Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 42


__ADS_3

Aku dan Yuda berangkat menuju Kedai Kopi Satu Arah. Kedai kopi kemarin yang ku datangi dengan Kemala. Oh iya, kebetulan chat dari Kemala sudah ku baca tadi. Ia meminta maaf atas perlakuan ibu-nya kepadaku, ia amat menyesali perkataan ibu-nya kemarin. Kemala pun bilang jangan terlalu di pikirkan, dan kita masih bisa berteman. Angin segar seolah menerpa tubuhku. Semangatku kembali lagi. Di akhir chat Kemala bilang, lusa akan mentraktirku di Kedai Kopi Satu Arah, aku hanya balas dengan gambar senyuman.


"Tempatnya di mana Di?" tanya Yuda yang mengendarai motor, aku membonceng di belakang.


"Itu tuh, plang-nya warna hitam." tunjukku.


Kami pun sampai, aku turun duluan. Kemudian Yuda mematikan mesin motornya. Pinggangku terasa pegal. Ya, motor Yuda memang motor besar, posisi dudukku harus tegap menahan tubuhku.


"Ah males gue bonceng kalau lo bawa motor ini Da." ucapku.


"Lah, kenapa memangnya?" balas Yuda sambil senyum.


"Pinggang gue pegal-pegal nih, gue duduk harus tegap, kayak TNI jadinya. Hahahaha."


"Ya jangan tegap lah, lo nyandar aja ke badan gue. Hahahaha." ujar Yuda.


"Yuk!" ajakku.


Sore ini kedai nampak tak ramai, hanya ada dua orang pengunjung perempuan. Aku dan Yuda memilih meja di luar, agar bisa merokok.


Pramusaji bertubuh gempal mendatangiku.


"Sore kak, gimana hari ini lancar nggak urusan asmaranya?" tanya si lelaki gempal.


"Hahahahahaha. Mas nyindir saya ya?" sahut Yuda.


"Kalau mas ini kan kemarin sudah bawa pacarnya ke sini, bener nggak mas?" ia menunjukku, yang di maksud ialah Kemala. Masih ingat rupanya si gempal ini.


"Siapa Di? Kemala? Hahahahaha." Yuda tertawa.


Aku diam.


"Ooh jadi kemarin lo ajak Kemala ke sini? Hahahaha." lanjut Yuda.


"Iya, siapa lagi. Lo mau pesan kopi apa Da?" ujarku.


"Menunya mana mas?" tanya Yuda.


"Ah itu kak, di atas tembok ada papan tulis. Semua menunya ada di sana." tunjuk lelaki gempal ke atas dinding.


"Banyak juga ya menunya. Lo mau pesan apa Di?" tanya Yuda.


Aku melihat ke arah papan tulis.


"Mas, kalau Vietnam Drip tuh apa?" tanyaku.


"Itu kopi tambah susu kental manis sedikit, kopinya kita saring kak, biar ampas kopinya nggak jatuh ke gelas." jelas si gempal.


"Terus jatuhnya ke mana?" tanya Yuda.

__ADS_1


"Ke hatiku juga boleh. Hahahahaha." balas si gempal.


"Hahahahaha. Untung gue masih normal. Lucu juga lo mas." tutur Yuda.


"Oh kopi susu ya. Saya pesan itu deh." kataku.


"Mau es atau panas kak?"


"Panas dong."


"Kalau abang ganteng yang ini mau pesan apa?" tanya si gempal.


"Saya tubruk aja mas. Aceh Gayo ya." ucap Yuda.


"Nah, pilihan abang ganteng tepat sekali. Oke di tunggu sebentar ya." ucap si gempal, lalu pergi berlalu meninggalkan kami.


Yuda melihat sekeliling kedai, mulai dari meja, kursi, kebersihan tempat, sampai dekorasinya. Yuda memang anak yang di bilang cukup detil dan cukup rapi, terbukti dari kamar tidurnya yang sangat rapi.


"Asik sih tempatnya Di. Tinggal kopinya aja nih, enak atau enggak." tutur Yuda.


"Eh, kita nggak pesan cemilan nih?" tanya Yuda.


"Yaudah pesan aja, kan yang bayar Tuan Yuda. Ajudan Adi mah ikut aja. Hehehehe." gumamku.


Lelaki kurus yang berdebat dengan kakak kasir tempo hari lalu keluar, ia menyapaku ramah namun sedikit slengean.


"Woii bro, pulang kuliah? Pacar mana pacar?" sapanya.


"Yah kenapa nggak di ajak? Malah ngajak cowok, nggak seru ah." gumamnya.


"Hahahaha. Ini bos gue bang." tunjukku ke Yuda.


"Oh bos. Bos maaf ya bos. Hehehehe." ucap lelaki kurus ke Yuda.


"Hahahaha. Nggak apa-apa bang, santai aja. Harga kedainya berapa nih?" tanya Yuda.


"Mohon maaf, maksudnya gimana?" tanya si kurus.


"Ini harga kedai kopinya berapa?" ucap Yuda sembari senyum.


"Murah bos. Nggak sampai jual mobil." balas si kurus.


"Bungkus dah, mau gue bawa pulang buat nyokap di rumah. Hahahaha." seru Yuda.


"Hahahahaha. Bisa aja si bos." si kurus lalu undur diri.


Tak berapa lama pesanan kami pun datang. Yuda memesan pisang bakar coklat keju untuk menemani kopi. Yuda menghirup aroma kopi dari cangkir, matanya terpejam.


"Aaahh, harum banget."

__ADS_1


Ia meniup kepulan asap tipis, lalu menyeruputnya perlahan.


"Nah, ini baru kopi."


Kopi pesananku cukup unik, atau mungkin baru ku lihat seumur hidup. Di atas cangkir ada sebuah wadah terbuat dari stainless, di dalam stainless itulah bubuk kopi berada, dan di tuangkan air panas. Ada lubang-lubang kecil di bawah wadah, nantinya sari dari kopi akan menetes ke dalam gelas. Cukup unik sih.


"Baru nih gue lihat kopi ada alat saringan begini Da." ujarku.


"Ah norak lo Di. Di rumah gue kan ada." sahut Yuda.


"Mana gue tahu, lo kan nggak ngasih tahu." balasku.


Kami mengobrol, ada beberapa perihal yang ku ceritakan ke Yuda. Mulai dari kesialanku kemarin, sampai mimpi anehku yang meninggalkan bekas luka di perutku. Aku juga memperlihatkan bekas luka yang telah menghilang di perutku.


"Terus lo mau gimana? Pindah?" tanya Yuda.


"Aduuh, kalau pindah gue nggak mau ah. Gue betah di sana." jawabku.


"Iya, jangan pindah Di. Lo kan mau bantu gue buat rayu ibu kost lo, supaya jual mobilnya. Ingat kan?" balas Yuda.


Aku kembali teringat, Yuda amat jatuh cinta dengan mobil tua yang ada di garasi rumah Nek Iyah. Jika aku berhasil merayu Nek Iyah untuk menjual mobilnya ke Yuda, Yuda berjanji akan membayar sewa kamarku dua bulan. Penawaran yang bagus, aku hanya tinggal bilang ke Nek Iyah saja kan.


"Iya besok gue coba bilang ke ibu kost, mobilnya mau di jual apa nggak."


"Tapi bener nggak nih, kalau berhasil lo bayarin sewa kamar gue dua bulan?" tanyaku.


"Di, kalau lo berhasil ngerayu ibu kost buat jual mobilnya. Sewa kost gue bayarin dua bulan, di tambah ngopi gratis di sini lima kali, sepuasnya. Gimana?" Yuda memberi penawaran baru.


"Hahahahaha. Beneran nih?" tanyaku meyakinkan.


"Deal nggak?" Yuda menyodorkan tangannya, mengajak bersalaman.


"Deal!" dan kami pun bersalaman.


Adzan maghrib berkumandang, aku menumpang shalat di ruang karyawan, tepat di belakang gerobak ternyata ada sebuah ruangan kecil untuk shalat dan tidur. Kakak kasir sempat melontarkan senyumnya, manis. Mereka bertiga yang bekerja di kedai kopi ini sungguh sangat ramah dan bersahabat. Mulai dari lelaki kurus, lelaki gempal, dan kakak penjaga mesin kasir.


Cukup lama aku dan Yuda nongkrong di kedai kopi ini, beberapa kali lelaki kurus datang dan mengajak kami mengobrol. Ia lalu memperkenalkan diri, Dede namanya. Lelaki gempal pramusaji itu bernama, Wahyu. Sedangkan kakak penjaga mesin kasir bernama Nia.


Yuda memesan dua gelas kopi, ia kepincut dengan rasa kopi di kedai ini. Sampai-sampai ia bertanya, adakah kartu member untuk menjadi pelanggan kedai.


"Nggak ada, buat apa bikin member-member gitu? Nggak usahlah. Buat gue, kalau lo suka ngopi di sini ya datang aja." jawab Bang Dede.


"Lo buka jam berapa? Tutup jam berapa bang?" Yuda kembali bertanya.


"Buka jam 11 siang, tutup mah bebas. Selama masih ada yang ngopi, sampai subuh juga gue layanin. Hehehehehe." balas Bang Dede.


Bang Dede dengan Kak Nia adalah pemilik kedai kopi ini. Awalnya aku mengira mereka memiliki hubungan layaknya sepasang kekasih, namun Bang Dede bilang kalau Kak Nia teman sekolah sedari taman kanak-kanak dulu. Sedangkan Wahyu bukanlah sebagai karyawan. Bang Dede manganggap Wahyu bukan sebagai karyawan atau bawahan, melainkan teman kerja. Menurutku prinsipnya oke juga.


Mengobrol cukup lama membuatku dan Yuda cepat akrab dengan Bang Dede dan Wahyu. Sayang, kami tak sempat mengobrol dengan Kak Nia, karena ia harus terus berada di belakang mesin kasir.

__ADS_1


Bulan makin meninggi, kedai kopi perlahan mulai ramai. Ternyata, banyak pengunjung berdatangan sekitar pukul delapan malam. Sampai menjelang dini hari. Yuda merasa puas ku ajak ke sini. Esok sepulang kuliah, ia mengajakku kembali ke Kedai Kopi Satu Arah.


__ADS_2