
"Kek, apa Kakek bisa menyebuhkan Mas Gun?" tanyaku pada Kakek Halim.
"Begini cucuku, kekuatanku yang kumiliki hanya berfokus pada serangan dan bertahan. Orang sakti manapun hanya memiliki satu kelebihan. Tak mungkin memiliki seluruh kemampuan. Leluhur Tika contohnya, kekuatannya berfokus pada penyembuhan dan pengobatan." jelas Kakek Halim.
"Berarti tak ada cara lain selain mengalahkan kuntilanak merah itu Kek?" tanyaku.
Kakek Halim tersenyum, kemudian ia mengangguk.
Astaga, mengapa ada saja masalah yang timbul? Padahal kami hanya ingin bertahan hidup dan memenangkan pertempuran.
Baiklah, kalau sudah tak ada cara lain.
"Hiyaaaaaaaa!", aku terbang melesat ke arah kuntilanak merah. Tanganku bersinar biru.
Kuntilanak merah tersenyum dengan jahat menatapku.
"ADIIII." kudengar teriakan Kakek Halim memanggilku.
Tiba-tiba..
SETT. Sesosok demit wanita bersisik menghalauku.
BUUUUAAAAKKKK.
Mataku terpejam, aku merasa terpental. Dan tubuhku terasa sakit disemua bagian.
BUG. SRAAAAAKKKK.
Aku terjatuh dan terseret cukup jauh.
Kubuka mataku perlahan.
"HAHAHAHAHAHAHA. BOCAH INGUSAN YANG GEGABAH. KALAU KAU SUDAH PUTUS ASA, TINGGAL BILANG SAJA. JANGAN ASAL SERANG. HAHAHAHAHAHA." teriak Kang Ujang.
Tika menghampiriku.
"Heh bego! Lo udah gila ya? Main asal serang. Kita harus punya rencana matang Di, nggak bisa kalau lo kayak gini." ucap Tika seraya membantuku bangun.
"Halim, itu cucumu? Hihihihihihihi. Darah keturunanmu yang katanya memiliki bakat terpendam. Hihihihihihihi. Apa cucumu sudah kehabisan akal? Sampai-sampai ia menyerang tanpa perhitungan. Hihihihihihihihihi. Menyedihkan." ujar kuntilanak merah.
Aku dirangkul oleh Tika.
"Kalau lo ngelakuin hal bodoh lagi, gue nggak akan bantu lo sampai semua ini selesai. Ngerti lo!" Tika mengancam.
"TERUS APA YANG HARUS GUE LAKUIN TIK? MAS GUN SEDANG SEKARAT." teriakku pada Tika.
Tika melepas rangkulannya. Aku berdiri terhuyung.
"Apapun! Lakuin apapun asal jangan seperti tadi." jawab Tika tegas.
Kakek Halim menghampiriku dan Tika.
"Kamu tidak apa-apa cucuku?" tanya Kakek Halim.
"Alhamdulillah, nggak apa-apa Kek." jawabku.
"Jangan kau lakukan hal seperti tadi lagi. Bisa membahayakanmu dan kita semua. Tenang. Insyaallah temanmu bisa diselamatkan. Kau mengerti?" ujar Kakek Halim.
"Maafin saya Kek. Maafin gue Tik. Gue emosi, gue nggak mau kehilangan Mas Gun. Gue bingung harus lakuin apa." balasku.
Tika kembali merangkulku.
"Bismillah. Pasti ada jalan untuk menyelamatkan temanmu." balas Kakek Halim.
"HAHAHAHAHAHA. AKU SEPERTI MENONTON JALINAN KASIH. HAHAHAHAHA. SUNGGUH MEMBUATKU TERHARU." Kang Ujang berteriak nyaring.
"Hei Merah! Ayo cepat kerahkan pengikutmu, cepat serang mereka!" Kang Ujang berkata pada kuntilanak merah.
Kuntilanak merah hanya terkekeh.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI."
"Sudah cukup bersedihnya. Ini, kuberi kalian mainan penghibur. Hihihihihihihi." ucap kuntilanak merah.
"SERANG MEREKA!" teriak kuntilanak merah.
Demit-demit yang tersisa tak terlalu banyak. Tapi sungguh sangat merepotkan. Mereka berteriak bagai ini sebuah peperangan mempertahankan tanah air. Wajah mereka yang menyeramkan, terlihat semakin menakutkan. Segerombolan demit terbang melesat ke arah kami. Bengis. Buas. Penuh amarah.
Aku, Tika, dan Kakek Halim berdiri di depan Mas Gun. Guna melindunginya. Kubil pun masih bersedia membantu kami. Mas Gun tak bisa berbuat apa-apa. Tangannya yang menghitam sudah sampai ke atas pergelangan. Membuatku semakin tak keruan.
Serangan segerombolan demit kali ini cukup membuat kami kerepotan. Beberapa kali Tika kena hajar. Kubil terpental. Aku kena hantam. Hanya Kakek Halim yang terlihat baik-baik saja. Ia dengan mudahnya memusnahkan demit tanpa terluka sedikit pun. Bahkan koko putih dan kain sarungnya yang putih tak ternoda secuil pun.
Kakek Halim memasang kuda-kuda. Kedua tangannya mengepal. Ia mengambil napas panjang. Tubuhnya mengeluarkan sinar putih. Dan..
BRAKK. Kaki kanannya dihentakkan ke tanah.
WUUUSSHHH.
Sinar putih menyemburat dari hentakan kakinya, dan bersinar dengan silau.
Tiba-tiba..
BRUKK.
BRUKK.
BRUKK.
BRUKK.
BRUKK.
Segerombolan demit itu jatuh ke tanah dengan tubuh terpotong menjadi dua bagian.
Kuntilanak merah terkejut.
Kang Ujang terhenyak.
Dan kami yang menyaksikan tercengang.
SSSHHHHH. Segerombolan demit yang ambruk ke tanah pun musnah menjadi debu dan tertiup angin.
Kakek Halim kembali berdiri tegap, tangannya menyilang ke belakang tubuhnya. Senyum di bibirnya tak pernah pudar.
Luar biasa. Kakek Halim sungguh luar biasa. Seolah tak nampak kelemahannya. Puluhan demit sudah ia musnahkan sejak awal pertempuran.
"Hihihihihihihihihi. Ternyata yang kukhawatirkan terjadi." ucap kuntilanak merah.
__ADS_1
Eh, apa maksud perkataannya itu?
"Kau akan datang membantu cucumu Halim. Dan ternyata benar, kau datang. Kalau kau masih ada disini, akan sulit bagiku mengambil jiwa cucumu. Aku memang harus mengalahkanmu terlebih dahulu Halim. Tapi kau begitu kuat nampaknya. Hihihihihihihi." lanjutnya.
Kakek Halim hanya diam tak menanggapi.
"Tapi tenang, aku tahu cara mengalahkanmu. Hihihihihihihihi." sambung kuntilanak merah.
Apa? Kuntilanak merah tahu cara mengalahkan Kakek Halim? Apa benar yang ia katakan? Kalau benar, ini berbahaya. Sangat berbahaya. Sejauh ini, kami sangat bergantung dengan Kakek Halim. Jika sampai Kakek Halim dikalahkan, bagaimana kelanjutan pertempuran ini? Bisa semakin tak seimbang.
"Orang sakti manapun pasti punya kelemahan. Orang sakti manapun pasti bisa kukalahkan. Hihihihihihihihihi." ucap kuntilanak merah.
"TERMASUK KAU RADEN HALIM!" teriak kuntilanak merah dengan tatapan buas.
"Hei kalian!" kuntilanak merah memanggil tiga demit. Tiga demit yang sejak awal hanya diam menonton pertempuran, tiga sosok demit yang menjadi panglima. demit dengan mulut di dahi, wanita bersisik ular, dan demit yang memiliki tanduk kecil.
"Hihihihihihihihi." kuntilanak merah tertawa mengikik.
"SERANG HARIMAU ITUUU! CEPAT!" perintah kuntilanak merah.
Tiga demit itu melesat ke arah harimau putih.
Kakek Halim pun terbang ke arah harimau putih.
Apa mungkin itu kelemahan Kakek Halim? Harimau putih.
Tiga demit itu menyerang harimau putih. Namun berhasil dihalau oleh Kakek Halim. Pertempuran kini antara Kakek Halim melawan tiga demit.
Aku dan Tika saling pandang. Tanpa berkata, kami sepakat untuk membantu Kakek Halim.
Aku dan Tika terbang mendekat ke pertarungan yang sedang berlangsung antara Kakek Halim dengan tiga demit.
DUAKK. Aku menendang punggung demit dengan mulut di dahinya. Ia tersungkur.
Tika melawan demit wanita bersisik ular.
Sedangkan Kakek Halim melawan demit yang memiliki tanduk.
Si demit dengan mulut di dahi bangun berdiri. Ia menghadapku dengan tatapan buas dan penuh amarah. Sesekali lidahnya menjulur keluar dari mulut yang ada di dahinya. Gigi tajam dan kecil tampak bersinar.
SYUUUTT. Lidah dari mulut di dahinya menerjangku dengan cepat.
Grep. Lidahnya memanjang mencengkram tangan kananku.
Sangat erat.
Ia tersenyum angkuh.
Tiba-tiba, lidah mengeluarkan duri-duri kecil yang sangat tajam.
CRAASS. Duri menusuk tanganku.
Aku menjerit kesakitan.
Wuuuunnggg. Tangan kiriku bersinar biru.
"Aaaaaaaaaarrgghh!"
CRAAKKK. Kupenggal lidah yang mencengkram tangan kananku dengan tangan kiri.
Terputus. Lidah itu putus.
Sementara potongan lidah yang menempel di tangan kananku, kubuang.
CRAKK. Kuinjak dengan kuat.
"Maju sini!" ucapku pada demit itu.
Ia pun terpancing. Demit dengan mulut di dahi lompat ke arahku. Aku bersedia dengan memasang kuda-kuda.
"GRRAAAAAAAAA!" teriaknya sambil menyerangku.
Lidahnya bersinar merah, lalu kembali menerjangku. Memanjang.
Aku menghindar dengan cepat, lalu lompat ke arahnya.
Kulayangkan pukulan. Demit itu berkelit cepat.
SYUUUUUTTTTT. Tiba-tiba lidah itu menggulung perutku. Lidahnya melingkar dari perut hingga ke dadaku.
Tubuhku di tarik oleh lidahnya.
Seketika..
DUAAKK. Pukulan demit itu mendarat mulus di pipiku.
DUAAKK.
DUAAKK.
Beberapa pukulan kuterima kembali.
Lidahnya masih melingkar di tubuhku. Kini semakin erat dan menyesakkan. Dari lidahnya kembali mengeluarkan duri-duri kecil.
JLEBB. Menusuk tubuhku.
Aku berteriak sejadi-jadinya. Rasa sakitnya teramat sangat.
Demit itu tersenyum angkuh. Ia kembali melayangkan pukulan.
Cih. Sudah cukup main-mainnya. Kini giliranku demit brengsek. Aku tak boleh kalah. Aku harus menolong Mas Gun. Aku membatin.
Grepp. Kutangkap kepalan tangannya. Kutatap matanya tajam.
DUUAAAKKK. Kubalas memukul wajahnya.
DUUAAAKK.
DUUAAAKK. Kupukul mulut di dahinya.
DUUAAAKK.
DUUAAAKK. Kupusatkan tenagaku pada kepalan tangan ini.
Kulihat beberapa giginya tanggal.
Kreeekkk. Lilitan lidah di tubuhku semakin erat.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaaaaaarrrgggghhh!" aku teriak kesakitan.
Lalu..
JLEBB. Duri-duri kecil kembali menusuk tubuhku.
Wuuuunngg. Sinar di tanganku mengilau.
"HIYAAAAAAAAAA!" aku teriak sekeras mungkin sambil menahan rasa sakit.
CROAAAAKKKK. Tanganku menusuk mulut di dahi si demit.
Demit itu membelalakkan matanya.
Kucabut tanganku dari mulutnya. Lalu..
CROAAAAKKKK. Kutusuk kembali.
Kuulangi sampai tak kurasakan lagi tanganku. Tampak lidah yang keluar dari mulutnya sudah hampir putus. Namun lidah itu masih kuat melilit tubuhku.
"MATI KAU B*NGSAAAAAAATTT!"
CROAAAAKKKK.
Lidahnya putus. Namun masih menggeliat bagai belut. Kulepaskan lilitan lidah yang menempel di tubuhku.
Dari mulut di dahinya mengucur cairan hitam kental. Lidah yang terpotong menjulur keluar mengeluarkan cairan hitam juga. Demit itu berdiri terhuyung. Namun tatapannya masih buas.
Sekali lagi. Sekali lagi serangan yang besar, maka ia akan musnah.
Lidah di dahinya masuk ke dalam mulut. Demit itu tersenyum menatapku.
Tiba-tiba lidahnya kembali menjulur. Aku terkejut.
Lidah itu kembali utuh seperti semula. Demit itu kembali tersenyum menatapku. Seolah ia meledekku.
Gila. Bagaimana cara mengalahkannya?
Kulihat Tika masih bertarung dengan wanita bersisik ular. Kakek Halim bahkan sedang melawan demit bertanduk, ditambah beberapa demit kacangan. Merepotkan. Ini sungguh pertarungan yang menguras tenaga dan pikiran.
"HAHAHAHAHA. AYO ADI, KERAHKAN SELURUH KEMAMPUANMU. HAHAHAHAHA." teriak Kang Ujang di kejauhan.
Memang banyak bacot tukang kebun itu. Mangkel rasanya hatiku mendengar ocehan sombongnya.
"Kyaaaaaaaaaaa!"
Tiba-tiba saja Kubil lompat ke wajah demit di hadapanku. Tubuhnya yang kecil menutupi seluruh wajah demit itu. Tangannya yang kecil mencengkram rambut demit. Demit dengan mulut di dahi gelagapan.
BUKK.
BUKK.
Kubil kena pukul beberapa kali. Namun ia masih bertahan menempel erat di wajah demit itu.
"TUAN ADIIII! CEPAT SERANG DIA! CEPAAATT!" teriak Kubil.
Bismillahirrahmanirrahiem.
Tanganku bersinar biru. Sinarnya menyilaukan. Sinar biru berpendar, bergerak membentuk sebuah pedang. Pedang yang terlihat memiliki kekuatan yang sangat besar.
Aku lompat ke arah demit itu.
"HANTAM MULUT DI DAHINYAAAA!" teriak Kubil lagi.
Aku lompat mendekat. Sambil menghunuskan pedang yang terbuat dari sinar biru.
"AWAS KUBIIIIIILLLL! MINGGIIIIIRRR." teriakku.
Semakin dekat.
Semakin dekat.
Kubil pun lompat dari wajah si demit.
Demit itu terbelalak menatapku yang sudah ada di depan matanya.
Dan..
CRAAAASSSSHHH.
Pedang menusuk ke dalam mulut yang ada di dahinya, sampai tembus ke belakang.
"Kkek. Kkek. Kkek." demit itu bersuara. Matanya masih terbelalak.
Tubuhnya bergetar sesekali mengejang.
"HIYAAAAAA!"
Tak puas hanya menusuk mulutnya.
Kutekan pedang ke bawah
SRRRAAAAAAKKKKK.
Tubuh demit itu terbelah, lalu ambruk ke tanah.
SSSSSHHHHH. Demit itu musnah dan berubah menjadi debu, hilang tertiup angin.
Aku menghela napas panjang.
..._______________...
...otor mau minta maaf....
...kemungkinan untuk beberapa hari kedepan...
...akan jarang update....
...karena ada kerjaan....
...mohon maaf ya kawan2,...
...diusahakan utk tetap update...
...walaupun cuma 1 part...
...harap maklum yaa....
__ADS_1
...makasih...