owee
Suara tangisnya nyaring sekali.
Kubuka mataku pelan.
Dimana aku?
Eh. Di dalam mobil? Aku duduk di bangku belakang mobil. Suara tangis bayi masih terdengar sangat nyaring dan seolah dekat.
Aku menoleh ke arah kiri.
Astaghfirullah!
Aku terkejut melihat seorang wanita cantik duduk di sampingku. Ia bersandar pada jok dan tampak lemah. Kulitnya pucat seputih kapas. Kedua tangannya mencengkram perut.
Darah?
Kain batik yang di pakainya basah oleh darah. Tergambar jelas di betisnya yang putih, aliran darah yang mengalir dari pangkal pahanya. Wanita ini sesekali meringis kesakitan.
Tiba-tiba ia melirik ke arahku. Aku menggigil ketakutan.
Bibir wanita itu bergerak seolah berkata sesuatu. Namun tak dapat kudengar apa yang ia katakan.
Matanya bergerak ke arah bawah kakinya. Darah masih mengalir, terlihat segar dan berbau anyir.
Kulihat ke arah kakinya.
Aku lompat terkejut. Ketika kulihat tubuh bayi yang berlumuran darah. Tali pusarnya masih menempel. Bayi itu menangis dengan mata masih terpejam.
Tiba-tiba wanita itu menangis.
Dari luar mobil, kulihat seorang wanita lain berjalan. Ia mendekat ke mobil. Membuka pintu mobil dengan senyum tergambar di bibirnya. Pintu mobil tempat wanita di sampingku dibukanya. Kemudian wanita itu mengambil bayi dari kaki si wanita di sampingku. Tali pusar di bayi yang masih menempel di tarik oleh wanita yang mengambil bayi hingga putus. Pintu mobil ditutup kembali.
Wanita di sebelahku diam dengan mata terpejam.
Aku tak bisa berkata-kata melihat semua kejadian di depan mataku.
Wanita yang menggendong bayi itu kemudian masuk ke dalam kamarku. Apa? Kamarku? Kamar 11b. Itu kamarku!
Dimana aku?
Tersadar, aku di garasi mobil rumah Nek Iyah.
Sebelum masuk kamar, ia menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah belakang. Tepatnya melihat ke arah mobil, tempatku duduk di dalamnya. Wanita itu tersenyum angkuh sambil menggendong bayi. Tali pusar di perut bayi itu menjuntai, sesekali meneteskan darah. Lalu wanita itu masuk dan tak terlihat lagi.
Siapa wanita itu?
Aku melihat ke arah wanita yang duduk di sampingku.
__ADS_1
Hilang? Wanita cantik di sampingku hilang.
"Hehehehehehe." terdengar suara tawa.
Aku kembali terkejut ketika melihat sepasang pria dan wanita duduk di bangku depan. Si pria duduk di kursi kemudi, sedangkan wanita duduk di sampingnya.
Mereka tertawa tak henti-hentinya.
"Hehehehehehe. Bersiaplah bocah. Bersiaplah." pria berkata dengan suara serak.
"Sebentar lagi. Sebentar lagi. Hehehehe." wanita berucap.
Aku diam tak dapat berkata.
Tiba-tiba, pria dan wanita itu menoleh ke arah belakang. Ia menatapku dengan senyum menyeringai dan tampak buas.
Itu!
Itu!
Itu Mas Steve dan wanita yang tewas karena tumbal!
Aku bergidik ketakutan.
Wajah mereka persis seperti saat kulihat di rumah sakit.
Mas Steve dengan lubang yang menganga di dahinya sampai ke hidung. Dari dalam lubang, mengalir darah segar. Matanya terbelalak. Ia tersenyum buas padaku. Urat-urat dan pembuluh darah di wajahnya tampak terlihat, menonjol berwarna kebiruan. Kondisi wanita di sebelah Mas Steve pun sama.
"Bersiaplah. Bersiaplah. Bersiaplah." Mas Steve terus berkata seperti itu.
"Sebentar lagi. Sebentar lagi. Sebentar lagi." si wanita berkata.
"Waaaaaaaaaaaaaaa!" aku teriak sekuat tenaga.
.
.
.
.
.
"Di. Woi Di. Kenapa Di? Adi."
Aku bangun dengan napas terengah.
Kulihat Mas Gun di hadapanku. Raut wajahnya terlihat khawatir.
"Lo kenapa Di? Mimpi seram?" tanya Mas Gun.
Kerongkonganku terasa kering.
"Istighfar Di. Istighfar." suruh Mas Gun.
"Jam berapa ini Mas?" tanyaku.
__ADS_1
Mas Gun melihat ponselnya.
"Jam tiga. Bangun Di. Tahajud sana!" suruh Mas Gun.
Aku mengangguk.
Lalu beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Kulaksanakan shalat tahajud empat rakaat. Setelahnya, aku berdoa pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Memohon kekuatan dan perlindungan pada-Nya. Tiba-tiba cincin yang kukenakan memendarkan cahaya biru.
Aku berzikir setelah berdoa. Cincin kembali mengeluarkan cahaya biru. Kini lebih terang.
Setelahnya, kulihat sajadah dan akin sarung. Aku duduk di ruang depan. Mas Gun tampak baru saja selesai shalat. Ia masih mengenakan kain sarung dan wajahnya masih terlihat basah oleh air wudhu.
Aku mengambil segelas air, menenggaknya dengan cepat.
"Mimpi apa lo?" tanya Mas Gun.
"Aneh Mas. Entahlah, mimpi barusan aneh atau sebuah petunjuk." jawabku.
"Mimpi apa?"
Kuceritakan soal mimpiku. Wanita yang tampak lemah dan bayi yang dibawa ke dalam kamar ini oleh seorang wanita lain. Juga soal korban tumbal kuntilanak merah yang terus berkata padaku agar aku bersiap dan bilang sebentar lagi.
"Kalau wanita yang menggendong bayi itu apa artinya ya? Nggak sampai otak gue rasanya." ujar Mas Gun.
"Mungkin kalau sosok Mas Steve dan wanita itu bilang kalau lo harus bersiap dan sebentar lagi, bisa jadi artinya sebentar lagi akan ada serangan dari kuntilanak merah dan bala tentaranya. Benar nggak? Makanya lo harus bersiap-siap Di." tutur Mas Gun.
Pasti. Itu pasti makna mimpiku. Tapi apa arti mimpi wanita yang membawa bayi ke dalam kamarku?
"Mas, apa mungkin wanita yang menggendong bayi masuk ke kamar kita itu artinya bayi dari Nyai Asih dikubur di dalam kamar ini. Masuk akal nggak? Karena Kang Ujang pernah cerita, kalau Nyai Asih memiliki wajah yang cantik dan kulit putih bersih. Bisa dibilang bunga desa pada saat itu." ujarku.
Mas Gun tampak berpikir.
"Hmmm. Masuk akal sih kalau ternyata kuburan bayi Nyai Asih ada di kamar ini. Pertanyaannya adalah, siapa wanita yang menggendong bayi itu?" sahut Mas Gun.
Aku diam berpikir.
Mas Gun tertunduk berpikir.
Cukup lama kami diam. Mengira-ngira dalam hati, siapa gerangan wanita yang menggendong bayi itu masuk ke kamarku.
Ctakk. Aku menjentikkan jari.
Mas Gun terkejut.
"Apa Di?" tanya Mas Gun.
"Bi Tati! Jangan-jangan sosok wanita di mimpi gue yang menggendong bayi itu adalah Bi Tati." tukasku.
"Kenapa lo bilang itu Bi Tati?" tanya Mas Gun.
"Mungkin nih ya. Ini baru kemungkinan aja. Bisa benar bisa salah." ucapku.
"Iya apa?"
"Dulu sebelum di bangun kamar kost, area ini adalah gudang tempat menyimpan barang-barang. Dan menurut Kang Ujang, di kamar kita ini dulu tempat Mbak Gendis di pasung. Bisa jadi kamar kita ini adalah tempat menguburkan jasad si bayi. Bahkan mungkin tempat menguburkan jasad Mbak Gendis dan Mbak Ajeng juga." jawabku.
"Banyak kemungkinan sih? Lo tahu bisa dapat jawaban dari siapa soal kuburan bayi Nyai Asih?" tanya Mas Gun.
__ADS_1
Aku mengangguk pelan.
"Kang Ujang!" aku dan Mas Gun bersamaan menyebut nama Kang Ujang.