
Aku duduk sekitar sepuluh menit di teras depan kamarku, kembali memikirkan apa yang di sampaikan Nek Iyah tadi, mencerna tiap kata, menerka-nerka orang yang baru ku kenal. Siapa? Paling hanya tiga orang di kedai kopi dan Kemala, selebihnya ku rasa tak ada.
Ah, daripada berlarut-larut lebih baik aku beristirahat. Syukurlah jadwal kuliah esok tak terlalu pagi, jadi waktu istirahatku bisa lebih panjang. Ku putar kunci lalu membuka pintu.
Klik. Ku nyalakan lampu kamar, ruang depan dan ruang tengah.
Astaga, lagi-lagi ada cairan hitam di ruang tengah kamarku. Dongkol rasanya hati ini. Memang tak terlalu banyak, tak meluber seperti tempo hari. Namun tetap saja membuatku harus membersihkannya dengan benar. Bau tak sedap menyeruak mengisi ruang tengah kamarku.
Ku bersihkan cairan hitam dengan teliti, tak ingin ada sisa atau pun bau yang tertinggal, bisa tak nyaman tidurku malam ini kalau bau busuknya tak hilang. Besok aku harus lapor ke Nek Iyah atau Kang Ujang, harus! Nek Iyah harus tahu, kalau kamar yang ku sewa ini bermasalah.
Haaahh, aku menghela nafas panjang. Akhirnya selesai juga membersihkan cairan sial ini. Setelah bersih-bersih dan melaksanakan shalat isya, aku merebahkan tubuhku di atas kasur. Nikmatnya merenggangkan tubuh.
Aku tidur tepat pukul 21:00, mungkin karena terlalu lelah. Untungnya Bang Oji tak mengetuk pintu kamarku untuk mengajak ngobrol dan ngopi, karena baru saja ku dengar suara motornya lewat depan kamarku.
***
"Adiiii.." panggil seseorang.
Suaranya lembut, menggaung. Aku membuka mata. Gelap.
"Adiiii. Pergiiii." panggil suara itu kembali.
Aku menoleh ke segala penjuru, namun tak dapat melihat apa-apa, terlalu gelap.
"Hooiiii, siapa di situ?" teriakku bertanya.
"Adiiii. Pergiiii." suara itu kembali memanggilku dan menyuruhku pergi.
Aku masih tak dapat melihat apa-apa.
Tiba-tiba hening. Suara panggilan tak terdengar lagi. Sunyi. Sepi.
"Hiks.. Hu hu hu hu. Hiks.." terdengar suara tangis mendayu, lirih suaranya.
"Heeii, siapa di situ?" teriakku memanggil.
Suara tangis masih terdengar. Tiba-tiba terdengar suara gaduh seperti banyak orang berteriak, memekik, kesakitan, dan bahkan tertawa. Aku menutup telingaku dan mataku, suara gaduhnya memekakkan.
Ketika ku buka mataku, kaget bukan main. Sebuah wajah perempuan berlumuran darah dan cairan hitam terpampang di depan wajahku. Matanya terbelalak melihat ke atas, mulutnya menganga dengan lidah menjulur keluar. Dari dalam mulutnya memuntahkan darah segar berbau anyir, menetes hingga ke dagunya.
Aku teriak amat keras dan..
***
__ADS_1
Oeee oeee oeee.
Mimpi, tadi hanya mimpi, pikirku ketika ku buka mata. Gila, kenapa dua malam berturut-turut aku bermimpi aneh? Lagi-lagi suara tangis bayi, ini pasti jam tiga malam. Benar saja, setelah ku lihat jam di ponselku waktu menunjukkan pukul 03:03.
"Hmmm hmmm hmmm hmmm.."
Eh, siapa yang bersenandung malam-malam begini? Kutajamkan telingaku. Astaga, benar itu suara perempuan bersenandung. Iramanya terdengar seperti lagu Nina Bobo. Aku takut, tapi sangat penasaran. Suaranya begitu jelas dan terdengar dekat. Terjadi perang bathin dalam diriku, antara keluar kamar dan mencari siapa yang bersenandung, atau kembali tidur dan menutup tubuhku dengan selimut.
Aku pun beranjak dari kasurku, rasa penasaranku memenangkan peperangan. Lampu ruang depan kamarku memang masih menyala, aku mendekat ke arah jendela. Lalu ku singkap sedikit ujung gordyn. Mataku melirik tiap sudut halaman kost. Ah, banyak sudut yang tak terjangkau dan terlihat. Aku bergeser ke arah pintu. Ku singkap kembali sedikit ujung gordyn, aku melihat ke arah tower tangki air di depan kamar 11a dan kebun kosong di sebelahnya. Nihil. Tak ada apa-apa, tapi suara bersenandung masih terdengar jelas.
Kembali ku lirik kebun kosong di sebelah kamar 11a. Astaga, siapa itu? Jantungku berdegup cepat, aku menelan ludah. Ku picingkan mataku. Itu, itu Ela! Sedang apa Ela di bawah pohon? Aku membuka pintu lalu beranjak keluar kamar. Berjalan perlahan mendekat ke kamar 11a. Ela tampak asik bersenandung lagu Nina Bobo sambil menggendong bantal kecil. Sesekali tangannya menepuk-nepuk pelan bantal yang di gendongnya, seolah-olah itu adalah seorang bayi.
"Ela." panggilku pelan.
"Ngapain di situ La?" tanyaku.
Apa Dini, teman sekamarnya tak tahu kalau Ela keluar kamar? Ela masih saja bersenandung dengan pelan. Matanya melihat bantal yang ia gendong, sekali senyum dari bibirnya terangkai. Aku bergidik ketakutan melihat gelagatnya.
"Ela." panggilku lagi.
Tiba-tiba ia berhenti bersenandung. Wajahnya nampak marah. Kemudian bola matanya perlahan bergerak melihat ke arahku. Bulu kudukku merinding ketika Ela melihat marah ke arahku. Tatapannya nanar penuh amarah, aku seolah menganggu kesenangannya.
Ela diam dan masih menatapku tajam. Lalu ia melempar bantal yang semula ia gendong dan tepuk manja layaknya seorang bayi. Lalu, bagian yang paling membuat tubuhku lemas akrena ketakutan adalah, Ela tiba-tiba tertawa terkekeh seperti malam saat ia kerasukan. Tawa cekikikan, suara tawanya melengking. Aku berlari ke arah kamar Bang Oji, menggedor pintunya kuat dan memanggilnya. Bang Oji membuka pintu dan keluar.
"Bang, Ela kerasukan lagi bang." ucapku dengan cepat.
"Ela? Di mana?" tanya Bang Oji.
"Itu bang, itu tuh." tunjukku ke arah Ela yang sedang tertawa terkekeh di bawah pohon.
"Astaghfirullah Ela! Ela nyebut La!" ucap Bang Oji, seraya mendekat ke arah Ela.
Ela masih tertawa, tubuhnya bersandar pada pohon besar. Tangannya ke belakang, menempel pada pohon.
"Astaghfirullah. Ela, nyebut La." Bang Oji kembali berucap.
Baru saja Bang Oji selesai berucap, tiba-tiba tubuh Ela bergerak naik ke atas pohon. Ela naik ke atas pohon layaknya Spiderman, ia hanya menempelkan tangannya di pohon lalu bergerak naik ke atas pohon sambil terus tertawa cekikikan. Aku dan Bang Oji mundur serentak sambil mengucap istighfar.
"Di, bangunin Dini. Suruh ke rumah Nek Iyah, minta tolong sama Nek Iyah." Bang Oji menyuruhku.
Secepat kilat aku menggedor kamar Dini, kamar 11d. Ia bangun dengan wajah panik dan ketakutan. Ku suruh Dini memanggil Nek Iyah untuk meminta pertolongan. Dini melihat Ela yang sedang menempel di pohon, ia menangis sambil berlalu pergi ke rumah Nek Iyah.
Tak lama Dini datang bersama Nek Iyah. Kembali Nek Iyah membawa segelas air seperti saat pertama kali Ela kerasukan. Langkahnya sedikit tergopoh-gopoh. Nek Iyah menghampiri aku dan Bang Oji di ikuti Dini di belakangnya.
__ADS_1
Nek Iyah melihat Ela, ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Merah, kamu berulah lagi rupanya." ucap Nek Iyah dengan tenang.
Ela masih tertawa cekikikan.
"Apa maumu Merah?" tanya Nek Iyah.
"Hihihihihihi. Aku datangh.. hanya untuk.. menagihh janji.. Badriyahh." jawab Ela dengan terbata, suaranya bukan seperti suara Ela.
"Janji?" Nek Iyah singkat berkata.
"Janjimuh.. Badriyahh. Hihihihihihi." balas Ela yang bukan Ela sebenarnya.
"Belum saatnya kau menagih janji Merah. Sekarang keluar dari tubuh gadis itu!" sergah Nek Iyah.
"Hihihihihihihi. Aku sukah.. anak inih.. Badriyahh."
"Aku.. sukah anak muda. Hihihihihihi." sambung Ela.
Nek Iyah memejamkan matanya, mulutnya komat-kamit seperti membaca mantra. Tak lama kemudian, Nek Iyah membuka mata dan meneguk air dari gelas. Lalu menyembur Ela yang masih menempel di batang pohon. Dini hanya bisa menangis melihat sahabatnya kerasukan.
"Hihihihihihi. Ku peringatkanh kau Badriyah. Badrun sedang mendekatih.. bocah yangh.. kau janjikan.. padakuhh." ucap Ela.
Nek Iyah kembali meneguk air dan menyemburkannya ke Ela.
"Hihihihihihihihihi." Ela tertawa panjang, lalu jatuh ambruk dari atas pohon. Kami yang menyaksikan terkejut. Untung saja Ela jatuh di atas tanah dan tumpukan daun kering. Aku dan Bang Oji bergegas mengangkat Ela ke dalam kamarnya. Dini masih saja menangis, wajahnya menyiratkan ketakutan luar biasa, sama sepertiku.
Ela di rebahkan di atas kasur, bibirnya luka dan berdarah akibat terjatuh, pipinya kotor dengan tanah. Bang Oji menyuruh Dini mengambil handuk yang di basahi air untuk membersihkan luka dan wajah Ela. Nek Iyah mengambil segelas air, airnya ia bacakan mantra lalu meniupnya.
"Dini, nanti kalau Ela sadar tolong di kasih minum air ini ya." pinta Nek Iyah.
Dini hanya mengangguk. Aku tahu, Dini amat ketakutan.
"N..nek, Dini takut sendirian." ucapnya pelan.
Nek Iyah diam, ia mengerti apa yang di rasakan Dini.
"Oji sama Dek Adi, kamu temani Dini tidur di kamar ini ya. Tidur di ruang depan, jaga-jaga kalau Ela kenapa-kenapa." suruh Nek Iyah.
"Iya nek. Di, sana ambil bantal! Kasihan Dini ketakutan kalau cuma berdua sama Ela." ujar Bang Oji.
Malam ini, aku dan Bang Oji tidur di ruang depan kamar 11d, guna menemani Dini yang ketakutan. Sekaligus berjaga, jika Ela kembali kerasukan. Pengalaman mistisku makin bertambah sejak aku menempati kost ini. Dua kali ku lihat Ela kerasukan, dan nama Merah yang selalu di sebut oleh Nek Iyah. Makin membuatku penasaran, ada apa sebenarnya Nek Iyah dengan Merah? Lalu, janji apa yang mereka bicarakan tadi? Aku tak dapat memejamkan mataku lagi, kembali terngiang-ngiang kejadian tadi. Sungguh menakutkan.
__ADS_1