Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 27


__ADS_3

"Da, ayo cabut ke kost gue." ucapku sambil menangis.


Yuda menyeka air matanya.


"Kenapa ke kost lo Di? Emang Bagas dimana?" tanya Yuda sembari terisak.


Aku sesenggukan.


"Bagas di temuin di rumah depan Da."


"Hah? Kok bisa?" tanya Yuda lagi.


Aku menggeleng.


"Da, cabut yu Da." ajakku. Yuda mengangguk, ia melesat ke dalam rumah.


Aku bangun dari dudukku perlahan. Entah apa yang kurasakan saat ini. Hanya kosong.


"Mas, ini nasi gorengnya sudah jadi." si mbak membawa sepiring nasi goreng dan meletakkannya di meja makan.


"Iya mbak, makasih." jawabku. Tak nafsu rasanya melihat nasi goreng. Tapi mubazir jika tak kumakan, tapi aku sama sekali tak berselera.


Yuda turun dari lantai atas.


"Yuk!" ajaknya


"Itu nasgor siapa?" tanya Yuda.


"Gue. Si mbak yang buatin." jawabku.


"Lo mau sarapan dulu?" Yuda bertanya.


Aku menggeleng, lalu berkata, "Nggak nafsu gue Da. Cabut aja yuk!"


"Mbaaakk," Yuda memanggil si mbak, tak menunggu lama si mbak pun datang.


"Saya sama Adi mau ngelayat, kita nggak sempet makan. Mbak makan aja nasi goreng ini ya." ucap Yuda. Si mbak pun mengangguk.

__ADS_1


Dan kami pun pergi menuju Kost Pak Thamrin. Yuda menginjak pedal gas kuat. Memutar stir ke kanan ke kiri, hingga mobil meliuk-liuk. Kami melesat cepat, dan sampailah di depan gang. Ada beberapa petugas polisi berjaga tepat di depan gang, menghentikan mobil Yuda, dan memberi instruksi untuk membuka kaca.


"Pagi dek, mau kemana ini?" tanya si petugas.


"Pagi pak, kita temannya almarhum pak. Ini kawan saya yang tinggal di Kost Pak Thamrin." jawab Yuda.


"Oh penghuni. Parkir di dalam kebun aja. Soalnya dekat rumah sana, sudah banyak mobil petugas." kami pun di arahkan untuk parkir di kebun sebelah kanan jalan. Ada beberapa mobil juga yang parkir di sini.


Kami turun dari mobil. Jantungku berdegup cepat. Dadaku sesak. Air mataku menggenang di pelupuk, menunggu tumpah. Kami berjalan menuju kost. Benar saja, beberapa mobil petugas memenuhi jalan.


Rumah depan gerbang di penuhi orang. Nampak Kang Ujang pun hadir di sana. Dan beberapa petugas dengan seragam berjaga di depan rumah.


Kang Ujang melihat ke arahku, lalu menghampiriku dan Yuda.


"Dek, yang sabar ya." ucap Kang Ujang. Seketika air mataku tumpah tak terbendung.


Kang Ujang menuntunku menuju rumah Nek Iyah, kami berjalan pelan. Yuda mengekor di belakangku dan Kang Ujang. Teras rumah Nek Iyah pun sudah banyak orang. Ada warga sekitar juga yang hadir. Aku di tuntun masuk ke dalam rumah.


Kulihat seorang ibu menangis meraung-raung di pelukan seorang bapak. Nek Iyah menemani duduk di sofa usang.


"Ah, ini teman Bagas bu, yang kost di sini." ucap Nek Iyah. Si ibu melihat ke arahku.


"Kamu Adi ya?" tanya si ibu dengan suara tersengguk.


Aku menyeka air mata dan menjawab,


"Iya bu."


"Bagas kenapa dek? Bagas kenapa? Kenapa Bagas bisa di rumah itu?" tanya si ibu, lalu kembali menangis.


"Bu, maaf bu. Saya juga nggak tahu kenapa Bagas bisa ke sana." jawabku.


"Dek Adi, ceritain saja ke orang tua Bagas kejadian malam itu." ucap Nek Iyah dengan lembut.


Aku mengangguk.


Seorang petugas datang menghampiri kami.

__ADS_1


"Pagi," nama yang tertera di seragamnya, Zulfahmi.


"Pagi pak." kami yang hadir menjawab serentak.


"Saya Zulfahmi, Kapolsek Hilir. Boleh saya bergabung dengan ibu bapak?"


"Silakan pak." ucap Nek Iyah.


"Maaf, pemilik kost ini siapa kalau saya boleh tahu?" tanya Petugas Zul.


"Saya pak." jawab Nek Iyah.


"Ibu, boleh ikut petugas yang di sebelah saya sebentar. Terima kasih." ucap Petugas Zul. lalu Nek Iyah pun mengikuti petugas.


"Dan, siapa temannya almarhum?" Petugas Zul kembali bertanya.


"Sa..sa..saya pak." ucapku gugup.


"Ooh kamu, Santai saja. Boleh ikut petugas ya dek?" Petugas Zul tersenyum ramah. Aku bangun dari duduk dan mengikuti seorang petugas ke teras rumah.


"Adek tenang aja, kalau nggak salah jangan takut." ucap si petugas. Nano, nama yang tertera di seragamnya.


Aku di tanyai beberapa hal oleh Petugas Nano. Mulai dari malam saat Bagas datang ke kost, lalu kami mengerjakan tugas, hingga saat Bagas hilang. Kuceritakan seluruhnya yang kutahu. Yuda pun sempat di panggil, ia menjelaskan sama persis dengan apa yang kuceritakan ke petugas.


"Pak, boleh saya lihat jenazahnya?" tanyaku.


"Nanti saja saat di bawa ke rumah duka. Sekarang jenazahnya sudah di bawa sama tim forensik untuk di periksa. Nanti saja, oke." jawab Petugas Nano di iringi senyuman, ramah sekali orang ini.


Aku pun kembali ke dalam rumah Nek Iyah, untuk menemui orang tua Bagas. Aku duduk di sebelah Mamah Bagas .


"Bu, saya minta maaf." ucapku dengan nada bergetar menahan tangis.


"Kamu nggak salah dek. Kamu nggak salah. Ini memang sudah kehendak Allah. Mamah sama papah sudah ikhlas." jawab Mamah Bagas.


Kutahan tangisku, dadaku terasa sesak. Aku sangat mengerti betapa terpukulnya mamah dan papah Bagas begitu tahu anaknya telah tiada. Dan dengan cara yang kurang wajar menurutku.


Otakku berpikir keras. Bagaimana ia masuk ke dalam rumah itu? Dan, ketika sadar kenapa Bagas tak teriak minta tolong? Mengapa sampai tiga hari ia di dalam rumah itu? Apa yang membuatnya bertahan di sana? Ada apa di rumah itu?

__ADS_1


Semua pertanyaan itu tak bisa kuterka jawabannya. Entahlah.


__ADS_2