
Kelas pertama telah usai, tinggal menunggu untuk mata kuliah selanjutnya. Aku mengobrol santai di selasar depan kelas dengan Yuda sembari menunggu dosen datang. Kami mengobrol soal mobil antik yang di belinya dari Nek Iyah, Yuda bercerita kalau mobil itu saat ini sedang dalam proses perbaikan dan peremajaan. Aku mengobrol sambil melihat sekeliling dan ke lantai bawah. Gedung fakultas kami memang berbentuk L, seluruh lantai terlihat dari lantai atas. Bahkan taman dan lahan parkir pun terlihat dari lantai lima.
"Terus gimana reaksi om lo, begitu tahu kalau di mobil itu ada sarang tikusnya? Hehehehe." tanyaku.
"Hahahahahahaha. Kaget pastinya. Sempet ricuh di bengkel gegara tikus pada keluar dari kolong mobil, dan itu banyak banget Di. Hahahahaha. Sampai masuk ke dalam kantor, ke dalam alat-alat, pokoknya berhamburan deh." jelas Yuda.
"Hahahahahahaha. Parah lo, datang-datang bawa wabah ke bengkel om lo. Terus sekarang gimana tuh tikusnya?" tanyaku sambil terus memandangi suasana gedung fakultas.
Namun tak sengaja, mataku menangkap sosok mahasiswi berkerudung merah yang kutemui di lift tadi pagi. Ia berdiri di selasar lantai tiga, wajahnya mendongak ke lantai atas, matanya menatapku. Masih dengan senyumnya yang menyeringai dan mata melotot menyeramkan. Aku terhenyak, sampai tak menggubris cerita Yuda soal wabah tikus.
"Hahahahaha. Sampai sekarang sih bengkel masih tutup." ucapan Yuda kudengar.
"Di. Di. Adi, lo lihat apaan sih?" Yuda menegurku.
"Eh. Emm. Eng-enggak, enggak lihat apa-apa Da." jawabku gagap.
"Ada apaan sih di bawah? Lo lihat ke bawah terus. Kemala ya?" Yuda kembali bertanya sambil melihat ke lantai bawah.
"Bu-bukan kok. Bukan Kemala." balasku.
"Widiiiihhh. Ada incaran baru nih ceritanya? Hah? Hehehehehe. Yang mana sih orangnya?" ledek Yuda.
"Emm. A-apaan sih lo! Bukan, bukan cewek kok." tepisku.
Mataku masih terpaku pada sosok mahasiswi berkerudung merah dan baju serba merah di lantai tiga.
"Eh Da!" aku memanggil Yuda.
"Kenapa?"
"Coba lo lihat ke lantai tiga deh, di selasar lantai tiga ada cewek pakai kerudung merah, baju merah. Tuh!" aku menunjukkan pada Yuda mahasiswi yang terus melotot ke arahku.
"Mana? Mana ada cewek pakai kerudung merah sih Di." sahut Yuda.
"Itu Da, dia berdiri dekat pot bunga. Tuh! Dia lagi melotot ke arah kita." tunjukku lagi.
"Nggak ada siapa-siapa di sana Di. Gue lihatnya cuma dua orang mahasiswi pakai baju kotak-kotak." balas Yuda.
Apa Yuda tak lihat mahasiswi itu?
Aku masih menatap ke arah mahasiswi yang mengenakan baju serba merah. Senyumnya terus saja menyeringai. Raut wajahnya aneh. Yuda pun masih mencari-cari mahasiswi yang kutunjuk tadi, tapi sepertinya Yuda memang tak melihatnya.
__ADS_1
"Hei, kalian! Sedang apa?" tanya Pak Adnan yang sudah berdiri di depan pintu kelas.
"Eh pak." sahut Yuda.
"Ayo masuk! Mau ikut kuliah atau enggak?" suruh Pak Adnan.
"I-iya pak." jawabku.
Aku dan Yuda pun bergegas masuk ke dalam kelas. Mahasiswi aneh itu tak kugubris lagi.
* * *
Kelas hari ini telah usai, sesuai rencana kami pagi tadi, aku dan Yuda memutuskan untuk mengobrol sambil ngopi-ngopi santai di Kedai Kopi Satu Arah. Sudah lama juga aku tak berkunjung kesana. Lidahku rindu mencicipi kembali kopi nikmat buatan Bang Dede.
Aku membonceng di motor Yuda. Sebelumnya kami makan siang dulu di warung tenda yang menjual aneka makanan, letaknya persis di samping kampus. Ya, siang hari memang waktu paling sibuk bagi para penjual makanan. Mulai dari mahasiswa dan mahasiswi kampus, karyawan perkantoran, sampai masyarakat sekitar yang membeli makanan. Beruntung kalau jam makan siang bisa mendapat tempat duduk di warung tenda itu.
Tapi memang keberuntungan berpihak padaku dan Yuda. Baru saja kami tiba, ada beberapa bangku kosong yang tak di tempati, padahal suasana warung tenda sedang ramai-ramainya. Segera kutempati tanpa berpikir panjang.
"Bro, mau pesan apa bro?" tanya seorang penjual makanan dengan logat jawa kental.
"Saya nasi gulai sapi mas. Minumnya es jeruk. Lo mau makan apa Di?" tanya Yuda.
"Oke bro, di tunggu ya." balas si penjual lalu melesat pergi.
Suasana riuh-ramai siang ini, dentingan sendok yang menghantam piring saling sahut. Teriak penjual makanan yang menyebutkan pesanan pelanggan yang lapar terdengar bising. Hiruk-pikuk di warung tenda makanan terjadi saban siang hari.
Tak berapa lama, pesanan kami pun datang. Aku dan Yuda segera melahap nasi gulai sapi. Kuahnya berwarna kuning orens, santannya agak kental, harum semerbak rempah, dan rasanya gurih. Beberapa potong daging sapi lumayan banyak, tentunya dengan lemak juga mengisi mangkuk putih bergambar ayam jago. Sepiring nasi dengan hiasan sejumput bawang goreng di atasnya ada di hadapan kami.
Nasi gulai sapi telah ludes kuhabiskan, segelas teh tawar hangat pun nyaman bersarang di dalam perutku. Makanan Yuda juga telah habis tak bersisa. Setelah membayar, aku dan Yuda pun menuju Kedai Kopi Satu Arah.
"Wuuiiihhh, kemana aja nih? Udah lama nggak kelihatan." sapa Bang Dede begitu tahu aku dan Yuda datang.
Bang Dede sedang sibuk melap meja, siang ini dandanannya cukup keren. Bang Dede mengenakan kemeja flanel kotak-kotak berwarna merah hitam, celana jeans motif robek di dengkulnya, memakai apron kulit berwarna coklat tua. Rambutnya klimis di sisir rapi, kumis dan janggutnya pun di cukur tipis.
"Biasa bang." jawab Yuda singkat.
"Biasa apaan nih? Hehehehe. Mau duduk di dalam apa di luar nih?" Bang Dede bertanya.
"Luar dong, kan gue ngerokok." balas Yuda.
Aku celingak-celinguk mencari sosok Kak Nia dan Wahyu, namun mereka berdua tak nampak.
__ADS_1
"Lo cari siapa Di? Kayak maling celingukan aja." tanya Bang Dede.
"Kak Nia mana bang? Kok nggak ada di meja kasir?" tanyaku.
"Ooh Nia. Dia udah resign Di. Nanti deh gue ceritain. Eh, lo pada mau minum apa nih? Ngopi apa Nyusu?" Bang Dede menawarkan.
"Gue Aceh Gayo ya bang, V60." jawab Yuda.
"Pilihan bagus Da! Lo apa Di?" tanya Bang Dede padaku.
"Vietnam Drip aja bang. Panas ya." jawabku.
"Oke. Tunggu sebentar ya!" ujar Bang Dede.
Yuda membakar rokok, aku ikut mengambil sebatang rokok lalu membakarnya. Sekitar 5 menit pesanan kami pun datang, Bang Dede yang mengantarnya.
"V60 buat Yuda, ini Vietnam Drip punya Adi. Kalau ada yang kurang kasih tahu gue ya, gue ke belakang sebentar." ucap Bang Dede setelah mengantar pesanan kami.
Kopi hitam pesanan Yuda di tempatkan di botol cantik, dan di tutup dengan rapat. Yuda di beri gelas kecil untuk minum kopinya. Pesananku segelas kopi di tambah susu kental manis secukupnya, ada wadah kecil di atas gelas untuk menyaring kopi. Sari pati kopi akan menetes dari wadah kecil yang di tempatkan di atas gelas.
"Da, mau gue duluan cerita atau lo duluan cerita." tanyaku.
Yuda menghisap dalam rokoknya, menghembuskan asapnya ke atas langit.
"Gue dulu deh, dari awal mula semua petaka di mulai. Oke." jawab Yuda.
"Oke." balasku.
"Gue bingung sejak lo marah ke gue di kedai ini Di. Gue sampai bertanya-tanya, apa sepenting itu kalung milik lo di bandingkan dengan gue. Setelah gue pikir, semua itu memang salah gue, gue udah sembrono dan sembarangan menjual barang milik orang lain tanpa izin si pemilik barang. Gue akui gue salah. Tapi masalahnya, lo sampai menjauh dari gue karena kalung itu, menurut gue itu kelewatan. Sampai akhirnya, gue beranikan diri untuk datang ke rumah ibu kost lo meminta kembali kalung itu." cerita Yuda.
"Gue datang sendiri membawa uang lima juta yang awalnya di tukar dengan kalung itu. Ibu kost menerima gue dengan ramah, gue di suruh duduk dan di sediakan minum. Sampai saat ibu kost bertanya maksud kedatangan gue kesana. Akhirnya gue jelaskan maksud kedatangan gue, untuk menukar kembali kalung dengan uang lima juta rupiah tersebut. Ibu kost lo tertawa Di. Mukanya licik, gue sampai takut lihatnya. Dia tertawa terbahak-bahak, gue sampai heran." sambung Yuda.
"Terus?" tanyaku.
"Sumpah, ini kata-kata yang bikin gue merinding sampai sekarang kalau ingat itu. Ibu kost lo bilang, uang adek sudah tidak laku lagi buat saya. Kalau memang mau menukar kalung itu, tukar dengan nyawamu." terang Yuda.
Deg. Aku terperanjat mendengar cerita Yuda.
Berarti jelas semua, Nek Iyah memang mencari tumbal dengan cara apa pun. Ia bersekutu dengan kuntilanak merah demi memuluskan segala rencana busuknya. Sampai kawanku Yuda hampir saja menjadi korban tumbal kuntilanak merah itu. Ini tak bisa di biarkan lagi. Kejahatan si nenek tua itu sudah melampaui batas. Ia psikopat yang bekerja sama dengan iblis. Ini keterlaluan, aku tak akan membiarkan nenek tua itu selalu melakukan kejahatan pada orang-orang.
Almarhum Pak Rahmat jelas menjadi tumbal, kawanku Bagas adalah yang pertama, bahkan anak angkatnya sendiri pun menjadi tumbal untuk kuntilanak merah itu. Benar-benar pembunuh berdarah dingin.
__ADS_1