
"Pak, jujur saya nggak tahu maksud dari barang-barang ini. Apa maksudnya Pak?" tanyaku.
Pak Aziz kembali tersenyum. Ia kemudian bangkit berdiri.
"Ini yang Nek Iyah pesankan dalam surat itu. Agar kami para anggota perkumpulan menolong dan melindungimu." jawab Pak Aziz.
Aku melirik Tika dan Mas Gun. Mereka tak menyiratkan sedikit pun raut wajah paham. Hanya bingung yang tergambar dari wajah mereka.
"Pak, saya masih tak paham apa maksud dari semua ini? Tentang permohonan almarhumah Nek Iyah yang menjelaskan tentang para anggota perkumpulan menolong dan melindungi kami." ujarku.
Pak Aziz menghela napas, ia duduk di hadapanku.
"Dek Adi, Tika, dan Guntur. Urusan dengan hal gaib telah selesai kalian lakukan. Namun saat ini, kalian sedang berurusan dengan hukum. Selama kurun waktu dari awal ditemukannya jenazah dua perempuan itu sampai yang terakhir meninggalnya Nek Iyah, polisi sudah mencurigai kalian. Karena kalianlah yang tak ada di kamar kost. Kalian tak menampakkan wajah, kalian tak pernah hadir saat polisi datang, kalian pun tak pernah melapor. Dan tentunya kalian tak punya alibi sama sekali. Betul?" tanya Pak Aziz.
Aku menelan ludah. Benar apa yang dikatakan oleh Pak Aziz. Kalau seperti ini, bisa jadi aku, Tika, dan Mas Gun dicurigai oleh aparat. Hal terburuknya bisa jadi kami menjadi tersangka.
"Lalu?" tanyaku.
"Semua itu akan memberatkan kalian menghadapi para petugas. Maka kami para anggota perkumpulan yang bertugas melindungi kalian. Dan inilah alibi kalian." jawab Pak Aziz singkat sambil menunjuk tiket kereta dan flshdisk di hadapanku.
Bapak berbaju putih mendekat ke arah Pak Aziz.
"Baiklah. Akan saya jelaskan sedetil dan sepelan mungkin pada Adi dan kawan-kawan. Agar Adi dan kawan-kawan bisa menangkap dengan baik." ucap Bapak berbaju putih.
"Setuju?" tanya Bapak berbaju putih.
"Setuju Pak." sergah Mas Gun.
Kami merapatkan duduk. Memasang telinga baik-baik.
"Akan saya jelaskan mulai dari tugas kami. Setuju?" tanya Bapak berbaju putih lagi.
Kami bertiga mengangguk bersamaan.
"Tugas kami yang terakhir adalah menolong dan melindungi kalian dari para petugas polisi yang sedang mengincar kalian. Ketika Pak Aziz menemukan surat dari Nek Iyah, kami semua langsung membuat sebuah alibi untuk kalian." jelas Bapak berbaju putih.
"Alibi pertama, kuncinya ada di tiket kereta itu. Kalian kami buat seolah-olah sedang pulang kampung. Terhitung sejak ditemukannya surat Nek Iyah dan hari dimana Nek Iyah meninggal dunia. Tiket itu adalah tiket kereta kepulangan dan pergi. Tanggal pada tiket pergi berbarengan dengan tanggal meninggalnya Nek Iyah. Sedangkan tiket kepulangan kalian adalah hari ini. Tiga tiket untuk kalian. Adi, Tika, dan Guntur." jelas Bapak berbaju putih.
"Jelas?" tanya Bapak berbaju putih.
Aku mengangguk.
"Alibi kedua, kuncinya ada pada flashdisk itu." ucap Bapak berbaju putih.
"Dalam flasdisk itu terdapat video rekaman cctv di jalan-jalan tempat figuran memainkan perannya. Sampai sini paham?"
"Figuran? Memainkan peran? Apa maksudnya Pak?" tanyaku kebingungan.
Mas Gun hanya diam melongo.
Sedangkan Tika tak berkata.
Bapak berbaju putih tersenyum.
"Wajar kalau kalian tidak paham. Tenang. Akan saya jelaskan secara perlahan." ucap Bapak berbaju putih.
"Terhitung sejak hari dimana Nek Iyah meninggal dunia, kami para anggota perkumpulan mencari wajah dan tubuh mirip seperti kalian bertiga. Untuk menguatkan alibi, bahwasanya kalian benar-benar sedang pulang kampung. Tugas figuran cukup sederhana, mereka hanya jalan melewati area-area yang terdapat kamera cctv. Contohnya stasiun, jalan umum, bahkan di pusat perbelanjaan. Ini bertujuan menguatkan alibi kalian." jelas Bapak berbaju putih.
Aku takjub tak percaya.
"Mohon maaf Pak. Bukan saya nggak percaya, bukannya kami tak yakin. Tapi apa benar dengan apa yang Bapak jelaskan pada kami?" tanyaku.
Bapak berbaju putih tersenyum. Pak Aziz pun ikut tersenyum.
Seorang pemuda mendekati Pak Aziz dengan membawa laptop. Ia menaruh laptop di depan Bapak berbaju putih. Layar laptop di hadapkan ke kami.
"Coba kalian lihat rekaman cctv ini. Apa mereka mirip dengan kalian?" ucap Bapak berbaju putih.
Aku, Tika, dan Mas Gun menatap layar laptop dengan video yang menampakkan suasana sebuah pusat perbelanjaan.
Deg deg deg deg. Jantungku berdegup cepat.
Siapa itu?
Itu aku?
Wajah, postur tubuh, sampai gaya rambutnya persis denganku.
Astaga! Bagaimana bisa?
Pak Aziz dan Bapak berbaju putih tersenyum.
"Lihat rekaman cctv selanjutnya." ucap Pak Aziz.
Video rekaman cctv menampakkan keramaian di sebuah jalan. Banyak orang yang lalu lalang dengan berjalan kaki.
Dan..
Itu Tika?
Tika terkejut sampai menutup mulutnya. Matanya terbelalak seolah tak percaya.
Dalam rekaman video terlihat seorang perempuan mirip sekali dengan Tika, ia berjalan dengan tas selempang khas mahasiswi. Berjalan di tengah keramaian jalan.
Aku yang juga menyaksikan video tersebut sampai tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat. Perempuan dalam video tersebut memang mirip sekali dengan Tika.
"Itu bukan saya kan?" tanya Tika.
Pak Aziz kembali tersenyum.
"Dek Guntur, sekarang coba saksikan rekaman cctv selanjutnya." suruh Bapak berbaju putih.
Mas Guntur membetulkan posisi duduknya. Ia menelan ludah.
Video rekaman cctv mulai.
Tampak sebuah suasana stasiun kereta yang ramai. Rekaman cctv menyorot ke lokasi loket dalam stasiun. Lalu terlihat seorang bertubuh gempal dengan kepala botak plontos. Ia membeli tiket. Ketika terlihat wajahnya, Mas Gun hampir lompat terkejut.
"Sejak kapan gue punya kembaran?" gumam Mas Gun.
Semua warga yang hadir di dalam rumah tertawa melihat Mas Gun.
"Gila. Mirip banget sama saya Pak." tutur Mas Gun.
"Apa bokap gue punya istri lagi ya?" Mas Gun masih tak percaya dengan apa yang disaksikannya.
Video rekaman cctv berakhir.
"Bagaimana?" tanya Pak Aziz singkat.
Aku tak bisa berkata apa-apa.
Mas Gun mungkin masih berpikir kalau ia benar-benar memiliki kembaran.
"Jadi, video rekaman cctv yang baru saja kita saksikan bertujuan untuk menguatkan alibi kami? Bahwa kami memang benar-benar pulang kampung, begitu Pak?" tanya Tika.
"Betul Dek Tika." jawab Bapak berbaju putih.
"Bapak bilang kalau figuran itu melakukan tugasnya terhitung setelah Nek Iyah meninggal. Sedangkan urutan meninggalnya Nek Iyah berada di paling terakhir, setelah Kang Ujang dan dua perempuan itu. Kemudian polisi sudah mencari-cari kami sejak ditemukannya dua jenazah perempuan di kebun kosong. Bagaimana alibi kami dalam kurun waktu sebelum Nek Iyah ditemukan meninggal?" tanyaku.
Bapak berbaju putih tersenyum.
"Pertanyaanmu bagus Dek. Sangat Bagus. Bagaimana membuat alibi kalian dalam rentang waktu setelah ditemukannya jenazah dua perempuan sampai jenazah Kang Ujang, itu kan yang kamu tanyakan?"
Aku mengangguk.
Bapak berbaju putih kembali tersenyum.
"Jawabannya ada pada flashdisk itu." jawab Bapak berbaju putih.
Aku mengambil flashdisk dan mencoloknya pada laptop. Ada sekitar enam video.
"Video apa lagi ini Pak?" tanyaku.
"Silakan kalian lihat." tutur Pak Aziz.
Kumainkan sebuah video.
Rekaman cctv menunjukkan ramai orang lalu lalang. Eh, jalan depan gedung fakultaskah ini? Lho. Benar. Ini adalah jalan depan fakultasku. Dan lagi-lagi terlihat seorang lelaki yang mirip denganku. Ia berjalan menuju gedung fakultas.
Rekaman cctv berganti. Kini menujukkan gambar di dalam sebuah gedung. Terlihat lelaki yang mirip denganku berjalan masuk ke dalam gedung, lalu berdiri menunggu lift. Tak lama seseorang datang menyapa lelaki yang mirip denganku.
Lho?
Yuda?
Itu Yuda kan?
Dalam video mereka masuk lift, dan pintu lift tertutup.
Video rekaman cctv selesai.
"Kami telah mengedit rekaman cctv sesuai tanggal dan jam sebelum hari dimana Nek Iyah meninggal. Semoga rekaman cctv ini bisa menguatkan alibi kalian." jawab Pak Aziz.
__ADS_1
"Lalu video yang lain ini?" tanyaku.
"Itu adalah video rekaman cctv Tika dan Guntur. Adegannya sama sepertimu, ada di kampus. Mereka pun bertemu dengan teman-teman mereka. Sama sepertimu juga." jawab Pak Aziz.
Aku, Tika, dan Mas Gun terdiam. Dalam hatiku, masih tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh para anggota perkumpulan demi menolong dan melindungiku.
"Dek Adi, Tika dan Guntur." panggil Pak Aziz.
"Hanya ini yang bisa kami lakukan untuk melindungi kalian. Setelah ini, perkumpulan sudah tidak lagi ada. Jadi, cuma ini yang bisa kami lakukan untuk memenuhi permohonan Nek Iyah." ujar Pak Aziz.
Kami diam tak berkata.
Seorang Bapak tiba-tiba bangkit berdiri. Tubuhnya tegap dengan otot lengan besar. Ia memakai baju koko berwarna biru dongker.
"Dek, besok pagi petugas akan datang kesini untuk menemui kalian. Kami harap kalian tenang menghadapi mereka. Jangan terlihat gugup, bayangkan saja kalian ada di dalam rekaman cctv itu. Bayangkan kalian berada di kampung halaman. Berada di jalan, di stasiun, di kampus, ataundimana pun. Semoga kalian bisa terbebas dari segala tuduhan yang mereka gemborkan kemarin-kemarin." ujar Bapak bertubuh tegap.
"Betul. Jangan sia-siakan bantuan dari kami para anggota perkumpulan." sahut seorang Bapak.
"Bapak-Ibu, terima kasih banyak atas bantuannya pada kami. Kami sangat menghargai atas apa yang Bapak-Ibu para anggota perkumpulan lakukan pada kami. Insyaallah kami akan coba tenang untuk menghadapi petugas dari kepolisian besok hari." sahutku.
Pak Aziz mengangguk sambil tersenyum.
"Satu lagi," tukas Pak Aziz.
Anggota perkumpulan menatap ke Pak Aziz.
"Kami minta tolong pada Dek Adi dan kawan-kawan. Besok, seluruh area rumah Nek Iyah akan dikosongkan. Seperti apa yang tertera dalam suratnya. Kami mohon Dek Adi dan kawan-kawan bisa segera pindah dari sini. Mohon bantuannya ya Dek." ujar Pak Aziz.
Aku dan Mas Gun saling tatap.
"Baik Pak. Insyaallah besok siang kami akan segera pindah dari sini." jawab Mas Gun.
"Iya Pak. Insyaallah, semoga besok tak ada kendala saat bertemu dengan petugas kepolisian. Sehingga kami bisa lebih cepat keluar dari kost ini" tambahku.
Pak Aziz melemparkan senyumnya.
"Besok akan kami temani Dek Adi dan kawan-kawan saat bertemu dengan petugas kepolisian. Akan ada saya, Pak Dedy, dan Pak Mike yang juga bertugas di kepolisian." ucap Pak Aziz.
Bapak berbaju putih bernama Pak Dedy. Sedangkan Bapak berbadan tegap bernama Pak Mike, ia termasuk anggota perkumpulan dan bertugas sebagai anggota kepolisian juga.
"Baik Pak. Sekali lagi kami sangat berterima kasih atas bantuan teman-teman anggota perkumpulan." balasku.
"Sekarang kalian istirahat. Besok kalian pasti akan capek. Terima kasih atas kerjasama Dek Adi, Tika, dan juga Guntur." ucap Pak Aziz.
Pintu rumah Nek Iyah dibuka lebar-lebar. Aku, Tika, dan Mas Gun berjalan keluar rumah berdampingan dengan Pak Aziz dan Pak Dedy.
Pak Aziz bercerita sedikit. Perkumpulan dibuat oleh Nek Iyah bertujuan untuk menyatukan warga sekitar yang berhadapan dengan aparat yang ingin menggusur tanah dan rumah mereka. Mereka diajari ilmu kanuragan untuk melindungi diri mereka dan keluarga. Namun, seiring berjalannya waktu Nek Iyah makin gelap mata. Saat ilmunya semakin sakti dan kuntilanak merah mulai meminta banyak tumbal, semua berubah menjadi mimpi buruk bagi anggota perkumpulan.
Setiap malam, para anggota perkumpulan bergantian melayani kuntilanak merah. Setiap malam. Selama kurun waktu yang cukup lama. Banyak tumbal yang berjatuhan. Disatu sisi mereka merasa resah dengan rutinitas tersebut. Namun di sisi lain, mereka mendapatkan harta dan semua keinginan mereka terkabul. Para anggota perkumpulan menjadi galau.
Banyak juga yang memutuskan untuk keluar dari anggota perkumpulan. Tapi sayang, mereka harus mati mengenaskan. Menjadi tumbal untuk kuntilanak merah. Menurut cerita Pak Aziz, untuk menjadi anggota perkumpulan mereka harus melakukan perjanjian darah dengan Nek Iyah. Dan perjanjian itu sangatlah mengikat. Memasung. Memenjara. Mengurung para anggota perkumpulan.
Angin segar muncul saat Pak Aziz tahu kalau Nek Iyah memutuskan untuk mengakhiri ini semua. Ia sudah lelah dengan semuanya.
"Pak, almarhumah Nek Iyah juga pernah bilang seperti itu ke saya." ucapku.
"Nek Iyah bilang agar saya lebih peka dalam melihat sesuatu. Beliau juga bilang kalau saya adalah anak yang berani dan kuat. Entah apa maksud dari perkataan beliau saat itu. Tapi kini semua terhubung dan menjadi jelas." tambahku.
Semua warga pamit pulang. Tinggal Pak Aziz, Pak Dedy, dan Pak Mike.
"Dek, saya pamit pulang. Besok pagi kami akan datang lagi. Istirahatlah, kalian sudah banyak mengeluarkan energi." ujar Pak Aziz.
Pak Aziz, Pak Dedy, dan Pak Mike pun pamit pulang. Aku, Tika, dan Mas Gun masih berdiri di halaman rumah Nek Iyah mengantar Bapak-bapak tersebut meninggalkan rumah Nek Iyah.
Kukunci gerbang rumah.
Suasana rumah terasa sangat sepi. Bahkan derik jangkrik pun tak terdengar. Angin tak berhembus. Terasa damai. Kami pun kembali ke kamar kost.
* * *
Teeeeettt. Teeeeettt. Teeeeettt.
Aku terbangun karena alarmku berbunyi sangat nyaring. Setelah kumatikan alarm, aku masih merebahkan tubuhku di atas kasur.
*Sepertinya baru kemarin aku pindah ke kamar ini. Namun esok hari, aku harus segera angkat kaki dari sini. Ah, ada perasaan tak rela. Ada setitik gundah. Ada secuil rasa tak ingin. Dengan semua yang telah kualami, rasanya aku ingin tetap disini. Hahahaha. Tak mungkin bisa.
Rasanya baru kemarin malam aku mendengar suara tangis bayi. Tapi malam ini aku tidur dengan cukup nyenyak dan terbangun karena alarm. Hahahaha. Sangat jarang terjadi saat gangguan itu masih menghantuiku.
Malam ini aku tidur di atas tempat peristirahatan terakhirmu Mbak Ajeng, Mbak Gendis, dan bayi Nyai Asih. Kuharap kau tenang di alam sana. Kuberdoa semoga Tuhan mengampuni segala dosamu. Rasa sakit yang kau rasakan semasa hidup, semoga Tuhan ganti dengan kenikmatan di alam yang lain*.
Aaahhh, kamar 11b.
Aku beranjak bangun menuju kamar mandi. Berwudhu. Kunikmati dinginnya air yang keluar dari kran. Rasanya baru kemarin aku lapor pada Nek Iyah karena kran kamar mandiku rusak.
Aku cengengesan sambil berwudhu.
* * *
Pagi ini kusambut mentari dengan duduk berdampingan di teras depan kost. Bersama Mas Gun dan secangkir kopi. Aku bersandar pada dinding kost, menatap langit putih. Aku tersenyum. Kuhirup udara pagi yang segar. Kuberdoa dalam hati, semoga hari ini lancar.
"Heh. Kenapa lo senyum-senyum? Kangen sama Tika?" ledek Mas Gun.
Kuacuhkan ledekan tak berbobot.
Terdengar kunci pintu diputar. Asalnya dari kamar 11a.
Tika keluar, ia masih mengenakan mukena putih. Wajahnya manis. Pipinya sedikit kemerahan. Matanya sembab terlihat baru bangun tidur.
Ia duduk bergabung bersamaku dan Mas Gun. Duduk berpangku tangan memandang langit.
Mas Gun menyikut lenganku pelan. Bibirnya maju menunjuk ke arah Tika. Matanya mengedip cepat.
"Tik. Setelah semua selesai, apa yang mau lo lakuin?" tanyaku.
Tika menoleh ke arahku. Ia tersenyum.
"Gue mau nonton film ke XIX. Hehehehehe." jawab Tika seraya terkekeh.
"Kalau lo, mau apa?" Tika balik bertanya.
Aku tak langsung menjawab.
"Gue? Emmm, kalau gue nggak mau jauh-jauh dari lo Tik."
Tika terkejut. Ia kembali menoleh ke arahku. Lalu tersenyum.
Mas Gun hanya diam menutup mulutnya, menahan tawa.
Plak. Tika memukul pahaku.
"Gombal banget lo." ucapnya seraya tersenyum.
Kami kembali dalam diam. Sembari menatap sinar Sang Surya yang mengintip dari balik gumpalan awan.
Tika menghela napas.
"Semoga kita terbebas dari tuduhan ya. Kalau alibi kita mendukung, gue pengin kost tetanggaan lagi sama kalian." ucap Tika pelan.
"AAAAAAAMIIIIIIIIIIIINNN." Mas Gun mengamini dengan lantang.
* * *
Sekitar pukul sepuluh, petugas dari kepolisian datang. Ada sekitar enam orang polisi yang hadir di rumah Nek Iyah. Pak Aziz, Pak Dedy sudah hadir menemaniku, Tika, dan Mas Gun. Pak Mike pun hadir, kali ini ia terlihat berkharisma mengenakan seragam polisi lengkap. Kami berkumpul di ruang keluarga.
"Pagi Saudara-saudara sekalian. Terima kasih atas kerjasamanya untuk Adik-adik, sudah meluangkan waktunya. Saya Zulfaqor, Kapolsek Hilir." ucap Lelaki muda dengan kumis tipis dan janggut tipis. Alisnya tebal, bulu matanya panjang. Untuk ukuran lelaki ia cukup tampan.
Pak Zulfaqor bertanya pada kami soal keberadaan kami saat ditemukannya jenazah Ela dan Dini. Kami menjawab sesuai dengan rekaman cctv yang kami tonton semalam. Dan mengikuti instruksi dari Pak Mike agar tak gugup dalam menjawab pertanyaan dari Pak Zul.
"Apa ada saksi atau bukti kalau kalian benar-benar berada di kampus?" tanya Pak Zulfaqor.
"Siap Ndan. Saya sudah temukan rekaman kamera cctv yang ada di gedung fakultas." Pak Mike angkat suara.
Pak Zulfaqor menatap Pak Mike tajam.
"Boleh saya lihat rekaman cctv itu?" tanya Pak Zulfaqor pada Pak Mike.
Seorang polisi di belakang menaruh laptop di meja, tepat di hadapan Pak Zul. Ia memutar sebuah video.
Dalam video menampilkan suasana di dalam gedung kampus. Banyak mahasiswa yang lalu lalang dan berkumpul menunggu lift. Tampak dalam video lelaki gempal masuk gedung kampus dan menunggu lift.
Itu pasti figuran Mas Gun.
Pak Zul memerhatikan tiap adegan dalam rekaman cctv tersebut. Matanya tajam bagai elang.
Siang ini jantungku berdegup kencang tak mereda sedikit pun. Berbagai macam pertanyaan Pak Zul kami jawab dengan tenang tanpa keraguan. Kami jawab bergantian. Syukurnya Tika dan Mas Gun menjawab dengan lancar tanpa terlihat gugup.
Wawancara dengan Pak Zul berlangsung cukup lama. Sekitar satu jam lebih. Bulir-bulir keringat membasahi dahiku.
Sampai pada akhirnya..
"Baik. Kita sudahi untuk hari ini. Kami rasa alibi kalian cukup kuat, dan tak ada tuduhan yang mengarah pada kalian. Tapi kami sedang menunggu hasil terbaru dari tim forensik yang sedang melakukan pemeriksaan lebih dalam." ujar Pak Zul.
Pak Zulfaqor dan seorang polisi yang duduk di sebelahnya bangkit berdiri.
__ADS_1
"Terima kasih atas kerjasama kalian. Kami pamit Bapak-bapak." ucapnya sambil bersalaman dengan Pak Aziz dan Pak Dedy.
"Adik-adik. Saya pamit." ucap Pak Zulfaqor.
Kami bersalaman dengan Pak Zul. Lalu sekumpulan petugas polisi pun meninggalkan rumah Nek Iyah.
Kami mengucap syukur sambil berpelukan. Pak Aziz dan Pak Dedy menatap kami dengan senang.
Aku bersalaman dengan Pak Aziz dan Pak Dedy sembari mengucapkan terima kasih yang teramat sangat.
"Alhamdulillah. Kalian kini terbebas dari tuduhan dari para polisi." ucap Pak Aziz.
"Iya Pak. Alhamdulillah. Terima kasih banyak atas bantuan dan perlindungan dari para anggota perkumpulan." balasku.
"Kami juga mengucapkan terima kasih pada kalian. Kalian sudah membantu Nek Iyah memusnahkan kuntilanak merah itu. Berkat bantuan kalian, kami kini terbebas dari jerat iblis itu." ungkap Pak Dedy.
"Pak. Untuk mengosongkan kamar kost, kami minta waktu sampai sore hari. Insyaallah secepatnya kami akan pindah." ucap Mas Gun.
Pak Aziz menepuk lengan Mas Gun.
"Iya, tidak apa. Saya dan Pak Dedy masih disini. Tugas kami terakhir adalah mengunci rumah ini." jawab Pak Aziz.
Kami pamit untuk membereskan barang-barang dan pakaian kami. Tika dan Yuli segera bergegas merapikan barang-barang dan pakaiannya. Aku dan Mas Gun juga sibuk.
Triiiiiiiiinngggg. Triiiiiiiiiiiingggg. Ponselku berdering.
Yuda?
Kujawab.
"DAAA!" teriakku.
"Woi, dimana lo?" tanya Yuda.
"Di kost." jawabku singkat sambil menjejalkan pakaian ke dalam tas.
"Yaudah, gue kesana." balas Yuda.
"Eh Da. Lo bawa mobil apa motor?" tanyaku.
"Mobil. Emang kenapa?" tanya Yuda.
"AAAAHHH PAS BANGET. UDAH BURUAN LO KESINI!" suruhku.
"Eh Mas Ndeso, ada apaan sih? Heboh banget gue bawa mobil."
"Udah jangan banyak tanya. Buruan kesini." suruhku.
"IYA IYA IYA!" jawabnya. Lalu Yuda menutup pembicaraan.
Tak lama kemudian Yuda datang.
"Eh, ada apa ini? Mau pada kemana lo?" tanya Yuda keheranan.
Kujelaskan dengan ringkas, padat, dan jelas pada Yuda.
"Terus, lo mau pindah kemana nih?" tanya Yuda.
"Nah, itu dia permasalahannya Da. Kita belum sempat cari kost baru." jawab Mas Gun.
"Gue sama Adi akan sangat berterima kasih kalau diperbolehkan menginap sementara di rumah lo. Gimana Da?" tutur Mas Gun dengan alis naik turun. Merayu Yuda.
Yuda terbahak.
"Jadi lo sama Tika harus cabut siang ini juga?" tanya Yuda.
"Iya Da. Gimana dong nih?" balas Mas Gun dengan wajah memelas.
Yuda berpikir sejenak.
"Yaudah, lo tempatin kamar kost gue aja deh. Bokap gue bikin kost kurang laku tuh, jadi masih ada yang kosong. Cuma memang agak jauh dari kampus. Mau? Paling tinggal naik angkot doang sekali." ujar Yuda.
"Asiiiiikkkkk. Makasih Yudaaa." balas Mas Gun.
"Terus Tika gimana?" tanyaku.
"Tika? Memang Tika belum dapat kost juga?" Yuda balik bertanya.
Aku mengangguk.
"Yaudah sekalian aja tempatin kamar sebelahnya. Masih banyak yang kosong kok." jawab Yuda.
"Kok lo baru kasih tahu kalau lo punya kost-kostan? Tahu gitu gue bisa kost di tempat lo." ungkapku.
"Kalau gue kasih tahu harganya memang lo mau kost disana?" tanya Yuda.
"Memang berapa harga sewanya?" tanya Mas Gun.
"Dua juta. Mau kost disana?"
Aku dan Mas Gun terkejut.
Lalu kami diam tak berkata lagi.
"Mau bayar sebulan dua juta?" Yuda kembali bertanya.
"Hehehehehe. Enggak deh. Gue numpang aja sementara, sampai dapat kostan baru." jawabku sembari terkekeh.
Aku dan Mas Gun sudah siap. Barang-barang dan pakaian kami sudah disusun di dalam mobil Yuda. Yuda pun sudah menawarkan pada Tika dan Yuli untuk menempati kamar kostnya sementara waktu. Syukurnya Tika setuju. Aku senang, aku tak harus berpisah dengan Tika.
Yuda memesan taksi untuk Tika dan Yuli. Karena mobil Yuda sudah penuh dengan barang-barangku dan Mas Gun.
Taksi datang, aku membantu Tika menaruh barang di dalam bagasi mobil.
Pak Aziz dan Pak Dedy mengantar kami sampai depan gerbang. Pak Aziz membawa rantai besi dan sebuah gembok besar.
"Pak Aziz, Pak Dedy. Sekali lagi kami berterima kasih atas bantuan Bapak. Semoga kita tetap bisa bersilaturahmi untuk kedepannya." ucapku seraya menyalami Pak Aziz.
Pak Aziz memelukku.
"Datang saja kapan pun Dek Adi mau. Pintu rumah saya selalu terbuka untuk kalian." jawab Pak Aziz.
Kami semua bersalaman dengan Pak Aziz dan Pak Dedy. Lalu menuju mobil. Pak Aziz dan Pak Dedy masih berdiri di depan gerbang menatap kami.
"Berangkat kita?" tanya Yuda.
"BERANGKAAAAATTTT!" teriak Mas Gun yang duduk di sebelah Yuda.
Roda mobil perlahan berputar. Mobil bergerak menjauh dari rumah Nek Iyah.
Aku menoleh ke belakang.
Pak Aziz merantai gerbang rumah Nek Iyah.
Mobil semakin menjauh. Sosok Pak Aziz dan Pak Dedy tak terlihat lagi.
Terima kasih atas kenangan yang sangat luar biasa.
Terima kasih atas pengalaman berharga.
Menempati kamar 11b mengajarkanku banyak hal. Tentang syukur. Tentang takwa. Tentang menghargai sesama makhluk ciptaan Tuhan. Tentang arti kebersamaan. Tentang kepedulian. Dan tentang cinta.
Terima kasih orang-orang yang sempat singgah dalam hidupku.
Terima kasih *Tuhan.
Terima kasih*.
Ujung mataku menitikkan air mata.
Air mata bahagia.
...________________...
...alhamdulillah...
...KAMAR NO.11B TAMAT...
...semoga endingnya nggak membagongkan ya...
...terima kasih untuk semua pembaca...
...yg selalu setia menunggu...
...selalu komen...
...selalu like...
...selalu kasih hadiah...
...selalu vote...
...semoga novel-novel selanjutnya bisa segera terbit. doakan aja yaaa....
__ADS_1
...sekali lagi makasih banyak...
...aku tanpa kalian, NOTHING....