
"Bismillahirrahmanirrahiem." kudengar Mas Gun bergumam pelan.
"Saya rela menerima dan ikhlas menyambutnya Kek!" ucap Mas Gun dengan mantap. Tanpa keraguan sedikitpun.
Aku hanya menelan ludah.
"Mas, lo yakin?" tanyaku.
"Yakin Di. Bismillah. Gue yakin seratus persen." jawab Mas Gun.
Kakek Badrun hanya tersenyum.
"Baiklah kalau kamu yakin. Insya Allah kamu dapat menerima dengan ikhlas." ungkap Kakek Badrun.
"Lalu, sekarang bagaimana Kek?" tanya Mas Gun.
Kakek Badrun diam.
"Sebentar Nak." balas Kakek Badrun sambil melihat ke sekeliling.
"Ada apa Kek?" tanyaku.
"Cih. Sepertinya akan ada tamu yang tak diundang datang. Hehehehe." jawab Kakek Badrun.
"Tamu apa Kek?" tanya Tika.
Kami jadi was-was dan melihat ke segala penjuru lapangan. Suasana yang gelap membuatku tak dapat menangkap pemandangan apapun.
"Ini pasti demit suruhan kuntilanak merah itu." ujar Kakek Badrun.
Apa? Demit suruhan kuntilanak merah?
Tiba-tiba angin menggoyang dahan pepohonan di pinggir lapangan. Gesekan dedaunan terdengar riuh. Lalu terlihat cahaya putih yang berkelebat.
"Kek, apa itu Kek?" tanya Tika.
"Demit rendahan sepertinya. Adi, Tika, apa kalian bisa membereskannya? Sementara aku akan bersama Guntur dan menjaga Yuda." ujar Kakek Badrun.
Tika mengangguk.
Aku bersiap.
Mas Gun, Yuda, dan Kakek Badrun menjauh dari kami.
Cahaya putih itu masih terbang mengitari lapangan dengan cepat.
Seketika cahaya putih itu mendarat jauh didepanku. Perlahan sosok wanita dengan gaun putih dan rambut panjang terlihat.
Suasana malam ini sangat gelap. Namun wajah wanita bergaun putih itu sungguh sangat jelas terlihat. Dagunya panjang, pipinya tirus. Matanya hitam legam. Mulutnya menganga lebar. Rambutnya panjang sampai menyentuh tanah. Entah demit macam apa itu?
"Siapa duluan yang maju? Lo atau gue?" tanya Tika.
"Ladies first." ucapku.
Tika senyum kecut padaku.
Dengan cepat Tika berlari menyerang sosok wanita tersebut. Namun dengan cepat, sosok wanita bergaun putih itu membuka mulutnya dengan lebar.
Wuuuuunggg. Sinar putih keluar dari mulutnya menuju ke arah Tika.
Sett. Tika menghindar dengan cepat. Kemudian lanjut berlari ke arah wanita bergaun putih.
"Hiyaaaaaaaaa!" teriak Tika sambil mengepalkan tangannya yang diselimuti cahaya berwarna kuning.
BUAAAKKK.
Pukulan Tika mendarat tepat di pipi tirus wanita bergaun putih.
Tapi wanita itu tak bergeming. Seolah pukulan Tika hanya tiupan angin lalu.
Grep. Dengan gerakan cepat, tangan kiri wanita itu mencengkram leher Tika.
Tika terkejut, ia gelagapan. Tangannya kurus dan panjang. Wanita itu mengangkat tubuh Tika dengan mudahnya. Tika meronta-ronta. Beberapa kali Tika memukul-mukul tangan wanita itu, mencoba melepaskan cekikan. Namun cengkeraman tangan wanita bergaun putih terlihat semakin kuat.
__ADS_1
Tiba-tiba, tangan kanan wanita bergaun putih menyemburatkan sinar berwarna putih.
Dan...
DUARRR.
Sinar putih itu menembak ke perut Tika. Teriakan Tika keras menggema seantero lapangan. Tubuhnya terpental melayang ke udara. Lalu mendarat dengan kuat di atas tanah.
"Tikaaaa!" aku berlari menghampirinya.
"Uhukk uhukk." Tika terbatuk dan memuntahkan darah cukup banyak.
Wanita bergaun putih bergerak maju dengan pelan. Ia mendekat ke arahku dan Tika.
"Demit brengsek! Rasakan ini!" teriakku.
Wuungg. Kepalan tanganku diselimuti cahaya biru.
DUAARRR. Kutembakkan cahaya biru ke arah wanita bergaun putih.
Sett. Tiba-tiba wanita itu hilang entah kemana.
Aku panik seraya melihat sekeliling.
Grep.
Apa ini?
Kedua tangan wanita bergaun putih tiba-tiba mencekik leherku dari belakang. Cekikannya amat kuat. Aku berontak mencoba melepaskan diri. Namun tenagaku tak kuasa melepaskan cekikan ini. Nafasku tak beraturan. Kubenturkan kepalaku ke wajah wanita itu.
BUAKK.
BUAKK.
BUAKK.
Cengkramannya tak mengendur sedikit pun. Malah menyisakan sakit di kepalaku.
"Ekk. To-to-tol-long. Ekk." ucapku terbata. Nafasku semakin terasa jarang.
Cengkraman wanita bergaun putih terasa mengendur.
Tak kulewatkan kesempatan ini.
Bismillahirrahmanirrahiem. Aku membatin.
"Hiyaaaaaa!"
Kulayangkan pukulan ke belakang kepalaku, sasarannya adalah wajah dari wanita bergaun putih itu. Kepalan tanganku mendarat beberapa kali di wajahnya.
Cengkramannya terlepas.
Aku lompat menjauh dari wanita bergaun putih. Mendarat di tanah dan sempat terguling. Dengan cepat aku kembali bangun.
Ternyata ledakan yang tadi kudengar berasal dari serangan Tika. Punggung wanita bergaun putih berlubang, terlihat asap tipis dari lubang itu. Itu pasti ulah Tika.
Wanita bergaun putih berjalan oleng menghampiri Tika. Tika berdiri dengan sigap, menyambut wanita bergaun putih.
"Hiyaaaaa!"
Kulayangkan serangan pada wanita itu. Sinar biru ditembakkan dari cincin yang kukenakan ke arah wanita bergaun putih.
DUARRR.
Tepat sasaran!
Punggung wanita bergaun putih itu terkena seranganku. Tubuhnya terdorong hingga ke depan. Wanita bergaun putih menoleh ke arahku. Ia tampak sangat marah.
Dengan cepat wanita bergaun putih merentangkan tangannya ke arahku dan Tika.
Tiba-tiba..
Syuuutt. Kedua tangannya menembakkan cahaya putih ke arahku dan Tika.
__ADS_1
Aku gelagapan. Mencoba menghindar dari serangan wanita itu.
Syaaattt.
"Aaaaaaaaaarrgghh!!"
Serangan wanita bergaun putih dapat kuhindari. Namun menyenggol ujung lenganku sampai merobek bajuku. Terasa sakit, perih, dan panas.
Tika ternyata bisa menghindar. Kulihat Tika sudah kembali menyerang wanita bergaun putih itu. Pukulan dan tendangan dilayangkan. Namun wanita itu tak bergeming, mendapat pukulan dan tendangan dari Tika tak membuatnya tumbang atau jatuh sekalipun. Malah Tika hampir terkena sabetan dari cakar si wanita itu. Sial! Apa kelemahan wanita bergaun putih itu?
Aku tak rela jika Tika harus sibuk sendiri menghadapi wanita itu. Aku buru-buru mendekat ke arah mereka. Rambut panjang wanita itu kutarik dengan kuat. Kulayangkan pukulan keras ke wajah wanita itu.
"Tik, pakai kekuatan lo!" teriakku pada Tika.
Seketika kepalan tangan Tika bersinar kuning. Wajah Tika bengis. Kepalan tangan menjelma menjadi pukulan bertenaga dengan balutan kekuatan Tika.
DUARRRRRR.
Craaassss.
Pukulan keras Tika yang mendarat tepat di wajah dari wanita bergaun putih itu membuatnya musnah. Terlihat debu bercahaya putih beterbangan ke langit. Lalu hilang tertiup angin.
Aku bernafas lega. Tika jatuh duduk.
Kulihat Kakek Badrun, Mas Gun, serta Yuda di pinggir lapangan. Kakek Badrun tersenyum pada kami. Mas Gun dan Yuda berlari menghampiri kami.
"Di, lo nggak apa-apa?" tanya Mas Gun.
"Tika, lo gimana?" Mas Gun bertanya pada Tika.
"Nggak apa-apa kok." jawabku.
Tika hanya mengacungkan jempol.
Mas Gun membantuku bangun. Yuda memegang tangan Tika, membantunya berdiri. Kakek Badrun bergabung bersama kami.
"Alhamdulillah. Kalian bisa mengalahkan demit itu. Tanpa bantuan dariku, terbukti kalian bisa lebih kuat." ucap Kakek Badrun.
Kami mengucap syukur. Kakek Badrun bercerita, kalau kekuatan Mas Gun sudah bisa digunakan. Hanya saja tak bisa sebanding dengan kekuatan milikku dan Tika.
"Kalau kekuatan kalian bisa langsung memusnahkan demit, lain hal dengan kekuatan milik Guntur. Kekuatannya hanya bisa sekedar melukai. Namun itupun sudah cukup. Yang kalian butuhkan dari Guntur adalah kekuatan perisainya." jelas Kakek Badrun.
"Mas, lo siap kan berjuang memusnahkan kejahatan kuntilanak merah itu?" tanyaku.
"Bismillah. Gue siap bantu kalian." jawab Mas Gun dengan penuh keyakinan.
"Nak Yuda," panggil Kakek Badrun.
"Iya Kek."
"Karena ke depannya akan ada banyak gangguan yang menyerang teman-temanmu, bukan berarti kau aman Nak. Kau pun bisa menjadi salah satu incaran demit pengikut kuntilanak merah. Karena, kuyakin iblis itu pasti banyak mempunya tipu muslihat." terang Kakek Badrun.
"Apa benar begitu Kek?" tanya Yuda ketakutan.
Kakek Badrun mengangguk.
"Kau jangan tinggalkan shalat. Jauhi minuman keras. Dan beribadah selalu. Karena dengan beribadah, otomatis syaitan tidak akan bisa mendekatimu. Aku tak bisa menurunkan ilmu kanuraganku untukmu. Kau harus mandiri membentengi dirimu sendiri. Mengerti?"
"Me-mengerti Kek." balas Yuda.
"Baiklah. Aku pamit." ucap Kakek Badrun.
"Kek, sebentar Kek." aku menahan Kakek Badrun.
"Ada apa Nak Adi?"
"Kek. Apa saatnya nanti kami melawan kuntilanak merah, Kakek akan hadir dan membantu kami?" tanyaku.
Kakek Badrun tersenyum.
"Aku akan membantu kalian. Aku juga rindu bertemu Badriyah. Tapi sepertinya pertemuan kami nanti bukan lagi sebagai adik dan kakak." jawab Kakek Badrun diringi senyuman.
"Tapi sebagai lawan." sambung Kakek Badrun.
__ADS_1
Ia pun pamit setelah kalimat terakhirnya. Kakek Badru berjalan menuju pepohonan lebat dan hilang entah kemana.
Saat ini hampir pukul dua malam. Kami tetap pergi ke rumah Yuda. Semoga di rumah Yuda tak kutemukan lagi hal-hal ganjil lainnya. Motor melesat membelah jalan kota. Jalan tampak sepi, hanya beberapa kendaraan yang melintas. Ruko dan warung pun sudah menutup pintunya. Tiang lampu jalan berbaris sepanjang penglihatan, menerangi kami menuju rumah Yuda.