
"Mas Gun. Sadar mas. Mas Gun." aku masih terus menepuk pipi Mas Gun dengan pelan.
Tika kembali setelah mengambil segelas air hangat. Menyerahkannya padaku.
"Mas Gun. Mas. Bangun mas!"
"Tika, Mas Gun kenapa Tik? Apa lo tahu Mas Gun kenapa?" tanyaku pad Tika.
Tika menggeleng pelan.
Aku terus saja mencoba menyadarkan Mas Gun. Kang Ujang memijit-mijit betis Mas Gun. Lalu, perlahan kelopak mata Mas Gun terbuka. Lalu sepenuhnya terbelalak. Ia menatap kami semua dengan tatapan heran dan nampak kebingungan. Aku, Kang Ujang, dan Tika duduk mengelilingi Mas Gun.
"Ada apa nih kumpul-kumpul?" tanya Mas Gun singkat.
Kami semua menghela nafas dengan lega. Mas Gun sadar.
"Mas, lo kenapa mas?" tanyaku.
"Hah? Gue kenapa? Kok lo malah tanya gue kenapa. Harusnya gue yang tanya, lo semua kenapa ngumpul di sini?" jawab Mas Gun. Ia lalu bangun dari rebahnya dan duduk di atas kasur. Aku menyodorkan segelas air hangat.
"Minum dulu nih!"
Mas Gun mengambil gelas, meminum air sedikit, kemudian menyerahkan gelasnya kembali padaku.
"Pada ngapain sih?" tanya Mas Gun lagi.
Tika mencolek lenganku, aku menoleh ke arahnya. Lalu ia mengedipkan sebelah matanya, seolah memberi kode untuk tak terus terang pada Mas Gun.
"Anu mas. Tadi kita, emmm. Anu, tadi kita.." aku tak tahu alasan apa yang hendak kukatakan.
"Kita bangunin lo mas. Karena udah maghrib. Nggak baik tidur saat maghrib." sambar Tika.
"Aaahh iya. Kita semua bangunin lo. Sampai-sampai Kang Ujang yang lagi cek tower air ikut bantu bangunin lo. Habisnya lo tidur kayak orang pingsan." aku menambahkan.
Raut wajah Mas Gun seolah tak percaya dengan apa yang di jelaskan Tika dan aku.
"Iya mas. Saya tadi lewat depan kamar, kok kamar Dek Adi gelap. Kebetulan Dek Adi pulang, makanya saya ikut bantu bangunin Mas Gun." Kang Ujang ikut beralasan.
"Beneran?" tanya Mas Gun singkat. Ia menatap kami satu-persatu.
"Ya benar dong. Masa bohong. Ya kan Tik?" sahutku.
"Eh. Emm, i-iya mas." sergah Tika.
Akhirnya setelah Mas Gun benar-benar sadar dan percaya apa yang kami katakan, Tika dan Kang Ujang pun pamit. Aku duduk di ruang depan, sementara Mas Gun melaksanakan shalat maghrib, di waktu yang sebentar lagi masuk isya.
"Di, lo kemana aja sih? Lama banget." ucap Mas Gun sembari melipat sajadah dan kain sarung.
"Habis janjian sama Tika mas. Biasa, ngomongin tugas kuliah." jawabku sekenanya.
"Ngomongin tugas kuliah? Lho, kalian kan beda fakultas, beda jurusan lagi. Kenapa ketemu ngomongin tugas." balas Mas Gun.
"Ma-maksudnya, Tika tanya-tanya tugas kuliah gue yang lagi mandek, karena kehabisan bahan buku. Dia tawarin diri buat bantuin." jawabku asal.
"Iya gue ngerti tugas kuliah sering mandek. Tapi memang nyambung, jurusan lo sama Tika?"
"Nyambung-nyambung aja sih. Kalau nggak nyambung, ya sambungin ajalah."
"Halaaahh, alasan aja lo. Bilang aja mau pedekate sama Tika." tukas Mas Gun.
Aku hanya senyum mesem-mesem.
"Emm, mas. Gue boleh tanya sesuatu nggak?" ucapku.
"Tanya aja. Kaku banget, pakai minta izin segala." cakap Mas Gun sambil mengaduk kopi.
Aku diam sejenak, otakku sedang merangkai pertanyaan yang pas untuk Mas Gun.
"Lho, kok malah bengong? Katanya mau nanya sesuatu. Mau tanya apa Di?" tutur Mas Gun.
"Emm, iya iya. Gini mas, waktu tidur tadi, kira-kira lo mimpi apa mas?" tanyaku pelan.
Mas Gun melirikku.
"Mau tanya itu doang?" ujar Mas Gun.
"Hehehehehehe. Iya, itu saja dulu. Nanti kalau kurang di tambah lagi pertanyaannya." sahutku.
"Ckckck. Gue kirain mau tanya apa, ternyata tanya soal mimpi gue. Memang penting banget cerita mimpi gue." ungkap Mas Gun.
"Tapi sebentar deh, gue ingat-ingat dulu tadi mimpi apa." ucap Mas Gun sambil matanya melirik ke langit-langit kamar.
Aku menunggu ceritanya.
.
.
.
Mas Gun masih mencoba mengingat mimpinya.
.
__ADS_1
.
.
Aku masih diam.
.
.
.
"Apaan mas? Lama banget mikirnya!" tukasku.
"Mbok yo sabaaarr. Namanya juga lagi ingat-ingat, kan nggak tahu berapa lama bisa sampai ingat."
Aku kembali diam, menunggu cerita mimpi Mas Gun penuh pengharapan.
.
.
.
"Gini Di," ia membuka cerita, aku sumringah.
"Tidur tadi kayaknya gue nggak mimpi deh." ujar Mas Gun.
"Jiiaaaahhh. Cape deeeehh. Udah lama nungguin, nggak tahunya lo nggak mimpi." tuturku dengan lemas.
"Hahahahahahaha. Kenapa sih lo penasaran banget sama mimpi gue Di? Hahahahaha."
"Ya pengin tahu aja mas. Emm, soalnya tadi lo tidur ngigau gitu. Mulut lo seperti komat-kamit. Itu alasan gue ngotot pengin tahu lo mimpi apa." jelasku.
"Hah? Gue ngigau? Masa sih Di?" tanya Mas Gun seolah tak percaya.
"Buat apa gue bohong mas. Nggak ada untungnya buat gue." ucapku.
"Terus, tadi lo mimpi apa maaaas?" aku kembali bertanya.
"Iya iya, gue ceritain mimpi gue." jawab Mas Gun seraya menyeruput kopi. Sebelum memulai cerita. Mas Gun membakar sebatang rokok. Kemudian menghisapnya, dan menghembuskan asapnya ke atas.
"Gue mimpi ketemu perempuan di sebuah kebun atau hutan gitu deh. Wajahnya nggak terlalu kelihatan jelas, karena suasana agak gelap dan samar-samar. Tapi yang gue ingat, rambut perempuan itu keriting sebahu." Mas Gun mulai bercerita.
"Terus?" tanyaku.
"Apa lagi ya kelanjutannya. Duh, gue agak-agak lupa nih Di." Mas Gun kembali mencoba mengingat-ingat mimpinya.
Aku masih terus menunggu kelanjutan ceritanya.
"Suaranya pelan, malah seperti berbisik. Tapi terdengar jelas anehnya." tambah Mas Gun.
"Terus gimana lagi?" aku kembali bertanya.
"Emm, seingat gue. Emm, ini yang gue ingat aja ya. Gue agak-agak lupa Di." terang Mas Gun.
"Gue nggak mau mendekati perempuan itu ketika dia panggil-panggil gue. Emm, intinya gue nggak samperin perempuan itu. Tapi gue di ajak ngobrol sama dia."
"Apa? Di ajak ngobrol? Memang ngobrol apa mas?" tanyaku yang makin penasaran.
"Aduuuhh apa ya? Sebentar gue coba ingat-ingat lagi." balas Mas Gun. Sepertinya Mas Gun memang benar-benar lupa akan mimpinya. Ia berusaha keras untuk mengingat kembali tiap detil mimpinya.
"Di, memang harus di ceritain ya? Memang sebegitu penasarannya lo sama cerita mimpi gue ya?" tanya Mas Gun.
"Parah! Gue penasaran banget mas. Sumpah! Lo harus ceritain ke gue, nggak ada pengecualian." jawabku sambil tersenyum meledeknya.
"Aaahh, nyusahin gue aja lo. Bentar, gue ingat-ingat dulu. Bikin PR aja nih anak!" sahut Mas Gun dengan sedikit gerutuannya.
"Mimpi lo tuh bisa jadi petunjuk kunci mas." ungkapku.
"Hahahahahahaha. Mulai ngaco lagi nih anak. Woi, mimpi kok kunci. Mimpi ya mimpi aja Adiii. Hahahahahaha." sahut Mas Gun sambil terbahak.
"Udah, jangan kebanyakan komenin opini gue. Ingat-ingat aja mimpi lo. Buruan!" tuturku.
Mas Gun sungut-sungut.
Aku masih setia menunggu kelanjutan cerita mimpi dari Mas Gun. Kusabet bungkus rokok yang tergeletak di lantai, kuambil sebatang, lalu kubakar. Kuhembuskan asap tipis ke atas. Rasa penasaranku membuncah tak keruan.
"Aaahhh gue ingat sekarang!" ucap Mas Gun mengagetkanku.
"Apa mas? Gimana ceritanya mas? Lo di ajak ngobrol soal apa?" aku memberondong Mas Gun dengan pertanyaan.
"Tenang Di tenang." Mas Gun berujar kalem.
"Ayo lanjut ceritanya mas." pintaku.
"Yang gue ingat, si perempuan itu bertanya ke gue. Kenal dengan Adi? Dan sedekat apa gue dengan Adi? Selebihnya gue lupa. Dia cuma tanya itu deh kalau nggak salah." jelas Mas Gun.
Kenal denganku? Dan sedekat apa denganku? Apa maksud yang tersirat ya?
"Terus lo jawab apa mas?" tanyaku.
"Ya gue jawab kenal dan teman dekat. Lalu pertanyaan kedua gue jawab dekat banget, kita udah kayak saudara. Kita satu kampung, satu sekolah, sekarang satu kost. Gue jawab lagi, gue udah lama bergaul dengan Adi." terang Mas Gun.
__ADS_1
Mas Gun jawab seperti itu? Bukankah kemarin ia sempat mengigau juga dan dialognya pun sama persis dengan yang barusan ia ceritakan. Sudah dua kali ia mengigau dan seolah berbincang.
"Terus, ada lagi nggak?" aku masih penasaran dengan kelakuan Mas Gun yang membenturkan dahinya ke dinding.
"Emm, apa lagi ya? Sepertinya udah, cuma itu aja." jawab Mas Gun.
Cuma itu yang Mas Gun ingat. Biarlah, percuma memaksa kalau ternyata ia tak ingat keseluruhan cerita mimpinya.
"Eh mas, lo ngerasa ada bagian tubuh lo yang sakit nggak? Nyeri, perih, atau nyut-nyutan gitu." aku memancing jawaban dari Mas Gun.
"Bagian tubuh yang sakit? Pertanyaan lo lama-lama jadi makin ngaco Di. Memang kenapa sih? Memang sekarang lo udah pindah ke fakultas kedokteran ya? Pakai tanya sakit segala." sahut Mas Gun.
"Hehehehehe. Ini pertanyaan tambahan dari gue. Udah, lo nggak usah komplain! Tugas lo cuma jawab aja. Buruan jawab!" tukasku.
"Bagian tubuh yang sakit ya?" Mas Gun meraba seluruh bagian tubuhnya, mulai dari kepala hingga ke ujung kaki.
"Nggak ada sih. Eh ada deh, kepala gue agak pening sedikit sih ini. Memang kenapa Di? Lo bisa ngobatin?" tanya Mas Gun.
"Hehehehe. Nggak bisa juga sih gue ngobatin orang. Emmm, kepala ya? Saat lo mimpi, ada kejadian apa di mimpi lo? Maksud gue, setelah mengobrol dengan perempuan itu, apa yang lo lakuin?"
Mas Gun menggaruk pelan dagunya, tatapannya tajam. Jelas, ia sedang berpikir keras mengingat kembali mimpinya.
"Nggak ada Di. Gue nggak ingat lagi. Plis, jangan paksa gue buat ingat-ingat mimpi terus. Kepala gue jadi makin pening nanti." jawab Mas Gun.
Baiklah, cukup info dari Mas Gun. Kesimpulannya, dua kali Mas Gun mengigau dan bermimpi, dua kali juga ia mendapat pertanyaan yang sama dan jawaban yang di lontarkannya pun sama. Tak terjawab mengapa ia membenturkan kepalanya di dinding.
"Yaudah kalau memang udah nggak ingat lagi." ucapku.
Sekarang, tugasku selanjutnya adalah bertanya ke Kang Ujang. Kang Ujang yang pertama kali melihat Mas Gun bertingkah aneh seperti itu. Lebih baik besok kutemui Kang Ujang.
* * *
Mas Gun baru saja kembali, ia sempat keluar untuk membeli makan. Kami masih duduk di ruang depan. Mas Gun asik menyuap nasi rames dengan porsi jumbo dengan tiga macam lauk. Telur dadar, tempe orek, dan kentang balado. Tak lupa dua buah kerupuk ikan sebagai pendamping.
Malam ini angin kembali bertiup sepoi. Menyegarkan. Pikiranku tertuju pada kelakuan Mas Gun yang semakin aneh belakang ini. Bermula dari kejadian hilangnya Mas Gun malam itu. Tubuhnya sempat drop akibat muntah-muntah, dan sekarang tidur yang sering mengigau.
Kepalaku melongok ke arah kamar Tika. Lampu kamarnya sudah padam, mungkin ia dan Yuli sudah tidur.
"Ngapain sih lihat-lihat ke kamar Tika? Kangen ya? Hehehehehe." ledek Mas Gun dengan bibir mengilat terkena minyak.
Aku hanya senyum.
"Besok juga ketemu Di. Sabar aja. Tapi kalau orang lagi kasmaran memang seperti itu sih. Sedetik nggak ketemu berasa sebulan. Hehehehehe." Mas Gun kembali berujar.
Kraukk. Ia menggigit kerupuk ikan. Suaranya nyaring.
"Apaan sih mas. Nggak seperti yang lo bayangin kok. Gue sama Tika cuma teman akrab." sahutku sambil menikmati angin yang meniup tubuhku.
"Iya teman. Lo anggap lebih dari teman juga nggak apa-apa Di. Lo sama Tika kan memang jomblo. Menurut gue, sah sah saja." tutur Mas Gun.
Aku tak menimpali obrolan Mas Gun soal ketertarikanku pada Tika. Aku hanya diam, memandang ke arah luar kost sambil menikmati kopi dan hbusan angin malam yang lembut meniup tubuhku.
Mas Gun sudah menghabiskan sebungkus nasi rames dan dua buah kerupuk ikan. Setelah membuang sampah dan mencuci tangan, ia kembali duduk di tempat asalnya. Mas Gun membakar sebatang rokok. Lalu bersendawa dengan kuat. Suara sendawanya mirip seperti suara kerbau. Sangat kuat.
"Eh Di. Itu foto yang lo ambil dari rumah kosong sana belum di kembalikan ya?" tanya Mas Gun sembari menyeka keringat di dahinya.
Astaga. Aku lupa.
"Oh iya. Lupa gue mas. Besok deh gue titip ke Kang Ujang, biar dia yang balikin ke rumah itu." balasku.
"Yee, kok malah titip ke Kang Ujang? Harusnya lo balikin sendiri ke rumah itu. Memang foto siapa sih? Coba sini gue lihat! Penasaran gue."
Aku bangun dari duduk, mengambil foto dalam bingkai kayu yang sudah rapuh. Lalu menyerahkan ke Mas Gun.
Mas Gun diam. Matanya lekat menatap foto perempuan yang ada di bingkai.
"Kenapa mas?" tanyaku.
Tiba-tiba mata Mas Gun membelalak. Bibirnya bergetar. Tangannya gemetar. Raut wajahnya ketakutan.
"Mas. Lo kenapa mas?" aku bertanya, aku heran dengan yang terjadi pada Mas Gun secara tiba-tiba.
"Mas. Lo nggak apa-apa?" tanyaku lagi.
Mas Gun tak menjawab. Ia hanya terus menatap foto yang di pegangnya.
"Mas, kenapa sih?"
Mas Gun menatapku. Ia menelan ludah.
"Di," panggilnya.
"Iya kenapa mas? Kenapa sih lo?" tanyaku lagi.
"I-ini foto si-siapa Di?" tanya Mas Gun gugup.
"Nggak tahu, pokoknya gue ambil aja dari rumah kosong itu. Memang kenapa?"
"Pe-perempuan ini siapa Di?" Mas Gun bertanya lagi.
"Gue nggak tahu mas. Besok gue coba tanya ke Kang Ujang deh. Memangnya kenapa mas?" tanyaku yang masih heran dengan tingkah Mas Gun.
Mas Gun kembali menatap foto yang di pegangnya. Lagi-lagi ia menelan ludah.
__ADS_1
"Pe-perempuan ini, ya-yang datang di mi-mimpi gue tadi sore Di." ujar Mas Gun.
Deg deg deg deg deg. Jantungku seketika berdegup dengan cepat.