
Tok tok tok tok.
Aku terkejut pintu kamarku di ketuk, aku bangun dari tidurku. Kurenggangkan badanku, ah nikmatnya.
"Diiiii. Adiiiii." suara Yuda.
Jam berapa ini? Kulihat ponselku. Astaga, sudah pukul 18:10. Lama juga aku tidur. Suara Yuda masih terdengar memanggilku, sambil terus mengetuk pintu.
"Iya bentaaaarr!" jawabku teriak.
Aku beranjak dari kasurku, dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Kubuka pintu kamar, Yuda berdiri di depan pintu. Langit sudah gelap.
"Kemana lo tadi siang? Gue telepon nggak di jawab-jawab." Yuda ngeloyor masuk ke dalam kamar.
"Tadi siang langsung balik gue, habisnya ngantuk banget." jawabku.
"Wuiihhh pakai kalung sekarang nih?" Yuda melihat kalung pemberian Kakek Badrun melingkar di leherku. "Keren Di, coba sini gue lihat!" Yuda meminta kalungku. Kulepas dan kuberikan.
Ia melihat dengan takjub.
"Keren nih. Buat gue ya! Hehehehe."
"Yeee jangan. Itu pemberian orang. Sini balikin!" pintaku.
Yuda langsung memakai kalung tersebut.
"Telat. Udah gue pakai, susah kalau di lepas lagi. Hahahaha."
"Da plis Da. Itu pemberian dari orang, nggak boleh sembarangan di kasihin ke orang lain." aku meminta.
"Yaelaaahh dari siapa sih? Kemala? Gue pakai dulu sehari deh." balas Yuda.
"Jangan Da, plis balikin Da." aku memaksa.
"Udah sih, besok gue balikin." balas Yuda.
Ah sial sekali Yuda. Sudahlah aku menyerah, percuma memaksa anak kepala batu ini. Biarkan ia pakai kalung itu sehari, esok akan kutagih.
"Beneran ya sehari. Besok di kampus gue ambil pokoknya." ujarku.
"Iya iyaa." jawabnya. "Eh Di, ayo temenin gue ketemu ibu kost. Gue mau bayar mobil." ucap Yuda sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Gue mandi sama shalat dulu ya. Lo ngopi aja dulu tuh!" suruhku.
"Yaudah sana. Nanti kita ngopi di Satu Arah aja, gue traktir lo sepuasnya." iming Yuda.
"Beneran nih?"
"Iyaaa. Kapan gue bohong sama lo Mas Ndesoo!" jawab Yuda.
Aku bergegas mandi, kemudian kulaksanakan shalat maghrib. Benar saja, Yuda tak menyentuh kopi sachet di kamarku. Kami pun langsung menuju rumah Nek Iyah. Yuda membawa tas punggung berwarna hitam.
"Assalamualaikum. Nek Iyah." aku mengetuk pintu rumah Nek Iyah pelan.
Pintu di buka.
"Waalaikumsalam. Ada perlu apa Dek Adi?" tanya Nek Iyah dengan wajah cerah dan senyumnya yang bersinar. Tampak beda dengan kondisinya kemarin.
__ADS_1
"Ini nek, kawan saya Yuda ingin ketemu dengan Nek Iyah."
"Oh iya. Silakan duduk."
Kami pun duduk.
Yuda mengutarakan niatnya datang malam ini kerumah Nek Iyah, untuk membayar mobil yang telah sepakat untuk di jual kepadanya. Nek Iyah pergi ke dalam rumah untuk mengambil surat-surat mobil. Setelah perbincangan mengenai kesepakatan jual-beli, akhirnya Yuda menyerahkan uang kepada Nek Iyah. Nek Iyah menerima uang dengan senyum sumringah.
"Nek, mungkin mobil akan saya ambil besok siang. Karena saya perlu hubungi derek dulu." ucap Yuda.
"Iya nggak apa-apa, terserah Dek Yuda saja."
Dan kami pun permisi undur diri dari rumah Nek Iyah. Aku membonceng, kami berangkat menuju Kedai Kopi Satu Arah.
***
Pukul 21:50 aku pulang di antar Yuda ke kost. Perutku telah kenyang, Yuda mentraktirku apa pun yang kupesan di kedai tadi. Yuda memang tidak pernah ingkar janji, ia pun telah memberikanku uang karena berhasil merayu Nek Iyah untuk menjual mobilnya, padahal aku sama sekali tak merayu ataupun memaksa Nek Iyah untuk menjual mobilnya. Tak tanggung-tanggung, Yuda memberiku uang sebanyak dua juta rupiah. Malam ini aku bisa tidur nyenyak, senyumku lebar.
Aku membuka gerbang kost, Yuda pun sudah pulang memacu motornya dengan kencang. Aku berjalan melewati halaman, kemudian sampai di garasi. Begitu sampai di garasi, senyumku mengembang melihat mobil antik milik almarhum Pak Thamrin. Aku berhenti sejenak, mengelus kap mesinnya dan bergumam dalam hati.
"Makasih ya. Berkat kau, aku dapat tambahan uang jajan yang cukup banyak."
Aku pun berlalu. Tapi, ujung mataku menangkap sesuatu hal ganjil yang menggangguku. Aku seperti melihat seseorang yang duduk di kursi belakang mobil. Tapi begitu kutengok, sosok itu tak ada. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Aku berjalan menuju kamar kost sembari bersiul riang. Menepuk kantung celanaku yang gendut karena lipatan uang dua juta rupiah di dalamnya.
Kulirik kamar 11a, kamar Tika dan Yuli. Sudah tertutup, tapi lampu kamarnya masih menyala dan terdengar suara mengobrol. Mereka belum tidur ternyata.
Kulirik kamar 11d, kamar Ela dan Dini. Lampunya sudah padam, mereka sudah tidur rupanya.
Kulirik kamar 11e, kamar almarhum Bang Oji. Seketika bulu kudukku merinding. Kembali teringat kejadian kemarin malam saat kuangkat jenazahnya untuk di makamkan bersama Kang Ujang dan Arya. Hiiiyyy. Terngiang-ngiang pemandangan wajahnya yang hancur dan menyeramkan.
Aku buru-buru masuk ke dalam kamar. Bersih-bersih dan melaksanakan shalat isya. Lalu kurebahkan badanku di atas kasur. Ah sial, tidurku tadi siang terlalu lama. Mataku masih segar. Kusibukkan diriku dengan menonton video di Youmute, berharap mataku lelah dan mengantuk.
- Tik, maaf ya soal tadi siang. Tadi gue lagi badmood banget. -
Aku mengirim pesan ke Tika.
.
.
.
Tak ada balasan dari Tika.
.
.
.
Dasar bodoh kau Adi, jelas ia tak membalas. Sudah pasti ia tidur. Pukul berapa ini!
Lalu terbayang lagi wajah Kemala dan Panji. Pasangan yang telah membuat semangatku luluh lantak siang tadi.
Aku terlentang, kusilangkan tanganku di kepala belakangku. Kutatap langit-langit kamarku. Kuhirup nafas dalam-dalam, lalu kuhela. Ah damainya. Kupejamkan mataku.
***
__ADS_1
Hah hah hah hah.
Mengapa dadaku terasa sesak begini? Aku mengambil nafas kuat-kuat, ah sial ada apa ini? Dadaku sesak, nafasku tak beraturan.
Kubuka mataku.
Astaghfirullah.
Ada yang menindihku. Tubuhku tak bisa kugerakkan. Apa ini? Bantal? Mataku belum terlalu jelas melihat. Kukedipkan mataku dengan cepat. Apa yang menindihku?
Astaga, sosok pocong menindihku. Kain di ujung kepalanya tepat berada di depan hidungku. Dadaku makin sesak.
"Adiiiii. Tolong cariin mata gue Diiii."
Astaga!
Apa ini Bang Oji?
Aku berusaha menggerakkan tubuhku, tanganku, kakiku, bahkan kepalaku. Namun sia-sia, aku mematung.
"Mata gue mana Diiiii."
Ini suara Bang Oji!
Jantungku berdebar. Aku ingin teriak tapi tidak bisa.
"Adiiii. Cariin mata gue Diii." suaranya lirih.
Aku masih terlentang, pocong Bang Oji masih menindihku.
Kupejamkan mataku dan berdoa. Tenang, kau harus tenang Adi. Aku bernafas pelan. Jangan takut Adi, jangan takut. Ini cuma khayalan saja, ini cuma bayang-bayang saja. Kau tak boleh takut Adi. Berdoa Adi, baca ayat kursi! Tenang Adi. Aku bergumam dalam hati.
Tok tok tok tok tok
"Bang Adiiiii. Baaaanngg!"
Suara Tika?
"Bang Adiiiii."
"Adiiiii!" Tika berteriak sambil menggedor kuat pintu kamarku. Aku masih memejamkan mataku.
"Lawan Diiii! Jangan takut Diiii!" Tika berteriak dari luar.
Kubaca ayat kursi berulang-ulang. Aku bernafas dengan santai. Kutenangkan diriku.
"Adiiiii! Lo bisa Diiii!" Tika kembali berteriak.
Dadaku masih sesak, tapi nafasku sudah membaik. Masih kupejamkan mataku. Aku mencoba menggerakkan tanganku, bisa. Kakiku, bergerak. Alhamdulillah.
______
kawan-kawan pembaca setia 'kamar no.11b'
author mau kasih info nih. mohon maaf untuk dua minggu ke depan, mungkin tidak tiap hari bisa update. karena author ada pekerjaan yang bisa dibilang menyita waktu.
tapi akan diusahakan untuk selalu update, mungkin jam-nya saja yang nggak tentu.
__ADS_1
sekali lagi mohon maaf ya, harap maklum ya kawan-kawan.
makasih.