Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 104


__ADS_3

Pagi ini aku pamit kuliah dulu sampai siang, setelahnya aku akan membantu Mas Gun untuk beres-beres barangnya dan membantunya pindah ke Kost Pak Thamrin. Ada niatku ingin bertemu dengan Yuda. Walaupun hanya sekedar menanyakan kabarnya.


Aku masuk kelas dengan santai, perkuliahan memang belum di mulai. Kelasku sudah ramai, tapi Yuda tak kulihat. Kursi favoritnya pun masih kosong. Ah, barangkali dia datang telat. Aku pun duduk di kursi barisan kedua.


Sudah pukul 8:15, dosen sudah datang. Tapi Yuda belum juga datang hadir. Kelas pun akhirnya di mulai. Aku mulai memikirkannya, apa ia sehat dan baik-baik saja? Sepanjang dosen mengoceh soal perkuliahan, otakku hanya memikirkan Yuda. Dudukku tak nyaman, aku jadi gelisah. Sungguh tak mengenakkan. Kapan jam kuliah ini berakhir?


Akhirnya, aku pun nekat mengirim pesan ke Yuda.


- Woi! Kemana lo nggak kuliah? -


.


.


.


.


Tak ada balasan.


Ah sial, kenapa otakku jadi memikirkan Yuda begini? Biarlah, setelah kuliah pagi ini selesai, akan kuhubungi Yuda langsung.


* * *


Kuliah pun selesai. Dosen baru saja menutup perkuliahan, aku buru-buru melesat keluar kelas. Langsung kuhubungi Yuda. tak menunggu lama.


Tut tut tut tut.


Nomornya tak aktif. Ah sial, kemana si Yuda? Aku ingin langsung pergi ke rumah Yuda, tapi setelah ini kelasku masih ada mata kuliah.


Dosen mata kuliah kedua pagi ini sudah tampak dari kejauhan. Ah sial, bagaimana ini? Apa aku harus bolos kuliah dan pergi ke rumah Yuda? Tapi apa harus mengorbankan kuliah demi Yuda? Akhirnya kuputuskan untuk tetap kuliah, aku akan pergi ke rumah Yuda saat istirahat zuhur.


Mata kuliah kedua pun di mulai. Lagi, aku tak fokus memperhatikan pelajaran. Aku resah memikirkan Yuda. Ponsel bocah ini kenapa juga tidak bisa di hubungi? Tak biasanya ponselnya tak aktif. Biarlah setelah mata kuliah ini, aku harus segera ke rumah Yuda. Harus!


* * *


"Baiklah, sampai di sini dulu kuliah kita. Untuk materi UTS, nanti akan bapak share ke ketua mahasiswa kal.."


Belum selesai dosen bicara, secepat kilat aku langsung berlari keluar kelas. Aku tak peduli dengan ocehan soal UTS itu.


"Hei! Siapa itu? Nggak sopan!" aku mendengar dosen meneriakiku. Aku tak menggubrisnya, aku berlari menuju lift. Begitu sampai di depan lift, kutekan dengan cepat tombol turun.


"Ayo ayo cepat!" aku membatin.


Ting! Lift berbunyi, pintunya terbuka. Kosong, syukurlah. Aku buru-buru masuk dan menekan tombol angka satu, dilanjutkan menekan tombol tutup pintu dengan cepat.


Baru saja pintu lift hendak menutup rapat, tiba-tiba terbuka kembali. Dan beberapa mahasiswa pun masuk ke dalam. Satu orang menekan angka tiga. Seorang lainnya menekan angka dua.


"Ahhh siiiaaall, kalau hanya ke lantai tiga kenapa tidak turun lewat tangga saja sih! Dasar pemalas!" aku menggerutu dalam hati.


Pintu lift pun tertutup, dan lift bergerak turun.


Lantai 4.


.


.


.


Lantai 3. Ting. Dua orang mahasiswa keluar sembari tertawa. Dasar pemalas! Lagi-lagi aku menggerutu.


Pintu lift tertutup.


Lantai 2. Ting. Pintu terbuka, seorang mahasiswi keluar. Aku menekan tombol tutup pintu dengan cepat. Pintu bergerak menutup. Lalu tiba-tiba terbuka kembali.


"Aaahh, siapa lagi yang menekan tombol di depan sih?" aku kesal.


Kemala.

__ADS_1


Ia masuk ke dalam lift.


"Eh Adi. Sendirian aja?" tanya Kemala menegurku, wajahnya sumringah.


Rupanya Kemala. Yang kugerutui ternyata gadis idamanku. Kemala.


"Eh, iya nih. Sendiri aja, ngapain rame-rame." jawabku.


Pintu lift pun tertutup.


"Sibuk nggak?" tanya Kemala lagi.


"Eng-enggak sih. Kenapa memangnya?" sahutku.


"Makan siang bareng yuk! Ada yang mau gue obrolin sama lo." ajak Kemala.


Aduh, aku jadi bingung. Aku dilema. Antara senang dengan ajakan Kemala, tapi di satu sisi aku khawatir dan memikirkan Yuda.


"Kenapa? Lo marah soal kemarin ya?" tanya Kemala. Aku melihatnya, wajahnya teduh, matanya indah. Ah, rasanya aku tak bisa menolak ajakannya.


"M-marah? Marah soal apa sih?" balasku.


Ting. Lantai 1, pintu lift terbuka. Aku dan Kemala keluar dari lift berbarengan. Kami berjalan beriringan.


"Yeee pura-pura lupa lagi. Soal kejadian lo sama Panji di pinggir jalan kemarin lho! Masa lupa sih?" terang Kemala.


Bagaimana mungkin aku bisa lupa. Niatku membela diri, Kemala malah marah denganku dan membela Panji. Sejujurnya saat itu aku sedikit kesal dengan Kemala.


"Ooohh kejadian kemarin. Halaaahh, udahlah. Nggak usah di pikirin." sahutku.


"Ya makanya ayo kita makan siang bareng! Yuuuk!" Kemala masih mengajakku.


Aku diam tak menjawab. Kami jalan keluar gedung fakultas.


"Emmm, lain kali aja deh La. Gue lagi ada keperluan nih." jawabku. Raut wajah Kemala berubah.


"Gue mau ke rumah Yuda. Udah dua hari gue nggak lihat Yuda di kampus. Gue hubungi, hapenya nggak aktif." jelasku.


"Oohh mau kerumah Yuda toh." sahut Kemala.


"Iya." balasku sambil menggaruk rambut yang tak gatal.


"Emm, yaudah gue ikut ke rumah Yuda deh. Kita naik motor gue. Gimana? Boleh yaa. Boleh yaa. Pliiiiiiisss." Kemala memohon, lagi-lagi dengan nada manja dan raut wajah memelas. Aaahhh, aku makin terenyuh melihat wajah Kelama. Kau manis sekali Kemala.


"Emmm, gimana ya?" aku bingung mau jawab apa. "Lo yakin mau ikut gue ke rumah Yuda?" tanyaku memastikan.


"Iya Adiiii. Yakin seratus persen! Boleh ya Diiii." ujar Kemala.


"Emm, yaudah ayo." jawabku.


"Asiiiiiikkk. Makasih Adiiiii. Lo emang sahabat paling the best deh." Kemala girang. Hahahaha, aku sahabat paling the best dia bilang. Sahabat. Hahahaha. Hanya sahabat ternyata.


"Eh, tapi nanti berhenti makan siang dulu ya Di. Boleh kan?" ucap Kemala. "Gue yang traktir deeeh! Oke!" tambahnya.


"Iya iya, terserah lo aja." balasku.


Dan kami pun pergi menggunakan motor Kemala menuju rumah Yuda. Kami sempat mampir di sebuah rumah makan padang untuk makan siang. Benar saja, Kemala mentraktirku.


Setelah makan siang, kami pun lanjut pergi ke rumah Yuda. Sudah tak sabar rasanya, aku ingin segera menemui Yuda. Kalau nantinya ia meminta maaf, tak pakai pikir panjang, akan kumaafkan kesalahannya. Aku memutar gas motor, dan motor pun melaju dengan cepat.


Puk! Pundakku di tepuk pelan oleh Kemala.


"Diiii, jangan ngebut-ngebut. Gue takut." ucapnya sedikit berteriak. Aku pun memelankan laju motor.


"Iya iya."


Sekitar lima belas menit, akhirnya kami pun sampai di depan rumah Yuda. Aku mematikan mesin motor, dan langsung melesat menuju pos satpam di depan rumah Yuda.


"Permisiiii." ucapku. "Assalamualaikuum. Paak." panggilku.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Eh, temannya Mas Yuda ya?" tanya bapak satpam.


"Iya pak. Pak, Yuda ada?" tanyaku dari luar gerbang.


"Ada mas." jawab bapak satpam, ia membuka gerbang sedikit. "Silakan masuk mas." bapak satpam mempersilakan kami masuk.


Aku memarkir motor Kemala di halaman rumah Yuda.


"Di, ini beneran rumah Yuda?" tanya Kemala.


"Iya, ini rumah Yuda." jawabku.


"Silakan duduk dulu mas. Nanti saya bilang dulu ke mbak." bapak satpam mempersilakan kami duduk di kursi teras.


Bapak satpam masuk ke dalam garasi mobil. Tak lama kemudian, mbak asisten rumah tangga keluar.


"Ooh Mas Adi, saya kira siapa. Mas Adi, silakan langsung saja ke atas." suruh si mbak.


"Hah? Langsung ke atas?" sahutku.


"Iya mas. Sudah dua hari Mas Yuda nggak keluar kamar, Mas Yuda selalu menutup pintu kamarnya. Bapak sama ibu juga bingung kenapa. Makanan yang saya antar pun nggak pernah di makan sama Mas Yuda." ungkap si mbak.


"Serius nggak keluar kamar dua hari mbak?" tanyaku heran.


"Iya Mas Adi. Apa Mas Yuda ada masalah di kampusnya? Atau dengan teman-temannya? Kami semua di rumah jadi kepikiran dengan perilaku Mas Yuda." lanjut si mbak.


Jelas ia ada masalah. Dan ia bermasalah denganku. Kami pun menaiki satu persatu anak tangga, menuju kamar Yuda di lantai atas.


"Mungkin kalau Mas Adi yang ketuk pintu kamar Mas Yuda, Mas Yuda mau buka pintu. Silakan langsung ke atas saja mas." si mbak menyuruhku.


"Neng ini siapa? Pacarnya Mas Yuda ya?" tanya si mbak ke Kemala.


"Hah! Eh emm bukan mbak. Saya teman kelasnya Yuda kok." jawab Kemala cepat.


"Tolong deh neng, siapa tahu Mas Yuda mau keluar kamar kalau neng yang ajak." si mbak meminta.


Kami pun sampai di depan kamar Yuda. Terlihat ada sepiring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi di atas nampan, di letakkan di depan kamar Yuda, juga segelas besar teh.


Aku menghela nafas panjang. Aku menoleh ke Kemala. Kemala menganggukkan kepalanya, menyuruhku mengetuk pintu kamar Yuda. Aku menoleh ke mbak, wajahnya was was.


Tok tok tok. Aku mengetuk pelan pintu kamar Yuda.


"Da. Yuda." panggilku. "Yuda, gue nih. Adi." lanjutku.


.


.


.


Hening. Tak ada sahutan dari Yuda. Aku mengetuk lagi pintu kamar dan memanggil Yuda.


"Daa, Yudaaa. Buka pintu Da. Gue Adi. Buka pintunya Da!"


Jantungku berdebar. Aku takut hal buruk menimpa Yuda. Kubuang jauh-jauh pikiran anehku.


"Yudaaa! Buka pintu Daa!" kali ini aku teriak.


Lagi-lagi tak ada jawaban dari Yuda.


"Mbak, apa nggak coba di dobrak aja pintunya?" tanyaku.


"Ke-kemarin sempat di coba sama satpam. Tapi nggak bisa Mas Adi. Tuh, bekas hantaman di gagang pintunya masih ada." tunjuk si mbak ke gagang pintu. Pintu kamar Yuda yang berwarna putih terlihat ada bekas hantaman benda tumpul di sekitaran gagang pintu.


"Yudaaa! Buka pintu dong Daaa. Gue kangen sama lo niiiihh." aku teriak.


Tetap tak ada jawaban dari Yuda di dalam kamar. Wajah Kemala ikut was was, begitu pun si mbak. Jantungku masih saja berdebar. Apa yang harus kulakukan? Ya Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Yuda. Semoga ia hanya mengurung diri. Dan semoga saja tak terjadi hal mistis padanya.


Semoga ia tak menjadi tumbal Si Merah.

__ADS_1


__ADS_2