Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 25


__ADS_3

Aku melesat menuju sofa tempat Yuda berada, tak peduli menabrak beberapa orang. Kulihat dari kejauhan Yuda tengah asik berbincang dengan seorang perempuan. Rambutnya panjang, mengenakan gaun putih. Mereka saling berbisik satu sama lain, kemudian tertawa.


Aku mendekat, berdiri di depan Yuda. Ia menghentikan tawanya, menatapku heran.


"Lo kenapa Di?" tanya Yuda.


Napasku masih tersengal.


"Eh, kenalin nih! Ini Gwen." Yuda menunjuk perempuan di sampingnya. Perempuan dengan nama Gwen menoleh ke arahku.


Terkejutnya aku, wajah perempuan yang kulihat adalah wajah sosok wanita menyeramkan tadi. Matanya masih membelalak, dan seyumnya menyeringai. Kulitnya pucat. Kemudian wanita itu membuka mulutnya, lalu keluar cairan berwarna hitam kental. Membasahi dagu, hingga menetes ke gaun putihnya.


Saking kagetnya, aku jatuh terduduk di lantai. Jantungku berdegup kencang. Mata si wanita menatap tajam ke arahku.


"Eh Di, lo kenapa Di?" suara Yuda terdengar.


Aku bangun dari lantai, Kulari mencari pintu keluar. Menabrak beberapa pria, diantaranya sungut-sungut marah kepadaku. Meneriakiku.


"Di, Adi!" aku mendengar Yuda memanggil. Tak kuhiraukan. Aku amat ketakutan.


Kudorong pintu, dan aku pun keluar. Angin malam menerpa wajahku, menyegarkan. Kulihat beberapa orang yang mengantri memperhatikanku dengan tatapan heran. Aku membungkuk, dadaku sesak, napasku tak beraturan. Yuda keluar dan menghampiriku.


"Di, lo kenapa sih?" tanya Yuda.


Aku tak menjawab, mengatur napas dengan pelan.


"Ada apa Di? Kok, kayak orang lihat setan. Lo kenapa?" Yuda bertanya kembali.


"Da, kita balik yuk. Perasaan gue nggak enak nih." ucapku.


"Balik? Emang kenapa sih? Baru aja mulai, masa udah balik."


"Kalau lo masih mau di sini nggak apa-apa, gue balik sendiri aja naik ojol." ucapku.


"Ya janganlah, masa lo naik ojek. Yaudah sebentar, gue bayar dulu. Lo mau ikut lagi nggak ke dalam?" tawar Yuda.

__ADS_1


Aku menggeleng. Yuda pun masuk ke dalam.


Tak berapa lama, Yuda pun kembali. Lalu kami pun pulang. Di perjalanan, aku pun cerita tentang kejadian yang kualami tadi. Yuda terkaget, bulu kuduknya merinding.


"Ah, ini sih gila Di. Gue jadi takut." ujarnya.


"Tapi, apa hubungannya sama gue ya? Kok gue bisa lihat penampakan gitu." kataku.


"Bodo ah, gue nggak tahu." sahut Yuda.


Mobil melesat membelah jalan kota. Masih ramai dan banyak kendaraan melintas. Penjual makan di tenda pun masih di penuhi pelanggan kelaparan. Ibu kota memang tak pernah tidur.


Jam menunjukkan pukul 23:10. Pening di kepalaku hilang sejak tadi. Aku sepenuhnya sadar dari pengaruh minuman tadi. Bagus deh, ada hikmahnya juga. Kami sampai di rumah Yuda, dan langsung naik ke kamar.


Sesampainya, aku langsung bersih-bersih dan shalat isya. Yuda sedang asik di depan layar komputernya.


"Da, gue tidur ya. Badan gue lemes banget." ucapku.


"Yaudah tidur aja. Tuh tidur di kasur." Yuda menyuruhku.


"Bebas, terserah lo aja. Tidur di kamar pembantu juga boleh. Hehehehehe." canda Yuda.


Yuda masih memandang layar komputer. Mataku berat. Badanku lemas. Kulihat gordyn di jendela besar bergoyang-goyang, seperti tertiup angin.


"Da, jendela belum di tutup tuh!" ucapku.


"Mana? Itu? Itu bukan jendela, itu balkon." tunjuk Yuda.


Balkon rupanya.


"Pintu balkon lo belum di tutup tuh!" kataku.


"Emang kenapa?" tanya Yuda dengan mata masih terpaku di layar komputer.


"Gordyn-nya tadi ketiup angin. Tutup dulu sana Da." suruhku.

__ADS_1


Yuda menoleh ke arahku. Wajahnya terlihat heran, namun ia tak berkata.


"Kenapa Da? Kok, lihat gue kayak gitu." tanyaku.


Kulihat gordyn masih bergerak, melambai-lambai.


"Heh, tuh tutup dulu pintu balkon!" suruhku.


Yuda menoleh ke arah gordyn balkon, ia terkejut. Lalu lompat ke arahku.


"Woi apaan sih lo? Sakit nih." ucapku. Aku bangun dan duduk. Yuda menutup kepalanya dengan bantal.


"Kenapa sih Da? Bukannya tutup pintu, malah tibanin gue." sungutku.


Aku bangun dan mendekat ke gordyn yang masih bergerak melambai.


Srekk


Kubuka gordyn.


Deg Deg Deg


Ternyata, pintu balkon tertutup dengan rapat. Aku berdiri mematung di depan pintu. Aku pun lompat ke arah Yuda. Kututup wajahku dengan bantal.


"Sial, kenapa nggak bilang kalau pintunya di tutup." kataku.


"Kenapa itu gordyn gerak-gerak sendiri Di?" tanya Yuda.


"Nggak tahu gue. Kok jadi horor gini sih." sahutku.


"Di, kita tidur di ruang tamu aja yuk!" ajak Yuda.


Aku mengangguk.


Secepat kilat, Yuda bangun dan berlari ke luar kamar. Aku mengikutinya dari belakang. Kami turun menuju ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2