
"Mas, gue tidur duluan ya. Besok kuliah pagi nih." ujarku. "Pintu jangan lupa di kunci mas, takut ada maling." sambungku.
Jam di ponselku sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku pun beranjak dan berlalu menuju ruang tengah. Mas Gun tampak cuek, ia masih sibuk di depan layar laptopnya.
Kurebahkan tubuhku di atas kasur. Sungguh lelah juga hari ini. Semoga tak ada gangguan lagi kedepannya, doaku sebelum tidur.
* * *
"Hoooeeekk. Hoooeeekk."
Aku membuka mataku, terkejut dengan suara Mas Gun. Aku bangun dan duduk di atas kasur, mengumpulkan nyawa.
"Mas. Mas Gun!" panggilku.
Mas Gun tak menjawab.
"Hoooeeekk. Hoooeeekk." terdengar suara Mas Gun dari kamar mandi. Apa ia sedang muntah?
"Mas! Lo kenapa mas?" panggilku dengan sedikit lantang.
Mas Gun tak menjawab, hanya terdengar suara muntah dari kamar mandi.
Aku pun bangun dan menuju kamar mandi. Pintu kamar mandi di tutup. Kuketuk pintu kamar mandi dan terus memanggil Mas Gun.
Klek. Terdengar kunci pintu kamar mandi di putar.
Aku membuka pintu.
Deg deg deg deg deg.
Jantungku berdebar kencang. Darahku mengalir deras. Pemandangan yang sangat menjijikkan terlihat di kamar mandi.
Mas Gun membungkuk, wajahnya pucat pasi. Pipinya kotor, ada cairan berwarna hitam di sekitaran mulutnya. Dan pemandangan yang lebih mengejutkanku adalah ratusan belatung yang membanjiri lantai kamar mandi. Belatung-belatung itu bergumul bergerak saling tindih, membuatku bergidik. Juga bau busuk yang menusuk hidungku.
"Hooooeeekk!" Mas Gun kembali muntah.
Aku makin terkejut ketika seonggok belatung tumpah dari dalam mulutnya dan jatuh ke lantai kamar mandi, berkumpul dengan ratusan belatung lain.
"Mas! Lo kenapa mas?" tanyaku panik.
Ganggun apa lagi ini Ya Tuhan.
Aku merangkul Mas Gun yang tampak lemas, ia jatuh terduduk di lantai kamar mandi setelah muntahan belatung terakhir keluar dari dalam mulutnya. Dari dalam mulutnya keluar tiga ekor belatung menggeliat. Segera kusingkirkan balatung yang bergerak di bibir Mas Gun.
"Mas, lo kenapa mas?" tanyaku sembari menggoyangkan bahu Mas Gun.
Mas Gun tampak lemah, matanya sayu, keringat pun membanjiri dahinya. Kubersihkan noda kotor yang ada di pipi dan sekitaran mulutnya. Kusiram ratusan belatung yang memenuhi lantai kamar mandi. Perlahan-lahan mereka terbawa arus dan masuk ke dalam lubang pembuangan air.
Aku membantu Mas Gun bangun, dan kupapah jalan menuju kasur. Tubuhnya lemah. Beberapa kali kupanggil, Mas Gun tak menjawab, sekedar bersuara pun tidak. Kubaringkan tubuh besarnya di atas kasur. Ia lalu tertidur. Aku duduk di sebelah Mas Gun, menjaganya agar ia tetap tertidur dengan pulas. Sementara anganku melambung kemana-mana, memikirkan kejadian yang baru saja kulihat. Memikirkan kejadian yang Mas Gun alami. Sungguh, ratusan belatung yang keluar dari dalam mulutnya tak pernah kusaksikan. Bahkan, otakku yang cetek tak bisa mencerna kejadian yang baru saja kusaksikan. Tak masuk akal. Tak masuk logika.
Ini pasti ada kaitannya dengan hilangnya Mas Gun tadi malam, juga ada kaitannya dengan penampakan wanita cantik yang menyuapinya makan. Kemana aku harus mengadu? Pada siapa aku harus bercerita soal kejadian ini? Tika? Ia mungkin tahu, tapi bisa saja Tika tak punya solusi mengatasi gangguan yang di alami oleh Mas Gun.
Jam di ponselku menunjukkan pukul 03:25.
Lelah memikirkan semua kemungkinan dan solusi, aku pun tertidur dengan posisi duduk bersila.
* * *
__ADS_1
"Di. Adi." Mas Gun menepuk-nepuk pahaku. Aku pun bangun dengan terkaget.
"Eh. Iya mas. Kenapa mas?" tanyaku.
"Bantuin gue jalan ke kamar mandi yuk! Gue nggak kuat bangun nih." ucap Mas Gun.
Aku pun bangun, membantu Mas Gun berdiri. Sedikit kesulitan awalnya, karena ukuran tubuh Mas Gun yang super-duper besar. Tubuhnya dua kali lebih besar di bandingkan tubuhku. Aku memapah tubuh Mas Gun, berjalan menuju kamar mandi.
"Lo mau ngapain mas?" tanyaku.
Kami masuk ke dalam kamar mandi. Mas Gun tiba-tiba membungkuk, tubuhnya gemetar.
"Mas. Mas. Lo kenapa mas?" tanyaku dengan sedikit panik.
"Hooooeeeekkk!" Mas Gun kembali muntah. Kali ini bukan belatung yang keluar dari dalam mulutnya. Melainkan sesuatu mirip seperti lumpur, berwarna hitam dan berbau busuk. Isi perutku hampir saja keluar seketika, kalau tak kuat menahannya tentu aku pun ikut muntah.
Kutepuk-tepuk dengan pelan tengkuk Mas Gun. Lalu ia kembali muntah, lagi-lagi bentuk seperti lumpur keluar dari dalam mulutnya. Astaga, apa lagi ini?
"Mas, lo nggak apa-apa mas?" tanyaku dengan khawatir.
"Hoooeeekkk!" hanya suara muntah yang kekuar dari mulutnya.
Tubuh Mas Gun tampak lemah. Tenaganya habis terkuras. Aku mengambilkan segayung air. Mas Gun berkumur dan membasuh wajahnya. Lalu kami kembali ke ruang tengah, masih kubantu Mas Gun berjalan. Begitu sampai di kasur, ia langsung merebahkan badannya. Aku ke ruang depan, mengambil segelas air hangat dari dispenser.
"Mas, minum dulu mas." ucapku seraya membantunya bangun. Mas Gun menyeruput sedikit air hangat dan kembali merebahkan tubuhnya.
Jam menunjukkan pukul 03:50.
Pikiranku kacau malam ini. Amarahku memuncak. Jelas Genderuwo itu yang harus membayar atas apa yang telah ia lakukan pada Mas Gun.
"Kubiiiilll! Kubiiilll!" kupanggil Kubil dengan suara lantang.
Wuuss. Bau amis menusuk hidungku. Bocah kecil berkulit hitam muncul dari ruang belakang.
"A-a-ada apa tu-tuan?" tanya Kubil.
"Antar aku menemui Genderuwo sialan itu! Ayo!" tuturku.
"A-apa? Mengantar tuan menemui Genderuwo penunggu kebun belakang kost? Tu-tuan tak salah bicara?" tanya Kubil.
"Enggak! Aku harus membuat perhitungan dengan demit itu! Ia sudah membuat kawanku merana! Ayo cepat!" balasku dengan penuh amarah.
"Ma-maaf tuan. Bu-bukannya aku tak mau mengantarmu. Tapi.. Tapi.." ucap Kubil terbata.
"Tapi apa?" tanyaku.
"Ta-tapi ia tak sendirian tuan. Ia punya banyak pengikut." jawab Kubil.
"Lalu? Memangnya kenapa kalau demit itu banyak pengikut? Aku nggak takut, akan kuhabisi semua demit yang mengganggu kawanku." sergahku dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Ma-maaf tuan. A-ampun tuan. Saya takut terjadi hal yang tak di inginkan. Saya takut tuan kalah." jawab Kubil dengan was-was.
"Halaaahh, kau emang demit penakut. Kau demit tak berguna buatku. Kalau kau tak mau, biar aku saja yang pergi ke kebun kosong itu." balasku.
Aku pun bergegas menuju pintu kamar dan hendak keluar membukanya.
Namun tiba-tiba Kubil melesat terbang dan menghalangiku di depan pintu. Kedua tangan kecilnya di rentangkan.
__ADS_1
"Ja-jangan tuan. Saya mohon jangan pergi ke kebun itu. Saya takut tuan celaka. Saya takut tuan tak sanggu melawan Genderuwo itu sendirian." ucap Kubil dengan memelas.
Langkahku pun terhenti.
"Saya mohon tuan. Saya mohon! Jangan pergi kesana tuan. Jangan menantang Genderuwo itu. Tuan belum siap. Saya mohon tuan! Jangan terpancing oleh amarah. Tolong tuan, tolong dengarkan saya." Kubil berkata sambil membungkuk, seolah menyembahku.
Aku diam. Hati kecilku memang bertolak belakang dengan amarahku yang meledak-ledak. Aku pun merasa belum siap dan belum cukup tangguh untuk menghadapi Genderuwo itu seorang diri. Siapa aku?
"Sekali lagi saya mohon tuan. Jangan ikuti amarah tuan, jangan tuan! Pikirkan lagi dengan keputusan yang tuan ambil. Saya mohon tuan!" Kubil kembali berucap, lagi-lagi dengan posisi membungkuk.
Aku menghela nafas panjang.
"Hei Kubil." panggilku dengan nada pelan.
"Iya tuan. Ada apa tuan? Apa yang bisa saya lakukan untuk tuan? Apa pun saya lakukan, asal jangan pergi ke kebun itu tuan." ujar Kubil.
"Baiklah. Aku tak jadi pergi ke kebun itu. Tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu." ucapku.
Wajah Kubil sumringah, begitu mendengar aku mengurungkan niat untuk pergi ke kbun kosong belakang kost.
"Mau tanya apa tuan? Akan kujawab yang aku tahu. Silakan tuan, silakan!" balasnya dengan antusias.
"Tadi kau bilang aku belum siap untuk menghadapi Genderuwo beserta pengikutnya itu. Kenapa kau bisa berkata seperti itu? Apa yang kau tahu tentang diriku?" pertanyaanku menghujam.
Kubil diam. Gerak-geriknya berubah kikuk. Raut wajahnya datar sedikit was-was.
"Ayo cepat jawab." pintaku. "Kenapa kau bilang aku belum siap?" kembali kutanyakan soal yang mengusik otakku.
Kubil masih belum menjawab. Matanya jelalatan, melirik ke kanan dan ke kiri. Lalu ia berjalan mendekat ke arahku.
"A-ampun tuan. Saya tak tahu apa-apa." jawabnya singkat.
"Aaaahh, kau bohong. Nggak mungkin kau tak tahu. Ayo cepat jawab! Kenapa kau bilang aku belum siapa?" tanyaku lagi.
Kubil masih belum menjawab pertanyaanku.
"Eng. Anu tuan. Emm. Se-sebenarnya anu tuan. Sa-saya cuma salah bicara saja. Sa-saya tak ada maksud berkata seperti itu." jawab Kubil gugup.
Aku diam menatap Kubil. Ia tak berani balas menatapku, pandangannya tak jelas entah kemana. Jelas ada sesuatu yang ia sembunyikan, dan tak memberitahuku. Entah takut atau ada hal lain. Kubil hanya bungkam, dan terus memberi alasan.
"Hei! Apa yang kau sembunyikan dariku?" tanyaku.
"Eng. Apa? Emm. T-tak ada tuan. Sa-saya tak menyembunyikan apa-apa." jawabnya dengan gelagat aneh. Aku makin curiga.
Ooh, jadi kau keukeuh untuk tak memberitahuku soal perkataanmu tadi. Baiklah, akan kukorek terus sampai kau buka suara Kubil! aku membatin dalam hati.
"Baiklah kalau kau tak mau memberitahuku maksud perkataanmu tadi." ujarku pelan.
"Sekarang kau boleh kembali ke rumah kosong itu! Sana pergi! Aku bukan tuanmu lagi. Sana kembali ke kuntilanak merah itu!" aku memerintah.
"Cepat sana pergi!" suruhku.
Raut wajah Kubil terlihat tak nyaman. Tampak resah dan gundah.
"Disana kau akan kembali di pukul oleh demit-demit menyeramkan! Kau akan merana disana." aku menakut-nakuti.
Kubil makin resah, terlihat dari air mukanya.
__ADS_1
Sejujurnya aku hanya menggertak saja. Aku benar-benar tak serius mengusir Kubil. Aku cuma ingin mengujinya saja. Sejauh mana kesetiaan dia padaku, kalau ia menganggap aku sebagai tuannya.