Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 103


__ADS_3

"Mas." aku memanggil Mas Gun dengan pelan.


"Apa?"


"Makasih banyak ya mas udah mau bantu gue. Maaf kalau selama ini gue nggak cerita sama lo soal masalah yang gue hadapi. Gue tahu, lo orangnya care banget. Makanya lo bela-belain bantu gue dan rela pindah kost." ujarku.


Mas Gun hanya senyum mendengar kata-kataku.


"Udah seharusnya gue bantu lo Di. Ayah ibu lo udah banyak bantu keluarga gue. Ayah lo berjasa banget buat gue, beliau guru yang gue anggap sebagai orang tua sendiri. Biar bagaimana pun, gue akan bantu lo sampai masalah ini selesai Di." balas Mas Gun.


"Udah ah! Kok jadi melow gini sih. Sana lo tidur deh! Gue mau ke rumah bapak kost." sambung Mas Gun.


"Ke rumah bapak kost, ngapain mas?" tanyaku.


"Gue mau bilang, besok gue bakal pindah. Hehehehehe." jawab Mas Gun sambil terkekeh.


"Emang nggak bisa besok pagi mas? Sekarang kan udah malam, memang bapak kost masih bangun?"


Mas Gun bangun dari duduknya.


"Bapak kost gue metal Di. Jam segini dia baru keluar rumah buat main kartu di pos kamling depan, azan subuh baru pulang ke rumah." balas Mas Gun.


"Gua cabut bentar ya. Kalau semisal lo udah ngantuk, tutup aja pintunya tapi jangan di kunci ya." ujar Mas Gun sambil berlalu meninggalkanku.


Pintu kamar kost kututup. Aku pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, lalu melaksanakan shalat isya. Setelah shalat isya, aku merebahkan tubuhku di atas kasur lantai. Kasurnya tipis, namun nyaman dan hangat. Mataku pedih, tak lama kantuk pun menyerang.


* * *


Aku melihat banyak pohon bambu di kanan kiriku, ada jalan sepetak di tengah rerumputan liar. Jalan sepetak ini terbentuk secara alami, karena seringnya di lewati. Jalannya menanjak tak terlalu curam. Langit berwarna kejinggaan. Di ujung jalan setapak, ada sebuah bukit dengan rumput hijau terhampar sejauh mata memandang.


Aku terkejut melihat tiga sosok yang sangat kukenal. Mereka sedang asik bercengkrama dengan akrabnya. Mereka adalah Bagas, Mbak Wati, dan Bang Oji. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi gelak tawa dan canda tergambar jelas dari wajah mereka. Wajah mereka bersih, ada cahaya yang terpancar dari wajah mereka. Pakaian yang mereka kenakan putih bersih, mengilat. Aku jadi iri melihat mereka bersenda gurau.


Aku pun berjalan ingin mendekati mereka. Aku sadar, jika Bagas kupanggil, tak akan mungkin ia mendengar panggilanku. Aku berjalan pelan menyusuri jalan setapak, di kanan kiriku pohon bambu bergoyang-goyang di tiup angin, bagai tarian penyambutan mereka bergoyang seirama dan selaras. Angin sepoi menerpa wajahku, menyegarkan.


Nafasku tersengal karena jalan yang agak menanjak, aku mempercepat langkahku. Aku ingin menegur kawanku, Bagas. Ada setitik rindu dengannya. Seiring aku mempercepat langkahku, pohon bambu di samping kanan kiriku anehnya semakin tumbuh dan semakin meninggi.

__ADS_1


Aku berlari kecil, ingin cepat sampai rasanya ke atas bukit itu. Ingin kupeluk Bagas serat-eratnya. Namun pohon bambu makin tumbuh menjulang tinggi, ujung batang bambu


di sisi kanan dan kiri saling bertemu. Semakin tumbuh dan semakin tinggi. Sampai akhirnya pohon bambu membentuk terowongan, dan langit yang kejinggaan tak terlihat karena tertutup pohon bambu.


Aku makin mempercepat lariku, nafasku terengah. Dadaku terasa panas. Pohon bambu semakin lebat, menutup hingga menjadi gelap. Semakin gelap dan pekat. Aku tak melihat apa pun. Kuhentikan langkahku.


"Bagaaaasss!" aku teriak memanggil nama Bagas.


Aku tak melihat apa pun. Tanganku meraba-raba sekitar, sungguh aku tak bisa melihat apa pun. Semuanya gelap.


"Hihihihihihihihihihihihi." tiba-tiba suara cekikikan terdengar menggema. Bulu kudukku merinding. Suara tawa ini sangat tidak asing di telingaku.


"Kau.. mauhh kemana punh.. akanh.. kukejarr. Hihihihihihihihihi." lalu terdengar suara perempuan lirih dan sedikit serak.


Aku diam, berdiri mematung tak bergerak. Tanganku bergetar, kakiku lemas. Jantungku berdebar sangat kencang. Aku berdoa dalam hati, kubaca ayat kursi.


"Hihihihihihihihihihi." suara tawanya kian menggema.


Aku berjongkok ketakutan. Aku merangkak jalan, entah kemana arah yang kutuju.


"Mau kemanahh kau!"


Aku berteriak sekuat tenaga.


"Di, Di, Adi! Adi!" suara Mas Gun terdengar di telingaku. Tubuhku di goyang dengan kuat. Aku membuka mata perlahan.


"Di. Adi! Bangun Di. Adi!"


Aku membuka mata.


"Di, lo kenapa Di? Lo mimpi apa Di?" tanya Mas Gun.


Aku bangun dari tidurku. Kuseka keringat yang membasahi dahi. Nafasku terengah-engah. Mas Gun mengambil segelas air, lalu memberikannya padaku. Kutenggak air dengan cepat, habis seketika.


"Lo mimpi apa Di?" tanya Mas Gun.

__ADS_1


Aku menyandarkan punggungku pada dinding. Tubuhku lemas. Aku menghela nafas panjang. Bajuku basah oleh keringat.


"Di, lo mimpi apa Di? Lo teriak kenceng banget soalnya." ucap Mas Gun.


"Serem banget mas." jawabku dengan nafas yang masih terengah.


"Mimpi apa?"


"Kuntilanak merah mas. Hiiiyy, wajahnya serem banget." aku bergidik. "Jam berapa mas?" tanyaku.


"Jam tiga Di. Kenapa? Mau shalat tahajud?" tanya Mas Gun.


Aku mengangguk. Aku bangun dengan perlahan dari kasur. Lalu menuju kamar mandi untuk berwudhu. Mas Gun melanjutkan tidurnya, aku melaksanakan shalat tahajud. Setelahnya, aku berdoa dan berzikir sampai masuk waktu subuh.


Azan subuh pun berkumandang, suaranya merdu dan syahdu. Kost Mas Gun dekat dengan mushola. Aku bergegas menuju mushola untuk melaksanakan shalat subuh. Jalan ke mushola melewati sepetak tanah kosong yang di pakai warga untuk membuang sampah, tanahnya tak terlalu besar. Aku berjalan melewati tanah kosong, tapi ujung mataku samar-samar menangkap sesuatu. Sesosok tubuh lelaki tak terlalu tinggi. Wajahnya pun samar kukenal. Aku pun menoleh.


Yuda!


Lelaki itu Yuda, ia berdiri tepat di bawah pohon pepaya. Sebagian wajahnya terlihat karena pantulan cahaya lampu, sebagian lagi wajahnya gelap. Yuda memakai kemeja kotak-kotak berwarna merah biru, serta celana hitam. Belum sempat kutegaskan penglihatanku, tiba-tiba sosok Yuda menghilang. Seperti asap yang tertiup angin. Wuusshh.


Aku mengucek mataku pelan. Kulihat lagi tempat Yuda berdiri. Tak ada. Yuda menghilang. Langkahku sempat terhenti. Mataku melihat ke sekeliling tanah kosong, mencari sosok Yuda. Namun Yuda benar-benar hilang. Ada apa ini? Kenapa Yuda? Apa Yuda dalam bahaya? Nanti saat kuliah, harus kutemui ia di kampus. Kembali teringat kesalahan Yuda di pikiranku, ia tega menukar kalung mustika pemberian Kakek Badrun dengan uang. Ah sial, kalau ingat kejadian itu masih mangkel rasanya hatiku.


Aku pun lanjut jalan menuju mushola. Untungnya shalat subuh belum di mulai. Aku sempat melaksanakan shalat sunah dua rakaat sebelum subuh. Karena keutamaannya yang luar biasa, sebab shalat sunah dua rakaat sebelum subuh lebih baik dari dunia dan seisinya. Tercantum dalam hadist riwayat Muslim.


* * *


Aku pulang dari mushola, Mas Gun masih tidur memeluk bantal guling. Tubuhnya yang besar membuat separuh kasur habis tertutup oleh tubuhnya.


Kutepuk pelan bahu Mas Gun, "Mas. Mas Gun. Bangun mas! Subuhan dulu mas."


Mas Gun meregangkan tubuh besarnya. Kemudian ia bangun dan menuju kamar mandi, setelahnya menunaikan shalat subuh. Aku sudah membuat dua cangkir kopi.


"Wuiiihh, asik nih. Kelar subuhan udah ada kopi. Mantap!" ucap Mas Gun.


Mas Gun membuka pintu kamar lebar, udara pagi yang sejuk perlahan-lahan merangsek masuk ke dalam kamar. Sungguh menyegarkan. Sesekali angin bertiup sangat pelan. Menggoyang gordyn jendela. Langit di luar tampak masih menghitam. Kami menikmati kopi dengan nikmat. Sedikit demi sedikit suara kicau burung terdengar. Menambah syahdu suasana pagi kami. Kulupakan sejenak soal mimpiku, terkesampingkan sosok Yuda yang tadi kulihat. Pagiku indah, kutunggu sinar mentari pagi yang masih malu-malu di ufuk timur. Cahayanya membias di langit yang masih pekat, menyentil awan-awan sehingga membentuk lukisan alam yang sangat menakjubkan.

__ADS_1


Aku menghela nafas. Tak ada perbincangan antara aku dan Mas Gun. Seolah kami sepakat untuk menikmati pagi sembari menunggu Sang Mentari terbit. Aku duduk, kaki kuselonjorkan dan tubuh bertumpu pada kedua tangan. Wajahku menghadap keluar kamar. Menantang angin pagi yang bertiup pelan dan menyejukkan. Aku senyum simpul. Sudah lama aku tak memandang keindahan langit pagi. Sudah hampir lupa rasanya melihat pemandangan seindah ini. Aku mengucap syukur dalam hati, Tuhan Maha Baik. Masih memberiku kesempatan memuji ciptaan-Nya. Lewat gambaran langit pagi inilah aku sadar, bahwa tak ada kekuatan dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa yang bisa menandingi. Bahkan iblis sekalipun. Masalah yang kuhadapi mungkin mengajarkanku untuk selalu bersyukur atas apa yang Tuhan berikan padaku sampai detik ini. Masalahku hanya serpihan debu, kuasa Tuhan yang mampu menyelesaikan semuanya.


Subhanallah wal hamdulillah..


__ADS_2