
"Adii Adi, sial banget lo ya. Hahahahaha." Yuda meledekku begitu kelas Pak Azmi selesai. Aku hanya merengut.
"Gue mau tanya deh, kenapa lo bisa bangun kesiangan. Seorang Adi dengan julukan, Si Telinga Kelinci, kenapa bisa bangun kesiangan? Hah? Hahahahaha." Yuda terus saja meledekku, hingga memberiku julukan Adi Si Telinga Kelinci. Apa pula?
"Rese lo. Semalam gue nggak bisa tidur Da." jawabku dengan lemas.
"Kenapa nggak bisa tidur? Gara-gara Kemala ya? Hahahahahaha." astaga, Yuda tahu dari mana kalau aku sedang dekat dengan Kemala.
Mimik wajahku ku tunjukkan seperti tak terjadi sesuatu. Repot jika Yuda sampai tahu kalau aku sedang dekat dengan Kemala.
"Sok tahu lo!" jawabku sedikit ketus.
"Adi Adi Adi Adi, kau jangan berbohong Adi. Hehehehehe. Dahlah, gue udah tahu dari Nova kok." tutur Yuda, alisnya naik turun.
Aduuh, ia tahu dari Nova, teman satu geng-nya. Apa perempuan begitu, selalu menceritakan segalanya kepada teman dekatnya? Padahal, aku dan Kemala hanya beberapa kali chat. Yasudahlah, kalau Yuda sudah tahu buat apa ku sembunyikan lagi.
"Ngaku lo!" desak Yuda.
"Nggak dekat banget. Baru beberapa kali chattingan aja." jawabku.
"Ooh, terus katanya mau ke kedai kopi? Kok, gue nggak di ajak sih?" Yuda kembali meledekku, alisnya lagi-lagi naik turun.
Aku menghela nafas panjang.
"Ngapain gue ngajak lo Da? Kalau lo ikut, lo sama aja ganggu gue. Hahahahaha." ucapku sambil ku pukul lengan Yuda.
"Hahahahahaha, sial lo Di. Iya deh iya, gue doain semoga berhasil ya." balas Yuda.
Kami turun menggunakan lift. Hari ini kampus nampak tak terlalu ramai. Di gedungku saja hanya beberapa jurusan yang masuk, dan hanya beberapa kelas saja yang terisi. Entahlah, mungkin karena hari ini harpitnas. Ya, hari ke jepit nasional. Jadi mungkin banyak dosen yang memajukan jadwal atau memundurkan jadwal perkuliahan. Tujuannya apa lagi selain mendapat ekstra libur satu hari.
Tiinngg.
Kami sampai di lantai 1. Aku dan Yuda menunggu pintu lift terbuka.
"Lho, kenapa nih pintu lift? Kok nggak terbuka sih?" Yuda sedikit geram.
"Apa lagi sih ini? Apa kesialan gue belum kelar?" gumamku.
Yuda menekan tombol pintu terbuka beberapa kali, namun pintu tak kunjung terbuka. Aku menekan tombol bantuan, lalu teriak memanggil bantuan.
"Paakk tolong paaakk!" ucapku.
Yuda menekan tombol bantuan.
"Wooiii, tolong woooiii."
Bzzt bzzt.. Bzzt bzzt.
Tiba-tiba lampu di dalam lift mati menyala, kelap-kelip. Aku panik begitu pun Yuda, tergambar dari wajahnya.
Lampu di dalam lift tiba-tiba padam. Aku dan Yuda saling berpegangan, saling bergandengan.
Bzzt.
Lampu kembali menyala. Namun aku dan Yuda di buat kaget. Ada sosok pocong yang berdiri di belakang kami, terlihat jelas dari pintu lift yang terbuat dari kaca cermin. Aku dan Yuda berpelukan sambil teriak. Kemudian lampu lift kembali mati.
__ADS_1
Tak lama, lampu kembali menyala. Sosok pocong yang tadi kami lihat sudah tak ada. Aku bernafas lega, begitu pun Yuda.
Tiinngg.
Tiba-tiba, pintu lift terbuka. Di depan lift berkumpul beberapa orang dengan seragam berwarna hitam bertuliskan Engineering.
"Kalian nggak apa-apa?" tanya seorang lelaki dengan seragam hitamnya.
"Nggak apa-apa mas." jawabku.
"Mas, kenapa lift-nya? Rusak ya?" tanya Yuda.
"Kita belum cek kenapa bisa nggak terbuka pintunya. Tapi kalian nggak apa-apa kan?"
"Aman mas." aku dan Yuda keluar dari lift. Kami berjalan meninggalkan beberapa orang teknisi gedung.
Di depan gedung fakultas Yuda buka suara,
"Di, lo lihat penampakan di lift barusan?"
"Jelas banget Da." jawabku.
"Ah gila, kok jadi serem gini sih gedung fakultas kita." Yuda menggerutu.
"Tau ah, masih merinding kalau inget penampakan tadi." ujarku.
Aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa belakangan ini hal-hal mistis sering terjadi padaku? Sebelum pindah ke Kost Pak Thamrin, hidupku normal saja. Bahkan selama hidupku, aku tak pernah mengalami kejadian mistis macam ini. Apa karena Kost Pak Thamrin?
"Bos!" panggil seseorang.
Ia duduk di tengah taman di depan gedung fakultas. Sendiri.
"Tuh, Tuan Putri lo udah nunggu." tunjuk Yuda.
"Hehehehehe. Gue cabut duluan ya Da." tuturku.
"Sana sana!" Yuda seolah mengusirku. Aku meninggalkan Yuda, kemudian menghampiri Kemala.
"Jadi bos?" tanya Kemala dengan senyum terukir di wajahnya. Manis.
"Yuk cuss!" ajakku.
"Eh, emang kedai kopi yang lo maksud di mana sih? tanya Kemala.
Kami sambil berjalan.
"Samping kampus kok. Kita jalan aja ya, biar sehat. Hehehehe" balasku.
"Iya, gue tahu lo nggak punya motor. Hehehehe. Sama, gue juga nggak punya." ucap Kemala.
Kami berjalan beriringan, kami saling bercerita beberapa hal. Tujuan kami adalah kedai kopi tepat di samping kampus.
"Eh, kenapa kita ke kedai kopi sih? Gue kan nggak suka kopi." tanya Kemala.
"Emm, kenapa ya?" aku bingung menjawab apa.
__ADS_1
"Naah, gue tahu nih alasan lo ngajak gue ke kedai kopi." sambar Kemala.
"Eh, emang apa? Jangan sok tahu." balasku.
"Lagi bokek ya? Hahahaha." ucap Kemala.
"Hahahahaha, sial lo. Nggak bokek-bokek banget sih. Yaa cukuplah buat traktir lo es tawar. Hahahahaha." ledekku.
"Iiihh masa es tawar. Hahahahaha."
Aduh, kenapa lo harus jawab dengan nada seperti itu sih? Aku serasa meleleh di buatnya.
"Tenang Di, gue nggak minta traktir kok. Kalau bisa, kita bayar sendiri-sendiri aja." lanjut Kemala.
"Aaahhh yang bener?"
"Beneran. Serius. Dulu waktu masih ada cowok, gue nggak pernah minta traktir atau jajanin." jelas Kemala.
"Iya iya, gue percaya." ungkapku.
Ada kata-kata Kemala yang ku garis bawahi,
"Dulu waktu masih ada cowok.."
Apa sekarang ia jomblo? Ah, mana mungkin perempuan se-manis Kemala kosong. Kok, aku jadi salah tingkah di buatnya.
"Eh, masih jauh nih? Betis gue udah mulai demo nih." ucap Kemala sambil tersenyum.
"Itu di depan kedainya." tunjukku.
"Mana sih? Kok nggak kelihatan." ucap Kemala.
"Itu tuh, yang ada plang warna hitam." tunjukku.
"Mana?" ucapnya lagi.
"Itu tuuhh." lalu aku menoleh ke arah Kemala.
"Yeee, mata lo merem. Mana kelihatan."
"Hahahahahaha. Gampang ya becandain lo. Hahahahaha." ujarnya sembari tawa. Manis.
Ternyata Kemala berjalan dengan memejamkan matanya, niat meledekku.
Kami sampai di depan kedai kopi, Satu Arah namanya. Tak ramai, hanya tiga pelanggan di ruang dalam. Tempatnya tak terlalu besar, ada tiga meja di dalam dan dua meja di teras depan. Temboknya di cat coklat tua, khas warna kopi. Ada sebuah rak menempel di tembok dan jejeran beberapa buku. Di samping rak buku ada sebuah papan tulis, penuh coretan pelanggan dengan kata-kata mutiara dan kegalauan remaja.
Di dalam ruangan ada sebuah gerobak besar berwarna kuning, di atas gerobak penuh toples kopi. Di ujung gerobak ada sebuah akuarium kecil di penuhi ikan hias, sebagai pemanis.
"Mau duduk di mana nih?" tanya Kemala.
"Lebih enak di luar kali ya. Ada angin sepoi-sepoi." jawabku.
Kami pun menempati meja di teras. Seorang lelaki bertubuh agak gempal menghampiri kami. Memakai kemeja kotak-kotak merah hitam, dan mengenakan apron berwarna coklat.
Tempatnya tenang, terdengar musik sayup-sayup. Suasananya pun menunjukkan memang ini tempat tongkrongan anak muda. Sekarang memang zamannya ngopi, aku tak mau ketinggalan trend ngopi juga tentunya. Anak muda ya ngopi dong. Hehehehe.
__ADS_1