
Aku sedang menunggu lift, bersama kerumunan mahasiswa lainnya. Pagi hari memang jam sibuk, untung aku berdiri tepat di depan pintu lift, jadi tak was-was tak kedapatan masuk.
Tiba-tiba tasku di tarik, aku menoleh cuma tak terlihat siapa yang menarik kuat tasku. Aku di seret ke barisan belakang membuyarkan kerumunan mahasiswa yang menunggu lift. Kerumunan mahasiswa melihat sebal ke arahku.
"Woi woi, apaan sih!" aku teriak pelan.
"Hahahahaha." suara tawanya nampak tak asing.
Kemala.
Astaga, rindu sekali aku dengannya.
"Yeee, bocah iseng. Ngapain lo tarik-tarik tas gue?" sungutku. Kini aku di barisan paling belakang dalam kerumunan.
"Lagian ngapain sih buru-buru. Temenin gue dong Di. Hehehehe." ucapnya.
"Rese lo." ucapku.
"Jangan marah dong Tuan Adi. Yang seharusnya marah kan gue, bukan lo." jawab Kemala.
"Eh iya, gue minta maaf ya waktu itu nggak bisa antar lo. Hehehehe. Kebetulan hape lagi di cas, jadi nggak tahu kalau lo hubungi gue." ucapku sambil garuk kepala yang tak gatal.
"Udahlah, udah lewat juga. Lagian waktu itu nggak jadi kok, saudara gue kebetulan lagi lembur kerja, makanya nggak jadi main ke kontrakannya."
"Gue telpon lo mau ngajak makan sebetulnya, tapi berhubung lo nggak jawab, berarti bukan rejeki lo. Hehehehe." jelas Kemala.
Ting. Bunyi pintu lift terbuka, kerumunan mahasiswa merangsek masuk saling dorong. Aku pun bergegas ikut masuk.
"Eeehhh, lo mau kemana?" Kemala menahan lenganku.
"Mau naik, ke kelas. Lo pikir mau kemana?" balasku.
"Nanti aja, itu lift-nya udah penuh, bahaya kalau telalu penuh. Bareng gue aja Adi, masa lo tega sih ninggalin gue sendirian." ujar Kemala.
Iya juga sih, mana mungkin kesempatan emas ini ku lewatkan. Bersama Kemala adalah hal yang sangat langka.
Pintu lift pun tertutup.
"Aaahh rese nih orang. Padahal gue masih bisa masuk tuh, masih muat kalau cuma gue doang. Kan lo naik lift nggak sendiri juga, pasti sama mahasiswa yang lain." sahutku pura-pura kecewa.
"Yaudah sana duluan!" balas Kemala sambil tersenyum.
"Telat! Udah naik lift-nya." aku pasang wajah cemberut.
"Hehehehe. Lo lagi kenapa sih Di? Kayaknya lagi kurang semangat kelihatannya, lagi ada masalah?" tanya Kemala.
"Hah? Kurang semangat? Biasa aja kok La."
__ADS_1
"Kurang tidur ya?" tanya Kemala lagi.
"Habis begadang ya semalam?"
"Main game sampe subuh yaa?" Kemala menghujaniku pertanyaan.
"Teeeett! Semua salah. Hahahaha." sahutku.
Kami tertawa bersama.
"Mas Ndesoooo!"
Aku menoleh. Yuda. Ia berjalan menghampiriku dan Kemala.
"Eh ada Kemala." ucapnya sambil senyum-senyum.
"Da, bisa nggak lo nggak panggil gue dengan sebutan Mas Ndeso?" ucapku ke Yuda.
"Hahahaha. Yaudah gue ganti deh. Telinga Kelinci gimana? Bagus nggak? Hahahaha." lagi-lagi Yuda asal memberiku julukan.
"Hahahahahaha. Kok telinga kelinci sih Da?" tanya Kemala.
"Jadi begini La, Adi ini telinganya super sensitif. Lagi dalam keadaan tidur pulas aja, bisa bangun gara-gara dengar bayi nangis tengah malam, padahal itu bayi nggak tahu di mana rumahnya." jelas Yuda.
"Bayi nangis? Serius lo dengar bayi nangis Di?" tanya Kemala dengan wajah serius.
"Tengah malam?" tanya Kemala lagi.
"Iya, tengah malam. Kenapa sih La?" tanyaku penasaran.
Ting. Pintu lift terbuka.
"Di, kata nyokap gue, kalau dengar suara bayi nangis tengah malam itu pertanda ada makhluk halus." terang Kemala.
Kami bertiga masuk ke dalam lift. Aku dan Yuda saling pandang. Teringat kembali kejadian menyeramkan di lift beberapa waktu lalu. Aku dan Yuda melihat bayangan pocong di dinding lift. Samar, namun menyeramkan.
"Nggak percaya gue La." sahut Yuda.
Aku dan Kemala langsung melihat ke arah Yuda.
"Itu kan katanya, kata nyokap lo. Belum tentu benar kan." sambung Yuda santai.
"Memangnya nyokap lo praktisi spiritual La?" tanyaku.
"Bukan sih, tapi ada keturunan dari almarhumah nenek gue. Dulu nenek gue orang pinter, bisa sembuhin orang sakit, tolongin orang kerasukan, sampai bikin pagar gaib buat rumah pasiennya." jelas Kemala.
"Orang pinter? Masa orang pinter kerjanya gitu sih La? Setahu gue, orang pinter tuh dokter, arsitek, presiden. Bukan bikin pagar gaib, hehehehe." sahut Yuda.
__ADS_1
"Heh, jambul! Lo pikir kita hidup di dunia sendiri, kita hidup berdampingan dengan yang gaib, dengan bangsa jin, setan, iblis. Makanya jangan jambul lo aja di tinggiin, pengetahuan lo di tinggiin." sergah Kemala.
Yuda diam sembari merapikan rambut jambulnya.
Ting. Pintu lift terbuka, kami sampai di lantai lima. Lalu berjalan beriringan keluar dari lift.
"Tapi kalau nyokap lo ngerti hal seputar supranatural nggak La?" tanyaku.
"Sedikit banyak ngerti sih, cuma nyokap nggak buka praktek kayak almarhumah nenek gue. Kalau ada yang butuh pertolongan, ya sebisa mungkin di bantu." terang Kemala.
Aku diam.
"Emangnya lo kenapa Di? Ada setan perempuan yang suka sama lo ya?" tanya Yuda asal.
"Hahahahaha. Beneran Di?" Kemala bertanya.
"Ah gila kali, manusia aja belum tentu ada yang suka sama gue, masa iya setan yang suka." balasku.
"Ya mungkin lo tipe cowok idaman setan kali Di. Hahahahaha." tambah Kemala.
Kami pun sampai di depan kelas Kemala.
"Gue duluan ya guys." ucap Kemala.
"Eh La, sebentar La." panggilku, Kemala tak jadi masuk ke dalam kelas.
"Da, lo duluan sana! Ada hal penting nih yang mau gue omongin ke Kemala. Sana lo duluan!" aku mengusir Yuda.
"Ciyeee. Eh Kemala, lo mau di tembak tuh sama Adi. Hahahaha." ledek Yuda, lalu ia menuju kelas.
Dasar bocah iseng, gerutuku.
"La, ada yang mau gue bicarain sama lo." ucapku pelan.
"Ada apaan sih Di? Kok ngomongnya pelan banget. Lo bener mau nembak gue ya?" tanya Kemala dengan senyum terukir manis di bibirnya.
"Eh, em, bukan bukan. Ini soal kejadian yang gue alami sejak gue tinggal di kost itu." jawabku.
"Ooh begitu.." Kemala sembari berpikir.
"Gini aja, nanti istirahat makan siang kita ketemuan lagi. Sekalian lo ceritain kejadian yang lo alami. Oke!" balas Kemala.
"Eh, memang kejadian apa sih Di? Gue jadi penasaran nih." lanjut Kemala.
"Ya pokoknya nanti siang gue ceritain semuanya ya. Oke. Lo masuk kelas deh, tuh dosen lo bentar lagi sampai kelas." tunjukku ke Pak Fathir, dosen Statistik yang mengajar di kelas Kemala pagi ini.
Aku pun berlalu, menuju kelasku. Jika ibu tiri Kemala bisa di percaya, maka aku akan minta penjelasan soal kejadian yang ku alami belakang ini, serta menanyakan kegunaan dari mustika ini. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi seperti yang ku alami dengan llham tempo hari lalu, manusia brengsek yang ingin menjebakku. Ternyata ia dan gurunya Ki Sona hanya mengincar mustika Batu Dewa Dawana saja.
__ADS_1